TIDUR MEMBATALKAN WUDHU? 

July 29, 2017 at 12:49 pm | Posted in Tulisan Lainnya | Leave a comment

*PEMBATAL-PEMBATAL WUDHU

BAGIAN 2*
*Pembatal Wudhu yang diperselisihkan para ulama, namun yang rajih (kuat) sebagai pembatal wudhu*

(Seri 1 – Tidur) 
*Tidur*, para ulama berselisih pendapat tentang apakah tidur membatalkan wudhu atau tidak? Syaikh Mahmud berkata :

“Para ulama berbeda pendapat secara luas tentang hukum tidur dari sisi apakah ia membatalkan wudhu kepada 8 pendapat yang telah dikumpulkan oleh Imam Nawawi dalam Syaroh Shahih Muslim, sebagai berikut :

1. Tidur tidak membatalkan wudhu pada kondisi apapun, ini adalah pendapatnya Abu Musa Al Asy’ari, Sa’id Ibnul Musayyib, Abu Mijlaz, Humaid, Al A’roj dan Syu’bah.

2. Tidur membatalkan wudhu pada kondisi apapun, ini adalah madzhabnya Hasan Al Bashri, Al Muzaniy, Abi Ubaid, Al Qosim bin Sallaam, Ishaq bin Roohawaih, Ibnul Mundzir, diriwayatkan dari Ibnu Abbas, Anas dan Abi Huroiroh.

3. Tidur yang banyak membatalkan wudhu pada kondisi apapun, sedangkan tidur yang sedikit tidak membatalkan wudhu pada kondisi apapun, ini adalah pendapatnya Az Zuhriy, Robi’ah, Al Auzaa’I, Malik, Ahmad pada salah satu riwayat darinya.

4. Jika tidur pada posisi seperti orang yang sholat, seperti ruku’, sujud, berdiri dan duduk tidak membatalkan wudhunya, sama saja apakah didalam sholat, maupun diluar sholat. Jika ia tidur dengan berbaring atau terlentang diatas lehernya, maka ini membatalkan wudhu, ini adalah madzhabnya Abu Hanifah, Dawud dan pendapat Syafi’I yang asing.

5. Tidak membatalkan wudhu kecuali tidur pada posisi ruku’ dan sujud, ini pendapatnya Ahmad.

6. Tidak membatalkan wudhu kecuali tidur pada posisi sujud, diriwayatkan juga dari Ahmad.

7. Tidak membatalkan wudhu didalam sholat pada kondisi apapun dan membatalkannya jika diluar sholat, ini pendapat Syafi’I yang lemah.

8. Jika tidur pada posisi duduk tegak diatas tanah, tidak membatalkan wudhu, sama saja apakah sedikit maupun banyak, sama saja apakah didalam sholat atau diluar sholat, ini adalah madzhabnya Syafi’i.
Untuk merajihkan pendapat tentang tidur, maka ada baiknya kita perlu meninjau beberapa hadits berikut :

1. Hadist Shofwan bin Asal sebelumnya yang menunjukan bahwa tidur secara mutlak membatalkan wudhu.

2. Hadits Anas bin Malik Rodhiyallahu anhu bahwa ia berkata :

ﻛَﺎﻥَ ﺃَﺻْﺤَﺎﺏُ ﺭَﺳُﻮﻝِ ﺍﻟﻠَّﻪِ ﺻَﻠَّﻰ ﺍﻟﻠَّﻪُ ﻋَﻠَﻴْﻪِ ﻭَﺳَﻠَّﻢَ – ﻋَﻠَﻰ ﻋَﻬْﺪِﻩِ – ﻳَﻨْﺘَﻈِﺮُﻭﻥَ ﺍﻟْﻌِﺸَﺎﺀَ ﺣَﺘَّﻰ ﺗَﺨْﻔِﻖَ ﺭُﺀُﻭﺳُﻬُﻢْ ، ﺛُﻢَّ ﻳُﺼَﻠُّﻮﻥَ ﻭَﻟَﺎ ﻳَﺘَﻮَﺿَّﺌُﻮﻥَ

“adalah sahabat-sahabat Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam pada zaman Nabi, menunggu sholat Isya (tidur) hingga kepalanya terangguk-angguk (tegluk-tegluk-bs. Jawa-pent.) lalu sholat, tanpa berwudhu lagi” (HR. Abu Dawud, dishahihkan Imam Daruquthni, asalnya pada Shahih Muslim).
Imam Shon’ani dalam “Subulus Salam” menyebutkan kisah lain tentang sifat tidur para sahabat tersebut, kata beliau :

ﻓَﺎﻟْﺄَﺣَﺎﺩِﻳﺚُ ﻗَﺪْ ﺍﺷْﺘَﻤَﻠَﺖْ ﻋَﻠَﻰ ﺧَﻔْﻘَﺔِ ﺍﻟﺮَّﺃْﺱِ ، ﻭَﻋَﻠَﻰ ﺍﻟْﻐَﻄِﻴﻂِ ، ﻭَﻋَﻠَﻰ ﺍﻟْﺈِﻳﻘَﺎﻅِ ﻭَﻋَﻠَﻰ ﻭَﺿْﻊِ ﺍﻟْﺠُﻨُﻮﺏِ ، ﻭَﻛُﻠُّﻬَﺎ ﻭَﺻَﻔَﺖْ ﺑِﺄَﻧَّﻬُﻢْ ﻟَﺎ ﻳَﺘَﻮَﺿَّﺌُﻮﻥَ ﻣِﻦْ ﺫَﻟِﻚَ

“hadits-hadits dalam masalah ini diriwayatkan dengan (sifat) terangguk-angguk kepalanya, mendengkur, tidur diatas lambung, semuanya ini disifatkan bahwa setelah itu mereka tidak berwudhu lagi” -selesai-.
Dalam riwayat ini, seolah-olah tidur tidak membatalkan wudhu secara mutlak, karena mereka para sahabat langsung sholat tanpa berwudhu lagi dan bagi mereka yang mentakwil bahwa ini adalah tidur yang sedikit, maka tertolak dengan adanya sifat mereka tidur mendengkur, yang menunjukan bahwa itu adalah tidur yang banyak.

3. Hadits Ali Rodhiyallahu anhu, bahwa Nabi shallallahu alaihi wa sallam bersabda :

ﻭِﻛَﺎﺀُ ﺍﻟﺴَّﻪِ ﺍﻟْﻌَﻴْﻨَﺎﻥِ ﻓَﻤَﻦْ ﻧَﺎﻡَ ﻓَﻠْﻴَﺘَﻮَﺿَّﺄْ

“Pengikat dubur adalah kedua mata, barangsipa yang tertidur, maka hendaknya berwudhu” (HR. Abu Dawud, dishahihkan oleh Imam Al Albani).

4. Dalam lafadz Muawiyyah bin Abi Sufyan, sabda Nabi shallallahu alaihi wa sallam:

ﺍﻟْﻌَﻴْﻦُ ﻭِﻛَﺎﺀُ ﺍﻟﺴَّﻪِ ﻓَﺈِﺫَﺍ ﻧَﺎﻣَﺖِ ﺍﻟْﻌَﻴْﻦُ ﺍﺳْﺘَﻄْﻠَﻖَ ﺍﻟْﻮِﻛَﺎﺀُ

“Kedua mata adalah pengikat dubur, jika mata tertidur (terpejam), maka lepaslah ikatannya” (HR. Daruquthni dan selainnya).

5. Hadits Abu Huroiroh Rodhiyallahu anhu bahwa Nabi shallallahu alaihi wa sallam bersabda :

ﻭَﺇِﺫَﺍ ﺩَﺧَﻞَ ﺍﻟْﻤَﺴْﺠِﺪَ ﻛَﺎﻥَ ﻓِﻰ ﺻَﻼَﺓٍ ﻣَﺎ ﻛَﺎﻧَﺖْ ﺗَﺤْﺒِﺴُﻪُ ، ﻭَﺗُﺼَﻠِّﻰ – ﻳَﻌْﻨِﻰ ﻋَﻠَﻴْﻪِ – ﺍﻟْﻤَﻼَﺋِﻜَﺔُ ﻣَﺎ ﺩَﺍﻡَ ﻓِﻰ ﻣَﺠْﻠِﺴِﻪِ ﺍﻟَّﺬِﻯ ﻳُﺼَﻠِّﻰ ﻓِﻴﻪِ ﺍﻟﻠَّﻬُﻢَّ ﺍﻏْﻔِﺮْ ﻟَﻪُ ، ﺍﻟﻠَّﻬُﻢَّ ﺍﺭْﺣَﻤْﻪُ ، ﻣَﺎ ﻟَﻢْ ﻳُﺤْﺪِﺙْ ﻓِﻴﻪِ »

“Jika ia masuk masjid, ia dihitung sedang sholat selama ia menunggunya dan para malaikat bersholawat (mendoakannya) selama ia masih ditempat duduk yang ia mengerjakan sholat padanya. Malaikat berdoa : “Ya Allah, ampunilah ia, Ya Allah rahmatilah ia, selama ia tidak berhadatas” (Muttafaqun Alaih).
Dari hadits-hadits diatas, nampaknya kita mulai menemukan titik yang jelas, perbedaan antara tidur yang membatalkan wudhu dan yang tidak. Salah satu alasan kuat, kenapa tidur membatalkan wudhu adalah yang pertama ia menghilangkan akal, sehingga ia dihukumi seperti orang yang hilang akalnya. Yang kedua, ia tidak bisa mengontrol dirinya apakah ia telah berhadats atau tidak, karena Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam telah mensifatkan kedua mata, sebagai pengikat dubur, artinya dengan kedua mata yang masih dapat merasakan kondisi sekelilingnya, maka ia bisa mengetahui dirinya apakah telah kentut atau tidak.
Imam Al Albani dalam “Tamamul Minnah” telah menceritakan sebuah kisah yang menarik, kata beliau :

“Abu ‘Ubaid bin Salaam condong kepada pandapat tersebut dalam kisah unik yang diceritakan oleh Ibnu Abdil Bar dalam “Syaroh Muwatho” (1/117/2) ia berkata : ‘saya berfatwa bahwa orang yang tidur dalam keadaan duduk tidak perlu berwudhu, sampai suatu ketika aku duduk disamping seseorang orang pada waktu sholat Jum’at, lalu orang tersebut tertidur, lalu keluar darinya suara kentut. Aku berkata kepadanya : ‘bangunlah, berwudhulah kamu’. Ia berkata, ‘aku tidak tidur’. Aku berkata : ‘bahkan engkau telah kentut yang membatalkan wudhu, aku sampai bersumpah demi Allah, atas hal tersebut’. Ia berkata : ‘mungkin itu darimu’. Setelah itu berubahlah apa yang aku yakini selama ini tentang tidurnya orang yang duduk yang tidur menguasainya dan mencampur adukan hatinya”.
Dari sini kita bisa menarik pendapat yang rajih yaitu, bahwa tidur yang membuat pelakunya tidak menyadari apakah ia telah berhadats atau tidak, itulah tidur yang dapat membatalkan wudhu. Imam Al Abani telah menukil penjelasan dari Imam Al Khothoobiy tentang definisi tidur dengan mengantuk, kata beliau :

“Al Khothoobiy dalam “Ghoribul Hadits” (2/32Q) berkata : “hakikat tidur adalah sesuatu yang sangat berat menguasai seseorang , sehingga menyebabkan hatinya tertutupi, terputus darinya mengenali hal-hal yang dhohir.

Sedangkan kantuk adalah rasa yang berat yang menghalangi mengetahui perkara-perkara yang batin”.
Kata Al Albani : “mengetahui hakikat perbedaan antara tidur dan kantuk, menghilangkan keraguan-keraguan dan menguatkan pendapat bahwa tidur membatalkan wudhu secara mutlak” -selesai-.
Yakni maksud beliau jika seseorang tertidur, sehingga dirinya sudah tidak merasa lagi hal-hal dhahir disekelilingnya, maka ini disamakan dengan orang yang hilang akalnya dan ia sudah tidak bisa lagi mendeteksi apakah dirinya belum kentut atau tidak, karena kesadaran telah hilang darinya selama ia tidur. Namun jika hanya mengantuk, maka kesadaran dari mengenali hal-hal batin disekelilingnya masih terasa, oleh karenanya jika ia kentut dapat merasakannya. Wallahul a’lam.

Advertisements

Leave a Comment »

RSS feed for comments on this post. TrackBack URI

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Blog at WordPress.com.
Entries and comments feeds.

%d bloggers like this: