Bab 7 Tentang Putus Asa dari Rahmat Allah dan Aman dari Makar Allah

October 18, 2017 at 3:22 pm | Posted in AL KABAIR | Leave a comment

TA’LIQ ‘ALAA MATAN AL-KABA`IR

Bab 7 Tentang Putus Asa dari Rahmat Allah dan Aman dari Makar Allah

 

Al-Imam Muhammad bin Abdul Wahab berkata :

وقول الله تعالى: {إِنَّهُ لَا يَيْئَسُ مِنْ رَوْحِ اللَّهِ إِلَّا الْقَوْمُ الْكَافِرُونَ}

“Sesungguhnya tiada berputus asa dari rahmat Allah, melainkan kaum yang kafir” (QS. Yusuf : 87).

***

Penjelasan :

Imam ath-Thabari dalam tafsirnya (16/232, cet. Muasasah ar-Risaalah) mengatakan :

“Nabi Ya’qub alaihis salam berpesan kepada anak-anaknya :

لا يقنط من فرجه ورحمته ويقطع رجاءه منه  (إلا القوم الكافرون)

“tidak ada yang berputus asa dari kelapangan dan rahmat Allah dan berputus asa dari mengharap rahmat-Nya, melainkan kaum yang kafir”.

Na’am terkadang rasa putus asa dapat mengantarkan kepada bunuh diri, dan telah diketahui dalam syariat bahwa bunuh diri adalah dosa besar. Rasulullah Sholallahu ‘alaihi wa Salaam bersabda :

وَمَنْ قَتَلَ نَفْسَهُ بِشَيْءٍ، عَذَّبَهُ اللهُ بِهِ فِي نَارِ جَهَنَّمَ

“Barangsiapa yang bunuh diri dengan sesuatu, maka Allah akan mengazabnya dengan sesuatu tersebut di neraka jahanam” (HR. Muslim).

Yang dimaksud adalah jika seorang bunuh diri dengan menusukkan pisau ke tubuhnya, maka pada hari kiamat akan disiksa di neraka jahanam dengan ditusuk-tusuk pisau, dan barangsiapa yang bunuh diri dengan minum racun, maka di neraka juga akan disiksa dengan sakit akibat menenggak racun dan seterusnya, sebagaimana ini juga diriwayatkan oleh Imam Muslim.

###

 

Al-Imam berkata :

وقوله تعالى: {فَلَا يَأْمَنُ مَكْرَ اللَّهِ إِلَّا الْقَوْمُ الْخَاسِرُونَ}

“Tiada yang merasa aman dan azab Allah kecuali orang-orang yang merugi” (QS. Al A’raaf : 99).

***

 

Penjelasan :

Yang dimaksud makar Allah dalam ayat diatas adalah azab Allah sebagaimana pendapat yang dipilih oleh tim penerjemah DEPAG RI diatas, namun Imam ath-Thabari dalam tafsirnya (12/578) dan Imam Qurthubi dalam tafsirnya juga (7/254, cet. Daar al-Kutub al-Mishriyyah) menukil second opinion untuk makna “makar Allah” dalam ayat diatas adalah istidraj dari Allah dalam bentuk kenikmatan dunia dan kesehatan padahal mereka senantiasa bergelimang dengan kemaksiatan kepada Allah.

 

Al-Imam berkata :

عن ابن مسعود رضي الله عنه قال «أكبر الكبائر الإشراك بالله، والأمن من مكر الله، والقنوط من رحمة الله، واليأس من روح الله» . رواه عبد الرزاق

“dari Ibnu Mas’ud Rodhiyallahu ‘anhu beliau berkata : “dosa besar yang paling besar adalah syirik kepada Allah, merasa aman dari makar Allah, putus harapan dari rahmat Allah, dan berputus asa dari rahmat Allah” (HR. Abdu Rozaq).

***

 

Ta’liqiy :

Atsar mauquf diatas diriwayatkan juga oleh Imam Thabrani “al-Mu’jam al-Kabiir” (no. 8784), Imam Baihaqi dalam “Syu’abul Iman” (no. 1019) melalui jalur Abdur Rozaq juga. Imam al-Haitsami dalam “Majmuz Zawaid” (no. 392, juz 1 hal. 104, cet. Maktabah al-Qudsiy) menilai sanad atsar ini shahih.

 

Penjelasan :

Dari pernyataan Ibnu Mas’ud Rodhiyallahu ‘anhu sangat jelas menunjukkan bahwa merasa aman dari makar Allah dan berputus asa dari rahmat Allah adalah diantara dosa besar.

###

 

Al-Imam berkata :

وأخرجه ابن أبي حاتم عن ابن عباس – رضي الله تعالى عنهما – مرفوعا ولفظه «سئل ما الكبائر فقال: ” الإشراك بالله، والأمن من مكر الله، واليأس من روح الله.»

“diriwayatkan oleh Ibnu Abi Hatim dari Ibnu Abbas Rodhiyallahu ‘anhu –secara marfu’- dengan lafadz : “Rasulullah Sholallahu ‘alaihi wa Salaam ditanya tentang dosa besar?, Beliau menjawab : “syirik kepada Allah, merasa aman dari Makar Allah, dan berputus asa dari rahmat Allah”.

***

 

Ta’liqiy :

Hadits diatas diriwayatkan juga oleh Imam al-Bazaar dengan sanadnya dari Abdullah bin Ishaq al-‘Athoor, dari Abi ‘Aashim an-Nabiil, dari Syabiib bin Bisyr, dari Ikrimah, dari Ibnu Abbas : “al-Hadits”.

Imam Suyuthi dalam kitab Tafsirnya “ad-Dur al-Mantsuur” (2/502-503, cet. Daar al-Fikr) menghasankan hadits ini, sedangkan Imam Ibnu Katsir dalam tafsirnya (2/279) menilai hadits diatas :

وَفِي إِسْنَادِهِ نَظَرٌ، وَالْأَشْبَهُ أَنْ يَكُونَ مَوْقُوفًا

“dalam sanadnya perlu dipertimbangkan dan ini serupa dengan atsar yang mauquf” –selesai-.

Berdasarkan penelusuran saya, penilaian Imam ibnu Katsir lebih tepat, karena didalam sanadnya ada perowi yang bernama Abdullah bin Ishaq al-‘Athoor. Asy-Syaikh Kholiil bin Muhammad memiliki sebuah kitab, yang melengkapi biografi perowi yang tidak disebutkan dikitab “Majmuz Zawaidnya” Imam al-Haitsami dan beliau melakukan penelitian langsung dari manuskrip kitab “Majmuz Zawaid”, lalu disana didapati dalam catatan kakinya, bahwa Abdullah bin Ishaq al-‘Athoor ini adalah perowi dhoif. Kemudian juga salah satu perowinya lagi yang bernama Syabiib bin Bisyr, dua Aimah Jarh wa Ta’dil yang sangat “strict” (mutasyadid) berbeda pendapat dalam menilainya, yakni Imam Yahya bin Ma’in mentsiqohkannya, sedangkan satu Imam lagi, yaitu Imam Abu Hatim menilainya sebagai “layyinul Hadits”. Dan kalau kita mengikuti jalan tengah yang diambil al-Hafidz Ibnu Hajar dalam “at-Taqriib” maka status haditsnya adalah hasan, karena dinilai sebagai perowi shoduq. Oleh karena itu, mungkin tersamar bagi Imam Suyuthi kondisi Abdullah bin Ishaq al-‘Athoor, karena ada informasi dari al-Hafidz Ibnu Hajar juga bahwa al-‘Athoor ini ditsiqohkan oleh Imam Ibnu Hibban. Wallahu A’lam.

 

Advertisements

Leave a Comment »

RSS feed for comments on this post. TrackBack URI

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

w

Connecting to %s

Create a free website or blog at WordPress.com.
Entries and comments feeds.

%d bloggers like this: