IBNU ABBAS MENAKWIL KURSIY ALLAH

July 29, 2017 at 12:43 pm | Posted in Tulisan Lainnya | Leave a comment

IBNU ABBAS RADHIYALLAHU ANHU  MELAKUKAN TAKWIL? 
BAGIAN 1 -KURSIY ADALAH ILMU-
Telah masyhur ayat kursi yang berbunyi :

ﺍﻟﻠَّﻪُ ﻟَﺎ ﺇِﻟَﻪَ ﺇِﻟَّﺎ ﻫُﻮَ ﺍﻟْﺤَﻲُّ ﺍﻟْﻘَﻴُّﻮﻡُ ﻟَﺎ ﺗَﺄْﺧُﺬُﻩُ ﺳِﻨَﺔٌ ﻭَﻟَﺎ ﻧَﻮْﻡٌ ﻟَﻪُ ﻣَﺎ ﻓِﻲ ﺍﻟﺴَّﻤَﺎﻭَﺍﺕِ ﻭَﻣَﺎ ﻓِﻲ ﺍﻟْﺄَﺭْﺽِ ﻣَﻦْ ﺫَﺍ ﺍﻟَّﺬِﻱ ﻳَﺸْﻔَﻊُ ﻋِﻨْﺪَﻩُ ﺇِﻟَّﺎ ﺑِﺈِﺫْﻧِﻪِ ﻳَﻌْﻠَﻢُ ﻣَﺎ ﺑَﻴْﻦَ ﺃَﻳْﺪِﻳﻬِﻢْ ﻭَﻣَﺎ ﺧَﻠْﻔَﻬُﻢْ ﻭَﻟَﺎ ﻳُﺤِﻴﻄُﻮﻥَ ﺑِﺸَﻲْﺀٍ ﻣِﻦْ ﻋِﻠْﻤِﻪِ ﺇِﻟَّﺎ ﺑِﻤَﺎ ﺷَﺎﺀَ ﻭَﺳِﻊَ ﻛُﺮْﺳِﻴُّﻪُ ﺍﻟﺴَّﻤَﺎﻭَﺍﺕِ ﻭَﺍﻟْﺄَﺭْﺽَ ﻭَﻟَﺎ ﻳَﺌُﻮﺩُﻩُ ﺣِﻔْﻈُﻬُﻤَﺎ ﻭَﻫُﻮَ ﺍﻟْﻌَﻠِﻲُّ ﺍﻟْﻌَﻈِﻴﻢُ

Allah tidak ada Tuhan melainkan Dia yang Maha Kekal lagi terus menerus mengurus makhlukNya, tidak mengantuk dan tidak tidur KepunyaanNya apa yang di langit dan di bumi. Siapakah yang dapat memberi syafa’at di sisi Allah tanpa izinNya? Allah mengetahui apa-apa yang di hadapan mereka dan di belakang meraka, dan mereka tidak mengetahui apa-apa dari ilmu Allah melainkan apa yang dikehendakiNya. Kursi Allah meliputi langit dan bumi, Dan Allah tidak merasa berat memelihara keduanya, dan Allah Maha Tinggi lagi Maha Besar. (QS : Al-Baqarah : 255).
Sebagian ahli bid’ah bergembira ketika menemukan takwil Ibnu Abbas radhiyallahu anhu terhadap makna Firman Allah subhanahu wa ta’aalaa “ ﻭَﺳِﻊَ ﻛُﺮْﺳِﻴُّﻪُ ”, dikatakan beliau menakwilnya dengan Ilmu Allah. Mereka menemukan takwil tersebut dalam kitab tafsir ulama, diantaranya tertera dalam Tafsir Imam ath-Thabari (5/397-398, cet. Muasasah ar-Risalah) beliau menulis :

ﺣﺪﺛﻨﺎ ﺃﺑﻮ ﻛﺮﻳﺐ ﻭﺳﻠﻢ ﺑﻦ ﺟﻨﺎﺩﺓ، ﻗﺎﻻ ﺣﺪﺛﻨﺎ ﺍﺑﻦ ﺇﺩﺭﻳﺲ، ﻋﻦ ﻣﻄﺮﻑ، ﻋﻦ ﺟﻌﻔﺮ ﺑﻦ ﺃﺑﻲ ﺍﻟﻤﻐﻴﺮﺓ، ﻋﻦ ﺳﻌﻴﺪ ﺑﻦ ﺟﺒﻴﺮ، ﻋﻦ ﺍﺑﻦ ﻋﺒﺎﺱ ”: ﻭﺳﻊ ﻛﺮﺳﻴﻪ ” ﻗﺎﻝ : ﻛﺮﺳﻴﻪ ﻋﻠﻤﻪ .

ﺣﺪﺛﻨﻲ ﻳﻌﻘﻮﺏ ﺑﻦ ﺇﺑﺮﺍﻫﻴﻢ، ﻗﺎﻝ : ﺣﺪﺛﻨﺎ ﻫﺸﻴﻢ، ﻗﺎﻝ : ﺃﺧﺒﺮﻧﺎ ﻣﻄﺮﻑ، ﻋﻦ ﺟﻌﻔﺮ ﺑﻦ ﺃﺑﻲ ﺍﻟﻤﻐﻴﺮﺓ، ﻋﻦ ﺳﻌﻴﺪ ﺑﻦ ﺟﺒﻴﺮ، ﻋﻦ ﺍﺑﻦ ﻋﺒﺎﺱ، ﻣﺜﻠﻪ . ﻭﺯﺍﺩ ﻓﻴﻪ : ﺃﻻ ﺗﺮﻯ ﺇﻟﻰ ﻗﻮﻟﻪ ”: ﻭﻻ ﻳﺆﻭﺩﻩ ﺣﻔﻈﻬﻤﺎ ” ؟

Semuanya sanadnya bermuara kepada Ja’far bin Abil Mughiroh, dari Sa’id bin Jubair, dari Ibnu Abbas beliau berkata : “kursi-Nya adalah Ilmu-Nya”.
Namun antum wahai mubtadi’ jangan gembira dulu, karena yang mempelopori pernyataan ini adalah kaum Jahmiyyah. Bisyir bin Ghiyaats al-Mariisiy (w. 218 H) dengan “pede” mengatakan :

ﻓَﻤَﻌْﻨَﻰ ﺍﻟْﻜُﺮْﺳِﻲِّ ﺍﻟْﻌِﻠْﻢُ، ﻓَﻤَﻦْ ﺫَﻫَﺐَ ﺇِﻟَﻰ ﻏَﻴْﺮِ ﺍﻟْﻌِﻠْﻢِ ﺃَﻛْﺬَﺑَﻪُ ﻛِﺘَﺎﺏُ ﺍﻟﻠَّﻪِ ﺗَﻌَﺎﻟَﻰ

“makna kursiy adalah ilmu, maka barangsiapa yang mengatakan selain ilmu, berarti ia telah mendustakan Kitabullah Ta’aalaa”.
Siapakah Bisyir al-Mariisiy ini?, Imam adz-Dzahabi dalam Mizaanul I’tidaal (1/322) berkata tentangnya :

ﻣﺒﺘﺪﻉ ﺿﺎﻝ، ﻻ ﻳﻨﺒﻐﻲ ﺃﻥ ﻳﺮﻭﻯ ﻋﻨﻪ ﻭﻻ ﻛﺮﺍﻣﺔ .

“ahlu bid’ah sesat, tidak selayaknya meriwayatkan darinya dan tidak ada kemulian baginya”.
Sedangkan Imam az-Zrekliy dalam “al-A’laam” (2/55) berkata tentangnya :

ﻓﻘﻴﻪ ﻣﻌﺘﺰﻟﻲ ﻋﺎﺭﻑ ﺑﺎﻟﻔﻠﺴﻔﺔ، ﻳﺮﻣﻰ ﺑﺎﻟﺰﻧﺪﻗﺔ . ﻭﻫﻮ ﺭﺃﺱ ﺍﻟﻄﺎﺋﻔﺔ ‏( ﺍﻟﻤﺮﻳﺴﻴﺔ ‏) ﺍﻟﻘﺎﺋﻠﺔ ﺑﺎﻹﺭﺟﺎﺀ، ﻭﺇﻟﻴﻪ ﻧﺴﺒﺘﻬﺎ . ﺃﺧﺬ ﺍﻟﻔﻘﻪ ﻋﻦ ﺍﻟﻘﺎﺿﻲ ﺃﺑﻲ ﻳﻮﺳﻒ، ﻭﻗﺎﻝ ﺑﺮﺃﻱ ﺍﻟﺠﻬﻤﻴﺔ ،

“faqiih, mu’taziliy, jago filsafat, dituduh dengan zindik, dia adalah gembongnya sekte “al-Mariisiyyah” yang mengusung murji’ah, dan paham ini dinisbatkan kepadanya. Belajar fiqih kepada Qodhi Abu Yusuf, dan dikatakan dia menganut Jahmiyyah”.

Jadi dari penilaian Imam az-Zrekliy semua aliran kesesatan masuk dalam dirinya.
Perkataan Bisyir diatas, dinukil oleh Imam Utsman bin Sa’id ad-Daarimiy penulis kitab sunan yang dimasukkan sebagai Kutubut Tis’ah, dalam kitabnya yang memang ditulis untuk membantah Bisyir al-Mariisiy yang berjudul “Naqd Imam ad-Darimiy ‘alaa Bisyir al-Mariisiy” (1/411, cet. Maktabah ar-Rusydiy). Kemudian setelah menukil ucapan yang penuh percaya diri dari Bisyir diatas, Imam ad-Daarimiy berkata :

ﻓَﻴُﻘَﺎﻝُ ﻟِﻬَﺬَﺍ ﺍﻟْﻤَﺮِﻳﺴِﻲِّ : ﺃَﻣَّﺎ ﻣَﺎ ﺭَﻭَﻳْﺖَ ﻋَﻦِ ﺍﺑْﻦِ ﻋَﺒَّﺎﺱٍ ﻓَﺈِﻧَّﻪُ ﻣِﻦْ ﺭِﻭَﺍﻳَﺔِ ﺟَﻌْﻔَﺮٍ ﺍﻟْﺄَﺣْﻤَﺮِ ﻭَﻟَﻴْﺲَ ﺟَﻌْﻔَﺮٌ ﻣِﻤَّﻦْ ﻳُﻌْﺘَﻤَﺪُ ﻋَﻠَﻰ ﺭِﻭَﺍﻳَﺘِﻪِ، ﺇِﺫْ ﻗَﺪْ ﺧَﺎﻟَﻔَﺘْﻪُ ﺍﻟﺮُّﻭَﺍﺓُ ﺍﻟﺜِّﻘَﺎﺕُ ﺍﻟْﻤُﺘْﻘِﻨُﻮﻥَ . ﻭَﻗَﺪْ ﺭَﻭَﻯ ﻣُﺴْﻠِﻢٌ ﺍﻟْﺒَﻄِﻴﻦُ، ﻋَﻦْ ﺳَﻌِﻴﺪِ ﺑﻦ ﺟُﺒَﻴﺮ، ﻋَﻦ ﺍﺑْﻦِ ﻋَﺒَّﺎﺱٍ ﻓِﻲ ﺍﻟْﻜُﺮْﺳِﻲِّ ﺧِﻠَﺎﻑَ ﻣَﺎ ﺍﺩَّﻋَﻴْﺖَ ﻋَﻠَﻰ ﺍﺑْﻦِ ﻋَﺒَّﺎﺱٍ .

ﺣَﺪﺛﻨَﺎ ﻳَﺤْﻴَﻰ ﻭَﺃَﺑُﻮ ﺑَﻜْﺮِ ﺑْﻦُ ﺃَﺑِﻲ ﺷَﻴْﺒَﺔَ، ﻋَﻦْ ﻭَﻛِﻴﻊٍ، ﻋَﻦْ ﺳُﻔْﻴَﺎﻥَ، ﻋَﻦْ ﻋَﻤَّﺎﺭٍ ﺍﻟﺪُّﻫْﻨِﻲِّ، ﻋَﻦْ ﻣُﺴْﻠِﻢٍ ﺍﻟْﺒَﻄِﻴﻦِ، ﻋَﻦْ ﺳَﻌِﻴﺪِ ﺑْﻦِ ﺟُﺒَﻴْﺮٍ، ﻋَﻦِ ﺍﺑْﻦِ ﻋَﺒَّﺎﺱٍ ﺭَﺿِﻲَ ﺍﻟﻠَّﻪُ ﻋَﻨْﻬُﻤَﺎ ﻗَﺎﻝَ : “ ﺍﻟْﻜُﺮْﺳِﻲُّ ﻣَﻮْﺿِﻊُ ﺍﻟْﻘَﺪَﻣَﻴْﻦِ، ﺍﻟْﻌَﺮْﺵ ﻟَﺎ ﻳُﻘَﺪِّﺭُ ﻗَﺪْﺭَﻩُ ﺇِﻟَّﺎ ﺍﻟﻠَّﻪُ ”

“maka dikatakan kepada al-Mariisiy : “adapun apa yang engkau riwayatkan dari Ibnu Abbas, maka itu berasal dari riwayat Ja’far al-Ahmar, bukan Ja’far yang dijadikan pegangan riwayatnya, yangmana dia telah menyelisihi para perowi tsiqoh lagi mutqiin. Muslim al-Bathiin telah meriwayatkan dari Sa’id bin Jubair, dari Ibnu Abbas tentang penafsiran Kursiy yang berbeda dengan apa yang engkau klaim.

Telah menceritakan kepada kami Yahya dan Abu Bakar ibnu Abi Syaibah, dari Wakii’, dari Sufyan, dari ‘Ammaar ad-Duhniy, dari Muslim al-Bathiin, dari Sa’id bin Jubair, dari Ibnu Abbas rodhiyallahu ‘anhumaa, beliau berkata : “Kursiy adalah tempat kedua telapak kaki Allah, sedangkan al-‘Arsy tidak ada yang tahu ukurannya kecuali Allah”.
Imam Al Albani dalam “ash-Shahihah” (1/226) berkata :

ﻭﻣﺎ ﺭﻭﻱ ﻋﻦ ﺍﺑﻦ ﻋﺒﺎﺱ ﺃﻧﻪ ﺍﻟﻌﻠﻢ، ﻓﻼ ﻳﺼﺢ ﺇﺳﻨﺎﺩﻩ ﺇﻟﻴﻪ ﻷﻧﻪ ﻣﻦ ﺭﻭﺍﻳﺔ ﺟﻌﻔﺮ ﺑﻦ ﺃﺑﻲ ﺍﻟﻤﻐﻴﺮﺓ ﻋﻦ ﺳﻌﻴﺪ ﺑﻦ ﺟﺒﻴﺮ ﻋﻨﻪ . ﺭﻭﺍﻩ ﺍﺑﻦ ﺟﺮﻳﺮ . ﻗﺎﻝ ﺍﺑﻦ ﻣﻨﺪﻩ : ﺍﺑﻦ ﺃﺑﻲ ﺍﻟﻤﻐﻴﺮﺓ ﻟﻴﺲ ﺑﺎﻟﻘﻮﻱ ﻓﻲ ﺍﺑﻦ ﺟﺒﻴﺮ .

“apa yang diriwayatkan dari Ibnu Abbas bahwa Kursiy adalah ilmu, tidak shahih sanadnya, karena itu berasal dari riwayat Ja’far bin Abil Mughiiroh dari Sa’id bin Jubair dari Ibnu Abbas, diriwayatkan oleh Ibnu Jariir. Imam Ibnu Mandah berkata : “ibnu Abil Mughiiroh, tidaklah kuat didalam riwayat Ibnu Jubair”.
Imam ibnu Abil Izzi telah mengisyaratkan kelemahan riwayat Ibnu Abbas bahwa Kursiy adalah ilmu, dan merajihkan bahwa Kursiy adalah tempat kedua Telapak Kaki, dalam kitabnya “Syarah Aqidah ath-Thahawiyyah” (hal. 280, cet. Daarus Salaam) :

ﻭَﻗِﻴﻞَ : ﻛُﺮْﺳِﻴُّﻪُ ﻋِﻠْﻤُﻪُ، ﻭَﻳُﻨْﺴَﺐُ ﺇِﻟَﻰ ﺍﺑْﻦِ ﻋَﺒَّﺎﺱٍ ﻭَﺍﻟْﻤَﺤْﻔُﻮﻅُ ﻋَﻨْﻪُ ﻣَﺎ ﺭَﻭَﺍﻩُ ﺍﺑْﻦُ ﺃَﺑِﻲ ﺷَﻴْﺒَﺔَ، ﻛَﻤَﺎ ﺗَﻘَﺪَّﻡَ

“dikatakan bahwa Kursi-Nya adalah Ilmu-Nya, dan dinisbatkan kepada Ibnu Abbas, namun yang mahfuudh (yang rajih) dari Ibnu Abbas adalah apa yang diriwayatkan oleh Ibnu Abi Syaibah sebagaimana telah berlalu (yakni Kursiy adalah tempat kedua Telapak Kaki Allah-pent.)”.
Bagi yang menginginkan takhrij atsar Ibnu Abbas yang mentakwil Kursiy dengan Ilmu Allah, dapat merujuk di tautan berikut :

http://www.ahlalhdeeth.com/vb/showthread.php?t=22720

Ada penjelasan yang sangat lengkap tentang kelemahan atsar tersebut.
Majalah al-Bukhuts al-Islamiyyah dibawah naungan dewan fatwa Saudi Arabia, juga menurunkan sebuah artikel dan didalamnya terdapat tulisan :

ﺃﻣﺎ ﺍﻟﺮﻭﺍﻳﺔ ﺍﻟﺘﻲ ﺫﻛﺮ ﻋﻦ ﺍﺑﻦ ﻋﺒﺎﺱ – ﺭﺿﻲ ﺍﻟﻠﻪ ﻋﻨﻬﻤﺎ – ﻣﻦ ﺃﻥ ﺍﻟﻜﺮﺳﻲ ﻫﻮ ﺍﻟﻌﻠﻢ، ﻓﻬﻲ ﻻ ﺗﺼﺢ ﻋﻦ ﺍﺑﻦ ﻋﺒﺎﺱ ﻷﻧﻪ ﻟﻢ ﻳﺮﺩ ﻓﻲ ﺍﻟﻠﻐﺔ ﺍﻟﻌﺮﺑﻴﺔ ﺃﻥ ﻣﻌﻨﻰ ﺍﻟﻜﺮﺳﻲ ﻫﻮ ﺍﻟﻌﻠﻢ .

ﻗﺎﻝ ﺍﺑﻦ ﻣﻨﻈﻮﺭ : ﺍﻟﻜﺮﺳﻲ : ﻣﻌﺮﻭﻑ ﻭﺍﺣﺪ ﺍﻟﻜﺮﺍﺳﻲ، ﻭﺍﻟﻜﺮﺳﻲ ﻓﻲ ﺍﻟﻠﻐﺔ ﺍﻟﺸﻲﺀ ﺍﻟﺬﻱ ﻳﻌﺘﻤﺪ ﻋﻠﻴﻪ ﻭﻳﺠﻠﺲ ﻋﻠﻴﻪ ،

“adapun riwayat yang disebutkan dari Ibnu Abbas bahwa Kusriy adalah ilmu, maka ini tidak benar dari Ibnu Abbas, karena tidak ada dalam bahasa arab makna kursiy adalah ilmu.

Ibnu Mandhuur berkata : “Kursiy adalah ma’ruf, bentuk tunggal dari al-Karoosiy. Kursi secara bahasa adalah sesuatu yang digunakan untuk bersandar atau duduk”.
Kemudian majalah juga menulis :

ﻭﻓﻴﻪ ﺩﻟﻴﻞ ﻋﻠﻰ ﺇﺛﺒﺎﺕ ﺍﻟﻘﺪﻣﻴﻦ ﻟﻠﻪ – ﻋﺰ ﻭﺟﻞ – ﻭﻗﺪ ﺟﺎﺀﺕ ﺑﺬﻟﻚ ﺍﻷﺣﺎﺩﻳﺚ ﺍﻟﺼﺤﻴﺤﺔ .

“didalamnya terdapat dalil penetapan kedua Telapak kaki bagi Allah Azza wa Jalla, telah datang hadits-hadits yang shahih berkaitan dengan hal tersebut…”.

Setelah disebutkan haditsnya, lalu mereka berkata :

ﻭﻻ ﻳﻠﺰﻡ ﻣﻦ ﺇﺛﺒﺎﺕ ﺍﻟﻘﺪﻣﻴﻦ ﻟﻠﻪ – ﻋﺰ ﻭﺟﻞ – ﺍﻟﺘﺠﺴﻴﻢ، ﻭﻻ ﺍﻟﺘﺸﺒﻴﻪ، ﻓﻬﻮ ﺳﺒﺤﺎﻧﻪ ﻟﻴﺲ ﻟﻪ ﺷﺒﻴﻪ ﻭﻻ ﻣﺜﻴﻞ ﻓﻲ ﺃﺳﻤﺎﺋﻪ ﻭﻻ ﻓﻲ ﺻﻔﺎﺗﻪ .

ﻟَﻴْﺲَ ﻛَﻤِﺜْﻠِﻪِ ﺷَﻲْﺀٌ ﻭَﻫُﻮَ ﺍﻟﺴَّﻤِﻴﻊُ ﺍﻟْﺒَﺼِﻴﺮُ

“tidak melazimkan penetapan kedua Telapak Kaki bagi Alllah adalah tajsiim dan juga tasybiih, karena Allah tidak ada yang serupa dan semisal dengan-Nya dalam Asmaa’ dan sifat-Nya. Firman-Nya : {tidak ada yang semisal dengan-Nya sedikit pun, dan Dia Maha Mendengar lagi Maha Melihat}”.

Lihat selengkapnya di tautan berikut :

http://www.alifta.net/Fatawa/fatawaDetails.aspx?View=Page&PageID=11981&PageNo=1&BookID=2
Kesimpulannya, pihak yang pro takwil dengan mengklaim itu berasal dari salaf / sahabat, pada point ini mereka harus gigit jari dulu.Wallahul A’lam

Advertisements

Leave a Comment »

RSS feed for comments on this post. TrackBack URI

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Blog at WordPress.com.
Entries and comments feeds.

%d bloggers like this: