Bab 8 Tentang Berburuk Sangka kepada Allah

October 19, 2017 at 2:57 pm | Posted in AL KABAIR | Leave a comment

TA’LIQ ‘ALAA MATAN AL-KABAIR

Bab 8 Tentang Berburuk Sangka kepada Allah

 

Al-Imam Muhammad bin Abdul Wahab berkata :

وقول الله تعالى: {يَظُنُّونَ بِاللَّهِ غَيْرَ الْحَقِّ ظَنَّ الْجَاهِلِيَّةِ}

“mereka menyangka yang tidak benar terhadap Allah seperti sangkaan jahiliyah” (QS. Ali Imroon : 154).

***

 

Penjelasan :

Yang melakukan perbuatan berburuk sangka di ayat ini adalah orang-orang munafik pada waktu perang Uhud, dimana kaum Muslimin ketika itu mendapatkan kekalahan dari orang-orang kafir musyrikin Mekkah, lalu orang-orang munafik pun berburuk sangka kepada Allah. Yang dimaksud dengan buruk sangka seperti sangkaan jahiliyyah adalah mereka menyangka bahwa Allah tidak akan menolong agama Islam, tidak menolong Rasul-Nya dan yang semakna dengannya, dengan sebab kekalahan yang terjadi pada kaum Muslimin pada saat itu, sebagaimana yang dipaparkan oleh Imam Ibnu Katsir dalam tafsirnya.

###

Al-Imam berkata :

وقول الله تعالى: {وَذَلِكُمْ ظَنُّكُمُ الَّذِي ظَنَنْتُمْ بِرَبِّكُمْ أَرْدَاكُمْ}

“Dan yang demikian itu adalah prasangkamu yang telah kamu sangka kepada Tuhanmu, Dia telah membinasakan kamu” (QS. Fushilaat : 23).

***

 

Penjelasan :

Imam ath-Thabari dalam “Tafsirnya” (21/456) berkata :

وهذا الذي كان منكم في الدنيا من ظنكم أن الله لا يعلم كثيرا مما تعملون من قبائح أعمالكم ومساويها، هو ظنكم الذي ظننتم بربكم في الدنيا أرداكم

“demikianlah yang dilakukan oleh sebagian kalian di dunia berupa persangkaan kalian bahwa Allah tidak mengetahui kebanyakan apa yang kalian lakukan berupa kejelekan amal-amal kalian dan persangkaan kalian ini yang telah kalian sangkakan kepada Rabb kalian di dunia, akhirnya membinasakan kalian”.

###

 

Al-Imam berkata :

وقوله: {الظَّانِّينَ بِاللَّهِ ظَنَّ السَّوْءِ عَلَيْهِمْ دَائِرَةُ السَّوْءِ}

“mereka itu berprasangka buruk terhadap Allah. Mereka akan mendapat giliran (kebinasaan) yang amat buruk” (QS. Al Fath : 6).

***

 

Penjelasan :

Imam ath-Thabari dalam Tafsirnya (22/205) menjelaskan makna buruk sangka mereka kepada Allah, yakni mereka itu adalah orang-orang manafik dan musyrik yang mereka menyangka :

أنه لن ينصرك، وأهل الإيمان بك على أعدائك، ولن يظهر كلمته فيجعلها العليا على كلمة الكافرين به، وذلك كان السوء من ظنونهم التي ذكرها الله في هذا الموضع، يقول تعالى ذكره: على المنافقين والمنافقات، والمشركين والمشركات الذين ظنوا هذا الظن دائرة السوء، يعني دائرة العذاب تدور عليهم به.

“bahwa Allah sekali-kali tidak akan menolongmu (Nabi Muhammad Sholallahu ‘alaihi wa Salaam) dan orang-orang beriman atas musuh-musunya, tidak juga memenangkan kalimat-Nya dan menjadikannya tinggi diatas kalimatnya orang-orang kafir. Itu semua adalah buruk sangka mereka yang Allah sebutkan dalam ayat ini, kemudian Allah Subhanahu wa Ta’alaa mengabarkan bahwa orang-orang munafik dan musyrik baik laki-laki maupun perempuan yang menyangka dengan sangkaan buruk ini, maka mereka akan mendapatkan giliran azab yang buruk yang dipergilirkan kepada mereka” –selesai-.

 

Ayat-ayat diatas menggambarkan bahwa buruk sangka kepada Allah adalah perbuatan orang-orang jahat baik dari munafiknya, kafirnya, maupun musyriknya dan balasan bagi orang yang berburuk sangka kepada Allah adalah azab di dunia dan akhirat, maka kaitannya perbuatan buruk sangka kepada Allah sebagai dosa besar sangat jelas, sesuai dengan definisi dosa besar yang sudah kita sebutkan diawal-awal pembahasan, silakan merujuk kesana jika diperlukan.

###

 

Al-Imam berkata :

روي من حديث ابن عمر رضي الله عنهما: “أكبر الكبائر سوء الظن بالله” رواه ابن مردويه.

“diriwayatkan dari hadits Ibnu Umar Rodhiyallahu ‘anhu bahwa beliau berkata : “dosa besar yang paling besar adalah buruk sangka kepada Allah” (HR. Ibnu Mardawaih).

***

 

Ta’liqiy :

Imam ibnu Mardawaih nama aslinya adalah Abu Bakar Ahmad bin Musa al-Asbahaani (323 – 410 H). Al-‘Alamah az-Zrekliy dalam kitabnya “al-A’lam” (1/261) memujinya sebagai, Hafidz yang ahli sejarah dan ahli tafsir, memiliki berbagai macam karya tulis dalam bidang tafsir, hadits dan sejarah.

 

Atsar diatas saya dapatkan sanadnya bersambung dari penukilan Imam Ibnu Katsir di kitab tafsirnya (2/244) dimana Imam Ibnu Mardawaih berkata :

“telah menceritakan kepada kami Muhammad bin Ibrahim bin Bundar, telah menceritakan kepada kami Abu Hatim bin Bakr bin ‘Abdaan, telah menceritakan kepada kami Muhammad bin Muhaajir, telah menceritakan kepada kami Abu Khudzaifah al-Bukhori, dari Muhammad bin ‘Ajlaan, dari Naafi’ dari Ibnu Umar Rodhiyallahu ‘anhu : “al-Atsar”.

Imam Ibnu Katsir memberikan penilaian untuk atsar ini : “حَدِيثٌ غَرِيبٌ جِدًّا” (haditsnya sangat ghorib sekali), sehingga hal ini mengisyaratkan pendhoifan dari beliau. Atsar ini didhoifkan juga oleh Al-Hafidz Ibnu Hajar dan Imam al-Albani. Cacat yang paling parah dalam sanad ini ada pada Abu Khudzaifah al-Bukhori yang dikatakan sebagai pendusta oleh Imam Ali ibnul Madini dan Imam Daruquthni (lihal Mizanul I’tidal (1/184)).

###

 

Al-Imam berkata :

عن جابر رضي الله عنه قال: سمعت رسول الله صلى الله عليه وسلم يقول قبل وفاته بثلاث: “لا يموتن أحدكم إلا وهو يحسن الظن بالله” ، أخرجاه وزاد ابن أبي الدنيا: “فإن قوما أرداهم سوء ظنهم بالله فقال تبارك وتعالى {وَذَلِكُمْ ظَنُّكُمُ الَّذِي ظَنَنْتُمْ بِرَبِّكُمْ أَرْدَاكُمْ}  الآية”

“dari Jaabir Rodhiyallahu ‘anhu beliau berkata, aku mendengar Rasulullah Sholallahu ‘alaihi wa Salaam bersabda, tiga hari sebelum wafatnya : “sekali-kali janganlah kalian meninggal dunia, kecuali dalam keadaan berbaik sangka kepada Allah” (HR. Bukhori-Muslim).

Terdapat tambahan dalam riwayat Ibnu Abid Dunya : “karena suatu kaum Allah binasakan mereka akibat buruk sangka mereka kepada Allah : “Dan yang demikian itu adalah prasangkamu yang telah kamu sangka kepada Tuhanmu, Dia telah membinasakan kamu” (QS. Fushilaat : 23).

***

 

Ta’liqiy :

Saya mendapati hadits Jaabir Rodhiyallahu ‘anhu diatas, hanya diriwayatkan oleh Imam Muslim dalam kitab Shahihnya (no. 2877), saya tidak mendapatkannya ada didalam shahih Bukhori, Wallahu A’lam.

Adapun tambahan yang diisyaratkan oleh asy-Syaikh Muhammad bin Abdul Wahab diriwayatkan oleh Imam ibnu Abid Dunya dalam kitabnya yang berjudul “Khusnu adz-Dzhoon billah” (hal. 19, cet. Daar Thoyyibah). Seandainya al-Imam Muhammad bin Abdul Wahab menyebutkan tambahan ini dari kitab yang lebih masyhur, maka tentu ini lebih baik, karena tambahan ini disebutkan oleh Imam Ahmad dalam “Musnadnya” (no. 15197, cet. Ar-Risaalah), namun sanad untuk tambahan ini dhoif, didhoifkan oleh Imam al-Albani dan beliau telah mentakhrijnya dalam “adh-Dhoifah” (no. 2169) dan didhoifkan juga oleh al-‘Alamah Syu’aib Arnauth dalam takhrijnya terhadap Musnad Ahmad.

 

Penjelasan :

Yang dimaksud dengan berbaik sangka ketika menjelang wafat adalah berbaik sangka kepada Allah bahwa Allah akan merahmatinya dan mengampuninya, sebagaima disampaikan oleh Imam al-Munawiy dalam kitabnya “Faidhul Qodiir” (6/455, cet. Al-Maktabah at-Tijaariyyah al-Kubra). Kemudian Imam Munawi menukil perkataan Imam ath-Thibiy yang beristimbat dengan hadits ini terkait terlarangnya seorang Muslim ketika wafat tidak dalam kondisi berbaik sangka kepada Allah.

###

 

Al-Imam berkata :

ولهما عن أبي هريرة رضي الله عنه مرفوعا: “قال الله تعالى: أنا عند ظن عبدي بي”  زاد أحمد وابن حبان: “إن ظن بي خيرا فله، وإن ظن بي شرا فله”

“dalam riwayat Bukhori-Muslim dari Abi Huroiroh Rodhiyallahu ‘anhu secara marfu’ bahwa Allah Subhanahu wa Ta’alaa berfirman : “Aku tergantung persangkaan hamba-Ku kepada-Ku”.

Dalam riwayat Ahmad dan Ibnu Hibban terdapat tambahan : “jika ia berprasangka baik, maka ia akan mendapatkan kebaikan juga dan jika ia berprasangka jelek, maka ia akan mendapatkan kejelekan juga”.

***

 

Ta’liqiy :

Hadits diatas adalah hadits qudsi, karena Rasulullah Sholallahu ‘alaihi wa Salaam mengabarkan berita atau kalam dari Rabb-Nya Azza wa Jalla. Haditsnya diriwayatkan oleh Imam Bukhori dalam “Shahihnya” (no. 7405 & 7505) dan Imam Muslim dalam “Shahihnya” (no. 2675).

Adapun tambahan yang disebutkan oleh asy-Syaikh, diriwayatkan oleh Imam Ahmad dalam “al-Musnad” (no. 9076) dan Imam Ibnu Hibban dalam “Shahihnya” (no. 639), tambahan ini dishahihkan oleh al-Albani dan Syu’aib Arnauth –Rahimahumaallah-.

 

Penjelasan :

Yang dimaksud dengan berbaik sangka kepada Allah, dijelaskan oleh al-‘Alamah Muhammad bin Sholih al-Utsaimin dalam “Syarah Riyaadhus Sholihin” (3/335, cet. Daarul Wathon) :

يحسن الظن بالله إذا فعل ما يوجب فضل الله ورجاءه، فيعمل الصالحات ويحسن الظن بأن الله تعالى يقبله، أما أن يحسن الطن وهو لا يعمل؛ فهذا من باب التمني على الله، ومن أتبع نفسه هواها وتمنى على الله الأماني فهو عاجز.

“berbaik sangka kepada Allah jika ia melakukan sesuatu yang mendatangkan keutamaan dari Allah dan mengharap kepada-Nya, ia melakukan amal-amal sholih, lalu berprasangka baik, bahwa Allah akan menerima amalannya. Adapun jika ia berprasangka baik, namun tidak beramal maka ini termasuk berangan-angan dihadapan Allah. Barangsiapa yang jiwanya memperturutkan hawa nafsunya dan berangan-angan dihadapan Allah, maka ia adalah orang yang lemah” –selesai-.

 

Kemudian telah berlalu bagaimana sunahnya orang-orang yang menyimpang dari kalangan munafiqin, musyrikin dan kafirin yang mereka senantiasa berprasangka buruk kepada Allah, dan tentunya sebuah dosa besar jika kita mengikuti jejak mereka –semoga Allah menunjuki kita ke jalan yang lurus untuk senantiasa berprasangka baik kepada-Nya, Aamiin ya Robbal ‘Alamiin-.

Wallahu A’lam.

###

 

Advertisements

Leave a Comment »

RSS feed for comments on this post. TrackBack URI

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s

Create a free website or blog at WordPress.com.
Entries and comments feeds.

%d bloggers like this: