KITAB 9 TALAK – TA’LIQ ‘ALAA MATAN DURARUL BAHIYYAH

October 14, 2017 at 12:38 am | Posted in fiqih | Leave a comment

KITAB 9 TALAK

 

Perceraian diperbolehkan[1] yang berasal dari seorang laki-laki yang telah mukallaf dan tidak dalam kondisi terpaksa[2]. Percaraian terjadi, sekalipun hanya bercanda[3]. Perceraian ditujukan kepada istri yang dalam kondisi suci sebelum “digauli”[4]. Perceraian tidak boleh dilakukan kepada istri yang sedang haidh yang tadinya suci atau kepada istri yang hamil pada saat melahirkan. Diharamkan menjatuhkan talak, selain dalam kondisi diatas[5], adapun terkait jatuhnya talak yang diucapkan lebih dari satu kali tanpa diselingi rujuk terlebih dahulu, maka terjadi perbedaan pendapat dikalangan ulama dan pendapat yang rajih, tidak jatuh talaknya[6].

Pasal :

Jatuh talak dengan sindiran jika diniatkan talak[7]. jatuh talak juga dengan talak pilihan, jika sang istri menghendaki perceraian[8], begitu juga ketika suami menjadikannya menggantungkannya kepada oran lain, maka jatuh talaknya[9]. Tidak jatuh talak dengan lafadz haram[10].

 

Seorang suami lebih berhak terhadap istrinya pada saat iddah talak, ia dapat merujuknya kapan saja selama itu adalah talak raj’i[11], namun tidak halal lagi jika itu talak ketiga, sampai istrinya menikah dengan suami yang lain[12].

[1] Berdasarkan Kitabullah, sunah yang mutawatir dan ijma kaum Muslimin. Ini adalah masalah yang sudah qoth’i dalam syariat kita tentang bolehnya peceraian jika memang itu yang terbaik. Sangat dimakruhkan jika perceraian tanpa ada alasan yang mendesak, sebagaimana hadits Tsauban radhiyallahu anhu bahwa Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam bersabda :

أَيُّمَا امْرَأَةٍ سَأَلَتْ زَوْجَهَا الطَّلَاقَ فِي غَيْرِ مَا بَأْسٍ، فَحَرَامٌ عَلَيْهَا رَائِحَةُ الْجَنَّةِ

“wanita mana saja yang meminta cerai kepada suaminya tanpa alasan yang mendesak, maka haram baginya mencium bau surga” (HR. Ashabus Sunan, kecuali Nasa’i, dishahihkan oleh al-Albani).

[2] Berdasarkan hadits Aisyah radhiyallahu anha bahwa Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam :

لَا طَلَاقَ، وَلَا عَتَاقَ فِي غِلَاقٍ

“tidak ada perceraian dan pembebasan budak dalam kondisi terpaksa” (HR. Abu Dawud, Ibnu Majah dan selainnya, dihasankan oleh al-Albani).

[3] Berdasarkan hadits Abu Hurairah radhiyallahu anhu bahwa Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam bersabda :

ثَلَاثٌ جِدُّهُنَّ جِدٌّ، وَهَزْلُهُنَّ جِدٌّ: النِّكَاحُ، وَالطَّلَاقُ، وَالرَّجْعَةُ

“ada tiga hal yang seriusnya adalah serius dan bercandanya dianggap serius, yaitu : pernikahan, perceraian dan rujuk” (HR. Empat ahli hadits, kecuali Nasa’i, dihasankan oleh al-Albani).

[4] Berdasarkan sabda Nabi shallallahu alaihi wa sallam kepada Ibnu Umar radhiyallahu anhu :

فَلْيُطَلِّقْهَا طَاهِرًا قَبْلَ أَنْ يَمَسَّهَا

“maka ceraikanlah ia ketika suci, sebelum engkau menggaulinya”.

[5] Berdasarkan hadits Umar radhiyallahu anhu yang meminta fatwa kepada Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam atas perbuatan anaknya –Abdullah bin Umar- yang menceraikan istrinya yang dalam keadaan haidh, maka Rasulullah bersabda :

مُرْهُ فَلْيُرَاجِعْهَا، ثُمَّ لِيُمْسِكْهَا حَتَّى تَطْهُرَ، ثُمَّ تَحِيضَ ثُمَّ تَطْهُرَ، ثُمَّ إِنْ شَاءَ أَمْسَكَ بَعْدُ، وَإِنْ شَاءَ طَلَّقَ قَبْلَ أَنْ يَمَسَّ

“perintahkan ia untuk merujuknya, lalu tahan hingga ia suci, lalu haidh, lalu suci, kemudian jika ia mau dapat mempertahankan rumah tangganya setelah itu, dan jika ia tetap mau menceraikannya, maka ceraikan sebelum digauli” (Muttafaqun alaihi).

[6] Berdasarkan hadits Ibnu Abbas radhiyallahu anhu bahwa beliau berkata :

كَانَ الطَّلَاقُ عَلَى عَهْدِ رَسُولِ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ، وَأَبِي بَكْرٍ، وَسَنَتَيْنِ مِنْ خِلَافَةِ عُمَرَ، طَلَاقُ الثَّلَاثِ وَاحِدَةً، فَقَالَ عُمَرُ بْنُ الْخَطَّابِ: إِنَّ النَّاسَ قَدِ اسْتَعْجَلُوا فِي أَمْرٍ قَدْ كَانَتْ لَهُمْ فِيهِ أَنَاةٌ، فَلَوْ أَمْضَيْنَاهُ عَلَيْهِمْ، فَأَمْضَاهُ عَلَيْهِمْ

“perceraian dulu pada zaman Nabi, Abu Bakar dan dua tahun pertama pemerintahan Umar bahwa talak yang diucapkan tiga kali dalam satu mejelis adalah jatuh satu. Kemudian Umar bin Khothob radhiyallahu anhu berkata : “sesungguhnya orang-orang banyak tergesa-gesa terkait perkata ini padahal dahulu mereka mempertimbangkannya dengan matang terlebih dahulu, jika kita terapkan kepada mereka (talak tigakali sekaligus terhitung tiga kali talak) maka dia memberlakukannya kepada mereka” (HR. Muslim).

[7] Berdasarkan hadits Aisyah radhiyallahu anhu dimana beliau berkata :

أَنَّ ابْنَةَ الجَوْنِ، لَمَّا أُدْخِلَتْ عَلَى رَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ وَدَنَا مِنْهَا، قَالَتْ: أَعُوذُ بِاللَّهِ مِنْكَ، فَقَالَ لَهَا: «لَقَدْ عُذْتِ بِعَظِيمٍ، الحَقِي بِأَهْلِكِ»

“saat Ibnatul Jaun hendak dipertemukan dengan Rasulullah dan beliau mendekatinya, ia (Ibnatul Jaun) berkata, “Aku berlindung kepada Allah darimu.” Rasulullah n bersabda, “Sungguh, engkau telah berlindung kepada Dzat Yang Mahaagung. Kembalilah kepada keluargamu!”” (HR. Bukhari).

[8] Yakni suami memberikan pilihan kepada istrinya apakah mau tetap melanjutkan bahtera rumah tangga atau mau diceraikan, jika sang istri memilih minta cerai, maka jatuhlah talak padanya. Berdasarkan Firman Allah Subhanaahu wa Ta’aalaa :

يَا أَيُّهَا النَّبِيُّ قُلْ لِأَزْوَاجِكَ إِنْ كُنْتُنَّ تُرِدْنَ الْحَيَاةَ الدُّنْيَا وَزِينَتَهَا فَتَعَالَيْنَ أُمَتِّعْكُنَّ وَأُسَرِّحْكُنَّ سَرَاحًا جَمِيلًا (28) وَإِنْ كُنْتُنَّ تُرِدْنَ اللَّهَ وَرَسُولَهُ وَالدَّارَ الْآخِرَةَ فَإِنَّ اللَّهَ أَعَدَّ لِلْمُحْسِنَاتِ مِنْكُنَّ أَجْرًا عَظِيمًا

“Hai Nabi, katakanlah kepada isteri-isterimu: “Jika kamu sekalian mengingini kehidupan dunia dan perhiasannya, maka marilah supaya kuberikan kepadamu mut’ah dan aku ceraikan kamu dengan cara yang baik. Dan jika kamu sekalian menghendaki (keridhaan) Allah dan Rasulnya-Nya serta (kesenangan) di negeri akhirat, maka sesungguhnya Allah menyediakan bagi siapa yang berbuat baik diantaramu pahala yang besar” (QS. Al Ahzab : 28-29).

[9] Yakni mewakilkan talak kepada orang lain, jika yang diwakilkan menjatuhkan talak, maka jatuh talaknya. Al-‘Alamah Siddiq Hasan Khon menukil dari kitabnya Imam Abu Bakar al-Burqooniy yang berjudul “al-Makhroj ‘alaa ash-Shahihain” :

سئل أبو هريرة، وابن عباس، وعمرو بن العاص عن رجل جعل أمر امرأته بيد أبيه؟ فأجازوا طلاقه

“Abu Huroiroh, Ibnu Abbas dan ‘Amr bin al-‘Ash radhiyallahu anhum pernah ditanya tentang seorang suami yang menyerahkan perkara perceraian istrinya kepada bapaknya, (apakah diperbolehkan)?, mereka semuanya membolehkannya”.

[10] Yakni seperti seorang suami mengatakan kepada istrinya : “engkau haram bagi saya”, maka perkataan ini tidak dianggap menjatuhkan talak, berdasarkan perkataan Ibnu Abbas radhiyallahu anhu :

إِذَا حَرَّمَ امْرَأَتَهُ لَيْسَ بِشَيْءٍ» وَقَالَ: {لَقَدْ كَانَ لَكُمْ فِي رَسُولِ اللَّهِ أُسْوَةٌ حَسَنَةٌ} [الأحزاب: 21]

“jika seorang suami mengharamkan istrinya, maka tidaklah dianggap apapun, berdasarkan Firman-Nya : { Sesungguhnya telah ada pada (diri) Rasulullah itu suri teladan yang baik bagimu  } (QS. Al Ahzab : 21).

[11] Berdasarkan penafsiran Ibnu Abbas radhiyallahu anhu berikut :

{وَالْمُطَلَّقَاتُ يَتَرَبَّصْنَ بِأَنْفُسِهِنَّ ثَلَاثَةَ قُرُوءٍ، وَلَا يَحِلُّ لَهُنَّ أَنْ يَكْتُمْنَ مَا خَلَقَ اللَّهُ فِي أَرْحَامِهِنَّ} [البقرة: 228] الْآيَةَ، ” وَذَلِكَ أَنَّ الرَّجُلَ كَانَ إِذَا طَلَّقَ امْرَأَتَهُ، فَهُوَ أَحَقُّ بِرَجْعَتِهَا، وَإِنْ طَلَّقَهَا ثَلَاثًا، فَنُسِخَ ذَلِكَ، وَقَالَ: {الطَّلَاقُ مَرَّتَانِ} [البقرة: 229]

“[Wanita-wanita yang ditalak handaklah menahan diri (menunggu) tiga kali quru’. Tidak boleh mereka menyembunyikan apa yang diciptakan Allah dalam rahimnya] (QS. Al Baqoroh : 228). Yang demikian adalah jika seorang suami menceraikan istrinya, maka ia yang paling berhak merujuknya, namun jika ia sudah menceraikan yang ketiga kali, maka dihapus haknya, berdasarkan Firman-Nya : [Talak (yang dapat dirujuki) dua kali](QS. Al Baqoroh : 229)”.

[12] Berdasarkan Firman-Nya pada surat Al Baqoroh ayat 230 :

فَإِنْ طَلَّقَهَا فَلَا تَحِلُّ لَهُ مِنْ بَعْدُ حَتَّى تَنْكِحَ زَوْجًا غَيْرَهُ

“Kemudian jika si suami mentalaknya (sesudah talak yang kedua), maka perempuan itu tidak lagi halal baginya hingga dia kawin dengan suami yang lain”.

Advertisements

Leave a Comment »

RSS feed for comments on this post. TrackBack URI

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

w

Connecting to %s

Create a free website or blog at WordPress.com.
Entries and comments feeds.

%d bloggers like this: