Bab 6 Bersuka Ria

October 17, 2017 at 2:33 pm | Posted in AL KABAIR | Leave a comment

TA’LIQ ‘ALAA MATAN AL-KABAIR

Bab 6 Bersuka Ria

 

Penjelasan :

Gembira atau suka ria itu ada dua macam yang tercela dan yang terpuji. Imam Abu Ishaq az-Zujaaj (w. 311 H) dalam kitab tafsirnya “Ma’aani al-Qur’an wa I’rabuhu” (5/128, cet. ‘Aalim al-Kitab) mengatakan :

فدل بهذا أنه ذم الفرح الذي يختال فيه صاحبه ويبطر له، فأمَّا الفرح بنعمة اللَّه والشكر عليها فغير مذمومِ

“maka hal ini menunjukkan bahwa celaan kegembiraan adalah yang menyebabkan pelakunya sombong dan membanggakan diri. Adapun jika bergembira dengan nikmat Allah dan bersyukur atasnya, maka ini tidaklah tercela” –selesai-.

Oleh sebab itu gembira yang itu merupakan dosa besar adalah gembira jenis yang tercela yang biasanya dilakukan oleh orang-orang kafir atau pendosa yang terkait dengan kegembiraan dalam kehidupan dunia yang membuat mereka sombong, membanggakan diri dan lupa kampung akhirat. Allah Subhanahu wa Ta’alaa berfirman :

لِكَيْلَا تَأْسَوْا عَلَى مَا فَاتَكُمْ وَلَا تَفْرَحُوا بِمَا آتَاكُمْ وَاللَّهُ لَا يُحِبُّ كُلَّ مُخْتَالٍ فَخُورٍ

“(Kami jelaskan yang demikian itu) supaya kamu jangan berduka cita terhadap apa yang luput dari kamu, dan supaya kamu jangan terlalu gembira terhadap apa yang diberikan-Nya kepadamu. Dan Allah tidak menyukai setiap orang yang sombong lagi membanggakan diri,” (QS. Al Hadiid : 23).

###

 

Al-Imam Muhammad bin Abdul Wahab berkata :

وقول الله تعالى: {إِنَّهُ كَانَ فِي أَهْلِهِ مَسْرُورًا}

“Sesungguhnya dia dahulu (di dunia) bergembira di kalangan kaumnya (yang sama-sama kafir)” (QS. Al Insyiqaaq : 13).

****

 

Penjelasan :

Imam ibnu Katsir dalam tafsirnya (8/358. Cet. Daar ath-Thayyibah) ketika menafsirkan ayat diatas berkata :

فَرِحًا لَا يُفَكِّرُ فِي الْعَوَاقِبِ، وَلَا يَخَافُ مِمَّا أَمَامَهُ، فَأَعْقَبَهُ ذَلِكَ الْفَرَحُ الْيَسِيرُ الْحُزْنَ الطَّوِيلَ

“yaitu kegembiraan yang tidak ia pikirkan akibatnya dan tidak merasa khawatir dengan masa depannya (di akhirat), maka ia dengan kegembiraan yang sebentar, akibatnya akan merasakan kesedihan yang berkepanjangan”.

###

 

Al-Imam berkata :

وقوله: {إِنَّا كُنَّا قَبْلُ فِي أَهْلِنَا مُشْفِقِينَ}

“Mereka berkata: “Sesungguhnya kami dahulu, sewaktu berada di tengah-tengah keluarga kami merasa takut (akan diazab)”” (QS. At Thur : 26).

***

 

Penjelasan :

Imam Ibnu Katsir dalam tafsirnya (7/435) menafsirkan ayat diatas :

قَدْ كُنَّا فِي الدَّارِ الدُّنْيَا وَنَحْنُ بَيْنَ أَهْلِنَا خَائِفِينَ مِنْ رَبِّنَا مُشْفِقِينَ مِنْ عَذَابِهِ وَعِقَابِهِ

“dulu kami di kampung dunia, sewaktu berada di tengah-tengah keluarga kami merasa takut akan diazab dan mendapatkan balasan yang jelek dari rabb kami” –selesai-.

Oleh karenanya karena rasa takut kepada azab Rabbnya yang diiringi juga dengan amal perbuatan kepada Allah, maka Allah Subhanahu wa Ta’alaa balas di negeri akhirat dengan balasan yang terbaik, sebagaimana kelanjutan ayatnya :

فَمَنَّ اللَّهُ عَلَيْنَا وَوَقَانَا عَذَابَ السَّمُومِ

“Maka Allah memberikan karunia kepada kami dan memelihara kami dari azab neraka” (QS. At Thuur : 27).

###

 

Al-Imam berkata :

قوله: {فَلَمَّا نَسُوا مَا ذُكِّرُوا بِهِ فَتَحْنَا عَلَيْهِمْ أَبْوَابَ كُلِّ شَيْءٍ حَتَّى إِذَا فَرِحُوا بِمَا أُوتُوا أَخَذْنَاهُمْ بَغْتَةً فَإِذَا هُمْ مُبْلِسُونَ}  الآية.

“Maka tatkala mereka melupakan peringatan yang telah diberikan kepada mereka, Kamipun membukakan semua pintu-pintu kesenangan untuk mereka; sehingga apabila mereka bergembira dengan apa yang telah diberikan kepada mereka, Kami siksa mereka dengan sekonyong-konyong, maka ketika itu mereka terdiam berputus asa” (QS. Al An’aam : 44).

***

 

Penjelasan :

Ayat ini sangat jelas menjadi keterangan utama dari judul bab diatas, yakni kegembiraan dari kesenangan dunia yang membuat mereka lupa akan peringatan Rabbnya adalah dosa besar yang mengantarkan mereka mendapatkan siksaan pedih di akhirat nanti –Na’udzu billahi min dzalik-. Al-Imam Ibnu Katsir ketika menafsirkan ayat ini (3/256) membawakan sebuah hadits riwayat dari Imam Ahmad dalam Musnadnya bahwa Rasulullah Sholallahu ‘alaihi wa Salaam pernah bersabda :

إِذَا رَأَيْتَ اللهَ يُعْطِي الْعَبْدَ مِنَ الدُّنْيَا عَلَى مَعَاصِيهِ مَا يُحِبُّ، فَإِنَّمَا هُوَ اسْتِدْرَاجٌ ” ثُمَّ تَلَا رَسُولُ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: {فَلَمَّا نَسُوا مَا ذُكِّرُوا بِهِ فَتَحْنَا عَلَيْهِمْ أَبْوَابَ كُلِّ شَيْءٍ حَتَّى إِذَا فَرِحُوا بِمَا أُوتُوا أَخَذْنَاهُمْ بَغْتَةً فَإِذَا هُمْ مُبْلِسُونَ} [الأنعام: 44]

“jika engkau melihat Allah memberikan dunia kepada seorang hamba yang bergelimang diatas kemaksiatan yang ia senangi, maka itu hanyalah istidraj (lagi diluluh -bs. Jawa- oleh Allah, pent.), kemudian Nabi Sholallahu ‘alaihi wa Salaam membacayakan ayat diatas” (dihasankan oleh asy-Syaikh Syu’aib Arnauth).

 

Akhir kata sebagai seorang mukmin ketika mendapatkan nikmat dari Allah Subhanahu wa Ta’alaa boleh saja bergembira dan itu menjadi terpuji ketika rasa gembira ini sebagai wujud syukur kepada Allah Subhanahu wa Ta’alaa, sebagaimana dalam Firman-Nya :

وَأَمَّا بِنِعْمَةِ رَبِّكَ فَحَدِّثْ

“Dan terhadap nikmat Tuhanmu, maka hendaklah kamu siarkan” (QS. Adh Dhuhaa : 11).

Dan yang dimaksud adalah menyebut nikmat Allah dalam rangka mensyukurinya, sebagaimana sebuah potongan doa yang ma’tsur :

وَاجْعَلْنَا شَاكِرِينَ لِنِعْمَتِكَ

“dan jadikanlah kami orang yang bersyukur terhadap nikmat-Mu” (HR. Abu Dawud, dishahihkan oleh Imam al-Albani).

Bahkan dalam sebuah hadits riwayat Ahmad sangat terang sekali bahwa tahaduts (menceritakan) nikmat Allah adalah sebagai bentuk syukur kepada-Nya :

وَالتَّحَدُّثُ بِنِعْمَةِ اللهِ شُكْرٌ، وَتَرْكُهَا كُفْرٌ

“dan menceritakan nikmat Allah adalah syukur dan meninggalkannya adalah kufur” Namun hadits ini didhoifkan oleh Syu’aib Arnauth dengan sebab didalam sanadnya ada seorang yang bernama Abu Abdir Rahman, asy-Syaikh mengatakan kami tidak mengenal. Namun asy-Syaikh al-Albani didalam “ash-Shahihah” (no. 667) menilai Abu Abdir Rahman haditsnya tidak turun dari derajat hasan. Wallahu A’lam.

###

 

Advertisements

Leave a Comment »

RSS feed for comments on this post. TrackBack URI

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s

Create a free website or blog at WordPress.com.
Entries and comments feeds.

%d bloggers like this: