MENENTUH WANITA, HARUSKAH BERWUDHU? 

July 29, 2017 at 1:22 pm | Posted in Tulisan Lainnya | Leave a comment

PEMBATAL-PEMBATAL WUDHU

Bagian 3 Yang diperselisihkan sebagai pembatal wudhu, namun yang kuat adalah tidak membatalkan wudhu.

Menyentuh Wanita secara Mutlak
Para ulama berselisih pendapat tentangnya, Syaikh Mahmud berkata :

”para Imam dan Fuqoha berselisih pendapat tentang menyentuh wanita, apakah membatalkan wudhu atau tidak, menjadi beberapa pendapat :

“Abdullah bin Mas’ud dan Abdullah bin Umar Rodhiyallahu anhuma, Zuhriy, Robi’ah dan Syafi’I berpendapat bahwa menyentuh wanita membatalkan wudhu. 

Ali bin Abi Tholib, Abdullah bin Abbas dan Ubay bin Ka’ab Rodhiyallahu anhum, Hasan (Al bashri), Mujahid, Qotadah, Sa’id bin Jubair, Sya’bi, Athoo’, Thawus, Abu Hanifah, Abu Yusuf, Ath-Thobari, semuanya berpendapat tidak membatalkan wudhu. 

Abu Hanifah dan Abu Yusuf berkata : ‘kecuali jika kemaluan laki-laki dan wanitanya bersentuhan, dan kemaluannya menegang sekalipun belum keluar madzinya. 

Malik, Ahmad, Ishaq bin Rohawaih berpendapat bahwa menyentuh wanita dengan syahwat membatalkan wudhu”.
Dalil bagi yang berpendapat menyentuh wanita membatalkan wudhu adalah dhohir ayat Al Qur’an, dimana Allah Subhanahu wa Ta’alaa berfirman :

ﺃَﻭْ ﻟَﺎﻣَﺴْﺘُﻢُ ﺍﻟﻨِّﺴَﺎﺀَ ﻓَﻠَﻢْ ﺗَﺠِﺪُﻭﺍ ﻣَﺎﺀً ﻓَﺘَﻴَﻤَّﻤُﻮﺍ

“atau kamu telah menyentuh perempuan, kemudian kamu tidak mendapat air, maka bertayamumlah kamu” (QS. An Nisaa’ (4) : 43 & QS. Al Maidah (5) : 6).

Firman-Nya : “menyentuh perempuan”, mereka beristidlaal dengan dhohirnya, yakni batalnya tayamum/wudhu karena menyentuh perempuan secara mutlak. 
Mereka juga berdalil dengan perkataan Umar Rodhiyallahu ‘Anhu, kata beliau :

ﺇِﻥَّ ﺍﻟْﻘُﺒْﻠَﺔَ ﻣِﻦَ ﺍﻟﻠَّﻤْﺲِ ﻓَﺘَﻮَﺿَّﺌُﻮﺍ ﻣِﻨْﻬَﺎ

“Sesungguhnya mencium termasuk menyentuh, maka berwudhulah darinya” (HR. Daruquthni dan selainnya, dishahihkan Imam Daruquthni).
Juga perkataan anaknya, Abdullah bin Umar Rodhiyallahu ‘Anhu :

ﺃَﻧَّﻪُ ﻛَﺎﻥَ ﻳَﻘُﻮﻝُ ﻓِﻰ ﻗُﺒْﻠَﺔِ ﺍﻟﺮَّﺟُﻞِ ﺍﻣْﺮَﺃَﺗَﻪُ ﻭَﺟَﺴِّﻪِ ﺑِﻴَﺪِﻩِ ﻣِﻦَ ﺍﻟْﻤُﻼَﻣَﺴَﺔِ ﻭَﻣَﻦْ ﻗَﺒَّﻞَ ﺍﻣْﺮَﺃَﺗَﻪُ ﺃَﻭْ ﺟَﺴَّﻬَﺎ ﺑِﻴَﺪِﻩِ ﻓَﻘَﺪْ ﻭَﺟَﺐَ ﻋَﻠَﻴْﻪِ ﺍﻟْﻮُﺿُﻮﺀُ

“bahwa Ibnu Umar berkata tentang seorang yang mencium wanita dan meraba dengan tangannya dianggap menyentuh dan barangsiapa yang mencium istrinya atau merabanya dengan tangannya, maka wajib baginya berwudhu” (HR. Daruquthni dan selainnya, dishahihkan oleh Imam Daruquthni).
Abdullah bin Mas’ud Rodhiyallahu ‘Anhu berkata juga :

ﺍﻟْﻘُﺒْﻠَﺔُ ﻣِﻦَ ﺍﻟﻠَّﻤْﺲِ ﻭَﻓِﻴﻬَﺎ ﺍﻟْﻮُﺿُﻮﺀُ

“Mencium adalah menyentuh dan wajib wudhu padanya” (HR. Daruquthni dan selainnya, dishahihkan oleh Imam Daruquthni).
Begitu juga hadits dari Muadz bin Jabal Rodhiyallahu ‘Anhu, kata beliau:

ﺃَﺗَﻰ ﺍﻟﻨَّﺒِﻰَّ – ﺻﻠﻰ ﺍﻟﻠﻪ ﻋﻠﻴﻪ ﻭﺳﻠﻢ – ﺭَﺟُﻞٌ ﻓَﻘَﺎﻝَ ﻳَﺎ ﺭَﺳُﻮﻝَ ﺍﻟﻠَّﻪِ ﺃَﺭَﺃَﻳْﺖَ ﺭَﺟُﻼً ﻟَﻘِﻰَ ﺍﻣْﺮَﺃَﺓً ﻭَﻟَﻴْﺲَ ﺑَﻴْﻨَﻬُﻤَﺎ ﻣَﻌْﺮِﻓَﺔٌ ﻓَﻠَﻴْﺲَ ﻳَﺄْﺗِﻰ ﺍﻟﺮَّﺟُﻞُ ﺷَﻴْﺌًﺎ ﺇِﻟَﻰ ﺍﻣْﺮَﺃَﺗِﻪِ ﺇِﻻَّ ﻗَﺪْ ﺃَﺗَﻰ ﻫُﻮَ ﺇِﻟَﻴْﻬَﺎ ﺇِﻻَّ ﺃَﻧَّﻪُ ﻟَﻢْ ﻳُﺠَﺎﻣِﻌْﻬَﺎ . ﻗَﺎﻝَ ﻓَﺄَﻧْﺰَﻝَ ﺍﻟﻠَّﻪُ ‏( ﺃَﻗِﻢِ ﺍﻟﺼَّﻼَﺓَ ﻃَﺮَﻓَﻰِ ﺍﻟﻨَّﻬَﺎﺭِ ﻭَﺯُﻟَﻔًﺎ ﻣِﻦَ ﺍﻟﻠَّﻴْﻞِ ﺇِﻥَّ ﺍﻟْﺤَﺴَﻨَﺎﺕِ ﻳُﺬْﻫِﺒْﻦَ ﺍﻟﺴَّﻴِّﺌَﺎﺕِ ﺫَﻟِﻚَ ﺫِﻛْﺮَﻯ ﻟِﻠﺬَّﺍﻛِﺮِﻳﻦَ ‏) ﻓَﺄَﻣَﺮَﻩُ ﺃَﻥْ ﻳَﺘَﻮَﺿَّﺄَ ﻭَﻳُﺼَﻠِّﻰَ . ﻗَﺎﻝَ ﻣُﻌَﺎﺫٌ ﻓَﻘُﻠْﺖُ ﻳَﺎ ﺭَﺳُﻮﻝَ ﺍﻟﻠَّﻪِ ﺃَﻫِﻰَ ﻟَﻪُ ﺧَﺎﺻَّﺔً ﺃَﻡْ ﻟِﻠْﻤُﺆْﻣِﻨِﻴﻦَ ﻋَﺎﻣَّﺔً ﻗَﺎﻝَ ‏« ﺑَﻞْ ﻟِﻠْﻤُﺆْﻣِﻨِﻴﻦَ ﻋَﺎﻣَّﺔً »

“Seseorang mendatangi Nabi Sholallahu ‘Alaihi wa Salam, ia berkata : ‘wahai Rasulullah, bagaimana pendapatmu jika ada seseorang bertemu dengan wanita yang tidak dikenalnya, laki-laki tadi bukan mendatangi istrinya, namun ia berbuat dengan perempuan lain, akan tetapi tidak sampai berhubungan badan?’… Lalu turunlah ayat : “Dan dirikanlah sembahyang itu pada kedua tepi siang (pagi dan petang) dan pada bahagian permulaan daripada malam. Sesungguhnya perbuatan-perbuatan yang baik itu menghapuskan (dosa) perbuatan-perbuatan yang buruk. Itulah peringatan bagi orang-orang yang ingat” (QS. Huud (11) : 114). Oleh karenanya, Rasulullah *memerintahkan untuk berwudhu* lalu sholat. Muadz berkata : ‘wahai Rasulullah apakah itu khusus baginya atau untuk semua mukmin. Nabi Sholallahu ‘Alaihi wa Salam menjawab : “Bahkan untuk semua Mukmin”. (HR. Tirmidzi, Ahmad dan selainnya).

Namun istidlaal madzhab yang mengatakan wajibnya wudhu bagi yang menyentuh wanita, dapat didiskusikan sebagai berikut :

1. Makna ayat yang mengatakan “atau menyentuh wanita”, tidak dipahami sebagaimana dhohirnya. Karena menyentuh wanita dalam ayat diatas yang dimaksud adalah Jimaa’ (berhubungan badan), alasannya :

A. Imam Ibnu Katsir dalam tafsirnya berkata :

“adapun firman Allah : “atau menyentuh wanita”, maka dibaca ‘lamastum’ dan ‘laamastum’. Para ahli tafsir dan Aimah berbeda pendapat tentang makna ayat tersebut, salah satunya berkata : ‘maknanya adalah kiasan dari berhubungan badan’. Berdasarkan firman Allah Subhanahu wa Ta’alaa :

ﻭَﺇِﻥْ ﻃَﻠَّﻘْﺘُﻤُﻮﻫُﻦَّ ﻣِﻦْ ﻗَﺒْﻞِ ﺃَﻥْ ﺗَﻤَﺴُّﻮﻫُﻦَّ ﻭَﻗَﺪْ ﻓَﺮَﺿْﺘُﻢْ ﻟَﻬُﻦَّ ﻓَﺮِﻳﻀَﺔً ﻓَﻨِﺼْﻒُ ﻣَﺎ ﻓَﺮَﺿْﺘُﻢْ

“Jika kamu menceraikan isteri-isterimu sebelum kamu bercampur dengan mereka, padahal sesungguhnya kamu sudah menentukan maharnya, maka bayarlah seperdua dari mahar yang telah kamu tentukan itu” (QS. Al Baqoroh : 237) 

dan Firman-Nya : 

ﻳَﺎ ﺃَﻳُّﻬَﺎ ﺍﻟَّﺬِﻳﻦَ ﺁﻣَﻨُﻮﺍ ﺇِﺫَﺍ ﻧَﻜَﺤْﺘُﻢُ ﺍﻟْﻤُﺆْﻣِﻨَﺎﺕِ ﺛُﻢَّ ﻃَﻠَّﻘْﺘُﻤُﻮﻫُﻦَّ ﻣِﻦْ ﻗَﺒْﻞِ ﺃَﻥْ ﺗَﻤَﺴُّﻮﻫُﻦَّ ﻓَﻤَﺎ ﻟَﻜُﻢْ ﻋَﻠَﻴْﻬِﻦَّ ﻣِﻦْ ﻋِﺪَّﺓٍ ﺗَﻌْﺘَﺪُّﻭﻧَﻬَﺎ 

“Jika kamu menceraikan isteri-isterimu sebelum kamu bercampur dengan mereka, padahal sesungguhnya kamu sudah menentukan maharnya, maka bayarlah seperdua dari mahar yang telah kamu tentukan itu” (QS. Al Ahzaab : 49).

Ibnu Abi Hatim berkata : ‘haddatsanaa Abul Asyji, haddatsanaa Wakii’, dari Sufyaan dari Abi Ishaq dari Sa’id bin Jubair dari Ibnu Abbas tentang firman-Nya : “atau menyentuh wanita”, beliau berkata, yakni berhubungan badan. Diriwayatkan dari Ali dan Ubay bin Ka’ab Rodhiyallahu ‘Anhuma, Mujahid, Thawus, Hasan, ‘Ubaid bin ‘Umair, Sa’id bin Jubair, Sya’biy, Qotadah dan Muqotil bin Hayyan, semisal hal tersebut.

Ibnu Jariir berkata : ‘haddatsanii Humaid bin Mas’adah, haddatsanaa Yaziid bin Zuroi’, haddatsanaa Syu’bah, dari Abi Bisyr dari Sa’id bin Jubair ia berkata, mereka menyebutkan tentang makna menyentuh. Berkata para mawali (bekas budak) : ‘itu bukan Jimaa’’. Orang Arab berkata : ‘menyentuh adalah jimaa’’. Oleh karena aku menemui Ibnu Abbas Rodhiyallahu ‘Anhu , lalu aku berkata : ‘orang-orang dari kalangan mawali dan arab asli, berselisih tentang makna menyentuh, mawali berkata, bukan jimaa’, sedangkan orang arab berkata, jimaa’. Ibnu Abbas Rodhiyallahu ‘Anhu berkata : ‘engkau berada di pihak mana dari dua kelompok ini?’. Aku menjawab : ‘dari pihak mawali’. Ibnu Abbas Rodhiyallahu ‘Anhu berkata : ‘mawali telah dikalahkan, sesungguhnya menyentuh dan mubasyaroh adalah jimaa’, namun Allah Subhanahu wa Ta’alaa mengkiasannya sesuai yang dikehendakinya”.
Akan tetapi, sebagian ulama yang berpendapat menyentuh wanita membatalkan wudhu menyodorkan makna lain, bahwa menyentuh disini adalah dalam makna hakikinya, yakni menyentuh dengan tangan, sebagaimana firman-Nya :

ﻭَﻟَﻮْ ﻧﺰﻟْﻨَﺎ ﻋَﻠَﻴْﻚَ ﻛِﺘَﺎﺑًﺎ ﻓِﻲ ﻗِﺮْﻃَﺎﺱٍ ﻓَﻠَﻤَﺴُﻮﻩُ ﺑِﺄَﻳْﺪِﻳﻬِﻢْ

“Dan kalau Kami turunkan kepadamu tulisan di atas kertas, lalu mereka dapat menyentuhnya dengan tangan mereka sendiri” (QS. Al An’aam (6) : 7).

Dan juga hadits tentang kisah Maiz Rodhiyallahu ‘Anhu yang mengaku telah berbuat zina, maka Rasulullah Sholallahu ‘Alaihi wa Salam mengkonfirmasinya :

ﻟﻌﻠﻚ ﻗﺒﻠﺖ ﺃﻭ ﻟﻤﺴﺖ

“Mungkin engkau menciumnya atau merabanya” (HR. Bukhori).

Dalam hadits yang shahih, Nabi Sholallahu ‘Alaihi wa Salam bersabda :

ﻭﺍﻟﻴﺪ ﺯﻧﺎﻫﺎ ﺍﻟﻠﻤﺲ

“tangan, zinanya meraba”.
Tetapi yang rajih dari makna ini adalah sebagaimana yang dikatakan Imam Thobari yang dinukil oleh Imam Ibnu Katsir dalam tafsirnya :

“Ibnu Jariir berkata : ‘yang lebih utama dari 2 pendapat ini adalah Allah memaksudkan “atau menyentuh perempuan” dengan Jimaa’ bukan makna menyentuh lainnya, karena shahihnya kabar dari Rasulullah Sholallahu ‘Alaihi wa Salam bahwa Beliau mencium sebagian istri-istrinya, lalu sholat dan tidak berwudhu lagi”

Kemudian Imam Thobari menyebutkan riwayat-riwayatnya yang nanti akan kita bawakan Insya Allah.
B. Jika dilihat dari susunan pada ayat ini, maka makna menyentuh disitu adalah berhubungan badan. Demikian bunyi ayat lengkapnya :

“dan jika kamu sakit atau dalam perjalanan atau kembali dari tempat buang air (kakus) atau menyentuh perempuan, lalu kamu tidak memperoleh air, maka bertayammumlah dengan tanah yang baik (bersih)” (QS. Al Maidah (5) : 6).

Imam Ibnu Utsaimin dalam “ Syaroh Mumti’” berkata :

“ayat diatas menunjukan bahwasanya thoharoh dibagi menjadi ashliyah dan badal (pengganti), sughro (kecil) dan Kubro (besar). Dijelaskan juga setiap sughro dan kubro terdapat dalam 2 kondisi yakni pada asli dan badalnya. Penjelasannya sebagai berikut :

Allah Subhanahu wa Ta’alaa berfirman : “Hai orang-orang yang beriman, apabila kamu hendak mengerjakan shalat, maka basuhlah mukamu dan tanganmu sampai dengan siku, dan sapulah kepalamu dan (basuh) kakimu sampai dengan kedua mata kaki” .

Maka ini adalah thoharoh dengan air ashliyah yang sughro.
Lalu firman-Nya : “dan jika kamu junub maka mandilah”.

Maka ini adalah thoharoh dengan air ashliyah yang kubro.
Lalu firman-Nya : “dan jika kamu sakit atau dalam perjalanan atau kembali dari tempat buang air (kakus) atau menyentuh perempuan, lalu kamu tidak memperoleh air, maka bertayammumlah”.

Maka makna bertayamumlah adalah badal dan ucapannya “atau kembali dari tempat buang air (kakus)” ini adalah penjelasan sebab sughro. 
Dan ucapannya “atau menyentuh perempuan” ini adalah sebab kubro.

Seandainya kita bawa makna menyentuh disitu adalah meraba dengan tangan, niscaya ayat yang mulia ini Allah Subhanahu wa Ta’alaa menyebutkan 2 sebab untuk thoharoh sughro, lalu Allah Subhanahu wa Ta’alaa mendiamkan sebab thoharoh kubro, bersamaan dengan firman-Nya : “jika kamu junub, maka mandilah”. Maka hal ini menyelisihi sisi Balaghoh Al Qur’an”.
2. Perkataan sahabat mulia Umar bin Khothob, anaknya Abdullah dan Abdullah bin Mas’ud Rodhiyallahu ‘Anhum, bahwa menyentuh wanita yang membatalkan wudhu, termasuk diantaranya mencium dan meraba dengan tangan adalah pendapat pribadi mereka masing-masing, dan sejumlah ulama sahabat seperti Ali bin Abi Thalib , Ubay bin Ka’ab dan Ibnu Abbas Rodhiyallahu ‘Anhum jelas menyelisihi mereka, sehingga hal ini dikenal dalam istilah ulama ushul fiqih sebagai fatwa/madzhab shahabi. Dimana ketika terjadi perselisihan diantara mereka, maka wajib bagi seorang untuk mencari dalil terkuat yang dibawakan oleh masing-masing mereka. 
kami condong kepada pendapatnya sahabat yang mengatakan tidak batalnya wudhu karena menyentuh wanita, selain Jimaa’ berdasarkan pada perbuatan Nabi Sholallahu ‘Alaihi wa Salam yang mencium sebagian istrinya dan Beliau Sholallahu ‘Alaihi wa Salam langsung sholat tanpa mengulangi wudhunya kembali. Haditsnya Insya Allah akan kami bawakan.
3. Pendalilan mereka dengan kisah asbabun nuzul ayat 114 surat Hud, yang terdapat didalamnya perintah berwudhu, maka pada asalnya diriwayatkan oleh Imam Bukhori dan Imam Muslim dan ini lafadz Muslim dari sahabat Abdullah bin Mas’ud Rodhiyallahu ‘Anhu, beliau berkata :

ﺟَﺎﺀَ ﺭَﺟُﻞٌ ﺇِﻟَﻰ ﺍﻟﻨَّﺒِﻰِّ – ﺻﻠﻰ ﺍﻟﻠﻪ ﻋﻠﻴﻪ ﻭﺳﻠﻢ – ﻓَﻘَﺎﻝَ ﻳَﺎ ﺭَﺳُﻮﻝَ ﺍﻟﻠَّﻪِ ﺇِﻧِّﻰ ﻋَﺎﻟَﺠْﺖُ ﺍﻣْﺮَﺃَﺓً ﻓِﻰ ﺃَﻗْﺼَﻰ ﺍﻟْﻤَﺪِﻳﻨَﺔِ ﻭَﺇِﻧِّﻰ ﺃَﺻَﺒْﺖُ ﻣِﻨْﻬَﺎ ﻣَﺎ ﺩُﻭﻥَ ﺃَﻥْ ﺃَﻣَﺴَّﻬَﺎ ﻓَﺄَﻧَﺎ ﻫَﺬَﺍ ﻓَﺎﻗْﺾِ ﻓِﻰَّ ﻣَﺎ ﺷِﺌْﺖَ . ﻓَﻘَﺎﻝَ ﻟَﻪُ ﻋُﻤَﺮُ ﻟَﻘَﺪْ ﺳَﺘَﺮَﻙَ ﺍﻟﻠَّﻪُ ﻟَﻮْ ﺳَﺘَﺮْﺕَ ﻧَﻔْﺴَﻚَ – ﻗَﺎﻝَ – ﻓَﻠَﻢْ ﻳَﺮُﺩَّ ﺍﻟﻨَّﺒِﻰُّ – ﺻﻠﻰ ﺍﻟﻠﻪ ﻋﻠﻴﻪ ﻭﺳﻠﻢ – ﺷَﻴْﺌًﺎ ﻓَﻘَﺎﻡَ ﺍﻟﺮَّﺟُﻞُ ﻓَﺎﻧْﻄَﻠَﻖَ ﻓَﺄَﺗْﺒَﻌَﻪُ ﺍﻟﻨَّﺒِﻰُّ – ﺻﻠﻰ ﺍﻟﻠﻪ ﻋﻠﻴﻪ ﻭﺳﻠﻢ – ﺭَﺟُﻼً ﺩَﻋَﺎﻩُ ﻭَﺗَﻼَ ﻋَﻠَﻴْﻪِ ﻫَﺬِﻩِ ﺍﻵﻳَﺔَ ‏( ﺃَﻗِﻢِ ﺍﻟﺼَّﻼَﺓَ ﻃَﺮَﻓَﻰِ ﺍﻟﻨَّﻬَﺎﺭِ ﻭَﺯُﻟَﻔًﺎ ﻣِﻦَ ﺍﻟﻠَّﻴْﻞِ ﺇِﻥَّ ﺍﻟْﺤَﺴَﻨَﺎﺕِ ﻳُﺬْﻫِﺒْﻦَ ﺍﻟﺴَّﻴِّﺌَﺎﺕِ ﺫَﻟِﻚَ ﺫِﻛْﺮَﻯ ﻟِﻠﺬَّﺍﻛِﺮِﻳﻦَ ‏) ﻓَﻘَﺎﻝَ ﺭَﺟُﻞٌ ﻣِﻦَ ﺍﻟْﻘَﻮْﻡِ ﻳَﺎ ﻧَﺒِﻰَّ ﺍﻟﻠَّﻪِ ﻫَﺬَﺍ ﻟَﻪُ ﺧَﺎﺻَّﺔً ﻗَﺎﻝَ ‏« ﺑَﻞْ ﻟِﻠﻨَّﺎﺱِ ﻛَﺎﻓَّﺔً ».

“Seorang mendatangi Nabi Sholallahu ‘Alaihi wa Salam, lalu berkata : ‘wahai Rasulullah aku bersentuhan dengan seorang wanita di pojok kota, aku bercumbu dengannya tanpa aku berjima dengannya, maka sekarang ini putuskan hukuman untukku’. Umar Rodhiyallahu ‘Anhu berkata kepadanya : ‘Allah telah menutupi aibmu, sekiranya engkau menutupi dirimu sendiri’. Nabi Sholallahu ‘Alaihi wa Salam tidak bereaksi apapun. Maka laki-laki tadi pergi. Lalu Nabi Sholallahu ‘Alaihi wa Salam menyuruh memanggil laki-laki tersebut dan membacakan ayat : “Dan dirikanlah sembahyang itu pada kedua tepi siang (pagi dan petang) dan pada bahagian permulaan daripada malam. Sesungguhnya perbuatan-perbuatan yang baik itu menghapuskan (dosa) perbuatan-perbuatan yang buruk. Itulah peringatan bagi orang-orang yang ingat” (QS. Huud (11) : 114)”. Berkata seseorang diantara para sahabat, ‘Wahai Nabi Allah apakah ini khusus baginya?’. Nabi Sholallahu ‘Alaihi wa Salam bersabda : “Bahkan ini untuk manusia seluruhnya”.
Adapun adanya tambahan dalam riwayat ini, dimana Rasulullah Sholallahu ‘Alaihi wa Salam memerintahkan berwudhu kepadanya maka jawabannya dari 2 sisi :

1. Imam Tirmidzi dan selainnya meriwayatkan hadits ini dari jalan Abdur Rokhman bin Abi Lailaa dari Muadz bin Jabal. Setelah meriwayatkan hadits ini, Imam Tirmidzi berkata : 

“hadits ini tidak bersambung sanadnya. Abdur Rokhman bin Abi Lailaa tidak mendengar Muadz bin Jabal, karena Muadz meninggal pada masa kekhilafahan Umar, sedangkan Abdur Rokhman masih berumumur 6 tahun ketika Umar meninggal dunia, ia meriwayatkan dari Umar dan melihatnya. Syu’bah meriwayatkan hadits ini dari Abdul Malik bin Umair dari Abdur Rokhman bin Abi Lailaa dari Nabi shallallahu alaihi wa sallam secara mursal”.
Dari penjelasan Imam Tirmidzi diatas,  riwayat yang terdapat tambahan, yang benar adalah mursal dan mursal termasuk kategori hadits dhoif.
2. Seandainya kita terima bahwa riwayat ini adalah shahih, maka tidak serta merta dapat dijadikan dalil wajibnya wudhu karena menyentuh wanita, hanyalah perintah wudhu disitu untuk meminta agar diampuni kesalahannya dengan cara mengerjakan sholat atau berdoa. Dalam riwayat yang terdapat tambahan jelas sekali, bahwa wudhu tersebut karena untuk mengerjakan sholat. Imam Zailaa’I dalam “Nashbur Rayyah” berkata :

“hadits ini bersamaan dengan kelemahan dan keterputusan sanadnya tidak ada padanya hujah (wajibnya wudhu karena menyentuh wanita-pent.). hanyalah perintah wudhu untuk mencari berkah dan menghapuskan kesalahan bukan untuk hadats. Oleh karenanya, Nabi shallallahu alaihi wa sallam bersabda : “berwudhulah dengan wudhu yang bagus”. Telah datang riwayat bahwa seseorang mendatangi Nabi lalu berkata : ‘wahai Rasulullah berdoalah kepada Allah untukku agar mengampuni kesalahan-kesalahanku’. Maka Nabi bersabda : “sembunyikan kesalahanmu, lalu berwudhulah dengan wudhu yang bagus, lalu sholat 2 rakaat, lalu berdoa “Allahumma” dst..”. dalam riwayat Muslim dari Abi Huroiroh ada hadits keluarnya kesalahan dari setiap anggota wudhu ketika dibasuh dalam berwudhu”.
*Kesimpulannya, hujjah yang dijadikan oleh madzhab yang mengatakan batal wudhu karena menyentuh perempuan, tidaklah kuat*.

Berikut akan kami bawakan hadits-hadits yang dijadikan dalil oleh sekelompok ulama yang berpendapat tidak batalnya wudhu, karena menyentuh wanita secara mutlak. Diantaranya :

1. Hadits Ummul Mukminin Aisyah Rodhiyallahu anha dengan berbagai lafadznya, yakni :

ﺃَﻥَّ ﺍﻟﻨَّﺒِﻰَّ – ﺻﻠﻰ ﺍﻟﻠﻪ ﻋﻠﻴﻪ ﻭﺳﻠﻢ – ﻗَﺒَّﻞَ ﺑَﻌْﺾَ ﻧِﺴَﺎﺋِﻪِ ﺛُﻢَّ ﺧَﺮَﺝَ ﺇِﻟَﻰ ﺍﻟﺼَّﻼَﺓِ ﻭَﻟَﻢْ ﻳَﺘَﻮَﺿَّﺄْ

“bahwa Nabi shallallahu alaihi wa sallam mencium sebagian istrinya, lalu keluar sholat tanpa berwudhu lagi” ( HR. Tirmidzi, Ibnu Majah dan selainnya, dishahihkan oleh Imam Al Albani).

Namun riwayat ini terdapat cacat, yakni riwayat ini berasal dari Habiib bin Abi Tsabit dari Urwah bin Zubair dari Aisyah. Cacatnya adalah Habiib, sekalipun perowi yang tsiqoh dan seorang ulama fiqih, namun tidak pernah mendengar dari Urwah. Imam Tirmidzi berkata setelah meriwayatkan hadits ini :

ﻗَﺎﻝَ ﻭَﺳَﻤِﻌْﺖُ ﻣُﺤَﻤَّﺪَ ﺑْﻦَ ﺇِﺳْﻤَﺎﻋِﻴﻞَ ﻳُﻀَﻌِّﻒُ ﻫَﺬَﺍ ﺍﻟْﺤَﺪِﻳﺚَ ﻭَﻗَﺎﻝَ ﺣَﺒِﻴﺐُ ﺑْﻦُ ﺃَﺑِﻰ ﺛَﺎﺑِﺖٍ ﻟَﻢْ ﻳَﺴْﻤَﻊْ ﻣِﻦْ ﻋُﺮْﻭَﺓَ

“aku mendengar Muhammad bin Ismail –Imam Bukhori- mendhoifkan hadits ini, katanya Habiib bin Abi Tsaabit tidak pernah mendengar dari Urwah”.

Pendapat senada, bahwa Habiib tidak pernah mendengar dari Urwah, dikatakan juga oleh Imam Abu Zur’ah, bahkan Imam Abu Hatim, sebagaimana yang dinukil oleh anaknya Imam Ibnu Abi Hatim dalam “Al Maroosil” berkata :

ﺃﻫﻞ ﺍﻟﺤﺪﻳﺚ ﺍﺗﻔﻘﻮﺍ ﻋﻠﻰ ﺫﻟﻚ ـ ﻳﻌﻨﻰ ﻋﻠﻰ ﻋﺪﻡ ﺳﻤﺎﻋﻪ ﻣﻨﻪ ‏( ﺃﻯ ﻋﻦ ﻋﺮﻭﺓ ‏) ـ ﻗﺎﻝ : ﻭ ﺍﺗﻔﺎﻗﻬﻢ ﻋﻠﻰ ﺷﻰﺀ ﻳﻜﻮﻥ ﺣﺠﺔ

“Ulama hadits bersepakat atas hal tersebut”. Yakni tidak mendengarnya Habiib dari Urwah. Kesepakatan mereka atas sesuatu adalah hujjah”.
2. Lafadz lain :

ﺇِﻥْ ﻛَﺎﻥَ ﺭَﺳُﻮﻝُ ﺍﻟﻠَّﻪِ – ﺻﻠﻰ ﺍﻟﻠﻪ ﻋﻠﻴﻪ ﻭﺳﻠﻢ – ﻟَﻴُﺼَﻠِّﻰ ﻭَﺇِﻧِّﻰ ﻟَﻤُﻌْﺘَﺮِﺿَﺔٌ ﺑَﻴْﻦَ ﻳَﺪَﻳْﻪِ ﺍﻋْﺘِﺮَﺍﺽَ ﺍﻟْﺠَﻨَﺎﺯَﺓِ ﺣَﺘَّﻰ ﺇِﺫَﺍ ﺃَﺭَﺍﺩَ ﺃَﻥْ ﻳُﻮﺗِﺮَ ﻣَﺴَّﻨِﻰ ﺑِﺮِﺟْﻠِﻪِ

“jika Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam hendak sholat –aku (Aisyah) tidur dihadapan Beliau, seperti terbentangnya jenazah dihadapan Beliau- sehingga jika Nabi hendak sholat witir, beliau menyentuh kakiku (agar Aisyah minggir-pent.)” (HR. Nasa’I, Ahmad dan selainnya, dishahihkan oleh Imam Al Albani).
3. Lafadz lain :

ﻓَﻘَﺪْﺕُ ﺭَﺳُﻮﻝَ ﺍﻟﻠَّﻪِ – ﺻﻠﻰ ﺍﻟﻠﻪ ﻋﻠﻴﻪ ﻭﺳﻠﻢ – ﻟَﻴْﻠَﺔً ﻣِﻦَ ﺍﻟْﻔِﺮَﺍﺵِ ﻓَﺎﻟْﺘَﻤَﺴْﺘُﻪُ ﻓَﻮَﻗَﻌَﺖْ ﻳَﺪِﻯ ﻋَﻠَﻰ ﺑَﻄْﻦِ ﻗَﺪَﻣَﻴْﻪِ ﻭَﻫُﻮَ ﻓِﻰ ﺍﻟْﻤَﺴْﺠِﺪِ ﻭَﻫُﻤَﺎ ﻣَﻨْﺼُﻮﺑَﺘَﺎﻥِ

“aku kehilangan Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam pada suatu malam dari tempat tidurku, maka aku mencari-carinya, maka tanganku mendapati kedua telapak kakinya sedangkan beliau dalam keadaan sujud, kedua telapak kakinya tegak” (HR. Muslim dan selainnya).
4. Lafadz lain :

ﻛُﻨْﺖُ ﺃَﻏْﺘَﺴِﻞُ ﺃَﻧَﺎ ﻭَﺭَﺳُﻮﻝُ ﺍﻟﻠَّﻪِ – ﺻﻠﻰ ﺍﻟﻠﻪ ﻋﻠﻴﻪ ﻭﺳﻠﻢ – ﻣِﻦْ ﺇِﻧَﺎﺀٍ ﻭَﺍﺣِﺪٍ ﺗَﺨْﺘَﻠِﻒُ ﺃَﻳْﺪِﻳﻨَﺎ ﻓِﻴﻪِ ﻣِﻦَ ﺍﻟْﺠَﻨَﺎﺑَﺔِ

“aku pernah mandi janabah bersama Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam dari satu bejana, tangan kami saling berebutan menciduk air” (Muttafaqun alaih, ini lafadz Muslim).

Dalam riwayat Ibnu Abi Syaibah :

ﻛﻨﺖ ﺃﻏﺘﺴﻞ ﺃﻧﺎ ﻭﺍﻟﻨﺒﻲ – ﺻﻠﻰ ﺍﻟﻠﻪ ﻋﻠﻴﻪ ﻭﺳﻠﻢ – ﻣﻦ ﺇﻧﺎﺀ ﻭﺍﺣﺪ ﻧﻀﻊ ﺃﻳﺪﻳﻨﺎ ﻣﻌﺎً

“aku mandi bersama Nabi shallallahu alaihi wa sallam dari satu bejana, kami mengambil air dengan tangan kami bersama-sama”.

Istidlalnya, bahwa mandi janabah adalah ibadah untuk bersuci, bahkan ada wudhu didalamnya, seandainya menyentuh wanita membatalkan berwudhu/bersuci, niscaya Nabi tidak akan mandi bareng dengan istrinya, karena pasti tidak terlepas dari saling menyentuh, apalagi digambarkan dalam hadits ini, tangan Nabi  saling bersentuhan dengan istri Beliau.
5. Lafadz lain :

ﻛُﻨْﺖُ ﺃَﻧَﺎﻡُ ﺑَﻴْﻦَ ﻳَﺪَﻯْ ﺭَﺳُﻮﻝِ ﺍﻟﻠَّﻪِ – ﺻﻠﻰ ﺍﻟﻠﻪ ﻋﻠﻴﻪ ﻭﺳﻠﻢ – ﻭَﺭِﺟْﻼَﻯَ ﻓِﻰ ﻗِﺒْﻠَﺘِﻪِ ، ﻓَﺈِﺫَﺍ ﺳَﺠَﺪَ ﻏَﻤَﺰَﻧِﻰ ، ﻓَﻘَﺒَﻀْﺖُ ﺭِﺟْﻠَﻰَّ ، ﻓَﺈِﺫَﺍ ﻗَﺎﻡَ ﺑَﺴَﻄْﺘُﻬُﻤَﺎ

“aku tidur disisi Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam, sedangkan kedua kakiku diarah kiblat, jika Beliau  sujud, maka Beliau menyentuh kakiku, aku pun menariknya, jika Beliau berdiri, aku membentangkannya lagi” (Muttafaqun ‘Alaih).
6. Dari Ummu Salamah Rodhiyallahu anha, beliau berkata :

ﺃﻥ ﺭﺳﻮﻝ ﺍﻟﻠﻪ – ﺻﻠﻰ ﺍﻟﻠﻪ ﻋﻠﻴﻪ ﻭﺳﻠﻢ – ﻛﺎﻥ ﻳُﻘَﺒِّﻠﻬﺎ ﻭﻫﻮ ﺻﺎﺋﻢ ﺛﻢ ﻻ ﻳُﻔﻄﺮ ﻭﻻ ﻳُﺤﺪﺙ ﻭﺿﻮﺀﺍً

“bahwa Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam menciumnya, padahal Nabi sedang puasa, lalu Beliau tidak berbuka dan tidak memperbaharui wudhunya” (HR. Ibnu Jariir Ath-Thobari dan dishahihkannya).
Dari hadits-hadits yang kami tampilkan ini, sangat jelas sekali perbuatan Nabi shallallahu alaihi wa sallam dan pernyataan istri-istri Beliau seperti Aisyah dan Ummu Salamah Rodhiyallahu anhumaa yang menegaskan bahwa Nabi menyentuh para istrinya dalam keadaan punya wudhu dan Beliau tidak mengulangi wudhunya lagi. *Sehingga madzhab yang rajih adalah menyentuh wanita tidak membatalkan wudhu secara mutlak*.
Hanya saja pendapat yang mengatakan menyentuh wanita dengan syahwat dapat membatalkan wudhu tidak jauh dari kebenaran, namun batalnya bukan karena menyentuhnya, tapi karena biasanya seorang yang bersyahwat ketika menyentuh wanita akan keluar madzi yang telah disepakati bahwa keluarnya madzi membatalkan wudhu. Barangkali ini adalah isyarat dari perkataan istri Nabi , Aisyah Rodhiyallahu anha :

ﻛَﺎﻥَ ﺍﻟﻨَّﺒِﻲُّ ﺻَﻠَّﻰ ﺍﻟﻠَّﻪُ ﻋَﻠَﻴْﻪِ ﻭَﺳَﻠَّﻢَ ﻳُﻘَﺒِّﻞُ ﻭَﻫُﻮَ ﺻَﺎﺋِﻢٌ ، ﻭَﻟَﻜِﻨَّﻪُ ﻛَﺎﻥَ ﺃَﻣْﻠَﻜَﻜُﻢْ ﻟِﺈِﺭْﺑِﻪِ

“Nabi shallallahu alaihi wa sallam mencium (istrinya) dalam keadaan berpuasa, namun Beliau adalah orang yang lebih kuat menjaga dirinya dibandingkan kalian” (Muttafaqun ‘Alaih).

Imam Shon’aniy dalam Subulus Salam berkata tentang makna perkataan Ibunda Aisyah Rodhiyallahu anha :

ﻗَﺎﻝَ ﺍﻟْﻌُﻠَﻤَﺎﺀُ : ﻣَﻌْﻨَﻰ ﺍﻟْﺤَﺪِﻳﺚِ ﺃَﻧَّﻪُ ﻳَﻨْﺒَﻐِﻲ ﻟَﻜُﻢْ ﺍﻟِﺎﺣْﺘِﺮَﺍﺯُ ﻣِﻦْ ﺍﻟْﻘُﺒْﻠَﺔِ ﻭَﻟَﺎ ﺗَﺘَﻮَﻫَّﻤُﻮﺍ ﺃَﻧَّﻜُﻢْ ﻣِﺜْﻞُ ﺭَﺳُﻮﻝِ ﺍﻟﻠَّﻪِ ﺻَﻠَّﻰ ﺍﻟﻠَّﻪُ ﻋَﻠَﻴْﻪِ ﻭَﺳَﻠَّﻢَ ﻓِﻲ ﺍﺳْﺘِﺒَﺎﺣَﺘِﻬَﺎ ؛ ﻟِﺄَﻧَّﻪُ ﻳَﻤْﻠِﻚُ ﻧَﻔْﺴَﻪُ ﻭَﻳَﺄْﻣَﻦُ ﻣِﻦْ ﻭُﻗُﻮﻉِ ﺍﻟْﻘُﺒْﻠَﺔِ ﺃَﻥْ ﻳَﺘَﻮَﻟَّﺪَ ﻋَﻨْﻬَﺎ ﺇﻧْﺰَﺍﻝٌ ﺃَﻭْ ﺷَﻬْﻮَﺓٌ ﺃَﻭْ ﻫَﻴَﺠَﺎﻥُ ﻧَﻔْﺲٍ ﺃَﻭْ ﻧَﺤْﻮُ ﺫَﻟِﻚَ ﻭَﺃَﻧْﺘُﻢْ ﻟَﺎ ﺗَﺄْﻣَﻨُﻮﻥَ ﺫَﻟِﻚَ ﻓَﻄَﺮِﻳﻘُﻜُﻢْ ﻛَﻒُّ ﺍﻟﻨَّﻔْﺲِ ﻋَﻦْ ﺫَﻟِﻚَ

“berkata ulama, makna hadits adalah hendaknya kalian menjauhi mencium istri, janganlah kalian merasa seperti diri Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam dalam masalah kebolehan mencium istri, karena Nabi  adalah orang yang dapat mengontrol dirinya dan aman dari perbuatannya mencium istrinya, keluar sperma atau syahwat atau terangsang dan semisalnya. Sedangkan kalian tidak akan aman dari tidak terkontrol nafsu kalian” -selesai-.

Advertisements

Leave a Comment »

RSS feed for comments on this post. TrackBack URI

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Create a free website or blog at WordPress.com.
Entries and comments feeds.

%d bloggers like this: