Bab 5 Tentang Riya dan Sum’ah

October 15, 2017 at 12:06 am | Posted in Aqidah | Leave a comment

TA’LIQ ‘ALAA MATAN AL-KABAIR

Bab 5 Tentang Riya dan Sum’ah

 

Imam Muhammad bin Abdul Wahab berkata :

وقول الله تعالى: {فَمَنْ كَانَ يَرْجُوا لِقَاءَ رَبِّهِ فَلْيَعْمَلْ عَمَلا صَالِحًا وَلا يُشْرِكْ بِعِبَادَةِ رَبِّهِ أَحَدًا}

“Barangsiapa mengharap perjumpaan dengan Tuhannya, maka hendaklah ia mengerjakan amal yang saleh dan janganlah ia mempersekutukan seorangpun dalam beribadat kepada Tuhannya” (QS. Al Kahfi : 110).

***

 

Ta’liqiy :

Imam al-Hakim meriwayatkan asbabun nuzul untuk ayat diatas dalam kitabnya “al-Mustadrok” (no. 2527, cet. DKI) dengan sanadnya sampai kepada Abdullah bin Abbas radhiyyallahu anhu beliau berkata :

قَالَ رَجُلٌ: يَا رَسُولَ اللَّهِ، إِنِّي أَقِفُ الْمَوْقِفَ أُرِيدُ وَجْهَ اللَّهِ، وَأُرِيدُ أَنْ يُرَىَ مَوْطِنِي، فَلَمْ يَرُدَّ عَلَيْهِ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ شَيْئًا حَتَّى نَزَلَتْ {فَمَنْ كَانَ يَرْجُو لِقَاءَ رَبِّهِ، فَلْيَعْمَلْ عَمَلًا صَالِحًا، وَلَا يُشْرِكْ بِعِبَادَةِ رَبِّهِ أَحَدًا} [الكهف: 110]

“seorang laki-laki berkata : “wahai Rasulullah sesungguhnya aku bersikap dengan sikap ini menginginkan wajah Allah dan menginginkan juga agar dilihat kedudukanku (bagaimana ini?)”, Beliau tidak menjawab sedikit pun sampai turun Al Kahfi 110”.

Imam al-Hakim setelah meriwayatkan hadits diatas beliau berkata : “hadits ini shahih atas syarat Bukhori-Muslim, namun mereka berdua tidak meriwayatkannya”. Pernyataan beliau ini disetujui oleh Imam adz-Dzahabi dalam “at-Talkhiish”.

Dalam kitab “Asbaabul Nuzul” karya Imam al-Wahidiy (w. 468), bahwa sahabat tersebut bertanya kepada Rasulullah bahwa dirinya melakukan serangkaian amal sholih, namun ia senang juga kalau ia dipuji dan dibahas amal sholihnya dihadapan manusia, maka turunlah ayat diatas.

 

Imam as-Sa’diy dalam kitab Tafsirnya memberikan penafsiran yang sangat bagus terhadap ayat diatas, kata beliau :

“janganlah kalian riya dengan amalannya, namun beramalah ikhlas mengharap Wajah Allah. Maka dalam ayat ini menggabungkan antara ikhlas dengan mutabaah kepada Rasulullah, inilah perkara yang dapat menyampaikan apa yang diharapkan dan yang diminta. Adapun amalan selain ini (yakni tidak ikhlas dan tidak mutabaah, pent.), maka itu adalah kerugian di dunia dan akhirat”.

###

 

Al-Imam berkata :

عن جندب بن عبد الله – رضي الله عنه – قال: قال رسول الله – صلى الله عليه وسلم – «من سمَّع سمَّع الله به ومن يرائي يرائي الله به» أخرجاه.

(قيل معنى من سمع سمع الله به أي فضحه يوم القيامة، ومعنى من يرائي: أي من أظهر العمل الصالح للناس ليعظم عندهم «يرائي به الله» قيل معناه إظهار سريرته للناس.

“dari Jundub bin Abdullah radhiyyallahu anhu beliau berkata, Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam bersabda : “barangsiapa yang suka diperdengarkan amalannya, Allah akan memperdengarkannya dan barangsiapa yang ingin dilihat-lihat amalannya, maka Allah akan memperlihatkannya”. (HR. Bukhori-Muslim).

Dikatakan makna hadits ini adalah barangsiapa yang sum’ah, maka Allah akan memperlihatkannya yaitu akan membeberkannya pada hari kiamat dan makna barangsiapa yang riya yaitu menampakkan amal sholihnya kepada manusia agar manusia mengagung-agungkannya, maka Allah akan membongkarnya. Dikatakan makna lainnya, Alla akan menampakkan rahasia-rahasianya kepada manusia.

***

 

Ta’liqiy :

Diriwayatkan oleh Imam Bukhori dalam Shahihnya (no. 6499) dari Jundub radhiyyallahu anhu dan Imam Muslim dalam Shahihnya (no. 2986) dari Ibnu Abbas radhiyyallahu anhu.

 

Penjelasan :

Makna hadits yang disampaikan oleh asy-Syaikh Muhammad bin Abdul Wahab adalah mirip dengan yang disampaikan oleh Imam Nawawi dalam kitabnya “Syarah Shahih Muslim”.

 

Al-Hafidz Ibnu Hajar dalam kitabnya “Fathul Bari” (11/366, cet. Daar al-Ma’rifah) mendefiniskan riya dengan : “menampakkan ibadah agar dilihat manusia, lalu mereka pun memuji pelaku riya tersebut”. Adapun Sum’ah, maka definisinya juga sama menurut beliau, hanya saja sum’ah ini terkait panca indera pendengaran, sedangkan riya terkait panca indera penglihatan.

Kemudian al-Hafidz menukil penafsiran Imam al-Khothobi terhadap hadits diatas, yang mana beliau berkata :

مَنْ عَمِلَ عَمَلًا عَلَى غَيْرِ إِخْلَاصٍ وَإِنَّمَا يُرِيدُ أَنْ يَرَاهُ النَّاسُ وَيَسْمَعُوهُ جُوزِيَ عَلَى ذَلِكَ بِأَنْ يُشَهِّرَهُ اللَّهُ وَيَفْضَحَهُ وَيُظْهِرَ مَا كَانَ يُبْطِنُهُ

“barangsiapa yang beramal dengan suatu amalan yang tidak ikhlas, hanyalah ia menghendaki dengan amalannya ini agar dilihat dan didengar manusia, maka akan dibalas hal ini dengan Allah memasyhurkan dan membeberkan serta menampakkan apa yang ia sembunyikan dalam hatinya”.

###

 

Al-Imam berkata :

ولهما عن عمر رضي الله عنه قال: قال رسول الله صلى الله عليه وسلم «إنما الأعمال بالنيات وإنما لكل امرئ ما نوى» .

“dalam Shahihain dari Umar radhiyyallahu anhu beliau berkata, Rasulullah shallallahu alaihi wa Sallam bersabda : “sesungguhnya amal-amal itu tergantung niatnya dan sesungguhnya setiap orang mendapatkan sesuai dengan apa yang diniatkannya”.

***

 

Ta’liqiy :

Hadits yang sangat masyhur.

 

Penjelasan :

Kaitannya hadits ini dengan judul bab adalah bahwa seorang yang beramal dengan riya, maka ia tidak mendapatkan apa-apa, kecuali sekedar ketenaran di mata manusia, namun nanti pada hari kiamat Allah tidak akan mengurusinya. Sebagaimana Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

إِنَّ أَخْوَفَ مَا أَخَافُ عَلَيْكُمُ الشِّرْكُ الْأَصْغَرُ ” قَالُوا: وَمَا الشِّرْكُ الْأَصْغَرُ يَا رَسُولَ اللهِ؟ قَالَ: ” الرِّيَاءُ، يَقُولُ اللهُ عَزَّ وَجَلَّ لَهُمْ يَوْمَ الْقِيَامَةِ: إِذَا جُزِيَ النَّاسُ بِأَعْمَالِهِمْ: اذْهَبُوا إِلَى الَّذِينَ كُنْتُمْ تُرَاءُونَ فِي الدُّنْيَا فَانْظُرُوا هَلْ تَجِدُونَ عِنْدَهُمْ جَزَاءً

“Sesungguhnya yang paling aku takutkan atas kalian adalah syirik kecil, yaitu riya’. Allah akan mengatakan kepada mereka pada hari Kiamat tatkala memberikan balasan atas amal-amal manusia “Pergilah kepada orang-orang yang kalian berbuat riya’ kepada mereka di dunia. Apakah kalian akan mendapat balasan dari sisi mereka?” [HR Ahmad, dihasankan oleh asy-Syaikh Syu’aib Arnauth].

####

 

Al-Imam berkata :

ولمسلم عن أبي هريرة رضي الله عنه مرفوعا «إن أول الناس يقضى عليه يوم القيامة ثلاثة – رجل استشهد في سبيل الله فأتي به فعرفه نعمته فعرفها قال: فما عملت فيها؟ قال قاتلت في سبيلك حتى قتلت، قال: كذبت، ولكنك قاتلت ليقال هو جريء فقيد قيل، ثم أمر به فسحب على وجهه حتى ألقي في النار.

ورجل تعلم العلم وعلمه وقرأ القرآن فأتي به فعرفه نعمه فعرفها قال فما عملت فيها؟ قال: تعلمت العلم وعلمته وقرأت فيك القرآن، قال: كذبت ولكنك تعلمت ليقال هو عالم وقرأت ليقال هو قارئ فقد قيل ثم أمر به فسحب على وجهه حتى ألقي في النار. ورجل وسع الله عليه فأعطاه من أصناف المال فأتي به فعرفه نعمه فعرفها قال فما عملت فيها؟ قال: ما تركت من سبيل تحب أنه ينفق فيه إلا أنفقت فيه لك»

قال الله كذبت ولكنك فعلت ليقال هو جواد فقد قيل ثم أمر به فسحب على وجهه حتى ألقي في النار –

وللترمذي  فيه أن معاوية – رضي الله عنه – لما سمعه بكى وتلا قوله {مَنْ كَانَ يُرِيدُ الْحَيَاةَ الدُّنْيَا وَزِينَتَهَا} الآية [هود: 15] .

“dalam riwayat Muslim dari Abi Huroiroh radhiyyallahu anhu secara marfu’ bahwa Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam bersabda : ““Sesungguhnya manusia pertama yang diadili pada hari kiamat adalah orang yang mati syahid di jalan Allah. Dia didatangkan dan diperlihatkan kepadanya kenikmatan-kenikmatan (yang diberikan di dunia), lalu ia pun mengenalinya. Allah bertanya kepadanya : ‘Amal apakah yang engkau lakukan dengan nikmat-nikmat itu?’ Ia menjawab : ‘Aku berperang semata-mata karena Engkau sehingga aku mati syahid.’ Allah berfirman : ‘Engkau dusta! Engkau berperang supaya dikatakan seorang yang gagah berani. Memang demikianlah yang telah dikatakan (tentang dirimu).’ Kemudian diperintahkan (malaikat) agar menyeret orang itu atas mukanya (tertelungkup), lalu dilemparkan ke dalam neraka. Berikutnya orang (yang diadili) adalah seorang yang menuntut ilmu dan mengajarkannya serta membaca al Qur`an. Ia didatangkan dan diperlihatkan kepadanya kenikmatan-kenikmatannya, maka ia pun mengakuinya. Kemudian Allah menanyakannya: ‘Amal apakah yang telah engkau lakukan dengan kenikmatan-kenikmatan itu?’ Ia menjawab: ‘Aku menuntut ilmu dan mengajarkannya, serta aku membaca al Qur`an hanyalah karena engkau.’ Allah berkata : ‘Engkau dusta! Engkau menuntut ilmu agar dikatakan seorang ‘alim (yang berilmu) dan engkau membaca al Qur`an supaya dikatakan (sebagai) seorang qari’ (pembaca al Qur`an yang baik). Memang begitulah yang dikatakan (tentang dirimu).’ Kemudian diperintahkan (malaikat) agar menyeret atas mukanya dan melemparkannya ke dalam neraka. Berikutnya (yang diadili) adalah orang yang diberikan kelapangan rezeki dan berbagai macam harta benda. Ia didatangkan dan diperlihatkan kepadanya kenikmatan-kenikmatannya, maka ia pun mengenalinya (mengakuinya). Allah bertanya : ‘Apa yang engkau telah lakukan dengan nikmat-nikmat itu?’ Dia menjawab : ‘Aku tidak pernah meninggalkan shadaqah dan infaq pada jalan yang Engkau cintai, melainkan pasti aku melakukannya semata-mata karena Engkau.’ Allah berfirman : ‘Engkau dusta! Engkau berbuat yang demikian itu supaya dikatakan seorang dermawan (murah hati) dan memang begitulah yang dikatakan (tentang dirimu).’ Kemudian diperintahkan (malaikat) agar menyeretnya atas mukanya dan melemparkannya ke dalam neraka.’”

Dalam riwayat Tirmidzi, Mu’awiyyah radhiyyallahu anhu ketika mendengar hadits ini menangis lalu membaca Firman-Nya :

“Barang siapa menghendaki kehidupan dunia dan perhiasannya” (QS. Hud : 15).

***

 

Ta’liqiy :

Hadits Abu Huroiroh radhiyyallahu anhu diriwayatkan oleh Imam Muslim dalam Shahihnya (no. 1905), sedangkan riwayat Mu’awiyyah radhiyyalahu anhu yang menangis diriwayatkan oleh Imam Tirmidzi dalam sunannya (no. 2382) dengan lafadz :

فَأَخْبَرَهُ بِهَذَا عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ، فَقَالَ مُعَاوِيَةُ: ” قَدْ فُعِلَ بِهَؤُلَاءِ هَذَا فَكَيْفَ بِمَنْ بَقِيَ مِنَ النَّاسِ؟ ثُمَّ بَكَى مُعَاوِيَةُ بُكَاءً شَدِيدًا حَتَّى ظَنَنَّا أَنَّهُ هَالِكٌ، وَقُلْنَا قَدْ جَاءَنَا هَذَا الرَّجُلُ بِشَرٍّ، ثُمَّ أَفَاقَ مُعَاوِيَةُ وَمَسَحَ عَنْ وَجْهِهِ، وَقَالَ: صَدَقَ اللَّهُ وَرَسُولُهُ {مَنْ كَانَ يُرِيدُ الحَيَاةَ الدُّنْيَا وَزِينَتَهَا نُوَفِّ إِلَيْهِمْ أَعْمَالَهُمْ فِيهَا وَهُمْ فِيهَا لَا يُبْخَسُونَ أُولَئِكَ الَّذِينَ لَيْسَ لَهُمْ فِي الآخِرَةِ إِلَّا النَّارُ وَحَبِطَ مَا صَنَعُوا فِيهَا وَبَاطِلٌ مَا كَانُوا يَعْمَلُونَ} [هود: 16]

“kemudian dikabarkan hadits dari Abu Huroiroh, maka Mu’awiyyah berkata : “telah dilakukan terhadap mereka hal ini, maka bagaimana lagi dengan manusia lainnya?, kemudian beliau menangis dengan tangisan yang keras, sampai-sampai kami menyangka beliau akan mati. Kami berkata, laki-laki ini (Suyan al-Ashbahi) telah datang kepada kami dengan membawa kejelekan, kemudian Mu’awiyyah sadar dan mengusap wajahnya lalu berkata : “Benarlah Allah dan Rasul-Nya : {Barang siapa menghendaki kehidupan dunia dan perhiasannya, pasti Kami berikan (balasan) penuh atas pekerjaan mereka di dunia (dengan sempurna) dan mereka di dunia tidak akan dirugikan. Itulah orang-orang yang tidak memperoleh (sesuatu) di akhirat kecuali neraka, dan sia-sialah di sana apa yang telah mereka usahakan (di dunia) dan terhapuslah apa yang telah mereka kerjakan} (QS. Hud : 15-16).

 

Penjelasan :

Asy-Syaikh Abu Ibrahim Muhammad Darwisy dalam salah satu artikel yang dipublikasikan di (https://ar.islamway.net/article/36735/خطر-الرياء) menyebutkan beberapa point bahaya riya, beliau berkata tentang betapa besarnya bahaya riya :

الرياء خطره عظيم جدًا على الفرد والمجتمع والأمة؛ لأنه يحبط العمل والعياذ بالله

“riya bahayanya sangat besar sekali terhadap pribadi, masyarakat dan umat, dikarenakan ia dapat menghapus amalan –semoga Allah melindungi kita semuanya dari riya-.

 

Dalam hadits Abu Huroiroh diatas sangat jelas terekam bagaimana kesudahan orang-orang yang secara penampilan sholih di dunia, banyak melakukan amal-amal kebajikan sehingga orang-orang pun memuji dan menyanjung-nyanjungnya, namun ternyata dalam ia beramal kebajikan ada niat riya yang terselubung, sehingga Allah tidak mau menerima amal itu sedikit pun. Allah perlihatkan dihadapan manusia pada hari kiamat dan menjadikan mereka yang berbuat riya ini sebagai the first people yang dilemparkan ke neraka. Disini Allah tidak memasukkan kedalam neraka para pelaku dosa besar lainnya, seperti pezina, tukang makan riba, dan orang-orang zhalim lainnya, sebagai orang-orang yang pertama masuk neraka, tapi ternyata Allah masukkan orang-orang yang tercitrakan sebagai orang-orang yang berpenampilan sholih di dunia yang memiliki niat busuk agar populer, sebagai orang-orang yang pertamakali dimasukkan kedalam neraka –nas’alullaha as-salamata wal ‘Aafiyah-.

Dan penafsiran Mu’awiyyah dengan membawakan surat Hud ayat 15 dan 16 sangatlah tepat untuk kondisi diatas, dimana mereka yang beramal agar mendapatkan kedudukan di dunia pun telah mendapatkannya dan di akhirat mereka tidak mendapatkan apa-apa –na’udzu billahi min dzalik-. Oleh sebab itu senantiasa kita upayakan agar selalu memperbaharui niat agar itu semuanya hanya ditujukan kepada Allah Azza wa Jalla. Imam Sufyan Ats-Tsauriy berkata: “Tidaklah aku mengobati sesuatu yang lebih berat atas diriku daripada (memperbaiki) niatku, karena niat itu senantiasa berubah-ubah pada diriku.”

***

 

Advertisements

Leave a Comment »

RSS feed for comments on this post. TrackBack URI

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s

Blog at WordPress.com.
Entries and comments feeds.

%d bloggers like this: