​HARUSKAH MAKMUM SHOLAT DENGAN DUDUK JIKA SANG IMAM MENGIMAMI SHOLATNYA DENGAN DUDUK

July 23, 2017 at 2:16 pm | Posted in Tulisan Lainnya | Leave a comment

HARUSKAH MAKMUM SHOLAT DENGAN DUDUK JIKA SANG IMAM MENGIMAMI SHOLATNYA DENGAN DUDUK? 
boleh jadi pada suatu kondisi Imam tetap di sebuah masjid menderita sakit, sehingga menyebabkan ia berudzur untuk sholat dengan berdiri, sang Imam hanya bisa sholat dalam keadaan duduk. Sehingga dalam kasus ini, apakah para makmum sholatnya dengan duduk atau tetap berdiri?, karena sejatinya para makmum mampu sholat dengan berdiri. 
Jawaban pertama, akan saya berikan kepada asy-syaikh Muhammad Nashiruddin al-albani. Beliau berkata dalam kitab sifat sholat Nabi (hal. 77-78) :

“Nabi sholallahu alaihi wa salam sebelumnya pernah melakukan sholat pada saat sedang sakit, Beliaumengimami sholat (dalam posisi duduk), dan orang-orang dibelakangnya sholat dengan berdiri, lalu Beliau mengisyaratkan agar mereka semuanya duduk, sehingga para sahabat pun duduk. Ketika selesai sholat, Beliau sholallahu alaihi wa salam bersabda : “sesungguhnya kalian tadi hampir-hampir melakukan kebiasaan (jelek) orang Persia dan Romawi, mereka berdiri dihadapan raja-rajanya, padahal rajanya duduk. Janganlah kalian lakukan lagi seperti itu, karena Imam itu hanyalah dijadikan untuk diikuti, jika ia ruku’, maka kalian ikut ruku’, jika ia bangkit dari ruku’, maka kalian ikut bangkit, jika ia sholat dengan duduk, kalian ikut sholat dengan duduk semuanya”.
Imam Al Albani menegaskan pendapatnya bahwa jika Imam sholat dengan duduk karena sakit, maka makmum dibelakangnya juga sholat dengan duduk, penegasan ini dapat diperoleh dalam kitabnya al-Ashlu (1/86-87) :

“Ketahuilah bahwa hadits-hadits ini menunjukkan bahwa Imam jika sholatnya dengan duduk karena sakit, maka makmum yang sholat dibelakangnya pun sholatnya dengan duduk, sekalipun mereka mampu untuk berdiri. Dalilnya adalah bahwa Rasulullah Sholallahu ‘alaihi wa salaam menjadikan mengikuti duduknya Imam dalam sholat sebagai ketaatan kepada para pemimpin yang wajib sesuai Kitabullah, sebagaimana sabdanya : 

ﻣﻦ ﺃﻃﺎﻋﻨﻲ؛ ﻓﻘﺪ ﺃﻃﺎﻉ ﺍﻟﻠﻪ، ﻭﻣﻦ ﻋﺼﺎﻧﻲ؛ ﻓﻘﺪ ﻋﺼﻰ ﺍﻟﻠﻪ، ﻭﻣﻦ ﺃﻃﺎﻉ ﺍﻷﻣﻴﺮ؛ ﻓﻘﺪ ﺃﻃﺎﻋﻨﻲ، ﻭﻣﻦ ﻋﺼﻰ ﺍﻷﻣﻴﺮ؛ ﻓﻘﺪ ﻋﺼﺎﻧﻲ، ﺇﻧﻤﺎ ﺍﻹﻣﺎﻡ ﺟﻨﺔ، ﻓﺈﻥ ﺻﻠﻰ ﻗﺎﻋﺪﺍً؛ ﻓﺼﻠﻮﺍ ﻗﻌﻮﺩﺍً، ﻭﺇﺫﺍ ﻗﺎﻝ : ﺳﻤﻊ ﺍﻟﻠﻪ ﻟﻤﻦ ﺣﻤﺪﻩ؛ ﻓﻘﻮﻟﻮﺍ : ﺍﻟﻠﻬﻢ ﺭﺑﻨﺎ ! ﻭﻟﻚ ﺍﻟﺤﻤﺪ . ﻓﺈﺫﺍ ﻭﺍﻓﻖ ﻗﻮﻝ ﺃﻫﻞ ﺍﻷﺭﺽ ﻗﻮﻝَ ﺃﻫﻞ ﺍﻟﺴﻤﺎﺀ؛ ﻏﻔﺮ ﻟﻪ ﻣﺎ ﻣﻀﻰ ﻣﻦ ﺫﻧﺒﻪ

“barangsiapa yang mentaatiku, maka sungguh ia telah mentaati Allah, dan barangsiapa yang bermaksiat kepadaku, maka sungguh ia telah bermaksiat kepada Allah. Barangsiapa yang mentaatinya Amirnya, maka ia telah mentaatiku dan barangsiapa yang bermaksiat kepada Amirnya, berarti ia telah bermaksiat kepadaku. Sesungguhnya Imam itu dijadikan sebagai perisai, jika ia sholat dengan duduk, maka sholatlat dengan duduk, jika mereka mengucapkan “Sami’allahu liman Hamidah”, maka kalian mengucapkan : “Allahumma Robbanaa, wa lakal hamdu”. Jika ucapan penduduk bumi ini bertepatan dengan ucapannya penduduk langit, maka akan diampuni dosanya yang telah lalu”.
Diriwayatkan oleh Ath-Thoyalisiy (336) dari jalan ath-Thohawiy (1/235), Abu Awaanah (2/109), Ahmad (2/386-387, 416 dan 417) dan ini lafadznya dari jalan Ya’laa bin ‘Athoo’ ia berkata, aku mendengar Abu Alqomah berkata, aku mendengar Abu Huroiroh Rodhiyallahu ‘anhu berkata, aku mendengar Rasulullah Sholallahu ‘alaihi wa salaam bersabda : “al-Hadits”.
Sanad ini Shahih, atas syarat Muslim, Abu Alqomah ini adalah al-Mishriy maula Bani Haasyim, tidak dikenal kecuali dengan nama kunyahnya, beliau tsiqoh, sebagaimana disebutkan dalam “at-Taqriib” -selesai-“.
Kemudian saya membandingkan penilaian beliau diatas dengan mengacu kepada kitab Musnad Imam Ahmad cetakan Ar-Risalah, maka disana (no. 10037) pentahqiq kitab ini yakni asy-Syaikh Syu’aib Arnauth memberikan penilaian yang senada dengan mengatakan :

ﺇﺳﻨﺎﺩﻩ ﺻﺤﻴﺢ ﻋﻠﻰ ﺷﺮﻁ ﻣﺴﻠﻢ، ﺭﺟﺎﻟﻪ ﺛﻘﺎﺕ ﺭﺟﺎﻝ ﺍﻟﺸﻴﺨﻴﻦ ﻏﻴﺮ ﻳﻌﻠﻰ ﺑﻦ ﻋﻄﺎﺀ، ﻭﺃﺑﻲ ﻋﻠﻘﻤﺔ – ﻭﻫﻮ ﻣﻮﻟﻰ ﺑﻨﻲ ﻫﺎﺷﻢ – ﻓﻤﻦ ﺭﺟﺎﻝ ﻣﺴﻠﻢ .

“Sanadnya shahih atas syarat Muslim, semua perowinya tsiqoh, perowi Bukhori-Muslim, kecuali Ya’laa bin ‘Athoo’ dan Abu Alqomah –maula bani Haasyim-, termasuk perowinya Muslim”.
Pendapat yang kedua saya akan sounding pendapatnya Imam Syafi’i dan ashabnya. Pertama, Imam Syafi’I dalam al-Umm (7/209) kelihatannya memberikan alternative solusi dengan metode fiqih ikhtiyath, dimana beliau berkata :

ﻭَﺇِﻧَّﻤَﺎ ﺍﺧْﺘَﺮْﺕ ﺃَﻥْ ﻳُﻮَﻛِّﻞَ ﺍﻟْﺈِﻣَﺎﻡُ ﺇﺫَﺍ ﻣَﺮِﺽَ ﺭَﺟُﻠًﺎ ﺻَﺤِﻴﺤًﺎ ﻳُﺼَﻠِّﻲ ﺑِﺎﻟﻨَّﺎﺱِ ﻗَﺎﺋِﻤًﺎ

“Sesungguhnya aku lebih memilih bagi seorang Imam yang sakit untuk mewakilkan kepada orang lain yang sehat untuk mengimami manusia dengan berdiri”.
Namun pembahasannya bagaimana jika studi kasusnya sebagaimana judul artikel ini. Imam Syafi’i ketika ditanya apakah orang yang sholat dibelakang Imam yang duduk karena sakitnya, mereka harus duduk atau berdiri, maka Al Imam menjawab :

ﻳَﺄْﻣُﺮُ ﻣَﻦْ ﻳَﻘُﻮﻡُ ﻓَﻴُﺼَﻠِّﻲ ﺑِﻬِﻢْ ﺃَﺣَﺐُّ ﺇﻟَﻲَّ، ﻭَﺇِﻥْ ﺃَﻣَّﻬُﻢْ ﺟَﺎﻟِﺴًﺎ، ﻭَﺻَﻠَّﻮْﺍ ﺧَﻠْﻔَﻪُ ﻗِﻴَﺎﻣًﺎ ﻛَﺎﻥَ ﺻَﻠَﺎﺗُﻬُﻢْ ﻭَﺻَﻠَﺎﺗُﻪُ ﻣُﺠْﺰِﻳَﺔً ﻋَﻨْﻬُﻢْ ﻣَﻌًﺎ

“Sang Imam menyuruh orang lain untuk mengimami lebih aku sukai. Jika sang imam mengimami dengan duduk, maka makmum dibelakangnya sholat dengan berdiri, dan sholat imam dan sholat makmum sah semuanya.
Kemudian ketika Imam Syafi’I dikonfirmasi tentang hadits yang menyatakan bahwa Nabi Sholallahu ‘alaihi wa salaam mengimamai dengan duduk dan memerintahkan makmum dibelakangnya, yang tadinya berdiri untuk duduk, sebagaimana dibawakan oleh Al Albani diatas, maka Imam Syafi’I hapal dan tahu hadits tersebut. Lalu ketika ditanya lagi, kenapa beliau tidak berbendapat dengan dhohirnya hadits tersebut, beliau menjawab :

ﻫَﺬَﺍ ﻣَﻨْﺴُﻮﺥٌ ﺑِﻔِﻌْﻞِ ﺭَﺳُﻮﻝِ ﺍﻟﻠَّﻪِ – ﺻَﻠَّﻰ ﺍﻟﻠَّﻪُ ﻋَﻠَﻴْﻪِ ﻭَﺳَﻠَّﻢَ –

‘Itu mansukh (terhapus hukumnya) dengan perbuatan Rasulullah Sholallahu ‘alaihi wa salaam”.
Lalu Imam Syafi’I menyebutkan nasakhnya, yakni :

ﺻَﻠَّﻰ ﺭَﺳُﻮﻝُ ﺍﻟﻠَّﻪِ – ﺻَﻠَّﻰ ﺍﻟﻠَّﻪُ ﻋَﻠَﻴْﻪِ ﻭَﺳَﻠَّﻢَ – ﺑِﺎﻟﻨَّﺎﺱِ ﻓِﻲ ﻣَﺮَﺿِﻪِ ﺍﻟَّﺬِﻱ ﻣَﺎﺕَ ﻓِﻴﻪِ ﺟَﺎﻟِﺴًﺎ، ﻭَﺍﻟﻨَّﺎﺱُ ﺧَﻠْﻔَﻪُ ﻗِﻴَﺎﻣًﺎ ﻟَﻢْ ﻳَﺄْﻣُﺮْﻫُﻢْ ﺑِﺠُﻠُﻮﺱٍ ﻭَﻟَﻢْ ﻳَﺠْﻠِﺴُﻮﺍ ‏» ﻭَﻟَﻮْﻟَﺎ ﺃَﻧَّﻪُ ﻣَﻨْﺴُﻮﺥٌ ﺻَﺎﺭُﻭﺍ ﺇﻟَﻰ ﺍﻟْﺠُﻠُﻮﺱِ ﺑِﻤُﺘَﻘَﺪِّﻡِ ﺃَﻣْﺮِﻩِ ﺇﻳَّﺎﻫُﻢْ ﺑِﺎﻟْﺠُﻠُﻮﺱِ ﻭَﻟَﻮْ ﺫَﻫَﺐَ ﺫَﻟِﻚَ ﻋَﻠَﻴْﻬِﻢْ ﻟَﺄَﻣَﺮَﻫُﻢْ ﺑِﺎﻟْﺠُﻠُﻮﺱِ ﻭَﻗَﺪْ ﺻَﻠَّﻰ ﺃَﺑُﻮ ﺑَﻜْﺮٍ ﺇﻟَﻰ ﺟَﻨْﺒِﻪِ ﺑِﺼَﻠَﺎﺗِﻪِ ﻗَﺎﺋِﻤًﺎ ﻭَﻣَﺮَﺿُﻪُ ﺍﻟَّﺬِﻱ ﻣَﺎﺕَ ﻓِﻴﻪِ ﺁﺧِﺮُ ﻓِﻌْﻠِﻪِ

“Rasulullah Sholallahu ‘alaihi wa salaam mengimami manusia pada saat sakit yang membawa wafatnya dengan duduk, dan makmum dibelakangnya sholat dengan berdiri, Beliau tidak memerintahkan mereka untuk duduk, sehingga makmum pun tidak duduk. Sekiranya (hadits tentang isyarat agar duduk-pent.) tidak mansukh (terhapus hukumnya), niscaya para sahabat yang bermakmum kepada Nabi Sholallahu ‘alaihi wa salaam akan duduk, karena telah berlalu perintah kepada mereka untuk duduk, seandainya mereka lupa, niscaya akan diperintahkan lagi kepada mereka untuk duduk. Abu Bakar melaksanakan sholat disamping Rasulullah Sholallahu ‘alaihi wa salaam dengan berdiri pada saat Rasulullah sakit, yang itu merupkan akhir dari perbuatan Beliau Sholallahu ‘alaihi wa salaam”.
Memang dalam masalah kita ini ada dua madzhab, informasi ini bisa kita dapatkan dari penyataan Imam Nawawi sebagai berikut :

ﻓِﻲ ﻣَﺬَﺍﻫِﺐِ ﺍﻟْﻌُﻠَﻤَﺎﺀِ : ﻗَﺪْ ﺫَﻛَﺮْﻧَﺎ ﺃَﻥَّ ﻣَﺬْﻫَﺒَﻨَﺎ ﺟَﻮَﺍﺯُ ﺻَﻠَﺎﺓِ ﺍﻟْﻘَﺎﺋِﻢِ ﺧَﻠْﻒَ ﺍﻟْﻘَﺎﻋِﺪِ ﺍﻟْﻌَﺎﺟِﺰِ ﻭَﺃَﻧَّﻪُ ﻟَﺎ ﺗَﺠُﻮﺯُ ﺻَﻠَﺎﺗُﻬُﻢْ ﻭَﺭَﺍﺀَﻩُ ﻗُﻌُﻮﺩًﺍ ﻭَﺑِﻬَﺬَﺍ ﻗَﺎﻝَ ﺍﻟﺜَّﻮْﺭِﻱُّ ﻭَﺃَﺑُﻮ ﺣَﻨِﻴﻔَﺔَ ﻭَﺃَﺑُﻮ ﺛَﻮْﺭٍ ﻭَﺍﻟْﺤُﻤَﻴْﺪِﻱُّ ﻭَﺑَﻌْﺾُ ﺍﻟْﻤَﺎﻟِﻜِﻴَّﺔِ ﻭَﻗَﺎﻝَ ﺍﻟْﺄَﻭْﺯَﺍﻋِﻲُّ ﻭﺍﺣﻤﺪ ﻭﺍﺳﺤﻖ ﻭَﺍﺑْﻦُ ﺍﻟْﻤُﻨْﺬِﺭِ ﺗَﺠُﻮﺯُ ﺻَﻠَﺎﺗُﻬُﻢْ ﻭَﺭَﺍﺀَﻩُ ﻗُﻌُﻮﺩًﺍ ﻭَﻟَﺎ ﺗَﺠُﻮﺯُ ﻗِﻴَﺎﻣًﺎ ﻭَﻗَﺎﻝَ ﻣَﺎﻟِﻚٌ ﻓِﻲ ﺭِﻭَﺍﻳَﺔٍ ﻭَﺑَﻌْﺾُ ﺃﺻﺤﺎﺑﻪ ﺗَﺼِﺢُّ ﺍﻟﺼَّﻠَﺎﺓُ ﻭَﺭَﺍﺀَﻩُ ﻗَﺎﻋِﺪًﺍ ﻣُﻄْﻠَﻘًﺎ

“Kami telah menyebutkan bahwa madzhab kami (syafi’iyyah) membolehkan sholatnya orang yang berdiri dibelakang Imam yang duduk karena sakit dan tidak boleh bagi makmum sholat dibelakangnya dengan duduk (ketika mampu berdiri) ini juga adalah pendapatnya ats-Tsauri, Abu Hanifah, Abu Tsaur, al-Humaidiy dan sebagian Malikiyyah.
Adapun Auza’I, Ahmad, Ishaq, dan Ibnul Mundzir membolehkan orang yang sholat dibelakangnya dengan duduk, dan tidak boleh baginya sholat dengan berdiri. 
Sedangkan Imam Malik dalam sebagai riwayat sahabatnya, menshahihkan sholat dibelakang Imam yang duduk secara mutlak (artinya boleh duduk atau berdiri-pent.)” (al-Majmu (4/265)).
Dalam kitabnya al-Ashlu, Imam Al Albani menyanggah pendapat yang mengatakan bahwa masalah wajibnya makmum sholat dengan duduk, ketika Imamnya duduk, telah dihapus hukumnya (mansukh), silakan merujuknya bagi yang ingin penjelasan lebih lengkapnya.
Namun saya pribadi condong kepada pendapatnya Imam Syafi’I bahwa hal tersebut mansukh, dan naasikhnya adalah hadits yang diriwayatkan oleh Imam Bukhori dan Muslim dari Aisyah Rodhiyallahu ‘anhu dan ini lafadznya Muslim :

ﻣُﺮُﻭﺍ ﺃَﺑَﺎ ﺑَﻜْﺮٍ ﻓَﻠْﻴُﺼَﻞِّ ﺑِﺎﻟﻨَّﺎﺱِ، ﻗَﺎﻟَﺖْ : ﻓَﺄَﻣَﺮُﻭﺍ ﺃَﺑَﺎ ﺑَﻜْﺮٍ ﻳُﺼَﻠِّﻲ ﺑِﺎﻟﻨَّﺎﺱِ، ﻗَﺎﻟَﺖْ : ﻓَﻠَﻤَّﺎ ﺩَﺧَﻞَ ﻓِﻲ ﺍﻟﺼَّﻠَﺎﺓِ ﻭَﺟَﺪَ ﺭَﺳُﻮﻝُ ﺍﻟﻠﻪِ ﺻَﻠَّﻰ ﺍﻟﻠﻪُ ﻋَﻠَﻴْﻪِ ﻭَﺳَﻠَّﻢَ ﻣِﻦْ ﻧَﻔْﺴِﻪِ ﺧِﻔَّﺔً ﻓَﻘَﺎﻡَ ﻳُﻬَﺎﺩَﻯ ﺑَﻴْﻦَ ﺭَﺟُﻠَﻴْﻦِ، ﻭَﺭِﺟْﻠَﺎﻩُ ﺗَﺨُﻄَّﺎﻥِ ﻓِﻲ ﺍﻟْﺄَﺭْﺽِ، ﻗَﺎﻟَﺖْ : ﻓَﻠَﻤَّﺎ ﺩَﺧَﻞَ ﺍﻟْﻤَﺴْﺠِﺪَ ﺳَﻤِﻊَ ﺃَﺑُﻮ ﺑَﻜْﺮٍ ﺣِﺴَّﻪُ، ﺫَﻫَﺐَ ﻳَﺘَﺄَﺧَّﺮُ، ﻓَﺄَﻭْﻣَﺄَ ﺇِﻟَﻴْﻪِ ﺭَﺳُﻮﻝُ ﺍﻟﻠﻪِ ﺻَﻠَّﻰ ﺍﻟﻠﻪُ ﻋَﻠَﻴْﻪِ ﻭَﺳَﻠَّﻢَ، ﻗُﻢْ ﻣَﻜَﺎﻧَﻚَ، ﻓَﺠَﺎﺀَ ﺭَﺳُﻮﻝُ ﺍﻟﻠﻪِ ﺻَﻠَّﻰ ﺍﻟﻠﻪُ ﻋَﻠَﻴْﻪِ ﻭَﺳَﻠَّﻢَ ﺣَﺘَّﻰ ﺟَﻠَﺲَ ﻋَﻦْ ﻳَﺴَﺎﺭِ ﺃَﺑِﻲ ﺑَﻜْﺮٍ ﻗَﺎﻟَﺖْ : ﻓَﻜَﺎﻥَ ﺭَﺳُﻮﻝُ ﺍﻟﻠﻪِ ﺻَﻠَّﻰ ﺍﻟﻠﻪُ ﻋَﻠَﻴْﻪِ ﻭَﺳَﻠَّﻢَ ﻳُﺼَﻠِّﻲ ﺑِﺎﻟﻨَّﺎﺱِ ﺟَﺎﻟِﺴًﺎ ﻭَﺃَﺑُﻮ ﺑَﻜْﺮٍ ﻗَﺎﺋِﻤًﺎ ﻳَﻘْﺘَﺪِﻱ ﺃَﺑُﻮ ﺑَﻜْﺮٍ ﺑِﺼَﻠَﺎﺓِ ﺍﻟﻨَّﺒِﻲِّ ﺻَﻠَّﻰ ﺍﻟﻠﻪُ ﻋَﻠَﻴْﻪِ ﻭَﺳَﻠَّﻢَ ﻭَﻳَﻘْﺘَﺪِﻱ ﺍﻟﻨَّﺎﺱُ ﺑِﺼَﻠَﺎﺓِ ﺃَﺑِﻲ ﺑَﻜْﺮٍ

“Perintahkan Abu Bakar untuk mengimami manusia, lalu Abu Bakar pun diperintahkan untuk mengimami manusia, ketika sholat berlangsung, Rasulullah Sholallahu ‘alaihi wa salaam merasa ringan badannya, maka Beliau dipapah oleh dua orang dan kedua kakinya menempel di tanah. Ketika masuk masjid, Abu Bakar mendengar gerakan Nabi Sholallahu ‘alaihi wa salaam, Abu Bakar akan mundur, maka Rasulullah Sholallahu ‘alaihi wa salaam berisyarat kepadanya untuk tetap berada di tempatnya, lalu Rasulullah Sholallahu ‘alaihi wa salaam berada disitu duduk disamping kiri Abu Bakar. Rasulullah Sholallahu ‘alaihi wa salaam sholat mengimami manusia dengan duduk dan Abu Bakar sholat dengan berdiri bermakmum kepada Nabi Sholallahu ‘alaihi wa salaam dan manusia bermakmum kepada Abu Bakar Rodhiyallahu ‘anhu”.
Dalam hadits ini tersurat bahwa Rasulullah Sholallahu ‘alaihi wa salaam mengimami sholat, karena Beliau berada disebelah kiri Abu Bakar Rodhiyallahu ‘anhu, kemudian dalam kisah ini Rasulullah Sholallahu ‘alaihi wa salaam sholat dengan duduk, sedangkan Abu Bakar Rodhiyallahu ‘anhu yang bermakmum kepada Beliau, sholat dengan berdiri. Imam Nawawi menyebutkan bahwa dalam salah satu jalan lainnya, Imam Muslim meriwayatkan dengan tegas dan jelas bahwa ketika itu Rasulullah Sholallahu ‘alaihi wa salaam yang bertindak sebagai Imam :

ﻭَﻛَﺎﻥَ ﺍﻟﻨَّﺒِﻲُّ ﺻَﻠَّﻰ ﺍﻟﻠﻪُ ﻋَﻠَﻴْﻪِ ﻭَﺳَﻠَّﻢَ ﻳُﺼَﻠِّﻲ ﺑِﺎﻟﻨَّﺎﺱِ ﻭَﺃَﺑُﻮ ﺑَﻜْﺮٍ ﻳُﺴْﻤِﻌُﻬُﻢُ ﺍﻟﺘَّﻜْﺒِﻴﺮَ

Nabi Sholallahu ‘alaihi wa salaam mengimami manusia, sedangkan Abu Bakar meneruskan suara takbir Beliau.
Imam Nawawi menjelaskan maksud Abu Bakar meneruskan suara  takbir adalah : 

ﻭَﻗَﻮْﻟُﻪُ ﻳُﺴْﻤِﻌُﻬُﻢْ ﺍﻟﺘَّﻜْﺒِﻴﺮَ ﻳَﻌْﻨِﻲ ﺃَﻧَّﻪُ ﻳَﺮْﻓَﻊُ ﺻَﻮْﺗَﻪُ ﺑِﺎﻟﺘَّﻜْﺒِﻴﺮِ ﺇﺫَﺍ ﻛَﺒَّﺮَ ﺍﻟﻨَّﺒِﻲُّ ﺻَﻠَّﻰ ﺍﻟﻠَّﻪُ ﻋَﻠَﻴْﻪِ ﻭَﺳَﻠَّﻢَ ﻭَﺇِﻧَّﻤَﺎ ﻓَﻌَﻠَﻪُ ﻟِﺄَﻥَّ ﺭَﺳُﻮﻝَ ﺍﻟﻠَّﻪِ ﺻَﻠَّﻰ ﺍﻟﻠَّﻪُ ﻋَﻠَﻴْﻪِ ﻭَﺳَﻠَّﻢَ ﻛَﺎﻥَ ﺿَﻌِﻴﻒَ ﺍﻟﺼَّﻮْﺕِ ﺣِﻴﻨَﺌِﺬٍ ﺑِﺴَﺒَﺐِ ﺍﻟْﻤَﺮَﺽِ

“Yakni Abu Bakar Rodhiyallahu ‘anhu mengeraskan suara takbir, ketika Nabi Sholallahu ‘alaihi wa salaam bertakbir, hanyalah hal tersebut dilakukan karena suara Nabi Sholallahu ‘alaihi wa salaam sangat lemah, akibat sakit yang dideritanya” (al-Majmu (4/265).
Dari hadits diatas menunjukkan bahwa Nabi Sholallahu ‘alaihi wa salaam menjadi Imam dengan duduk, namun Abu Bakar Rodhiyallahu ‘anhu yang pada waktu itu menjadi makmum tetap sholat dengan berdiri, begitu juga makmum (para sahabat) lainnya. Seandainya sholat dengan berdiri dibelakang imam yang duduk tidak diperbolehkan, niscaya mereka akan segera duduk, ketika Rasulullah Sholallahu ‘alaihi wa salaam mengimami mereka dengan duduk, atau seandainya para sahabat ketika itu semuanya lupa dengan perintah untuk duduk, niscaya Rasulullah Sholallahu ‘alaihi wa salaam akan mengingatkan mereka untuk duduk. 
So, dengan tidak adanya perintah Rasulullah Sholallahu ‘alaihi wa salaam agar para makmum duduk atau persetujuan Beliau Sholallahu ‘alaihi wa salaam kepada para sahabat yang bermakmum dengan berdiri, padahal Nabi Sholallahu ‘alaihi wa salaam sendiri sholatnya dengan duduk karena sakit, maka hal ini menunjukkan bahwa sholat dengan berdiri diperbolehkan dibelakang Imam yang sholat dengan duduk. Terlebih lagi bahwa kejadian ini adalah beberapa hari menjelang wafatnya Nabi Sholallahu ‘alaihi wa salaam, sehingga ini adalah perkara akhir yang menasakh (menghapus) perintah Nabi Sholallahu ‘alaihi wa salaam sebelumnya kepada makmum untuk duduk, ketika sang imam sholat dengan duduk, mengimamai mereka –Wallahu A’lam-.
Kami tutup dengan perkataan Imam Nawawi (4/266) :

ﻗَﺎﻝَ ﺍﻟﺸَّﺎﻓِﻌِﻲُّ ﻭَﺍﻟْﺄَﺻْﺤَﺎﺏُ ﻭَﻏَﻴْﺮُﻫُﻢْ ﻣِﻦْ ﻋُﻠَﻤَﺎﺀِ ﺍﻟْﻤُﺤَﺪِّﺛِﻴﻦَ ﻭَﺍﻟْﻔُﻘَﻬَﺎﺀِ ﻫَﺬِﻩِ ﺍﻟﺮِّﻭَﺍﻳَﺎﺕُ ﺻَﺮِﻳﺤَﺔٌ ﻓِﻲ ﻧَﺴْﺦِ ﺍﻟْﺤَﺪِﻳﺚِ ﺍﻟﺴَّﺎﺑِﻖِ

“Syafi’I, para sahabatnya dan selain mereka dari kalangan muhaditsin dan fuqoha berkata, bahwa riwayat-riwayat yang jelas ini sebagai nasikh (penghapus) hadits sebelumnya”.

Advertisements

Leave a Comment »

RSS feed for comments on this post. TrackBack URI

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Blog at WordPress.com.
Entries and comments feeds.

%d bloggers like this: