PARA PENGABDI KUBUR

October 19, 2017 at 11:30 pm | Posted in Aqidah | Leave a comment

PARA PENGABDI KUBUR

 

Imam Ibnu Abi Izzi (w. 792 H) dalam kitabnya “Syarah Akidah ath-Thahawiyyah” (1/29, cet. Muasasah ar-Risaalah) telah menjelaskan modus klasik pada ‘Ubaadul Qubur, beliau berkata :

وَلَمْ يَكُونُوا يَعْتَقِدُونَ فِي الْأَصْنَامِ أَنَّهَا مُشَارِكَةٌ لِلَّهِ فِي خَلْقِ الْعَالَمِ، بَلْ كَانَ حَالُهُمْ فِيهَا كَحَالِ أَمْثَالِهِمْ مِنْ مُشْرِكِي الْأُمَمِ مِنَ الْهِنْدِ وَالتُّرْكِ وَالْبَرْبَرِ وَغَيْرِهِمْ، تَارَةً يَعْتَقِدُونَ أَنَّ هَذِهِ تَمَاثِيلُ قَوْمٍ صَالِحِينَ مِنَ الْأَنْبِيَاءِ وَالصَّالِحِينَ، وَيَتَّخِذُونَهُمْ شُفَعَاءَ، وَيَتَوَسَّلُونَ بِهِمْ إِلَى اللَّهِ، وَهَذَا كَانَ أَصْلَ شِرْكِ الْعَرَبِ، قَالَ تَعَالَى حِكَايَةً عَنْ قَوْمِ نُوحٍ: {وَقَالُوا لَا تَذَرُنَّ آلِهَتَكُمْ وَلَا تَذَرُنَّ وَدًّا وَلَا سُوَاعًا وَلَا يَغُوثَ وَيَعُوقَ وَنَسْرًا}. وَقَدْ ثَبَتَ فِي صَحِيحِ الْبُخَارِيِّ، وَكُتُبِ التَّفْسِيرِ، وَقَصَصِ الْأَنْبِيَاءِ وَغَيْرِهَا، عَنِ ابْنِ عَبَّاسٍ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُمَا، وَغَيْرِهِ مِنَ السَّلَفِ، أَنَّ هَذِهِ أَسْمَاءُ قَوْمٍ صَالِحِينَ فِي قَوْمِ نُوحٍ، فَلَمَّا مَاتُوا عَكَفُوا عَلَى قُبُورِهِمْ، ثُمَّ صَوَّرُوا تَمَاثِيلَهُمْ، ثُمَّ طَالَ عَلَيْهِمُ الْأَمَدُ فَعَبَدُوهُمْ،

“mereka tidak pernah sama sekali memiliki keyakinan bahwa berhala-berhala tersebut adalah sekutu Allah dalam penciptaan alam semesta, namun kondisi mereka adalah seperti kondisi kaum musyrikin yang ada pada umat ini dari kalangan penduduk India, Turki, Barbar dan selainnya. Mereka meyakini bahwa berhala-berhala tersebut adalah orang-orang sholih dari kalangan para Nabi atau orang sholih, lalu mereka menjadikannya sebagai syafaat yang mereka bertawasul dengannya kepada Allah, ini adalah asal-muasal kesyirikan orang Arab. Allah Subhanahu wa Ta’alaa berfirman tentang kondisi kaum Nuh :

{ Dan mereka berkata: “Jangan sekali-kali kamu meninggalkan (penyembahan) tuhan-tuhan kamu dan jangan pula sekali-kali kamu meninggalkan (penyembahan) wadd, dan jangan pula suwwa’, yaghuts, ya’uq dan nasr” } (QS. Nuh : 23).

Telah shahih dalam riwayat Shahih Bukhori, kitab-kitab tafsir, kisah-kisah para Nabi dan selainnya dari Ibnu Abbas Rodhiyallahu ‘anhu dan selainnya dari para ulama salaf bahwa nama-nama tersebut (dalam surat Nuh ayat 23, pent.) adalah orang-orang sholih kaumnya Nabi Nuh alaihis salam. Setelah mereka wafat, kaumnya kemudian ber’itikaf di kubur-kubur mereka, lalu membuat patung-patung dengan wujud mereka, kemudian berlalu masa yang panjang, akhirnya mereka beribadah kepada mereka” –selesai-.

 

Oleh karenanya, Rasulullah diawal-awal dakwah Islam melarang ziarah kubur, karena adanya motivasi ziarah yang menyimpang sebagaimana yang dilakukan oleh kaumnya Nabi Nuh alaihis salam, setelah masyarakat kaum Muslimin yang dibimbing Rasulullah Sholallahu ‘alaihi wa Salaam memiliki akidah yang kuat, maka ziarah diperbolehkan kembali dalam rangka mengingat kematian dan mendoakan saudaranya sesama muslim yang telah wafat mendahuluinya.

 

Asy-Syaikh Muhammad bin Umar Nawawi al-Bantani (w. 1316 H) dalam kitab tafsirnya yang berjudul “Maroohu Labiid” (2/567, cet. DKI) tatkala menafsirkan surat Nuh ayat ke-23 diatas, beliau berkata :

فلما ماتوا قال إبليس لمن بعدهم: لو صورتم صورهم فكنتم تنظرون إليهم ففعلوا فلما مات أولئك قال لمن بعدهم: إنهم كانوا يعبدونهم فعبدوهم حتى بعث الله نوحا عليه السلام، ولهذا السبب نهى الرسول عن زيارة القبور أولا، ثم أذن فيها وقال: كنت نهيتكم عن زيارة القبور ألا فزوروها فإن زيارتها تذكرة

“setelah (orang-orang sholih dari kalangan kaum Nuh) wafat, Iblis berkata kepada orang-orang setelahnya : “seandainya kalian membuat patung mereka, tentu kalian bisa melihatnya, maka kemudian mereka pun membuat patung orang-orang sholih tersebut. Setelah generasi pertama pembuat patung ini mati, Iblis berkata lagi kepada orang-orang setelahnya, bahwa bapak-bapaknya dulu beribadah kepada mereka, sehingga akhirnya mereka beribadah kepada patung-patung tersebut, hingga karenanya Allah mengutus Nabi Nuh alaihis salam. Oleh karena itu, inilah sebab mengapa Rasulullah Sholallahu ‘alaihi wa Salaam pada awalnya melarang untuk berziarah kubur, kemudian Beliau mengizinkannya sebagaimana sabdanya : “dulu aku pernah melarang kalian berziarah kubur, sekarang silakan berziarah, karena ziarah itu dapat mengingat kematian”.

Advertisements

Leave a Comment »

RSS feed for comments on this post. TrackBack URI

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

w

Connecting to %s

Blog at WordPress.com.
Entries and comments feeds.

%d bloggers like this: