BERWUDHU KARENA MEMANDIKAN JENAZAH 2

August 17, 2017 at 3:29 pm | Posted in Tulisan Lainnya | Leave a comment

PEMBATAL-PEMBATAL WUDHU

Bagian 3 Yang Diperselisihkan Membatalkan Wudhu, Namun yang Rajih Tidak Membatalkannya

Seri 10B – Memandikan dan Membawa Jenasah
Kemudian setelah kita tetapkan keshahihan hadits yang menunjukan perintah Nabi shallallahu alaihi wa kepada orang yang memandikan mayat, maka ulama yang berpendapat bahwa perintah tersebut adalah sunnah, berdasarkan keterangan berikut :

1. Hadits dari Ibnu Abbas Rodhiyallahu anhu, bahwa Nabi shallallahu alaihi wa sallam bersabda :

ﻟَﻴْﺲَ ﻋَﻠَﻴْﻜُﻢْ ﻓِﻰ ﻏَﺴْﻞِ ﻣَﻴِّﺘِﻜُﻢْ ﻏُﺴْﻞٌ ﺇِﺫَﺍ ﻏَﺴَّﻠْﺘُﻤُﻮﻩُ ، ﺇِﻧَّﻪُ ﻣُﺴْﻠِﻢٌ ﻣُﺆْﻣِﻦٌ ﻃَﺎﻫِﺮٌ ، ﻭَﺇِﻥَّ ﺍﻟْﻤُﺴْﻠِﻢَ ﻟَﻴْﺲَ ﺑِﻨَﺠِﺲٍ ، ﻓَﺤَﺴْﺒُﻜُﻢْ ﺃَﻥْ ﺗَﻐْﺴِﻠُﻮﺍ ﺃَﻳْﺪِﻳَﻜُﻢْ

“Tidak wajib bagi kalian ketika memandikan mayat untuk mandi karena seorang Muslim itu suci dan seorang Muslim tidak najis, cukup bagi kalian mencuci tangannya saja” (HR. Baihaqi).
Setelah meriwayatkan hadits ini, Imam Baihaqi berkata :

ﻫَﺬَﺍ ﺿَﻌِﻴﻒٌ } . ﺝ { ﻭَﺍﻟْﺤَﻤْﻞَ ﻓِﻴﻪِ ﻋَﻠَﻰ ﺃَﺑِﻰ ﺷَﻴْﺒَﺔَ ﻛَﻤَﺎ ﺃَﻇُﻦُّ ، ﻭَﺭُﻭِﻯَ ﺑَﻌْﻀُﻪُ ﻣِﻦْ ﻭَﺟْﻪٍ ﺁﺧَﺮَ ﻋَﻦِ ﺍﺑْﻦِ ﻋَﺒَّﺎﺱٍ ﻣَﺮْﻓُﻮﻋًﺎ

“ini adalah lemah. Kemungkinan ada pada rowi Abi Syaibah, menurut dugaanku, diriwayatkan oleh sebagian ulama dari sisi lain dari Ibnu Abbas Rodhiyallahu anhu secara marfu’” -selesai-.
Namun Al Hafidz Ibnu Hajar menyanggah penilaian pendhoifan Imam Baihaqi ini, sebagaimana dinukil oleh Imam Shon’ani dalam “Subulus Salam”, kata beliau :

ﻭَﺗَﻌَﻘَّﺒَﻪُ ﺍﻟْﻤُﺼَﻨِّﻒُ ؛ ﻟِﺄَﻧَّﻪُ ﻗَﺎﻝَ ﺍﻟْﺒَﻴْﻬَﻘِﻲُّ : ﻫَﺬَﺍ ﺿَﻌِﻴﻒٌ ، ﻭَﺍﻟْﺤَﻤْﻞُ ﻓِﻴﻪِ ﻋَﻠَﻰ ﺃَﺑِﻲ ﺷَﻴْﺒَﺔَ ﻓَﻘَﺎﻝَ ﺍﻟْﻤُﺼَﻨِّﻒُ : ﺃَﺑُﻮ ﺷَﻴْﺒَﺔَ ﻫُﻮَ ﺇﺑْﺮَﺍﻫِﻴﻢُ ﺑْﻦُ ﺃَﺑِﻲ ﺑَﻜْﺮِ ﺑْﻦِ ﺷَﻴْﺒَﺔَ ” ، ﺍﺣْﺘَﺞَّ ﺑِﻪِ ﺍﻟﻨَّﺴَﺎﺋِﻲّ ؛ ﻭَﻭَﺛَّﻘَﻪُ ﺍﻟﻨَّﺎﺱُ ، ﻭَﻣَﻦْ ﻓَﻮْﻗَﻪُ ﺍﺣْﺘَﺞَّ ﺑِﻬِﻢْ ﺍﻟْﺒُﺨَﺎﺭِﻱُّ ﺇﻟَﻰ ﺃَﻥْ ﻗَﺎﻝَ : ﻓَﺎﻟْﺤَﺪِﻳﺚُ ﺣَﺴَﻦٌ ، ﺛُﻢَّ ﻗَﺎﻝَ ﻓِﻲ ﺍﻟْﺠَﻤْﻊِ ﺑَﻴْﻨَﻪُ ﻭَﺑَﻴْﻦَ ﺍﻟْﺄَﻣْﺮِ ﻓِﻲ ﺣَﺪِﻳﺚِ ﺃَﺑِﻲ ﻫُﺮَﻳْﺮَﺓَ ” ، ﺇﻥَّ ﺍﻟْﺄَﻣْﺮَ ﻟِﻠﻨَّﺪْﺏِ

“Penulis (Ibnu Hajar) mengkritik Imam Baihaqi yang berkata : “ini adalah lemah. Kemungkinan ada pada rowi Abi Syaibah”. Ibnu hajar berkata : ‘Ibrohim bin Abi Bakar bin Syaibah dijadikan hujjah oleh Nasa’I dan ditsiqohkan oleh para ulama, sedangkan rowi yang diatasnya, dijadikan hujjah oleh Bukhori, sampai pada perkataannya, bahwa hadits ini hasan. Lalu Al Hafidz berkata, dalam mengkompromikan antara perintah dalam hadits Abu Huroiroh Rodhiyallahu anhu, bahwa perintah dalam hadits tersebut adalah sunnah” -selesai-.
2. Hadits Abdullah bin Abi Bakr, bahwa ia berkata :

ﺃَﻥَّ ﺃَﺳْﻤَﺎﺀَ ﺑِﻨْﺖَ ﻋُﻤَﻴْﺲٍ ﻏَﺴَّﻠَﺖْ ﺃَﺑَﺎ ﺑَﻜْﺮٍ ﺍﻟﺼِّﺪِّﻳﻖَ ﺣِﻴﻦَ ﺗُﻮُﻓِّﻰَ ﺛُﻢَّ ﺧَﺮَﺟَﺖْ ﻓَﺴَﺄَﻟَﺖْ ﻣَﻦْ ﺣَﻀَﺮَﻫَﺎ ﻣِﻦَ ﺍﻟْﻤُﻬَﺎﺟِﺮِﻳﻦَ ﻓَﻘَﺎﻟَﺖْ ﺇِﻧِّﻰ ﺻَﺎﺋِﻤَﺔٌ ﻭَﺇِﻥَّ ﻫَﺬَﺍ ﻳَﻮْﻡٌ ﺷَﺪِﻳﺪُ ﺍﻟْﺒَﺮْﺩِ ﻓَﻬَﻞْ ﻋَﻠَﻰَّ ﻣِﻦْ ﻏُﺴْﻞٍ ﻓَﻘَﺎﻟُﻮﺍ ﻻَ

“bahwa Asmaa’ binti ‘Umais memandikan Abu Bakar Ash-Shidiiq ketika beliau wafat, lalu beliau keluar dan bertanya kepada orang yang hadir dari kalangan Muhajirin, beliau berkata : ‘aku sedang puasa dan pada hari ini sangat dingin sekali, apakah wajib bagi saya berwudhu?’. Mereka menjawab : ‘tidak wajib’”. (HR. Malik).
Bisa jadi ulama yang berpendapat wajibnya mandi, akan mengatakan bahwa Asmaa’ diberikan keringanan karena cuaca yang tidak memungkinkan untuk mandi, sehingga gugurlah kewajiban kepadanya. Selain itu juga kisah ini tidak shahih, Imam Al Albani dalam

“Tamaamul Minnah” berkata :

ﻳﻮﻫﻢ ﺃﻥ ﺍﻟﻘﺼﺔ ﺻﺤﻴﺤﺔ ﺍﻹﺳﻨﺎﺩ ﻭﻟﻴﺲ ﻛﺬﻟﻚ ﻻﻧﻘﻄﺎﻋﻪ ﻓﺈﻥ ﻣﺎﻟﻜﺎ ﺃﺧﺮﺟﻬﺎ ﻓﻲ ” ﺍﻟﻤﻮﻃﺄ ” ‏( 1 / 222 – 223 ‏) ﻋﻦ ﻋﺒﺪ ﺍﻟﻠﻪ ﺑﻦ ﺃﺑﻲ ﺑﻜﺮ ﺃﻥ ﺃﺳﻤﺎﺀ ﺑﻨﺖ ﻋﻤﻴﺲ ﻏﺴﻠﺖ ﺃﺑﺎ ﺑﻜﺮ ﺍﻟﺼﺪﻳﻖ ﺣﻴﻦ ﺗﻮﻓﻲ ﺛﻢ ﺧﺮﺟﺖ . . ﻭﻋﺒﺪ ﺍﻟﻠﻪ ﺑﻦ ﺃﺑﻲ ﺑﻜﺮ ﻫﺬﺍ ﻟﻴﺲ ﻫﻮ ﺍﺑﻦ ﺃﺑﻲ ﺑﻜﺮ ﺍﻟﺼﺪﻳﻖ ﻛﻤﺎ ﻗﺪ ﻳﺘﻮﻫﻢ ﺑﻞ ﻫﻮ ﻋﺒﺪ ﺍﻟﻠﻪ ﺑﻦ ﺃﺑﻲ ﺑﻜﺮ ﺑﻦ ﻣﺤﻤﺪ ﺑﻦ ﻋﻤﺮﻭ ﺑﻦ ﺣﺰﻡ ﺍﻷﻧﺼﺎﺭﻱ ﻭﻫﻮ ﺛﻘﺔ ﺇﻣﺎﻡ ﻣﻦ ﺷﻴﻮﺥ ﻣﺎﻟﻚ ﻭﻟﻜﻨﻪ ﻟﻢ ﻳﺪﺭﻙ ﺃﺳﻤﺎﺀ ﺑﻨﺖ ﻋﻤﻴﺲ ﻓﺈﻥ ﻭﻓﺎﺗﻬﺎ ﻗﺒﻞ ﺳﻨﺔ ﺧﻤﺴﻴﻦ ﻭﻭﻻﺩﺓ ﻋﺒﺪ ﺍﻟﻠﻪ ﺑﻌﺪ ﺳﻨﺔ ﺳﺘﻴﻦ ﻛﻤﺎ ﻳﺴﺘﻔﺎﺩ ﻣﻦ ” ﺍﻟﺘﻬﺬﻳﺐ ” ﻭﻏﻴﺮﻩ

“terpahami disini bahwa kisah ini shahih sanadnya, namun sebenarnya tidak seperti itu, karena terjadi keterputusan sanad didalamnya, karena Imam Malik yang meriwayatkan hadits ini dalam “Al Muwatho (1/222-223), dari Abdullah bin Abi Bakar bahwa Asmaa binti ‘Umais….dst.

Abdullah bin Abi Bakar ini bukan anaknya Abu Bakar Rodhiyallahu anhu, sebagaimana yang dipahami, namun beliau adalah Abdullah bin Abi Bakar bin Muhammad bin ‘Amr bin Hazm Al Anshori, perowi tsiqoh termasuk gurunya Imam Malik, namun beliau tidak pernah bertemu Asmaa’ Rodhiyallahu anha, karena Asmaa’ wafat sebelum tahun 50 H, sedangkan Abdullah dilahirkan setelah tahun 60 H, sebagaimana yang terdapat dalam “At-Tahdziib” dan selainnya” -seesai-.
Baiklah, namun kami masih memiliki satu hadits lagi yang menunjukan tidak wajibnya mandi, karena memandikan jenazah, yaitu

3. Hadits Ibnu Umar Rodhiyallahu anhuma, beliau berkata :

ﻛُﻨَّﺎ ﻧُﻐَﺴِّﻞُ ﺍﻟْﻤَﻴِّﺖَ ﻓَﻤِﻨَّﺎ ﻣَﻦْ ﻳَﻐْﺘَﺴِﻞْ ﻭَﻣِﻨَّﺎ ﻣَﻦْ ﻟَﺎ ﻳَﻐْﺘَﺴِﻞْ

“Kami (para sahabat) memandikan mayat, diantara kami ada yang mandi dan ada juga yang tidak” (HR. Daruquthni dan Al Khothib)

Hadits ini dishahihkan Al Hafidz, kata Imam Shon’ani :

ﻗَﺎﻝَ ﺍﻟْﻤُﺼَﻨِّﻒُ : ﺇﺳْﻨَﺎﺩُﻩُ ﺻَﺤِﻴﺢٌ ، ﻭَﻫُﻮَ ﺃَﺣْﺴَﻦُ ﻣَﺎ ﺟُﻤِﻊَ ﺑِﻪِ ﺑَﻴْﻦَ ﻫَﺬِﻩِ ﺍﻟْﺄَﺣَﺎﺩِﻳﺚِ .

“sanadnya shahih dan ini yang paling bagus dalam mengkompromikan hadits-hadits dalam masalah ini” -selesai-.
Imam Al Albani dalam beberapa kitabnya juga menshahihkannya, beliau berkata dalam “Ahkamul Janaiz” (masalah no. 31) setelah menshahihkan hadits perintah mandi, karena memandikan mayat (hadits Abu Huroiroh) :

ﻭﻗﺎﻝ : ﻭﻇﺎﻫﺮ ﺍﻻﻣﺮ ﻳﻔﻴﺪ ﺍﻟﻮﺟﻮﺏ، ﻭﺇﻧﻤﺎ ﻟﻢ ﻧﻘﻞ ﺑﻪ ﻟﺤﺪﻳﺜﻴﻦ

“dhohirnya perintah menunjukan kewajiban, (seandainya) tidak dinukil 2 buah hadits” -selesai-.
Kemudian Imam Al Albani menyebutkan 2 buah hadits yaitu haditsnya Ibnu Abbas yang menunjukan cukup mencuci tangan saja dan hadits Ibnu Umar ini, dan kedua hadits ini dishahihkan oleh Imam Al Albani.
Berdasakan pemaparan diatas, maka pendapat yang terpilih adalah mandi karena memandikan mayat, maksimalnya hukumnya adalah sunnah, dianjurkan untuk dikerjakan. Pendapat ini dirajihkan juga oleh Imam ibnu Qudamah dalam “al-Mughni” yang mana beliau berkata (1/141) :

وقال أبو الحسن التميمي: لا وضوء فيه. وهذا قول أكثر الفقهاء وهو الصحيح إن شاء الله؛ لأن الوجوب من الشرع. ولم يرد في هذا نص، ولا هو في معنى المنصوص عليه، فبقي على الأصل

“Abul Hasan at-Tamiimiy berkata, “tidak perlu berwudhu karena memandikan mayat”. Ini adalah pendapatnya kebanyakan fuqoha, dan ini yang rajih Insya Allah, karena kewajiban itu berlandaskan syariat, dan tidak ada nash terkait hal ini, begitu juga tidak ada makna tersirat dari nash-nash yang menyinggungnya, sehingga tetap pada hukum asalnya (tidak batal wudhunya -pent.)”.
Bersambung insya Allah….

Advertisements

Leave a Comment »

RSS feed for comments on this post. TrackBack URI

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

w

Connecting to %s

Blog at WordPress.com.
Entries and comments feeds.

%d bloggers like this: