MENYENTUH KEMALUAN

July 29, 2017 at 1:02 pm | Posted in Tulisan Lainnya | Leave a comment

PEMBATAL-PEMBATAL WUDHU

BAGIAN 2 yang Diperselisihkan sebagai Pembatal Wudhu dan yang Rajih Sebagai Pembatal Wudhu

Seri 3 – Menyentuh Kemaluan
Para ulama berbeda pendapat tentang apakah menyentuh kemaluan membatalkan wudhu atau tidak? Dalam permasalahan ini terdapat 2 buah jenis hadits yang seolah-olah saling bertentangan, dimana 1 jenis hadits mengatakan menyentuh kemaluan tidak membatalkan wudhu dan jenis yang lain mengatakan membatalkan wudhu. Berikut haditsnya :

1. Hadits Busroh bintu Shofwaan, bahwa Nabi shallallahu alaihi wa sallam bersabda :

ﻣَﻦْ ﻣَﺲَّ ﺫَﻛَﺮَﻩُ ﻓَﻼَ ﻳُﺼَﻞِّ ﺣَﺘَّﻰ ﻳَﺘَﻮَﺿَّﺄَ

“Barangsiapa yang menyentuh kemaluannya, maka janganlah ia sholat, hingga berwudhu terlebih dahulu” (HR. 4 ahli hadits, dishahihkan oleh Imam Ahmad, Imam Tirmidzi dan Imam Al Albani).

Dalam riwayat ini orang yang menyentuh kemaluannya dapat membatalkan wudhu.
Dalam riwayat Nasa’I lafadznya :

ﺃَﻧَّﻬَﺎ ﺳَﻤِﻌَﺖْ ﺭَﺳُﻮﻝَ ﺍﻟﻠَّﻪِ – ﺻﻠﻰ ﺍﻟﻠﻪ ﻋﻠﻴﻪ ﻭﺳﻠﻢ – ﺫَﻛَﺮَ ﻣَﺎ ﻳُﺘَﻮَﺿَّﺄُ ﻣِﻨْﻪُ ﻓَﻘَﺎﻝَ ﺭَﺳُﻮﻝُ ﺍﻟﻠَّﻪِ – ﺻﻠﻰ ﺍﻟﻠﻪ ﻋﻠﻴﻪ ﻭﺳﻠﻢ – ‏« ﻭَﻳُﺘَﻮَﺿَّﺄُ ﻣِﻦْ ﻣَﺲِّ ﺍﻟﺬَّﻛَﺮِ »

“bahwa Busroh mendengar Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam menyebutkan apa saja yang diwajibkan wudhu, maka Rasulullah  bersabda : “diwajibkan wudhu orang yang menyentuh kemaluan” (Dishahihkan oleh Imam Al Albani).

Dalam hadits ini terkandung makna bahwa orang yang menyentuh kemaluan, baik kemaluannya sendiri atau kemaluan orang lain, maka ia wajib berwudhu. 
Lajnah Daimah Saudi Arabia (fatwa no.  10447) pernah ditanya sebagai berikut :

“ Soal : Apakah menyentuh aurat anak kecilku, pada saat mengganti pakaiannya, dapat membatalkan wudhuku?

Jawab : setelah pujian dan sholawat. Menyentuh aurat tanpa penghalang dapat membatalkan wudhu, sama saja apakah yang disentuh auratnya anak kecil maupun orang dewasa, karena telah tsabit bahwa Nabi shallallahu alaihi wa sallam bersabda : “Barangsiapa yang menyentuh farajnya, maka berwudhulah”. Faraj orang lain yang disentuh sama seperti menyentuh farajnya -selesai-.
Masih dalam Sunan Nasa’i, lafadznya :

ﻣَﻦْ ﻣَﺲَّ ﻓَﺮْﺟَﻪُ ﻓَﻠْﻴَﺘَﻮَﺿَّﺄْ

“Barangsiapa yang menyentuh kemaluannya, maka beruwudhulah” (Dishahihkan oleh Imam Al Albani).

Dalam riwayat Imam Ibnu Hibban dalam Shahihnya, lafadznya :

ﺇﺫﺍ ﻣﺲ ﺃﺣﺪﻛﻢ ﻓﺮﺟﻪ ﻓﻠﻴﺘﻮﺿﺄ ﻭﺍﻟﻤﺮﺃﺓ ﻣﺜﻞ ﺫﻟﻚ

“Jika kalian menyentuh kemaluannya, maka berwudhulah begitu juga wanita seperti itu” (Syaikh Syu’aib Arnauth mengatakan, para perowinya tsiqoh).
Kata Syaikh Mahmud, bahwa faraj dalam bahasa Arab mencakup qubul (kemaluan) dan dubur (pantat), sehingga barangsiapa yang menyentuh baik itu kemaluan atau pantatnya, dapat membatalkan wudhu, baik laki-laki, maupun perempuan.

Dalam lafadz Imam Ahmad dari Abdullah bin ‘Amr Rodhiyallahu anhu, bahwa Nabi shallallahu alaihi wa sallam bersabda :

ﻣَﻦْ ﻣَﺲَّ ﺫَﻛَﺮَﻩُ، ﻓَﻠْﻴَﺘَﻮَﺿَّﺄْ، ﻭَﺃَﻳُّﻤَﺎ ﺍﻣْﺮَﺃَﺓٍ ﻣَﺴَّﺖْ ﻓَﺮْﺟَﻬَﺎ ﻓَﻠْﺘَﺘَﻮَﺿَّﺄْ

“Barangsiapa yang menyentuh kemaluannya, maka berwudhulah, wanita mana saja yang menyentuh kemaluannya, maka berwudhulah” (Imam Haitsami berkata : ‘diriwayatkan Ahmad didalamnya ada Baqiyah ibnul Walid ia seorang Mudallis dan disini ia meriwayatkan dengan ‘an’anah’. Namun Syaikh Syu’aib dalam Ta’liq Musnad Ahmad mengatakan : ‘sanadnya Hasan, dan Baqiyah meriwayatkan dengan jelas’).
2). Dari Abu Huroiroh Rodhiyallahu anhu bahwa Nabi shallallahu alaihi wa sallam bersabda :

ﺇﺫﺍ ﺃﻓﻀﻲ ﺃﺣﺪﻛﻢ ﺑﻴﺪﻩ ﺇﻟﻰ ﻓﺮﺟﻪ ﻭﻟﻴﺲ ﺑﻴﻨﻬﻤﺎ ﺳﺘﺮ ﻭﻻ ﺣﺠﺎﺏ ﻓﻠﻴﺘﻮﺿﺄ

“Jika kalian menyentuh dengan tangannya kemaluannya tanpa ada pembatas dan penghalang, maka berwudhulah” (HR. Ibnu Hibban dalam shahihnya).

Hadits jenis ini menunjukan bahwa yang membatalkan bila menyentuhnya secara langsung, adapun jika kemaluan tersebut tertutupi atau terhalangi atau ia memakai sarung tangan misalnya, maka tidak membatalkan wudhu.
Kedua jenis hadits pada point 1 dan 2, sebagian ulama berpendapat dengannya, yaitu menyentuh kemaluan membatalkan wudhu. Syaikh Mahmud dalam “Jamiul Ahkamis Sholat” berkata :

“Sebagian yang lain menyelisihinya dengan berpendapat wajibnya wudhu orang yang menyentuh auratnya, ulama yang diriwayatkan berpendapat atas wajibnya wudhu –sesuai dengan yang disebutkan Al Haazimiy- dari kalangan sahabat Umar bin Khothob, anaknya Abdullah, Abu Ayyub Al Anshoriy, Zaid bin Khoolid, Abu Huroiroh, Abdullah bin ‘Amr, Jabir, Aisyah, Ummu Habibah, Busroh bintu Shofwan, Sa’ad bin Abi Waqqoosh dalam pendapat kedua darinya dan Ibnu Abbas dalam pendapat kedua darinya Rodhiyallahu anhum. Dari kalangan Tabi’in yakni, Urwah bin Zubair, Sulaiman bin Yassaar, ‘Athoo’ bin Abi Robaah, Abaan bin Utsman, Jabir bin Zaid, Zuhri, Mush’ab bin Sa’ad, Yahya bin Abi Katsir, Sa’id ibnul Musayyib dari pendapatnya yang palih shahih diantara 2 pendapatnya, Hisyaam bin Urwah, Al Auzaa’iy, Syafi’iy, Ishaq dan pendapat Malik yang masyhur”.
3) hadits Tholiq radhiyallahu anhu, bahwa ia berkata :

ﻗَﺪِﻣْﻨَﺎ ﻋَﻠَﻰ ﻧَﺒِﻲِّ ﺍﻟﻠَّﻪِ ﺻَﻠَّﻰ ﺍﻟﻠﻪُ ﻋَﻠَﻴْﻪِ ﻭَﺳَﻠَّﻢَ ﻓَﺠَﺎﺀَ ﺭَﺟُﻞٌ ﻛَﺄَﻧَّﻪُ ﺑَﺪَﻭِﻱٌّ، ﻓَﻘَﺎﻝَ : ﻳَﺎ ﻧَﺒِﻲَّ ﺍﻟﻠَّﻪِ، ﻣَﺎ ﺗَﺮَﻯ ﻓِﻲ ﻣَﺲِّ ﺍﻟﺮَّﺟُﻞِ ﺫَﻛَﺮَﻩُ ﺑَﻌْﺪَ ﻣَﺎ ﻳَﺘَﻮَﺿَّﺄُ؟ ﻓَﻘَﺎﻝَ : ‏« ﻫَﻞْ ﻫُﻮَ ﺇِﻟَّﺎ ﻣُﻀْﻐَﺔٌ ﻣِﻨْﻪُ ‏» ، ﺃَﻭْ ﻗَﺎﻝَ : ‏« ﺑَﻀْﻌَﺔٌ ﻣِﻨْﻪُ »

“kami sedang bersama Nabi shallallahu alaihi wa sallam, lalu datang seseorang yang sepertinya adalah orang baduwi, ia berkata : ‘wahai Nabi Allah, apa pendapatmu tentang orang yang menyentuh dzakarnya, setelah ia berwudhu?. Nabi menjawab : “bukankah ia daging yang tumbuh darinya” atau Beliau berkata : “bagian dari tubuh”” (HR. 4 ahli hadits, dishahihkan oleh Imam Ibnu Hibban, Thobroni, Ibnu Hazm dan Al Albani).

Hadits ini menunjukan bahwa karena kemaluan adalah bagian dari tubuh, sehingga menyentuhnya sama seperti menyentuh bagian tubuh yang lain, seperti hidung dan semisalnya, yang tentu saja tidak membatalkan wudhu. 
Diantara ulama yang berpendapat tidak batal wudhu yaitu kata syaikh Mahmud :

“Al Hazimiy menyebutkan bahwa Ali bin Abi Tholib, ‘Amaar bin Yaasir, Abdullah bin Mas’ud, Ibnu Abbas dalam salah satu pendapatnya, Khudzaifah ibnul Yamaan, ‘Imroon bin Khushain, Abu Dardaa’, Sa’ad bin Abi Waqoosh dalam salah satu pendapatnya, Sa’id ibnul Musayyib dalam salah satu pendapatnya, Sa’id bin Jubair, Ibrohim An Nakhoo’iy, Robii’ah bin Abdur Rokhman, Sufyaan Ats-Tsauri, Abu Hanifah, dan teman-temanya berpendapat tidak berwudhu bagi orang yang menyentuh kemaluan”.
Untuk melakukan tarjih dari 2 pendapat para ulama yang bertentangan ada yang menempuhnya dengan metode tarjih dan ada juga yang melakukannya dengan metode penggabungan. Bagi sebagian ulama yang melakukan tarjih, maka mereka akan memilih pendapat batalnya wudhu karena menyentuh kemaluan. Alasan mereka, sebagaimana dikatakan Syaikh Mahmud :

“Baihaqi berkata : “cukup melakukan tarjih pada haditsnya Busroh-yang pertama- (yang mewajibkan wudhu), atas haditsnya Tholaq-yang keempat- (yang tidak mewajibkan wudhu). Alasannya, hadits Tholaq para perowinya tidak dijadikan hujjah oleh Bukhori-Muslim, sedangkan hadits Busroh, semua perowinya dijadikan hujjah oleh Bukhori-Muslim. Maka ini lebih utama berhujjah untuk menguatkan pendapat yang wajibkan wudhu dibanding pendapat yang menafikannya”.
Alasan lainnya lagi, kata Syaikh Mahmud :

“Hadits Tholaq dilemahkan oleh banyak Aimah yang mu’tabar. Syafi’I berkata : ‘kami bertanya tentang Qois bin Tholaq, maka kami tidak mendapatkan orang yang mengenalnya’. Abu Hatim dan Abu Zur’ah berkata : ‘Qois bin Tholaq adalah dari kalangan perowi yang tidak bisa tegak padanya hujjah. Sudah diketahui bahwa haditsnya Tholaq bin Ali Rodhiyallahu anhu adalah dari riwayat anaknya Qois bin Tholaq. Sedangkan Aimah yang mendhoifkan hadits Busroh Rodhiyallahu anhu, hanyalah mendhoifkannya dari jalan Urwah dari Marwan dari Busroh, Marwan tercela dalam ‘adalahnya, namun Ibnu Khuzaimah dan selainnya memastikan bahwa Urwah mendengar langsung dari Busroh. Dalam Shohih Ibnu Hibban dan Sunan Daruquthni : “Urwah berkata, aku bertanya kepada Busroh, lalu ia membenarkannya”. Dengan riwayat seperti ini, Ibnu Khuzaimah dan Al Hakim telah menjawab alasan pelemahannya, maka gugurlah pendhoifan haditsnya Busroh” -selesai-.
Imam Ibnu Utsaimin dalam “Al Ushul min ilmil Ushul” menambahkan sisi tarjihnya, kata beliau :

ﻓﻴﺮﺟﺢ ﺍﻷﻭﻝ؛ ﻷﻧﻪ ﺃﺣﻮﻁ، ﻭﻷﻧﻪ ﺃﻛﺜﺮ ﻃﺮﻗﺎً، ﻭﻣﺼﺤﺤﻮﻩ ﺃﻛﺜﺮ، ﻭﻷﻧﻪ ﻧﺎﻗﻞ ﻋﻦ ﺍﻷﺻﻞ، ﻓﻔﻴﻪ ﺯﻳﺎﺩﺓ ﻋﻠﻢ .

“Yang Rojih yang pertama (wajib wudhu), karena ini lebih hati-hati, lebih banyak jalannya dan dishahihkan oleh lebih banyak ulama. Juga ini adalah memalingkan dari hukum asal, maka didalamnya ada tambahan ilmu” -selesai-.
Adapun sebagian ulama lagi melakukan jam’ul dalilain (mengkompromikan 2 dalil) yakni mereka mengatakan yang membatalkan wudhu apabila menyentuhnya dengan syahwat. Imam Al Albani dalam “Tamamul Minnah” berkata :

“Sabda Nabi shallallahu alaihi wa sallam: ‘ia hanyalah bagian tubuhmu”. Ini adalah isyarat yang halus bahwa menyentuh yang tidak mewajibkan wudhu, hanyalah jika tidak dibarengi dengan syahwat, karena dalam hal ini, dapat diserupakan dengan menyentuh anggota tubuh lainnya dari tubuh, berbeda jika menyentuhnya dengan syahwat, maka ketika itu tidak dapat diserupakan dengan menyentuh anggota tubuh lainnya, karena umunya menyentuh bagian anggota tubuh selain faraj tidak dibarengi syahwat. Ini adalah perkara yang jelas, sebagaimana engkau lihat. Hadits ini bukan dalil bagi Hanafiyah yang berpendapat menyentuh faraj secara mutlak tidak membatalkan wudhu, namun ini adalah dalil bagi yang berpendapat menyentuh tanpa syahwat tidak membatalkan wudhu. Adapun menyentuhnya dengan syahwat dapat membatalkan wudhu dengan dalil hadits Busroh. Ini adalah cara mengkompromikan 2 hadist ini dan ini adalah pilihannya Syaikhul Islam Ibnu taimiyyah dalam sebagian kitab-kitabnya yang aku sebutkan. Wallohu A’lam”.
Kami memandang lebih tepat menggunakan metode jama’ (kompromi), karena dengannya kita dapat mengamalkan 2 hadits ini secara bersamaan. Terlebih lagi kedua hadits ini shahih. Apa yang dinukilkan oleh Syaikh Mahmud bahwa hadits Tholaq terdapat masalah pada sanadnya karena perowinya, yakni anak Tholaq Rodhiyallahu anhu sendiri, Qois bin Tholaq, dimajhulkan dan dilemahkan oleh para ulama, kami jawab : bahwa Qois bin Tholaq telah ditsiqohkan oleh sebagian ulama lainnya, kata Imam Ibnu Ma’in : “ ﺷﻴﻮﺥ ﻳﻤﺎﻣﻴﺔ ﺛﻘﺎﺕ ” (Syaikh Yamamiyah, tsiqoh). Begitu juga Imam Al’ijli dan Imam Ibnu Hibban mentautsiqnya.
Imam Tirmidzi setelah meriwayatkan haditsnya berkata :

ﻭَﻫَﺬَﺍ ﺍﻟْﺤَﺪِﻳﺚُ ﺃَﺣْﺴَﻦُ ﺷَﻰْﺀٍ ﺭُﻭِﻯَ ﻓِﻰ ﻫَﺬَﺍ ﺍﻟْﺒَﺎﺏِ

”hadits ini adalah yang paling bagus dari beberapa hadits yang diriwayatkan dalam bab ini”.

Dalam “Subulus Salam” Imam Shon’aniy menukil perkataan Imam Thohawi :

ﻭَﻗَﺎﻝَ ﺍﻟﻄَّﺤَﺎﻭِﻱُّ : ﺇﺳْﻨَﺎﺩُﻩُ ﻣُﺴْﺘَﻘِﻴﻢٌ ﻏَﻴْﺮُ ﻣُﻀْﻄَﺮِﺏٍ ﻭَﺻَﺤَّﺤَﻪُ ﺍﻟﻄَّﺒَﺮَﺍﻧِﻲُّ ﻭَﺍﺑْﻦُ ﺣَﺰْﻡٍ

”Sanadnya lurus, tidak goncang, dishahihkan oleh Imam Thobroniy dan Ibnu Hazm”.

Bahkan Imam Syaukani dalam “Nailul Author” menukil ulama yang menguatkan haditsnya sahabat Tholaq dibanding shohabiyah Busroh, kata beliau :

ﻭَﺻَﺤَّﺤَﻪُ ﻋَﻤْﺮُﻭ ﺑْﻦُ ﻋَﻠِﻲٍّ ﺍﻟْﻔَﻠَّﺎﺱُ ﻭَﻗَﺎﻝَ : ﻫُﻮَ ﻋِﻨْﺪَﻧَﺎ ﺃَﺛْﺒَﺖُ ﻣِﻦْ ﺣَﺪِﻳﺚِ ﺑُﺴْﺮَﺓَ .

ﻭَﺭُﻭِﻱَ ﻋَﻦْ ﻋَﻠِﻲِّ ﺑْﻦِ ﺍﻟْﻤَﺪِﻳﻨِﻲِّ ﺃَﻧَّﻪُ ﻗَﺎﻝَ : ﻫُﻮَ ﻋِﻨْﺪَﻧَﺎ ﺃَﺣْﺴَﻦُ ﻣِﻦْ ﺣَﺪِﻳﺚِ ﺑُﺴْﺮَﺓَ

”Dishahihkan oleh ‘Amr bin Ali Al Falaas, katanya : ‘ia menurut kami lebih kokoh dari haditsnya Bushroh”. Diriwayatkan dari Ali Ibnul Madiniy bahwa ia berkata : ‘ia menurut kami lebih bagus dari haditsnya Busroh’”.
Kami memandang yang rajih adalah dengan menggunakan teknik jama’ (penggabungan) hadits-hadits tersebut, dimana pendapat yang terpilih adalah batalnya wudhu jika menyentuh kemaluan dengan syahwat, sebagaimana yang dirajihkan oleh Syaikhul Islam Ibnu Taimiyyah dan Imam Al Albani. Wallahul a’lam.

Advertisements

Leave a Comment »

RSS feed for comments on this post. TrackBack URI

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Blog at WordPress.com.
Entries and comments feeds.

%d bloggers like this: