​TAKLID SETELAH BERAMAL

July 14, 2017 at 11:35 am | Posted in Tulisan Lainnya | Leave a comment

TAKLID SETELAH BERAMAL
Ada satu pernyataan yang menarik bagi saya dari asy-syaikh Muhammad Hasyim Asy’ari dalam kitabnya “ﺭﺳﺎﻟﺔ ﺃﻫﻞ ﺍﻟﺴﻨﺔ ﻭﺍﻟﺠﻤﺎﻋﺔ ﻓﻲ ﺣﺪﻳﺚ 

ﺍﻟﻤﻮﺗﻰ ﻭﺃﺷﺮﺍﻁ ﺍﻟﺴﺎﻋﺔ ﻭﺑﻴﺎﻥ ﻣﻔﻬﻮﻡ ﺃﻫﻞ ﺍﻟﺴﻨﺔ ﻭﺍﻟﺠﻤﺎﻋﺔ

Tentang masalah taklid setelah beramal, beliau -Rahimahullah- berkata :

ﻭﺍﻟﺘﻘﻠﻴﺪ ﺑﻌﺪ ﺍﻟﻌﻤﻞ ﺟﺎﺋﺰ، ﻓﻠﻮ ﺻﻠﻰ ﺷﺎﻓﻌﻲ ﻇﻦ ﺻﺤﺔ ﺻﻼﺗﻪ ﻋﻠﻰ ﻣﺬﻫﺒﻪ ﺛﻢ ﺗﺒﻴﻦ ﺑﻄﻼﻧﻬﺎ ﻓﻲ ﻣﺬﻫﺒﻪ ﻭﺻﺤﺘﻬﺎ ﻋﻠﻰ ﻣﺬﻫﺐ ﻏﻴﺮﻩ ﻓﻠﻪ ﺗﻘﻠﻴﺪﻩ ﻭﻳﻜﺘﻔﻲ ﺑﺘﻠﻚ ﺍﻟﺼﻼﺓ 

“Bertaklid setelah beramal itu boleh, seandainya seorang yang bermadzhab Syafi’i sholat, ia sangka sah sholatnya berdasarkan madzhabnya, kemudian (setelah selesai sholat) barulah jelas baginya bahwa sholatnya itu sebenarnya batal menurut madzhabnya, namun dalam madzhab lainnya sah sholatnya, maka boleh baginya (pindah) taklid (ke madzhab lainnya) dan sholatnya Sudah dianggap cukup (tidak batal)” -selesai-. 
Pembahasan terkait pindah madzhab setelah beramal, memang sudah dibahas oleh para ulama sebelum beliau baik didalam madzhab Syafi’i maupun diluar madzhab Syafi’i.  Misalnya Imam Abdul Hamid asy-Syarwaaniy dalam Hasyiyyahnya terhadap “Tuhfatul Muhtaaj”, dan Imam Sulaimaan bin Umar yang dikenal dengan nama al-Jamal dalam Hasyiyahnya atas “Syarah al-Manhaj” keduanya menukil perkataan asy-syaikh Manshuur ath-Thobalaawiy :

ﻛﻞ ﻣﺎ ﻛﺎﻥ ﻣﺨﺎﻟﻔﺎ ﻟﻤﺬﻫﺐ ﺍﻟﺸﺎﻓﻌﻲ ﻣﺜﻼ ﻭﻫﻮ ﺻﺤﻴﺢ ﻋﻠﻰ ﺑﻌﺾ ﺍﻟﻤﺬﺍﻫﺐ ﺍﻟﻤﻌﺘﺒﺮﺓ، ﻓﺈﺫﺍ ﻓﻌﻠﻪ ﻋﻠﻰ ﻭﺟﻪ ﻓﺎﺳﺪ ﻋﻨﺪ ﺍﻟﺸﺎﻓﻌﻲ ﻭﺻﺤﻴﺢ ﻋﻨﺪ ﻏﻴﺮﻩ ﺛﻢ ﻋﻠﻢ ﺑﺎﻟﺤﺎﻝ ﺟﺎﺯ ﻟﻪ ﺃﻥ ﻳﻘﻠﺪ ﺍﻟﻘﺎﺋﻞ ﺑﺼﺤﺘﻪ ﻓﻴﻤﺎ ﻣﻀﻰ ﻭﻓﻴﻤﺎ ﻳﺄﺗﻲ ﻓﺘﺘﺮﺗﺐ ﻋﻠﻴﻪ ﺃﺣﻜﺎﻣﻪ ﻓﺘﻨﺒﻪ ﻟﻪ ﻓﺈﻧﻪ ﻣﻬﻢ ﺟﺪﺍ 

“Setiap hal yang menyelisihi madzhab Syafi’i misalnya, namun dalam sebagian madzhab lain yang mu’tabar hal tersebut shahih (sah/benar), maka jika ia mengerjakan suatu amalan yang kalau di madzhab Syafi’i, fasid (batal) amalnya, namun di madzhab lainnya sah, kemudian dia tahu kondisi tersebut, maka boleh baginya bertaklid kepada pendapat yang mengatakan sah terhadap amalnya yang telah lalu dan yang akan datang, kemudian diterapkan hukum atasnya, maka perhatikanlah karena ini sangat penting sekali”.
Kebolehan taklid setelah beramal, sebagai madzhab syafi’i,  ditegaskan oleh asy-syaikh DR. Wahbah az-Zuhailiy dalam bukunya “al-Fiqih al-Islaamiy wa Adilatuhu” ketika menyebutkan syarat-syarat taklid dari Al-Hafidz Ibnu Hajar dalam bukunya tersebut, kata beliau :

الخامس – أن لايعمل بقول في مسألة ثم بضده في عينها.

وهذا الشرط فيه نظر، لأنه مبني على امتناع التقليد بعد العمل، والأصح جوازه – كما قال الشافعية.

“(Syarat Kelima) tidak boleh beramal dalam suatu permasalahan lalu ia mengambil pendapat yang bertentangan dalam masalah tersebut”. 

(Asy-Syaikh mengkritik) : “syarat ini perlu dipertimbangkan, karena dibangun diatas larangan taklid setelah beramal, yang rajih bolehnya hal tersebut, sebagaimana dikatakan oleh Syafi’iyyah”.
Kemudian di madzhab lain seperti madzhab Hanafi, juga ada pendapat yang serupa. Misalnya Imam ibnu ‘Aabidiin dalam Hasyiyyahnya yang berjudul “ﺭﺩ ﺍﻟﻤﺤﺘﺎﺭ ﻋﻠﻰ ﺍﻟﺪﺭ ﺍﻟﻤﺨﺘﺎﺭ” , beliau berkata :

ﺇﻥَّ ﻟَﻪُ ﺍﻟﺘَّﻘْﻠِﻴﺪَ ﺑَﻌْﺪَ ﺍﻟْﻌَﻤَﻞِ، ﻛَﻤَﺎ ﺇﺫَﺍ ﺻَﻠَّﻰ ﻇَﺎﻧًّﺎ ﺻِﺤَّﺘَﻬَﺎ ﻋَﻠَﻰ ﻣَﺬْﻫَﺒِﻪِ، ﺛُﻢَّ ﺗَﺒَﻴَّﻦَ ﺑُﻄْﻠَﺎﻧُﻬَﺎ ﻓِﻲ ﻣَﺬْﻫَﺒِﻪِ، ﻭَﺻِﺤَّﺘُﻬَﺎ ﻋَﻠَﻰ ﻣَﺬْﻫَﺐِ ﻏَﻴْﺮِﻩِ، ﻓَﻠَﻪُ ﺗَﻘْﻠِﻴﺪُﻩُ، ﻭَﻳَﺠْﺘَﺰِﻱ ﺑِﺘِﻠْﻚَ ﺍﻟﺼَّﻠَﺎﺓِ

“Boleh baginya bertaklid setelah beramal, misalnya ia sholat dengan sangkaan sah menurut madzhabnya, lalu jelas baginya bahwa sholatnya batal menurut madzhabnya, namun  sah menurut madzhab lainnya, maka boleh baginya bertaklid kepada madzhab lainnya, sehingga sah sholatnya tersebut”.
Kemudian Imam ibnu ‘Aabidiin menukil sebuah kisah menarik yang terjadi pada Imam Abu Yusuf, murid dan sahabat Imam Abu Hanifah, bahwa beliau pernah hendak sholat Jum’at, lalu mandi di kamar mandi, kemudian beliau diberitahu bahwa tadi ada bangkai tikus di sumur yang digunakan sebagai Sumber air kamar mandi tersebut, maka beliau berkata :

“Kami mengambil pendapat saudara kami penduduk Madinah, jika air telah mencapai dua kulah, maka tidak mengandung najis” -selesai-. 
Namun S&K tetap berlaku dalam masalah yang kita bahas ini, jika ia sudah tahu ketika beramal dengan madzhab pilihannya bahwa amal yang dilakukannya ini batal, namun setelah selesai ia memilih madzhab lain yang menganggap amalannya tidak batal, maka dosanya masih tetap berlaku, sebagaimana dikatakan oleh Imam ath-Thobalaawiy dalam kitab diatas :

وينبغي ان اثم الاقدام باق حيث فعله عالما

“Namun sebenarnya dosa amalan yang telah berlalu tetap ada, tatkala ia mengerjakannya dalam kondisi mengetahuinya”.

Advertisements

Leave a Comment »

RSS feed for comments on this post. TrackBack URI

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Blog at WordPress.com.
Entries and comments feeds.

%d bloggers like this: