MAKAN DAGING UNTA WAJIB BERWDHU

July 29, 2017 at 1:05 pm | Posted in Tulisan Lainnya | Leave a comment

PEMBATAL-PEMBATAL WUDHU

bagian 2 Pembatal yang diperselisihkan para ulama , namun yang Rajih Membatalkan Wudhu

Seri 4 (akhir)  – Makan Daging Unta
Para ulama berselisih pendapat tentang batalnya wudhu bagi yang memakan daging unta. Syaikh Mahmud menyebutkannya, kata beliau :

”Kaum Muslimin berselisih pendapat tentang hukum memakan daging unta dari sisi membatalkan wudhu kepada 2 pendapat. Dinisbahkan kepada kholifah yang empat, Ibnu Mas’ud, Ubay bin Ka’ab, Ibnu Abbas, Abu Dardaa’ dan Abu Umaamah Rodhiyallahu anhum, Malik, Abu Hanifah dan Syafi’I bahwa memakan daging unta tidak membatalkan wudhu.

Sedangkan Ahmad, Ishaq bin Rohawaih, Ibnul Mundzir, Ibnu Khuzaimah, Baihaqi, Ulama hadits secara mutlak dan sekelompok sahabat, berpendapat bahwa memakan daging unta membatalkan wudhu. Dinisbahkan pendapat ini juga kepada Syafi’I tentang ucapannya dalam masalah ini dan kepada Muhammad ibnul Hasan dari kalangan Hanafiyah. Ini karena diriwayatkan bahwa Imam Syafi’I berkata : ‘jika shahih haditsnya tentang memakan unta (dapat membatalkan wudhu), maka kami berpendapat dengannya. Kami katakan benar shahih haditsnya. Baihaqi berkata yang ia merupakan ulama madzhab Syafi’I : ‘telah sampai kepadaku bahwa Ahmad bin Hambal dan Ishaq bin Ibrohim yakni Ibnu Rohawaih, keduanya berkata bahwa telah shahih dalam bab ini 2 hadits dari Nabi shallallahu alaihi wa sallam, haditsnya Baroo’ bin Aazib dan haditsnya Jaabir bin Samuroh’” -selesai-.
Hadits yang dimaksud adalah sebagai berikut :

1. Hadits Baroo’ bin ‘Aazib Rodhiyallahu anhu, bahwa ia berkata :

ﺳُﺌِﻞَ ﺭَﺳُﻮﻝُ ﺍﻟﻠَّﻪِ – ﺻﻠﻰ ﺍﻟﻠﻪ ﻋﻠﻴﻪ ﻭﺳﻠﻢ – ﻋَﻦِ ﺍﻟْﻮُﺿُﻮﺀِ ﻣِﻦْ ﻟُﺤُﻮﻡِ ﺍﻹِﺑِﻞِ ﻓَﻘَﺎﻝَ ‏« ﺗَﻮَﺿَّﺌُﻮﺍ ﻣِﻨْﻬَﺎ ‏» . ﻭَﺳُﺌِﻞَ ﻋَﻦْ ﻟُﺤُﻮﻡِ ﺍﻟْﻐَﻨَﻢِ ﻓَﻘَﺎﻝَ ‏« ﻻَ ﺗَﺘَﻮَﺿَّﺌُﻮﺍ ﻣِﻨْﻬَﺎ ‏» . ﻭَﺳُﺌِﻞَ ﻋَﻦِ ﺍﻟﺼَّﻼَﺓِ ﻓِﻰ ﻣَﺒَﺎﺭِﻙِ ﺍﻹِﺑِﻞِ ﻓَﻘَﺎﻝَ ‏« ﻻَ ﺗُﺼَﻠُّﻮﺍ ﻓِﻰ ﻣَﺒَﺎﺭِﻙِ ﺍﻹِﺑِﻞِ ﻓَﺈِﻧَّﻬَﺎ ﻣِﻦَ ﺍﻟﺸَّﻴَﺎﻃِﻴﻦِ ‏» . ﻭَﺳُﺌِﻞَ ﻋَﻦِ ﺍﻟﺼَّﻼَﺓِ ﻓِﻰ ﻣَﺮَﺍﺑِﺾِ ﺍﻟْﻐَﻨَﻢِ ﻓَﻘَﺎﻝَ ‏« ﺻَﻠُّﻮﺍ ﻓِﻴﻬَﺎ ﻓَﺈِﻧَّﻬَﺎ ﺑَﺮَﻛَﺔٌ »

“Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam ditanya tentang wudhu karena makan daging unta, maka jawaban Nabi : “Berwudhu karenanya”. Kemudian Beliau ditanya tentang makan daging Kambing, jawabnya : “tidak berwudhu karenanya”. lalu ditanya tentang sholat di kandang Unta, jawabnya : “janganlah sholat di kandang Unta, karena ini sarangnya setan”. Dan ketika ditanya tentang sholat di kandang Kambing, jawabnya : “sholatlah disana karena itu berkah” (HR. Abu Dawud dan ini lafadznya, HR. Tirmidzi dan Ibnu Majah, dishahihkan oleh Imam Al Albani).
2. Hadits Jaabir bin Samuroh Rodhiyallahu anhu, bahwa ia berkata :

ﺃَﻥَّ ﺭَﺟُﻼً ﺳَﺄَﻝَ ﺭَﺳُﻮﻝَ ﺍﻟﻠَّﻪِ – ﺻﻠﻰ ﺍﻟﻠﻪ ﻋﻠﻴﻪ ﻭﺳﻠﻢ – ﺃَﺃَﺗَﻮَﺿَّﺄُ ﻣِﻦْ ﻟُﺤُﻮﻡِ ﺍﻟْﻐَﻨَﻢِ ﻗَﺎﻝَ ‏« ﺇِﻥْ ﺷِﺌْﺖَ ﻓَﺘَﻮَﺿَّﺄْ ﻭَﺇِﻥْ ﺷِﺌْﺖَ ﻓَﻼَ ﺗَﻮَﺿَّﺄْ ‏» . ﻗَﺎﻝَ ﺃَﺗَﻮَﺿَّﺄُ ﻣِﻦْ ﻟُﺤُﻮﻡِ ﺍﻹِﺑِﻞِ ﻗَﺎﻝَ ‏« ﻧَﻌَﻢْ ﻓَﺘَﻮَﺿَّﺄْ ﻣِﻦْ ﻟُﺤُﻮﻡِ ﺍﻹِﺑِﻞِ ‏» . ﻗَﺎﻝَ ﺃُﺻَﻠِّﻰ ﻓِﻰ ﻣَﺮَﺍﺑِﺾِ ﺍﻟْﻐَﻨَﻢِ ﻗَﺎﻝَ ‏« ﻧَﻌَﻢْ ‏» . ﻗَﺎﻝَ ﺃُﺻَﻠِّﻰ ﻓِﻰ ﻣَﺒَﺎﺭِﻙِ ﺍﻹِﺑِﻞِ ﻗَﺎﻝَ ‏« ﻻَ »

“bahwa seorang bertanya kepada Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam: ‘apakah aku berwudhu kerena makan daging kambing?’. Nabi  menjawab : “Jika mau berwudhu, jika mau tidak usah berwudhu”. Tanyanya lagi : ‘apakah berwudhu karena memakan daging unta?’. Jawab Beliau : “iya berwudhu karena memakan daging unta”. Tanyanya lagi : ‘bolehkah aku sholat di kandang Kambing?’. Jawabnya : “Iya”. Tanyanya lagi : ‘Bolehkan sholat di kandang Unta?’. Jawabnya : “Tidak boleh”” (HR. Muslim).
Sehingga berdasarkan hadits yang shahih ini, maka pendapat yang kuat memakan daging Unta membatalkan wudhu, dan tidak perlu ragu untuk menerima pendapat ini karena melihat empat kholifah dikatakan tidak berpendapat dengannya. Imam Al Albani berkata ketika mengkritik pihak yang merasa aneh dalam masalah ini, kata beliau :

”Imam Nawawi berkata : ‘madzhab ini (yakni batal wudhu karena makan daging Unta -pent.) lebih kuat dalillnya, sekalipun jumhur menyelisihinya-selesai-.

Namun perkataan Imam Nawawi selanjutnya : ‘bagaimana bisa, haditsnya Jaabir dan Baroo’ tidak diketahui oleh kholifah empat dan mayoritas kalangan sahabat dan Tabi’in?’. 

aku (Al Albani) berkata : ‘pertanyaan ini tidak layak diajukan setelah hadistnya Shahih dari Nabi shallallahu alaihi wa sallam dengan sepengatahuan penulisnya (maksudnya Imam Nawawi sendiri -pent.), sehingga tidak boleh meninggalkannya sekalipun banyak yang menyelisihinya, karena hadits Rasulullah  hanyalah ia tetap dengan dirinya sendiri, bukan karena diamalkan setelahnya oleh selainnya” -selesai-.
Maksud asy-Syaikh Al Albani jika suatu hadits telah terbukti valid dari Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam, maka tidak ada keharusan untuk mengamalkannya, dengan bukti pengamalan dari orang lain. Artinya hadits yang shahih itu adalah hujjah pada dirinya sendiri. Wallahul a’lam.

Advertisements

Leave a Comment »

RSS feed for comments on this post. TrackBack URI

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Create a free website or blog at WordPress.com.
Entries and comments feeds.

%d bloggers like this: