MENGENAL PENGUJIAN HADITS DENGAN MUTAABA’AAT DAN SYAWAAHID

October 28, 2017 at 2:49 pm | Posted in Hadits | Leave a comment

MENGENAL PENGUJIAN HADITS DENGAN MUTAABA’AAT DAN SYAWAAHID[1]

 

Ini adalah permasalahan yang dibahas oleh para penulis kitab Mustholah Hadits dalam kitab-kitab mereka. Imam Ibnu Sholaah memasukkan pembahasan ini pada point “an-Nau’” (jenis) yang kelima belas. Inti dari pembahasan dalam tema ini adalah untuk menguji sebuah hadits apakah perowinya bersendirian atau tidak? Apakah ia ma’ruf (dikenal) atau tidak?.

Al-Hafidz Ibnu Hajar mendefiniskan al-Mutaaba’ah jika ada perowi lain yang meriwayatkan hadits yang sama lafadz atau maknanya masih dari jalur satu sahabat yang sama. Adapun jika penguatnya datang dari perowi lain yang berbeda jalur sahabatnya, maka ini disebut syaahid. Kemudian beliau membagi al-mutaaba’ah menjadi dua, al-mutaaba’ah at-taamah jika penguatnya terjadi pada perowi itu sendiri dan al-mutaaba’ah al-Qooshirih jika penguatnya datang dari perowi ditasnya[2].

 

Untuk memperjelas maksud tema ini kita akan sebutkan salah satu contoh yang dijelaskan oleh al-‘Alamah Ahmad Muhammad Syaakir sebagai berikut[3] :

Al-Imam asy-Syaafi’I dalam kitabnya “al-Umm” (2/103) meriwayatkan sebuah hadits :

أَخْبَرَنَا الشَّافِعِيُّ قَالَ أَخْبَرَنَا مَالِكٌ عَنْ عَبْدِ اللَّهِ بْنِ دِينَارٍ عَنْ ابْنِ عُمَرَ أَنَّ رَسُولَ اللَّهِ – صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ – قَالَ «الشَّهْرُ تِسْعٌ وَعِشْرُونَ لَا تَصُومُوا حَتَّى تَرَوْا الْهِلَالَ وَلَا تُفْطِرُوا حَتَّى تَرَوْهُ، فَإِنْ غُمَّ عَلَيْكُمْ فَأَكْمِلُوا الْعِدَّةَ ثَلَاثِينَ»

Dari hadits diatas maka kita urutkan sanadnya :

  • Asy-Syafi’I
  • Malik
  • Abdullah bin Diinaar
  • Ibnu Umar radhiyallahu anhu
  • Rasulullah shalallahu ‘alaihi wa salaam

 

Awalnya para ulama menganggap Imam Syafi’I tafarud dalam meriwayatkan hadits dengan lafadz diatas dari Imam Malik, karena murid-murid Imam Malik lainnya meriwayatkan haditsnya dengan lafadz : “فإِنْ غُمَّ عَلَيْكُمُ فاقْدُروا لهُ”. Oleh karenanya, riwayat diatas dianggap sebagai “Ghorooib asy-Syaafi’I”. namun setelah diteliti lebih lanjut ternyata Imam Syafi’I mendapatkan mutaaba’aah dan syawaahid dari jalan lain, dengan rincian sebagai berikut :

  • Imam Bukhori dalam “Shahihnya” (no. 1907) meriwayatkan dengan jalan sebagai berikut :

حَدَّثَنَا عَبْدُ اللَّهِ بْنُ مَسْلَمَةَ، حَدَّثَنَا مَالِكٌ، عَنْ عَبْدِ اللَّهِ بْنِ دِينَارٍ، عَنْ عَبْدِ اللَّهِ بْنِ عُمَرَ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُمَا، أَنَّ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ، قَالَ: «الشَّهْرُ تِسْعٌ وَعِشْرُونَ لَيْلَةً، فَلاَ تَصُومُوا حَتَّى تَرَوْهُ، فَإِنْ غُمَّ عَلَيْكُمْ فَأَكْمِلُوا العِدَّةَ ثَلاَثِينَ»

Dari hadits diatas maka kita urutkan sanadnya :

  • Abdullah bin Maslamah
  • Malik
  • Abdullah bin Diinaar
  • Ibnu Umar radhiyallahu anhu
  • Rasulullah shalallahu ‘alaihi wa salaam

 

Jika kita bandingkan dengan hadits dalam riwayat “al-Umm” diatas maka Abdullah bin Maslamah al-Qo’nabiy me-mutaba’ahi asy-Syafi’I dalam meriwayatkan dari guru yang sama yaitu Malik bin Anas dengan jalan yang sama keatas. Riwayatnya Muhammad bin Maslamah disebut dengan mutaba’ah taamah untuk haditsnya Syafi’I diatas.

 

  • Imam Muslim dalam “Shahihnya” (no. 1080) meriwayatkan dengan jalan sebagai berikut :

حَدَّثَنَا أَبُو بَكْرِ بْنُ أَبِي شَيْبَةَ، حَدَّثَنَا أَبُو أُسَامَةَ، حَدَّثَنَا عُبَيْدُ اللهِ، عَنْ نَافِعٍ، عَنِ ابْنِ عُمَرَ رَضِيَ اللهُ عَنْهُمَا، أَنَّ رَسُولَ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ ذَكَرَ رَمَضَانَ، فَضَرَبَ بِيَدَيْهِ فَقَالَ: «الشَّهْرُ هَكَذَا، وَهَكَذَا، وَهَكَذَا – ثُمَّ عَقَدَ إِبْهَامَهُ فِي الثَّالِثَةِ – فَصُومُوا لِرُؤْيَتِهِ، وَأَفْطِرُوا لِرُؤْيَتِهِ، فَإِنْ أُغْمِيَ عَلَيْكُمْ فَاقْدِرُوا لَهُ ثَلَاثِينَ»

Dari hadits diatas maka kita urutkan sanadnya :

  • Abu Bakar bin Abi Syaibah
  • Abu Usamah
  • Ubaidillah
  • Naafi’
  • Ibnu Umar radhiyallahu anhu
  • Rasulullah shalallahu ‘alaihi wa salaam

 

Jika kita bandingkan dengan hadits dalam riwayat “al-Umm” diatas maka Naafi’ me-mutaba’ahi Abdullah bin Diinaar dalam meriwayatkan dari Abdullah bin Umar radhiyallahu anhu, dan karena ini masih dari satu jalan sahabat yang sama, maka masih dianggap sebagai mutaba’ah, hanya saja isilahnya adalah mutaba’ah qooshiroh karena penguatnya ada diatasnya Imam Syafi’i.

 

  • Imam Nasa`I dalam “Sunannya” (no. 2125) meriwayatkan dengan jalan sebagai berikut :

أَخْبَرَنَا مُحَمَّدُ بْنُ عَبْدِ اللَّهِ بْنِ يَزِيدَ، قَالَ: حَدَّثَنَا سُفْيَانُ، عَنْ عَمْرِو بْنِ دِينَارٍ، عَنْ مُحَمَّدِ بْنِ حُنَيْنٍ، عَنْ ابْنِ عَبَّاسٍ، قَالَ: عَجِبْتُ مِمَّنْ يَتَقَدَّمُ الشَّهْرَ، وَقَدْ قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: «إِذَا رَأَيْتُمُ الْهِلَالَ فَصُومُوا، وَإِذَا رَأَيْتُمُوهُ فَأَفْطِرُوا، فَإِنْ غُمَّ عَلَيْكُمْ فَأَكْمِلُوا الْعِدَّةَ ثَلَاثِينَ»

Dari hadits diatas maka kita urutkan sanadnya :

  • Muhammad bin Abdullah bin Yaziid
  • Sufyan
  • ‘Amr bin Diinaar
  • Muhammad bin Hunain
  • Ibnu Abbas radhiyallahu anhu
  • Rasulullah shalallahu ‘alaihi wa salaam

 

Jika kita bandingkan dengan hadits dalam riwayat “al-Umm” diatas maka ada penguat dari jalan sahabat lain yaitu shohabi Jalil Abdullah bin Abbas radhiyallahu anhumaa. Penguat Ini disebut dengan syaahid.

 

Demikian penjelasan dari maksud mutaba’ah dan syahid dalam hadits, pengetahuan akan hal ini sangat bermanfaat didalam menguatkan hadits yang tadinya dhoif ringan naik menjadi hasan lighoirihi atau yang tadinya hasan lidzatihi, naik menjadi shahih lighoirihi dan juga menghilangkan keraguan jika ada tambahan pada lafadz, apakah dihukumi syadz atau mahfuudz dan faedah-faedah lainnya lagi.

 

Sebagian ulama lainnya lagi mendefinisikan bahwa mutaba’ah jika penguatnya sama lafadznya tanpa memandang apakah penguatnya masih dari jalur sahabat yang sama atau beda sahabat, sedangkan syahid jika penguatnya datang secara makna baik dari jalur sahabat yang sama atau beda sahabat. Dan masih ada yang mendefinisakannya lain lagi, intinya ini adalah perkara yang mudah saja, sebagaimana dikatakan oleh al-Hafidz Ibnu Hajar dan Aimah lainnya.

 

[1] Imam Ibnu ash-Sholaah (w. 643 H), Muqaddimah ibnu ash-Sholaah fii ‘Uluum al-Hadits, (tahqiq Abdullah al-Minsyaawiy), hal. 112, cet. Daarul Hadits, Kairo.

[2] Al-Hafidz Ibnu Hajar al-‘Asqolaaniy (w. 852 H), Nuzhah an-Nadhor fii Taudhii Nukhbah al-Fikr, (tahqiq Ali bin Hasan al-Halabiy), hal. 99 – 102, cet. Daar ibnul Jauzi.

[3] Ahmad Muhammad Syaakir, al-Baa’its al-Hatsiits Syarh Ikhtishoor ‘Uluum al-Hadits, hal. 53, cet. Maktabah ash-Shofaa, Mesir.

Advertisements

Leave a Comment »

RSS feed for comments on this post. TrackBack URI

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s

Blog at WordPress.com.
Entries and comments feeds.

%d bloggers like this: