MELUNASI HUTANG YANG SUDAH LAMA 5

August 17, 2017 at 3:32 pm | Posted in Tulisan Lainnya | Leave a comment

HUTANGNYA PULUHAN TAHUN LALU, APAKAH MELUNASINYA DENGAN JUMLAH NOMINAL YANG SAMA? 

Bagian 5 (selesai) 
5. Pendapat kelima, masing-masing pihak mengadakan musyawarah jika nilai jualnya terjadi perubahan yang signifikan. Dicarikan titik temu bersama antara yang menghutangi dan yang berhutang, sampai ditemukan nilai yang disepakati dalam pelunasan hutangnya. 
Pendapat yang kelima ini dirajihkan oleh asy-syaikh Muhammad bin Shoolih al-Munajid. Kami pun condong kepada pendapat ini, karena lebih aplikatif dalam prakteknya. Misalnya ketika orang tua kita wafat, kemudian seperti biasa diumumkan kalau ada sangkut paut terkait hutang piutang dengan yang wafat agar diselesaikan. Bisa jadi ternyata yang wafat punya hutang puluhan tahun silam, tentu kalau dibayar dengan jumlah nominal yang sama, bisa jadi pihak yang menghutangi akan keberatan, akan tetapi jika dikonversikan dengan nilai jualnya, pun pihak keluarga keberatan, sehingga musyawarah mufakat dilakukan untuk mencapai nilai yang adil antar kedua belah pihak. 
Demikian pembahasan terkait hutang uang yang bisa jadi dengan berlalunya waktu terjadi perubahan yang sangat significant. Seandainya terjadi deadlock dan perkaranya dibawa ke pengadilan di negeri ini, mungkin pendapat kedua/ketiga yang akan diterapkan, yaitu pelunasan dengan memperhitungkan nilai jualnya pada waktu pelunasan, sebagaimana diisyaratkan dalam pasal 1756 kuh perdata :

“Utang yang timbul karena peminjaman uang, hanya terdiri dan sejumlah uang yang digariskan dalam perjanjian. Jika sebelum utang dilunasi nilai mata uang naik atau turun, atau terjadi perubahan dalam peredaran uang yang lalu, maka pengembalian uang yang dipinjam itu harus dilakukan dengan uang yang laku pada waktu pelunasannya sebanyak uang yang telah dipinjam, dihitung menurut nilai resmi pada waktu pelunasan itu”.
Akan tetapi karena prinsip pinjam-meminjam didasari atas ta’awanun alaal birri wa Taqwa, tentunya jalan musyawarah seharusnya dikedepankan terlebih dahulu, terlebih lagi jika yang berhutang dalam kondisi kesulitan melunasi hutangnya, karena barangsiapa yang memberikan kelonggaran dalam menghutangi, Allah Subhanahu wa ta’ala menjanjikan pahala yang besar :

ﻣَﻦْ ﺃَﻧْﻈَﺮَ ﻣُﻌْﺴِﺮًﺍ ﺃَﻭْ ﻭَﺿَﻊَ ﻋَﻨْﻪُ ﺃَﻇَﻠَّﻪُ ﺍﻟﻠَّﻪُ ﻓِﻰ ﻇِﻠِّﻪِ

“ Barangsiapa memberi tenggang waktu bagi orang yang berada dalam kesulitan untuk melunasi hutang atau bahkan membebaskan utangnya, maka dia akan mendapat naungan Allah. ” (HR. Muslim no. 3006).
ﻣﻦ ﺃﻧﻈﺮ ﻣﻌﺴﺮًﺍ ﻓﻠﻪ ﺑﻜﻞ ﻳﻮﻡ ﺻﺪﻗﺔ ﻗﺒﻞ ﺃﻥ ﻳﺤﻞ ﺍﻟﺪﻳﻦ ﻓﺈﺫﺍ ﺣﻞ ﺍﻟﺪﻳﻦ ﻓﺄﻧﻈﺮﻩ ﻛﺎﻥ ﻟﻪ ﺑﻜﻞ ﻳﻮﻡ ﻣﺜﻼﻩ ﺻﺪﻗﺔ

“ Barangsiapa memberi tenggang waktu pada orang yang berada dalam kesulitan, maka setiap hari sebelum batas waktu pelunasan, dia akan dinilai telah bersedekah. Jika utangnya belum bisa dilunasi lagi, lalu dia masih memberikan tenggang waktu setelah jatuh tempo, maka setiap harinya dia akan dinilai telah bersedekah dua kali lipat nilai piutangnya .” (HR. Ahmad, Abu Ya’la, Ibnu Majah, Ath Thobroniy, Al Hakim, Al Baihaqi. Syaikh Al Albani dalam As Silsilah Ash Shohihah no. 86 mengatakan bahwa hadits ini shohih )

(https://rumaysho.com/149-mudahkanlah-orang-yang-berutang-padamu.html). 
Wallahul a’lam.

Advertisements

Leave a Comment »

RSS feed for comments on this post. TrackBack URI

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

w

Connecting to %s

Blog at WordPress.com.
Entries and comments feeds.

%d bloggers like this: