MENJAMAK SHOLAT DENGAN JEDA WAKTU PANJANG

July 29, 2017 at 12:41 pm | Posted in Tulisan Lainnya | Leave a comment

MENJAMAK SHOLAT SELANG BERAPA WAKTU
Mungkin suatu saat kita mengalami, misalnya pada waktu sholat Dhuhur belum ada niat untuk safar, namun tiba-tiba jam dua ada acara mendadak atau yang semisalnya, sehingga mengharuskan kita untuk bersafar. Yang menjadi masalah adalah jika kita berangkat jam 2 siang, kemungkinan besar sampai di tempat tujuan, misalnya sudah masuk waktu Maghrib. Permasalahannya, apakah boleh kita menjamak sholat ashar dadakan pada jam tersebut?  Mengingat kondisi diatas. 
Jawabannya yang lebih selamat dalam rangka mengambil madzhab ikhtiyath (hati-hati), ya nanti kalau pas waktu sholat Ashar berhenti dulu mampir ke masjid untuk menunaikan sholat Ashar pada waktunya. Mungkin option ini bisa diambil ketika kita menggunakan kendaraan pribadi, sehingga mau berhenti dimana dan kapan saja terserah kita. 
Yang jadi permasalahan adalah jika kita menggunakan kendaraan umum, semisal bus umum atau kereta api atau pesawat, atau to the point saja, bolehkan menjamak Ashar dengan Dhuhur yang tadi dipisahkan oleh waktu yang lama? Jawabannya, root cause dalam masalah kita ini adalah pembahasan dikalangan ulama, seputar apakah dipersyaratkan berniat  pada sholat yang pertama dan “al-Muwaalah” (berturut-turut) dalam menjamak sholat? 
Yang pertama, kebanyakan ulama mempersyaratkan niat jamak harus ada diawal memulai sholat yang pertama, dalam kasus kita diatas, ia wajib meniatkan menjamak Dhuhur dan Ashar, ketika akan memulai sholat Dhuhur, ini adalah madzhabnya Syafi’i menurut penuturan Imam Nawawi. Sehingga dalam case kita diatas, ia tidak boleh dadakan menjamak Ashar dengan Dhuhur, alias mau gak mau bagaimana pun caranya ia harus sholat Ashar ditengah perjalanan. 
Yang kedua, kebanyakan ulama juga mempersyaratkan muwalah, yaitu berturut-turut didalam mengerjakan jamak, artinya setelah selesai sholat Dhuhur langsung mengerjakan Ashar bagi yang niatnya mau menjamak, adapun jika diselingi waktu yang sebentar, para ulama masih “cincai”, yakni tidak ada masalah. Dalam “al-Maushu’ah al-Fiqhiyyah” (15/288) disebutkan :

” ﺫَﻫَﺐَ ﺟُﻤْﻬُﻮﺭُ ﺍﻟْﻔُﻘَﻬَﺎﺀِ ﺍﻟْﻘَﺎﺋِﻠِﻴﻦَ ﺑِﺠَﻮَﺍﺯِ ﺍﻟْﺠَﻤْﻊِ ﺇﻟَﻰ ﺃَﻧَّﻪُ ﻳُﺸْﺘَﺮَﻁُ ﻟِﺠَﻤْﻊِ ﺍﻟﺘَّﻘْﺪِﻳﻢِ ﺃَﺭْﺑَﻌَﺔُ ﺷُﺮُﻭﻁٍ : …. ، ﺛَﺎﻟِﺜُﻬَﺎ : ﺍﻟْﻤُﻮَﺍﻟَﺎﺓُ ﺑَﻴْﻦَ ﺍﻟﺼَّﻠَﺎﺗَﻴْﻦِ ﻭَﻫِﻲَ ﺃَﻥْ ﻟَﺎ ﻳَﻔْﺼِﻞَ ﺑَﻴْﻨَﻬُﻤَﺎ ﺯَﻣَﻦٌ ﻃَﻮِﻳﻞٌ ، ﺃَﻣَّﺎ ﺍﻟْﻔَﺼْﻞُ ﺍﻟْﻴَﺴِﻴﺮُ ﻓَﻠَﺎ ﻳَﻀُﺮُّ 

“Mayoritas ulama fiqih yang berpendapat bolehnya menjamak sholat, bahwa untuk jamak taqdim ada 4 syarat…, syarat ketiga, berturut-turut dalam mengerjakan dua sholat tersebut, tidak boleh dipisahkan dengan jeda yang panjang, tapi kalo jedanya sedikit, tidak ada masalah” -selesai-.

Maka dalam case diatas, orang tersebut pun sama tidak boleh menjamak Asharnya. 
Namun jangan kuatir ada second opinion dari sebagian ulama kita, diantaranya Syaikhul Islam Ibnu Taimiyyah. Untuk masalah niat jamak diawal sholat, maka beliau memandangnya itu bukanlah syarat. Dalilnya, Nabi shallallahu alaihi wa sallam pernah menjamak sholat di Arafah, namun tidak dinukil dari beliau untuk mewajibkan niat tersebut, seandainya wajib, niscaya Nabi akan memerintahkan kepada para sahabatnya, karena ada kemungkinan orang-orang yang sholat dibelakang Beliau tidak tahu bahwa Nabi akan menjamak sholatnya, seandainya wajib tentu Nabi akan menjelaskan kepada mereka agar tidak batal sholatnya. Pendapat Ibnu Taimiyyah didukung juga oleh Imam al-Muzani dan sejumlah ashab Syafi’iyyah. 
Kemudian yang kedua, menurut Ibnu Taimiyyah tidak ada persyaratan jamak itu harus berturut-turut, dalilnya bahwa menjamak adalah rukhshoh yang membuat waktu dua sholat tersebut menjadi satu, artinya waktu ashar dengan mengambil rukhshoh jamak, maka ia telah bergabung menjadi waktu dhuhur, sehingga kapanpun mengerjakan pada waktu Dhuhur, sah sholat Asharnya. Adapun mempersyaratkan lebih dari itu maka butuh kepada dalil, dan sekedar Nabi shallallahu alaihi wa sallam mengerjakannya secara berturut-turut, itu bukan dalil untuk mewajibkannya. Pendapat Ibnu Taimiyyah ini didukung oleh salah satu riwayat dari Imam Ahmad dan sejumlah ulama lainnya. 
Kesimpulannya dalam case kita diatas, orang tersebut bisa memilih option untuk mengerjakan sholat Ashar pada jam 2 dengan niat menjamaknya dengan Dhuhur, mengambil rukhshoh untuk bersafar. Walhamdulillah. Wallahul A’lam. 
Referensi :

http://www.salmajed.com/fatwa/findfatawa.php?arno=13862

http://fatwa.islamweb.net/fatwa/index.php?page=showfatwa&Option=FatwaId&Id=138548

Advertisements

Leave a Comment »

RSS feed for comments on this post. TrackBack URI

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Blog at WordPress.com.
Entries and comments feeds.

%d bloggers like this: