BERWUDHU KARENA MEMANDIKAN JENAZAH 3

August 17, 2017 at 3:29 pm | Posted in Tulisan Lainnya | Leave a comment

PEMBATAL-PEMBATAL WUDHU 

Bagian 3 Yang Diperselisihkan Membatalkan Wudhu, namun Yang Rajih tidak Membatalkannya

Seri 10C (akhir)  – Memandikan dan Membawa Jenasah
Adapun perkara kedua yakni masalah membawa jenazah, apakah wajib wudhu atau tidak, berikut pembahasannya :

1. Imam Shon’ani dalam “Subulus Salam” berkata :

“adapun sabda Nabi Sholallahu ‘Alaihi wa Salam : “Barangsiapa yang membawa jenazah, maka berwudhulah”. Maka aku tidak mengetahui ada ulama yang berpendapat wajibnya wudhu karena membawa jenazah dan tidak juga pendapat yang menganjurkannya. Aku berkata : ‘namun bersamaan dengan adanya hadits ini, maka tidak masalah untuk mengamalkannya, dan wudhu yang dimaksud disini ditafsirkan dengan mencuci kedua tangan, sebagaimana diambil faedah dari Sabda Nabi Sholallahu ‘Alaihi wa Salam : “sesungguhnya mayit kalian, meninggal dalam keadaan suci” (Al Hadits). Karena menyentuh sesuatu yang suci tidak mengharuskan untuk mencuci kedua tangan, maka dalam masalah membawa jenazah, mencuci kedua tangan adalah sunnah ibadah, yang mana jika dalam membawa jenazah tersebut bersentuhan langsung dengan badannya, sebagaimana konteks sabda Nabi tersebut” -selesai-.
Alhamdulillah kami menemukan ucapan ulama yang berpendapat wajibnya wudhu karena membawa jenazah. Imam Thohawi dalam “Hasiyyah ‘alaal Maroqiy” (2/82) berkata :

ﻗﻮﻟﻪ : ﻭﻣﻦ ﺣﻤﻠﻪ ﻓﻠﻴﺘﻮﺿﺄ ﺃﺧﺬ ﺑﻪ ﺍﻹﻣﺎﻡ ﺃﺣﻤﺪ ﻓﺄﻭﺟﺒﻪ ﻓﻴﻨﺪﺏ ﺍﻟﻮﺿﻮﺀ ﺧﺮﻭﺟﺎ ﻣﻦ ﺍﻟﺨﻼﻑ ﻭﻋﻤﻼ ﺑﺎﻟﺤﺪﻳﺚ

“sabdanya : “Barangsiapa yang membawa jenazah, maka berwudhulah”. Imam Ahmad berdalil dengan hadits ini, maka beliau mewajibkannya. (Imam Thohawi) berpendapat, hal tersebut adalah disunnahkan saja untuk keluar dari perselisihan dan mengamalkan hadits ini” -selesai-.
Bahkan Al Hafidz Ibnu Hajar mengisyaratkan adanya pendapat ulama yang memasukkan membawa jenazah sebagai pembatal wudhu, dimana beliau memasukan hadits ini dalam kitabnya “Bulughul Marom” di bab “Pembatal-pembatal wudhu”.
Ibnu Rusydi dalam “Bidayatul Mujtahid” (1/36) juga mengisyaratkan adanya sekelompok ulama yang mewajibkan wudhu karena membawa jenazah, kata beliau :

ﺍﻟﻤﺴﺄﻟﺔ ﺍﻟﺴﺎﺑﻌﺔ : ﻭﻗﺪ ﺷﺬ ﻗﻮﻡ ﻓﺄﻭﺟﺒﻮﺍ ﺍﻟﻮﺿﻮﺀ ﻣﻦ ﺣﻤﻞ ﺍﻟﻤﻴﺖ ﻭﻓﻴﻪ ﺃﺛﺮ ﺿﻌﻴﻒ : ﻣﻦ ﻏﺴﻞ ﻣﻴﺘﺎ، ﻓﻠﻴﻐﺘﺴﻞ، ﻭﻣﻦ ﺣﻤﻠﻪ ﻓﻠﻴﺘﻮﺿﺄ .

“masalah yang ketujuh, suatu kaum telah berpendapat ganjil, mereka mewajibkan wudhu bagi orang yang membawa jenazah, (berdalil) dengan atsar lemah : “Barangsiapa yang memandikan mayit hendaknya mandi dan barangsiapa yang membawanya, hendaknya berwudhu” -selesai-.
Apa yang dikatakan Ibnu Rusydi bahwa sekelompok ulama tersebut ganjil, maka tidak benar, karena shahihnya atsar tersebut dan tidak salah bagi seseorang berpendapat dengan dhohirnya hadits.
2. Dhahirnya hadits ini memberikan faedah wajibnya wudhu karena membawa jenazah, sekalipun ini dikatakan pendapat yang ganjil, karena tidak diketahuinya ulama baik salaf maupun muta’akhirin yang berpendapat dengannya. Namun kami berpandangan bahwa lafadz perintah “hendaknya wudhu” pada hadits ini, tidak menunjukan wajib, dengan alasan sebagai berikut :

1. Definisi suatu amalan dikategorikan sebagai kewajiban adalah sebagaimana yang dikatakan oleh Prof. Abdul Wahhab Kholaf dalam kitabnya

“Ilmu Ushul Fiqih” :

“Wajib secara istilah adalah sesuatu yang dituntut oleh pembuat syariat untuk mengerjakannya kepada mukallaf dengan tuntutan yang pasti. Indikasinya menunjukan atas kepastian mengerjakannya, sebagaimana jika bentuk kalimat tuntutannya itu sendiri menunjukan atas kepastian, atau menunjukan kepastian mengerjakannya akan berakibat hukuman jika meninggalkannya, atau adanya tanda indikasi syariat lainnya” -selesai-.
Dari definisi ini, maka perintah dalam hadits ini tidak pasti yang konsekuensinya adalah wajib, karena sekalipun hadits ini dapat dijadikan hujjah, namun tidak sedikit juga Aimah yang melemahkannya, maka lebih baik kalau perintah ini dibawa kepada sunnah. Imam Ibnu Utsaimin dalam “Syaroh Mumti’” berkata :

“mereka berkata : ‘hadits ini terdapat perintah didalamnya, perintah pada asalnya adalah wajib, namun ketika ada sesuatu kedhoifan padanya, maka tidak bisa tegak kepastian padanya. Hal ini dibangun berdasarkan kaedah “bahwa larangan jika terdapat pada hadits dhoif, maka bukan untuk pengharaman, begitu juga perintah, jika terdapat pada hadits dhoif, maka bukan untuk mewajibkan, karena konsekuensi larangan atau perbuatan butuh kepada dalil yang melepaskan dari pembebanan, yang mengharuskan beribadah dengannya. Kaedah ini, diungkapkan oleh Ibnu Muflih dalam “An-Nukat ‘alaal Muharror” di bab mauqif Imam dan Makmum. Yang dimaksud adalah haditsnya bukan dhoif yang parah, namun ada kemungkinan shahih, sehingga mengerjakan yang diperintah dan meninggalkan larangan, karena kehati-hatian dan kehati-hatian tidak mewajibkan mengerjakan atau meninggalkannya” -selesai-.
2. Sebagian ulama mengatakan, kemungkinan yang dimaksud berwudhu ketika membawa mayat adalah hal tersebut dilakukan dalam rangka wudhu untuk sholat jenazah, karena konteks kalimatnya mengisyaratkan hal tersebut, yakni setelah mayat dimandikan dan dikafani, maka sebelum dikuburkan, dilakukan sholat jenazah, sehingga bagi siapa yang akan turut mengantarkan jenazah tersebut, hendaknya ia berwudhu lalu ikut menyolatkannya sebagai fardhu kifayah. Imam Majduddin Ibnu Taimiyyah berkata dalam

“Muntaqol Akhbaar” berkata :

ﻭَﻗَﺎﻝَ ﺑَﻌْﻀُﻬُﻢْ : ﻣَﻌْﻨَﺎﻩُ ﻣَﻦْ ﺃَﺭَﺍﺩَ ﺣَﻤْﻠَﻪُ ﻭَﻣُﺘَﺎﺑَﻌَﺘَﻪُ ﻓَﻠْﻴَﺘَﻮَﺿَّﺄْ ﻣِﻦْ ﺃَﺟْﻞِ ﺍﻟﺼَّﻠَﺎﺓِ ﻋَﻠَﻴْﻪِ

“Sebagian ulama berkata : ‘maknanya barangsiapa yang membawa dan mengikuti jenazah, maka hendaknya berwudhu karena untuk mengerjakan sholat jenazah” -selesai-.
Imam Ibnu Hazm dalam “Al Muhallaa” meriwayatkan :

“Kami meriwayatkan dengan sanad yang disebutkan kepada Hammaad bin Salamah dari Ayyub As-Sikhtiyaaniy dari Muhammad bin Siriin ia berkata : ‘aku bersama Abdullah bin ‘Utbah bin Mas’ud dalam jenazah, maka ketika kami masuk masjid, lalu Abdullah masuk ke rumahnya untuk berwudhu, lalu keluar ke masjid. Ia berkata kepadaku : ‘apa engkau tidak berwudhu?’, aku berkata : ‘tidak’. Ia berkata : ‘Umar bin Khothob dan kholifah setelahnya, jika mereka sholat jenazah, lalu hendak melakukan sholat wajib, mereka berwudhu, hingga salah seorang diantara mereka dalam masjid meminta air dalam baskom, lalu berwudhu darinya” -selesai-.
Kemudian Imam Ibnu Hazm berkomentar :

ﻗﺎﻝ ﺃﺑﻮ ﻣﺤﻤﺪ : ﻻ ﻳﺠﻮﺯ ﺃﻥ ﻳﻜﻮﻥ ﻭﺿﻮﺀﻫﻢ ﺭﺿﻰ ﺍﻟﻠﻪ ﻋﻨﻬﻢ ﻻﻥ ﺍﻟﺼﻼﺓ ﻋﻠﻰ ﺍﻟﺠﻨﺎﺯﺓ ﺣﺪﺙ، ﻭﻻ ﻳﺠﻮﺯ ﺃﻥ ﻳﻈﻦ ﺑﻬﻢ ﺇﻻ ﺍﺗﺒﺎﻉ ﺍﻟﺴﻨﻪ ﺍﻟﺘﻲ ﺫﻛﺮﻧﺎ، ﻭﺍﻟﺴﻨﺔ ﺗﻜﻔﻰ .

“tidak bisa dibawa maknanya wudhu mereka sebagai hadats, karena sholat jenazah dan tidak boleh menyangka bahwa yang mereka lakukan tidak lain dan tidak bukan karena mengikuti sunah yang telah kami sebutkan, maka mengikuti sunah mencukupinya” -selesai-.
Maksudnya adalah wudhu karena membawa jenazah adalah sunah yang diamalkan oleh Kholifah sahabat Rodhiyallahu ‘Anhum.
3. Dalam riwayat Imam Tirmidzi dalam

“Sunannya” (no. 1009) yang dishahihkan Imam Al Albani, lafadznya :

ﻣِﻦْ ﻏُﺴْﻠِﻪِ ﺍﻟْﻐُﺴْﻞُ ﻭَﻣِﻦْ ﺣَﻤْﻠِﻪِ ﺍﻟْﻮُﺿُﻮﺀُ

“Karena memandikan mayat, ia mandi dan karena membawanya, ia berwudhu”.
Dalam lafadz ini, terdapat isyarat sebagaimana yang dikatakan oleh Imam Majduddin, bahwa ia melakukan wudhu untuk sholat jenazah, bukan semata-mata karena membawa jenazah.
Kita tutup pembahasan ini dengan fatwa dari DR. Abdullah Faqiih dalam “Fatawaa syabkah Islamiyyah” (no. 55003) :

“ Soal : Apakah terdapat hadits dari Rasulullah Sholallahu ‘Alaihi wa Salam masalah mandi setelah pulang dari menguburkan mayit? Jazakumullah khoir.

Jawab : segala puji bagi Allah, sholawat dan salam terlimpah curahkan kepada Rasulullah Sholallahu ‘Alaihi wa Salam, kepada keluarganya dan para sahabatnya, Amma Ba’du :

Kami belum pernah melihat hadits dan juga atsar yang menunjukan perintah mandi setelah pulang dari penguburan, yang ada hanyalah perintah mandi karena memandikan mayat dan berwudhu karena membawanya. Dalam Sunan Abu Dawud dari Abu Huroiroh Rodhiyallahu ‘Anhu ia berkata, Rasulullah Sholallahu ‘Alaihi wa Salam bersabda : “barangsiapa yang memandikan mayat, maka hendaknya mandi dan barangsiapa yang membawanya, hendaknya berwudhu”.

Mandi karena memandikan mayat itu dianjurkan menurut mayoritas ulama, bukan wajib. Demikian juga berwudhu karena membawanya. Dalam “’Aunul Maubud syaroh Sunan Abi Dawud, Imam Al Khothoobiy berkata : ‘aku tidak mengetahui seorang fuqoha pun yang mewajibkan mandi karena memandikan mayat dan tidak juga mewajibkan wudhu karena membawanya, yang mendekatinya bahwa perintah dalam hal ini adalah disunahkan saja. Sabdanya, barangsiapa yang membawa jenazah, hendaknya berwudhu, maka dikatakan maksudnya adalah wudhu tersebut dilakukan karena akan melakukan sholat jenazah untuk mayit tersebut, Wallahu A’lam. -Selesai-.

Berdasarkan hal ini, maka perintah wudhunya adalah sebelum membawa jenazah sampai ke tempat sholat,  bukan wudhu setelah membawanya (dari tempat sholat ke tanah pekuburan-pent.), dhohir makna tersebut dengan dalil riwayat dari Imam Tirmidzi : “karena memandikan mayat, ia mandi dan karena membawanya, ia berwudhu”. Wallahu A’lam”.

Advertisements

Leave a Comment »

RSS feed for comments on this post. TrackBack URI

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s

Create a free website or blog at WordPress.com.
Entries and comments feeds.

%d bloggers like this: