BACA SURAT YASIN PADA PAGI HARI DAPAT MENGABULKAN HAJAT

October 28, 2017 at 4:10 pm | Posted in Tulisan Lainnya | Leave a comment

BACA SURAT YASIN PADA PAGI HARI DAPAT MENGABULKAN HAJAT

 

Tadi secara tidak sengaja membaca buku Yasin dan pada halaman pertamanya, si penyusun mengatakan diriwayatkan dalam Sunan Darimi dengan sanad yang shahih sampai kepada ‘Athoo` bin Abi Rabaah bahwa beliau berkata :

بَلَغَنِي أَنَّ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ: «مَنْ قَرَأَ يس فِي صَدْرِ النَّهَارِ، قُضِيَتْ حَوَائِجُهُ»

“telah sampai kepadaku bahwa Rasulullah shalallahu ‘alaihi wa salaam bersabda : “barangsiapa yang membaca surat Yasin pada permulaan pagi, maka segala hajatnya akan dipenuhi”.

Hadits diatas diriwayatkan oleh Imam ad-Daarimi (w. 255 H) dalam “Sunannya” (2/336, no. 3418, cet. DKI) dari jalan :

حَدَّثَنَا الْوَلِيدُ بْنُ شُجَاعٍ، حَدَّثَنِي أَبِي، حَدَّثَنِي زِيَادُ بْنُ خَيْثَمَةَ، عَنْ مُحَمَّدِ بْنِ جُحَادَةَ، عَنْ عَطَاءِ بْنِ أَبِي رَبَاحٍ، قَالَ: بَلَغَنِي أَنَّ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ: «مَنْ قَرَأَ يس فِي صَدْرِ النَّهَارِ، قُضِيَتْ حَوَائِجُهُ»

“telah menceritakan kepada kami al-Waliid bin Sujaa’, telah menceritakan kepadaku Bapakku, telah menceritakan kepadaku Ziyaad bin Khoitsamah, dari Muhammad bin Juhaadah, dari ‘Athoo` bin Abi Rabaah, beliau berkata : “al-Hadits”.

 

Kedudukan sanad :

  • Al-Waliid, perowi tsiqoh, dijadikan hujjah oleh Imam Muslim dalam Shahihnya [at-Taqriib].
  • Bapaknya Sujaa’, ditsiqohkan oleh Imam Yahya bin Ma’in, dipakai oleh Bukhori-Muslim [Tahdzibul Kamal & at-Taqriib].
  • Ziyaad, perowi tsiqoh, dipakai oleh Imam Muslim [at-Taqriib].
  • Muhammad bin Juhaadah, perowi tsiqoh, dipakai Bukhori-Muslim [at-Taqriib].
  • ‘Athoo`, Tabi’I wasith, perowi tsiqoh, dipakai oleh Bukhori-Muslim [at-Taqriib].

 

Berdasarkan keterangan diatas, tidak keliru jika dikatakan sanadnya shahih sampai kepada ‘Athoo`, sekalipun ada pembicaraan dikalangan ulama Jarh wa Ta’dil terhadap salah satu perowinya yang bernama Sujaa’ bin al-Waliid, Imam Abu Hatim menilainya sebagai “layyinul Hadits” (lunak haditsnya), oleh karenanya, al-Hafidz Ibnu Hajar dalam “at-Taqriib” menilainya sebagai perowi shoduq, yang artinya haditsnya hasan saja.

 

Namun sebagaimana keterangan diatas bahwa ‘Athoo` adalah seorang Tabi’I yang berarti beliau tidak pernah bertemu langsung dengan Rasulullah shalallahu ‘alaihi wa salaam. Sehingga tatkala beliau mengangkat haditsnya sampai kepada Rasulullah shalallahu ‘alaihi wa salaam tanpa menyebutkan perantaraan sahabat padanya, maka ini yang disebut dalam istilah mustholah hadits dengan hadits mursal. Hadits mursal termasuk dalam kategori hadits dhoif, karena ada keterputusan sanad didalamnya, oleh sebab itu pentahqiq kitab “Sunan Darimi” yang dicetak oleh Daarul Mughni, yaitu asy-Syaikh Husain Salim Asad (no. 3461) menilai hadits ini :

إسناده ضعيف مرسل

“sanadnya dhoif mursal”.

Hadits ini didhoifkan juga oleh asy-Syaikh Muhammad Naashiruddin al-Albani dalam ta’liqnya terhadap kitab “Misykaatul Mashoobih” (no. 2118).

Wallahu A’lam.

Advertisements

Leave a Comment »

RSS feed for comments on this post. TrackBack URI

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

w

Connecting to %s

Blog at WordPress.com.
Entries and comments feeds.

%d bloggers like this: