HUKUM SHOLAT DIANTARA TIANG MASJID

July 29, 2017 at 1:26 pm | Posted in Tulisan Lainnya | Leave a comment

HUKUM SHOLAT DIANTARA TIANG MASJID
Sebagaimana diketahui kebanyakan masjid atau musholla dalam ukuran besar, ada tiang-tiang yang dibangun untuk menopang atap masjid. Namun yang menjadi permasalahan dengan adanya tiang-tiang tersebut yang umumnya berukuran besar menjadi pemutus shof. pembahasan sederhana dalam  tulisan ini adalah terkait hukum sholat diantara tiang masjid tersebut pada saat sholat berjamaah.
Dalam madzhab Syafi’i sholat diantara tiang-tiang tersebut, jika itu adalah sholat sendirian atau sholatnya seorang Imam, maka tidak ada masalah, namun jika itu untuk para makmum pada saat sholat berjamaah, dimana konsekuensi dari sholat diantara tiang-tiang masjid, akan memutus shof, maka ulama Syafi’iyyah memakruhkannya. Al-Hafidz Ibnu Hajar -Rahimahullah- dalam “Fathul Baari” (4/58) berkata :

ومقصود البخاري بهذا الباب: أن من صلى بين ساريتين منفردا، كمن يصلي تطوعا؛ فإنه لا يكره له ذلك كما فعله النبي – صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ – في الكعبة، وكان ابن عمر يفعله.

وكذا لو صلى جماعة، وكان إمامهم، ووقف بين الساريتين وحده، وقد فعل ذلك سعيد بن جبير وسويد بن غفلة. ورخص فيه سفيان للإمام وكرهه للمأمومين.

وإنما يكره ذلك؛ لصف تقطعه السواري، فلو صلى اثنان أو ثلاثة جماعة بين ساريتين لم يكره – أيضا -، هذا قول أصحابنا وأصحاب الشافعي وغيرهم من العلماء.

وعلى مثل ذلك حملوا ما ورد من النهي عنه – مرفوعا، وموقوفا.

“maksud Imam Bukhori di bab ini adalah barangsiapa yang sholat sendirian diantara dua tiang, seperti orang yang sholat Tathowu’, maka hal tersebut dimakruhkan sebagaimana yang dilakukan oleh Nabi shalallahu alaihi wa sallam di Ka’bah, demikian juga yang dilakukan Ibnu Umar radhiyallahu ‘anhu. demikian juga ketika sholat berjamaah, dan ia sebagai seorang Imam lalu berdiri mengimamasi sholat diantara dua tiang, sebagaimana dilakukan oleh Said bin Jubair dan Suwaid bin Ghoflah, Imam Sufyan memberikan keringanan kepada imam, namun memakruhkannya untuk makmum (sholat diantara dua tiang).

hanyalah alasan memakruhkannya karena tiang-tiang tersebut dapat  memutus shof, namun jika makmumnya hanya berjumlah dua atau tiga orang lalu sholat diantara dua  tiang maka tidak makruh. ini adalah pendapatnya ashab kami dan ashab Syafi’i dan ulama lainnya. berdasarkan hal ini maka hadits-hadits yang melarang sholat diantara dua tiang baik yang marfu’ dan maquf dibawa kesana” -selesai-.
diantara hadits yang disebutkan oleh Al-Hafidz Ibnu Hajar adalah :

عَنْ عَبْدِ الْحَمِيدِ بْنِ مَحْمُودٍ قَالَ كُنَّا مَعَ أَنَسٍ فَصَلَّيْنَا مَعَ أَمِيرٍ مِنْ الْأُمَرَاءِ فَدَفَعُونَا حَتَّى قُمْنَا وَصَلَّيْنَا بَيْنَ السَّارِيَتَيْنِ فَجَعَلَ أَنَسٌ يَتَأَخَّرُ وَقَالَ قَدْ كُنَّا نَتَّقِي هَذَا عَلَى عَهْدِ رَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ
Dari Abdul Hamid bin Mahmud, dia berkata: “Kami dahulu bersama Anas bin Malik, lalu kami melakukan shalat di belakang seorang gubernur. Lalu mereka (makmum) mendorong kami sehingga kami berdiri dan shalat di antara dua tiang. Maka Anas mulai mundur dan mengatakan (yakni setelah selesai shalat),‘Kami dahulu pada zaman Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam menjahui ini (yakni shalat di antara dua tiang)’.”

Al Hafidz menyebutkan takhrijnya :

خرجه الإمام أحمد وأبو داود والنسائي والترمذي وابن خزيمة وابن حبان في ((صحيحيهما)) والحاكم، وقال: صحيح. وقال الترمذي: حديث حسن.

“Diriwayatkan oleh Imam Ahmad, Abu Dawud, Nasa’i, Tirmidzi, Ibnu Khuzaimah dan Ibnu Hibban dalam kitab shahihnya masing-masing, serta Imam al-Hakim, dan beliau berkata : “hadits Shahih”, Imam Tirmidzi menilainya, “Hadits Hasan”.
guru Al-Hafidz Ibnu Hajar sendiri, yaitu al-Hafidz al-‘Irooqiy juga mengatakan ucapan yang senada :

فإنّ مَن كره الصلاة بين الأساطين إنما هو في صلاة الجماعة؛ لأنّ الأساطين تقطع الصفوف، فأما من صلى بينها منفردا أو في جماعة وكان الإمام هو الواقف بينها أو المأمومين ولم يكثروا بحيث تحول الأسطوانة بينهم فلا أعلم أحدًا كرهه فلم تتوارد صورة الحديث مع صورة الكراهة على محل واحد وقد أشار لذلك البخاري بتبويبه على هذا الحديث “باب الصلاة بين السواري في غير جماعة”

“Orang yang memakruhkan diantara dua tiang itu hanyalah pada saat pelaksanaan sholat berjamaah, karena tiang-tiang tersebut dapat memutuskan shof. adapun orang yang sholat diantara tiang masjid, yaitu sholat sendirian atau ia sebagai Imam pada saat sholat berjamaah atau makmumnya tidak banyak, dimana shofnya bisa tertampung diantara dua tiang, maka aku tidak tahu ada ulama yang memakruhkannya dan juga tidak ada hadits yang datang dalam bentuk seperti itu, bersamaan hadits yang ada adalah dalam bentuk satu kondisi (seperti yang kami jelaskan diatas -pent.). oleh karenanya, Imam Bukhori mengisyaratkan hal tersebut (dalam Kitab Shahihnya) dengan membuat judul bab “Sholat diantara tiang-tiang masjid, bukan pada saat sholat berjamaah”. (http://www.feqhweb.com/vb/t6893.html).
pendapat makruhnya sholatnya makmum diantara tiang-tiang masjid juga dinyatakan oleh Imam Ahmad dan Imam Ishaq bin Rohawaih, sebagaimana disampaikan oleh Imam Tirmidzi setelah meriwayatkan hadits Anas bin Malik radhiyallahu ‘anhu diatas :

وَقَدْ كَرِهَ قَوْمٌ مِنْ أَهْلِ العِلْمِ: أَنْ يُصَفَّ بَيْنَ السَّوَارِي، وَبِهِ يَقُولُ أَحْمَدُ، وَإِسْحَاقُ «وَقَدْ رَخَّصَ قَوْمٌ مِنْ أَهْلِ العِلْمِ فِي ذَلِكَ»

“sekelompok ulama memakruhkan untuk membuat shof diantara tiang-tiang masjid, ini adalah pendapatnya Imam Ahmad dan Imam Ishaq, namun sebagian ulama memberikan keringanan terkait hal tersebut”.

Advertisements

Leave a Comment »

RSS feed for comments on this post. TrackBack URI

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Blog at WordPress.com.
Entries and comments feeds.

%d bloggers like this: