​QIROAH IMAM HASAN AL-BASHRI PADA AYAT KE-19 SURAT AL BAQOROH

July 29, 2017 at 1:03 pm | Posted in Tulisan Lainnya | Leave a comment

QIROAH IMAM HASAN AL-BASHRI PADA AYAT KE-19 SURAT AL BAQOROH
Allah subhanahu wa ta’ala berfirman:

اَوْ كَصَيِّبٍ مِّنَ السَّمَآءِ فِيْهِ ظُلُمٰتٌ وَّرَعْدٌ وَّبَرْقٌ  ۚ  يَجْعَلُوْنَ اَصَابِعَهُمْ فِيْۤ اٰذَانِهِمْ مِّنَ الصَّوَاعِقِ حَذَرَ الْمَوْتِ ۗ  وَاللّٰهُ مُحِيْطٌۢ بِالْكٰفِرِيْنَ

“Atau seperti (orang yang ditimpa) hujan lebat dari langit, yang disertai kegelapan, petir, dan kilat. Mereka menyumbat telinga dengan jari-jarinya, (menghindari) suara petir itu karena takut mati. Allah meliputi orang-orang yang kafir.” (QS. Al-Baqarah 2: Ayat 19)
Imam ibnu Katsir dalam tasirnya menukil cara bacaan lain ketika membaca kalimat “مِّنَ الصَّوَاعِقِ حَذَرَ الْمَوْتِ”. Beliau mengatakan :

ونقل عن الحسن البصري أنه: قرأ “من الصواقع حذر الموت” بتقديم القاف

“Dinukil dari Imam Hasan al-bashri bahwa beliau membacanya dengan “minash Showaaqi’i khadzarol maut”, yakni dengan mendahulukan huruf qoof-nya (ash-Showaaqi’i,  bacaan yang umum ash-Showaa’iqi-pent.)”.
Kemudian Imam Ibnu Katsir menukil dari Imam an-Nuhaas yang mengatakan bahwa kata “ash-Showaaqi’i” adalah bahasanya Bani Tamim dan sebagian bani Rabiah. ash-Showaaqi’i dengan ash-Showaa’iqi maknanya sama yaitu kilatan petir. 
Telah mutawatir bahwa Al Qur’an ini dengan tujuh huruf, namun para ulama berbeda penafsiran yang dimaksud dengan tujuh huruf tersebut. Salah satu penafsirannya adalah ada sebagian kata dalam Al Qur’an bisa dibaca dalam berbagai variasi bahasa suku arab pada waktu itu, untuk mengungkapkan satu makna yang sama. Namun para ulama juga berselisih dalam menentukan 7 logat bahasa yang dimaksud ada yang mengatakan itu adalah 7 bahasa daerah : Quraisy, Hudzail, Tamiim, Hawaazin, Tsaqiif, Kinaanah dan Yaman. Ada juga yang menghilangkan 3 bahasa daerah terakhir, lalu diganti dengan : al-Azdiy, Rabi’ah dan Sa’ad bin Bakr. Akan tetapi yang pasti bahasa suku Quraisy adalah bahasa utama Al Qur’an turun padanya (al-Mabaahits Manaa’ al-Qothoon).
Suatu ketika Anas bin Malik radhiyallahu anhu pernah membaca ayat berikut :

اِنَّ نَاشِئَةَ الَّيْلِ هِيَ اَشَدُّ وَطْـاً وَّاَقْوَمُ قِيْلًا  

inna naasyi`atal-laili hiya asyaddu wath`aw wa aqwamu qiilaa

“Sungguh, bangun malam itu lebih kuat (mengisi jiwa); dan (bacaan di waktu itu) lebih berkesan.” (QS. Al-Muzzammil 73: Ayat 6).

Anas radhiyallahu anhu membaca “وَّاَقْوَمُ قِيْلًا” dengan “وَ اَصْوَبُ قِيْلاً” (wa ashwabu qiilaa). Lalu ketika sebagian orang komplain dengan bacaan Anas radhiyallahu anhu, beliau meresponnya dengan berkata :

 “اَقْوَمُ و اَصْوَبُ و أَهْيَأُ واحد”

(Aqwamu, aswabu, ahya`u itu artinya sama).

(HR.  ath-thabari dalam tafsirnya, dinisbatkan oleh Imam al-Haitsami kepada Abu Ya’la dan al-Bazaar, kata Ahmad Syakir perowi keduanya adalah para perowi hadits Shahih). 
So, dari riwayat Anas diatas ada beberapa kata dalam Al Qur’an bisa dibaca dalam beberapa versi sesuai dengan logat bahasa Arab yang disetujui oleh Rabbunaa untuk mempermudah membaca Al Qur’an. Namun setelah dilakukan jam’ul qur’an pada masa kekhilafahan Utsman bin ‘Affan, maka bahasa Al Qur’an distandarkan mengacu kepada bahasa suku quraisy, sehingga kemudian lahirlah istilah mushaf rasm Utsmani. 
Berangkat dari sini, maka syarat sebuah qiroah diterima sebagai qiraah maqbulah (yang bisa diaplikasikan) ada 3 rukun, sebagaimana yang disebutkan oleh asy-syaikh Abdul Fatah al-Qoodhiy dalam kitabnya “ﺍﻟﻘﺮﺍﺀﺍﺕ ﺍﻟﺸﺎﺫﺓ ﻭﺗﻮﺟﻴﻬﻬﺎ ﻣﻦ ﻟﻐﺔ ﺍﻟﻌﺮﺏ”, rukun tersebut adalah :

1. Sesuai dengan bahasa suku Arab, dimana Al Qur’an turun dengan tujuh huruf. 

2. Sesuai dengan salah satu rasm mushaf Utsmani. 

3. Dinukil secara mutawatir. 
Sebenarnya dua rukun pertama adalah konsekuensi dari rukun nomor tiga. Yakni jika sebuah qiroah itu mutawatir pasti sesuai dengan bahasa suku arab dan sesuai dengan mushaf Utsmani, karena khoth Mushaf Utsmani telah mengakomodir qiroah-qiroah mutawatir tersebut. Sehingga kalau ada qiroah yang tidak memenuhi satu atau lebih rukun diatas, qiroah tersebut dihukumi sebagai qiroah Syadz. 
Kemudian asy-syaikh Abdul Fatah ternyata memasukkan qiroah Imam Hasan al-bashri diatas sebagai qiroah Syadz (hal. 27-28). Barangkali alasan terbesarnya karena tidak mutawatir dan masyhurnya qiroah Imam Hasan al-bashri tersebut. Wallahul a’lam.

Advertisements

Leave a Comment »

RSS feed for comments on this post. TrackBack URI

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Create a free website or blog at WordPress.com.
Entries and comments feeds.

%d bloggers like this: