HARAM DALAM KAJIAN USHUL FIQIH

October 29, 2017 at 12:17 am | Posted in Ushul Fiqih | Leave a comment

HARAM DALAM KAJIAN USHUL FIQIH

 

Beberapa ulama klasik menyebutnya dengan istilah “المحظور” (al-Mahzhuur), seperti yang dilakukan oleh Ahmad bin Ali al-Jashosh (w. 370 H) –salah satu Aimah Hanafiyyah-[1], Abu Ali al-Hasan bin Syihaab al-‘Ikbariy (w. 428 H) –salah satu Aimah Hanabilah[2]-, Abul Ma’aaliy Abdul Malik al-Juwainiy (w. 468 H) –salah satu Aimah Syafi’iyyah[3]-, Abu Bakar ibnul Arabiy (w. 543 H) –salah satu Aimah Malikiyyah[4]-, dan selainnya.

Mereka mendefinisikannya dengan :

مَا يَسْتَحِقُّ بِفِعْلِهِ الْعِقَابَ، وَبِتَرْكِهِ الثَّوَابَ

“apa yang seorang (mukallaf) berhak dihukum karena mengerjakannya dan diberi pahala ketika meninggalkannya”[5].

Kemudian ulama kontemporer melengkapi definisinya, seperti yang ditulis oleh asy-Syaikh Abdullah bin Yusuf al-Juda’I ketika :

ما طلَبَ الشَّارِعُ الكفَّ عنه على وجهِ الحَتْمِ والإلزامِ، ويثابُ تاركُهُ امتثالاً، ويُعاقبُ فاعلُهُ اختيارًا

“apa yang dituntut oleh pembuat syariat untuk menahan diri dari mengerjakannya dengan perintah yang pasti dan harus, diberi pahala bagi yang meninggalkannya karena menaati perintah dan disiksa bagi yang mengerjakannya dalam kondisi sukarela” –selesai-[6].

 

Ulama Hanafiyyah memiliki istilah lain terkait dengan haram ini, mereka mengatakan jika perintah untuk menahan diri dengan pasti tersebut berdasarkan dalil yang qoth’I, seperti dari Al Qur’an atau hadits mutawatir, maka mereka menamakannya dengan “Haram”, namun jika dalilnya dzhanni, seperti berdasarkan hadits Ahad yang shahih, maka mereka menamakannya dengan “makruuh lit Tahriim”[7]. Hal ini sama juga dengan pembagian Fardhu dan wajib (lihat tulisan kami sebelumnya).

 

Haram terbagi menjadi dua [8]:

  1. Haram lidzatihi, yakni hukumnya memang haram sejak awal, seperti : berzina, mencuri, sholat tanpa berwudhu dan selainnya.
  2. Haram lighoirihi, yakni pada asalnya hukumnya adalah wajib, sunah atau mubah, akan tetapi ada hal yang baru yang menyertainya yang menjadikannya diharamkan, seperti sholat dengan menggunakan pakaian hasil ghoshob atau mencuri, jual-beli pada waktu azan Jum’at, karena pada asalnya jual beli adalah mubah hukumnya, namun ketika ia melakukannya pada waktu terlarang, yakni pada waktu azan Jum’at, maka hukumnya berubah menjadi haram, karena dapat luput dari melaksanakan sholat Jum’at, dan masih banyak contoh lainnya.

 

Pembahasan yang tidak kalah  penting terkait dengan haram adalah bentuk-bentuk lafadz dalam nash-nash syariat yang menunjukkan dilalah pengharamannya. Asy-Syaikh Juda’I telah menyebutkan beberapa bentuk (sighot) lafadz lit Tahriim sebagai berikut[9] :

  1. Lafadz “Nahyu” yang shorih (jelas), misalnya :

{وَيَنْهَى عَنِ الْفَحْشَاءِ وَالْمُنْكَرِ وَالْبَغْيِ} [النحل: 90]

“dan Allah melarang dari perbuatan keji, kemungkaran dan permusuhan” (QS. An Nahl : 90).

  1. Lafadz “Zajara”, sebagaimana riwayat Abu Zubair :

سألتُ جابرًا (يعني ابنَ عبد الله) عن ثَمَنِ الكلبِ والسِّنَّورِ؟ قالَ: زَجرَ النَّبيُّ – صلى الله عليه وسلم – عن ذلكَ [أخرجه مسلمٌ]

“aku bertanya kepada Jaabir bin Abdullah radhiyallahu anhu tentang menjual Anjing dan Kucing?, beliau radhiyallahu anhu menjawab : “Nabi shalallahu ‘alaihi wa salaam melarang hal tersebut” (HR. Muslim).

  1. Lafadz dengan perintah untuk berhenti mengerjakannya, misalnya Firman-Nya subhanahu wa ta’aalaa :

{وَلَا تَقُولُوا ثَلَاثَةٌ انْتَهُوا خَيْرًا لَكُمْ} [النساء: 171]

“dan janganlah kamu mengatakan: “(Tuhan itu) tiga”, berhentilah (dari ucapan itu). (Itu) lebih baik bagimu” (QS. An Nisaa` : 171).

  1. Fi’il Mudhori’ dengan Laa Naahiyah, misalnya Firman-Nya subhanahu wa ta’aalaa :

{وَلَا تَقْرَبُوا الزِّنَا} [الإسراء: 32]

“Dan janganlah kamu mendekati zina” (QS. Al Israa` : 32).

  1. Kalimat “laa yanbaghi” (tidak selayaknya), seperti hadits ‘Uqbaah bin Aamir radhiyallahu anhu tatkala Rasulullah shalallahu ‘alaihi wa salaam dihadiahi baju sutera, kemudian Beliau pergunakan untuk sholat, setelah selesai sholat Beliau tanggalkan baju tersebut, lalu bersabda :

لاَ يَنْبَغِي هَذَا لِلْمُتَّقِينَ

“tidak selayaknya pakain ini dikenakan oleh orang-orang yang bertakwa”.

  1. Bentuk kalimat untuk meninggalkan hal tersebut, tanpa adanya larangan yang jelas, seperti Firman-Nya subhanahu wa ta’aalaa :

{إِنَّمَا الْخَمْرُ وَالْمَيْسِرُ وَالْأَنْصَابُ وَالْأَزْلَامُ رِجْسٌ مِنْ عَمَلِ الشَّيْطَانِ فَاجْتَنِبُوهُ} [المائدة: 90]

“Hai orang-orang yang beriman, sesungguhnya (meminum) khamar, berjudi, (berkorban untuk) berhala, mengundi nasib dengan panah, adalah termasuk perbuatan syaitan. Maka jauhilah perbuatan-perbuatan itu” (QS. Al Maidah : 90).

 

Selain itu jika sebuah perbuatan memberikan konsekuensi hukuman baik di dunia maupun di akhirat, maka hal ini menunjukkan diharamkannya hal tersebut. Bentuknya dapat berupa hal berikut :

  1. Hukuman pidana, seperti mencuri.
  2. Ancaman adanya siksaan, seperti riba.
  3. Adanya laknat ketika mengerjakan hal tersebut, seperti suap dan korupsi.
  4. Termasuk hal yang diharamkan adalah jika perbuatan tersebut disifati sebagai dosa besar
  5. Perbuatannya disifati sebagai bentuk permusuhan, kezholiman, kefasikan dan semisalnya, seperti wudhu lebih dari tiga kali.
  6. Perbuatannya diserupakan dengan perbuatan binatang atau setan atau orang kafir dan semisalnya.
  7. Penamaan sebuah perbuatan dengan nama lain yang telah diketahui akan keharamannya, misalnya hadits Abu Said al-Khudri radhiyallahu anhu, bahwa Rasulullah shalallahu ‘alaihi wa salaam bersabda :

إِنَّ أَسْوَأَ النَّاسِ سَرِقَةً، الَّذِي يَسْرِقُ صَلَاتَهُ “، قَالُوا: يَا رَسُولَ اللهِ وَكَيْفَ يَسْرِقُهَا؟ قَالَ: ” لَا يُتِمُّ رُكُوعَهَا وَلَا سُجُودَهَا

“sesungguhnya manusia yang paling jelek pencuriannya adalah orang mencuri dalam sholatnya. Mereka bertanya : “wahai Rasulullah, bagaimana bentuk mencurinya?”, Nabi shalallahu ‘alaihi wa salaam menjawab : “tidak sempurna ruku’ dan sujudnya” (HR. Ahmad dan selainnya, dikatakan shahih lighoirihi oleh al-Albani).

[1] Al-Fushul fii Ushul, juz. 3 hal. 247, cet. Kementerian Wafaq Kuwait

[2] Risaalah fii Ushul Fiqih, hal. 39, cet. Al-Maktabah al-Makkiyyah

[3] Al-Waraqaat, hal. 8

[4] Al-Mahshuul fii Ushul Fiqih, hal. 22, cet. Daar al-Bayaariq

[5] Al-Fushuul, juz. 3 hal. 247

[6] Ta’isiir Ilmu Ushul Fiqih, hal. 35, cet. Maktabah ar-Rayaan

[7] Opcit, hal. 42

[8] Opcit, hal. 41 dan Ilmu Ushul Fiqih, Abdul Wahhab Khallaf, hal. 164-165, cet. Dina Utama Semarang (terjemahan)

[9] Opcit, hal. 36-40

Advertisements

Leave a Comment »

RSS feed for comments on this post. TrackBack URI

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s

Blog at WordPress.com.
Entries and comments feeds.

%d bloggers like this: