​MASIH PUNYA HUTANG PUASA RAMADHAN, BOLEHKAH PUASA 6 HARI SYAWAL? 

July 14, 2017 at 10:46 am | Posted in Tulisan Lainnya | Leave a comment

MASIH PUNYA HUTANG PUASA RAMADHAN, BOLEHKAH PUASA 6 HARI SYAWAL? 
Ini adalah permasalahan yang dibahas oleh ulama fiqih terkait bolehkah orang yang hutang puasa Ramadhan, dia melaksanakan puasa sunah atau nafilah terlebih dahulu? 
Sebagian ulama membolehkannya, alasan mereka adalah sebuah riwayat dari Aisyah radhiyallahu anha dalam Shahihain :

ﻛَﺎﻥَ ﻳَﻜُﻮﻥُ ﻋَﻠَﻰَّ ﺍﻟﺼَّﻮْﻡُ ﻣِﻦْ ﺭَﻣَﻀَﺎﻥَ ، ﻓَﻤَﺎ ﺃَﺳْﺘَﻄِﻴﻊُ ﺃَﻥْ ﺃَﻗْﻀِﻰَ ﺇِﻻَّ ﻓِﻰ ﺷَﻌْﺒَﺎﻥَ

“Aku dahulu punya kewajiban puasa. Aku tidaklah bisa membayar utang puasa tersebut kecuali pada bulan Sya’ban.”
Aisyah radhiyallahu anha adalah orang yang sangat giat melaksanakan ibadah, sehingga tidak tertutup kemungkinan beliau melaksanakan beberapa puasa nafilah/sunnah, misalnya puasa arafah, asyuraa’,  dan semisalnya. Kemudian ternyata beliau baru bisa mengqodho Romadhon pada Bulan Sya’ban yang berarti kurang dari satu Bulan dari pelaksanaan Romadhon berikutnya alias pada ujung tahun berjalan, hal ini menunjukkan bolehnya puasa sunah didahulukan dibandingkan qodho puasa romadhon. 
Kemudian ulama yang membolehkannya berdalil dengan logic dari kaedah jika bertemu sesuatu yang waktunya muwasa’ (luas) dengan yang waktunya terbatas, maka dahulukan yang waktunya terbatas. Dalam kasus kita ini, misal puasa Syawal waktunya dibatasi mulai dari tanggal 2 Syawal sampai akhir Bulan Syawal, sedangkan Ramadhan waktunya luas -menurut pendapat mayoritas ulama- mulai dari 2 syawal sampai akhir Sya’ban pada tahun berjalan. Sehingga puasa yang waktunya terbatas tadi didahulukan dibandingkan dengan yang waktunya luas. 
Adapun sebagian ulama yang lainnya, tidak membolehkan orang yang masih punya hutang puasa, untuk melakukan puasa sunnah. Mereka memakai logic kaedah jika bertemu amalan wajib dan sunah, maka dahulukan yang wajib. Dalam kasus kita ini qodho Romadhon wajib, sementara puasa Syawal adalah sunah. Sehingga yang wajib lebih didahulukan dibandingkan yang sunnah. 
Adapun hadits Aisyah, maka madzhab kedua ini mengatakan didalam hadits ini tidak ada keterangan bahwa Aisyah melaksanakan puasa sunah sebelum qodho romadhon yang diakhirkan sampai Bulan Romadhon. Dan alasan Aisyah menunda qodhonya adalah karena berkhidmat kepada suaminya, sebagaimana dalam riwayat Muslim :

ﻛَﺎﻥَ ﻳَﻜُﻮﻥُ ﻋَﻠَﻰَّ ﺍﻟﺼَّﻮْﻡُ ﻣِﻦْ ﺭَﻣَﻀَﺎﻥَ ﻓَﻤَﺎ ﺃَﺳْﺘَﻄِﻴﻊُ ﺃَﻥْ ﺃَﻗْﻀِﻴَﻪُ ﺇِﻻَّ ﻓِﻰ ﺷَﻌْﺒَﺎﻥَ ﺍﻟﺸُّﻐُﻞُ ﻣِﻦْ ﺭَﺳُﻮﻝِ ﺍﻟﻠَّﻪِ – ﺻﻠﻰ ﺍﻟﻠﻪ ﻋﻠﻴﻪ ﻭﺳﻠﻢ – ﺃَﻭْ ﺑِﺮَﺳُﻮﻝِ ﺍﻟﻠَّﻪِ – ﺻﻠﻰ ﺍﻟﻠﻪ ﻋﻠﻴﻪ ﻭﺳﻠﻢ –

“Aku dahulu punya kewajiban puasa. Aku tidaklah bisa membayar hutang puasa tersebut kecuali pada bulan Sya’ban karena kesibukanku dengan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam”.
‘Alaa kulli Hal, yang terbaik adalah dia mengqodho puasa Romadhon, baru kemudian puasa Syawal. Adapun taruklah ia mengambil pendapat yang membolehkan mendahulukan puasa sunnah sebelum puasa Ramadhan, seandainya ia langsung puasa Syawal,  maka ia berpotensi tidak mendapatkan pahala puasa satu tahun penuh. Dalam hadits Abu Ayyub Al Anshoriy radhiyallahu anhu, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

ﻣَﻦْ ﺻَﺎﻡَ ﺭَﻣَﻀَﺎﻥَ ﺛُﻢَّ ﺃَﺗْﺒَﻌَﻪُ ﺳِﺘًّﺎ ﻣِﻦْ ﺷَﻮَّﺍﻝٍ ﻛَﺎﻥَ ﻛَﺼِﻴَﺎﻡِ ﺍﻟﺪَّﻫْﺮِ

“Barang siapa yang berpuasa Ramadhan kemudian berpuasa enam hari di bulan Syawal, maka dia berpuasa seperti setahun penuh.” (HR. Muslim).
Orang yang masih punya hutang puasa Ramadhan, maka ia tidak dianggap sebagai orang yang telah puasa Ramadhan secara full, sedangkan hitungan pahala puasa satu tahun penuh bagi orang yang puasa Ramadhan ditambah puasa 6 hari Bulan Syawal, adalah hitungannya secara matematis, sebagaimana dalam hadits Tsauban radhiyallahu anhu, bahwa Nabi shallallahu alaihi wa sallam bersabda :

ﻣَﻦْ ﺻَﺎﻡَ ﺳِﺘَّﺔَ ﺃَﻳَّﺎﻡٍ ﺑَﻌْﺪَ ﺍﻟْﻔِﻄْﺮِ ﻛَﺎﻥَ ﺗَﻤَﺎﻡَ ﺍﻟﺴَّﻨَﺔِ ‏( ﻣَﻦْ ﺟَﺎﺀَ ﺑِﺎﻟْﺤَﺴَﻨَﺔِ ﻓَﻠَﻪُ ﻋَﺸْﺮُ ﺃَﻣْﺜَﺎﻟِﻬَﺎ )

“Barang siapa berpuasa enam hari setelah hari raya Idul Fitri, maka dia seperti berpuasa setahun penuh. [Barang siapa berbuat satu kebaikan, maka baginya sepuluh kebaikan semisal].” (HR. Ibnu Majah dan dishohihkan oleh Syaikh Al Albani). 
Mari kita simulasikan hitungan pahalanya :

# puasa ramadhan full satu Bulan dikali 10 lipat = puasa 10 bulan

# puasa 6 hari Syawal dikali 10 lipat = puasa 60 hari alias sama dengan puasa 2 Bulan. 

Sehingga kita dapatkan total pahala puasanya 12 Bulan alias genap satu tahun. 
Imam al-albani dalam salah satu jawabannya dari rekaman kajiannya ketika ditanya perihal orang yang puasa Syawal tapi belum mengqodho Romadhonnya, beliau menjawab :

“{Barangsiapa yang berpuasa pada Bulan Romadhon}, sudah maklum bahwa orang yang masih tersisa hutang puasa Romadhon, tidak dikatakan bahwa ia telah berpuasa Romadhon. Jika misalnya ia masih punya hutang 10 hari, apakah bisa dikatakan dia telah berpuasa Romadhon? (Jawabnya) tidak. Ia cuma dikatakan telah berpuasa pada sebagian Bulan Romadhon, yaitu selama 20 hari (misalnya). Oleh karenanya, ia awali dulu dengan mengqodho puasa Ramadhan, baru puasa 6 hari Bulan Syawal.

Seandainya ia langsung puasa 6 hari Bulan Syawal, maka ia tidak mendapatkan pahala sebagaimana yang dijelaskan oleh Nabi shallallahu alaihi wa sallam {bahwa barangsiapa yang berpuasa Romadhon, lalu mengikutinya dengan puasa 6 hari Bulan Syawal, maka ia seperti orang yang puasa sepanjang tahun}”. 

(https://www.sahab.net/forums/index.php app=forums&module=forums&controller=topic&id=85862).

Advertisements

Leave a Comment »

RSS feed for comments on this post. TrackBack URI

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Create a free website or blog at WordPress.com.
Entries and comments feeds.

%d bloggers like this: