Mukadimah Waraqaat

October 30, 2017 at 3:21 pm | Posted in Tulisan Lainnya | Leave a comment

TA’LIQ ‘ALAA MATAN AL-WARAQAAT

 

Mukadimah

Imamul Haramain (w. 478 H) berkata :

بِسم الله الرَّحْمَن الرَّحِيم

هَذِه وَرَقَات تشْتَمل على فُصُول من أصُول الْفِقْه وَذَلِكَ مؤلف من جزأين مفردين أحدهما: الأصول والثاني الفقه

[ini adalah lembaran-lembaran yang berisi pasal-pasal dari (pembahasan) ilmu Ushul Fiqih. (Ushul Fiqih ini) terdiri dari dua bagian yang masing-masing berdiri sendiri, yang pertama Ushul dan yang kedua Fiqih].

***

 

Ta’liq :

Menurut asy-Syaikh Abdullah bin Shoolih al-Fauzan dalam sebagian naskah pembukaannya terdapat lafadz tahmid dan sholawat kepada Nabi Sholallahu ‘alaihi wa Salaam. Begitu juga yang terdapat dalam naskah syarah al-Waraqaat (cet. Universitas Al-Quds, Palestina) yang ditulis oleh al-‘Alamah Jalaluddin al-Mahaliy (w. 864 H) dengan tambahan pada pembukaannya :

الحمد لله رب العالمين والصلاة على سيد المرسلين محمد وعلى آله وصحبه وسلم  وبعد.

###

 

Imamul Haramain menjelaskannya definisi masing-masing tersebut, dalam teks berikut :

فَالْأَصْل مَا بني عَلَيْهِ غَيره وَالْفرع مَا يبْنى على غَيره وَالْفِقْه معرفَة الْأَحْكَام الشَّرْعِيَّة الَّتِي طريقها الِاجْتِهَاد

[ashl adalah apa yang menjadi asas bagi selainnya, sedangkan far’u (cabang) adalah apa yang dibangun diatas ashl/pondasinya. Kemudian Fiqih adalah mengetahui hukum-hukum syariah yang jalan pengetahuannya dengan ijtihad].

***

 

Ta’liq :

“ashl”, adalah pondasi dan lawannya adalah “far’u” (cabang), sebagaimana dalam Firman Allah Subhanahu wa Ta’alaa :

{أَلَمْ تَرَ كَيْفَ ضَرَبَ اللهُ مَثَلاً كَلِمَةً طَيِّبَةً كَشَجَرةٍ طَيِّبَةٍ أَصْلُهَا ثَابِتٌ وَفَرْعُهَا فِي السَّمَاء} [(24) سورة إبراهيم]

“Tidakkah kamu perhatikan bagaimana Allah telah membuat perumpamaan kalimat yang baik seperti pohon yang baik, akarnya teguh dan cabangnya (menjulang) ke langit” (QS. Ibrahim : 24).

 

“Fiqih” secara bahasa adalah pemahaman, sebagaimana Firman-Nya :

{يَفْقَهُوا قَوْلِي} [(28) سورة طه]

“supaya mereka mengerti perkataanku” (QS. Thaha : 28)[1].

 

Adapun Fiqih yang dimaksud secara istilah, didefinisikan oleh al-Imam dengan :

“mengetahui hukum-hukum syariah yang jalan pengetahuannya dengan ijtihad”.

Asy-Syaikh Abdullah al-Fauzan menjelaskan definisi tersebut dengan peringkasan dari saya[2] :

  • “mengetahui”, yakni mencakup mengetahui secara yakin, misal sholat wajib itu 5 waktu, maupun mengetahui dengan berat sangka, dan ini adalah pengetahuan yang jamak dalam masalah-masalah fiqih, seperti sholat witir hukumnya sunah menurut pendapat mayoritas ulama dan semisalnya.

Dan yang dimaksud dengan mengetahui disini adalah dengan pengetahuan “dzhon” (berat sangka), karena ucapan Imamul Haramain ketika mensifati jalan untuk mendapatkan pengetahuan ini dengan jalan ijtihad (upaya yang sungguh-sungguh).

  • “hukum-hukum Syariah”, yakni syariat yang diutus dengannya Nabi Muhammad Sholallahu ‘alaihi wa Salaam, seperti wajib, sunah, haram dan selainnya. Maka dengan kata syariah disini, keluar darinya hukum-hukum aqliyyah, seperti satu adalah setengah dari dua, begitu juga hukum panca indera, seperti api itu panas, dan juga hukum ‘adiyyah (kebiasaan), seperti turunnya hujan itu setelah petir dan guruh.
  • “jalan pengetahuannya dengan ijtihad”, maka keluar darinya taklid, karena muqollid mengetahui hukum-hukum syariat itu tidak dengan jalan ijtihad, tapi melalui jalan taklid. Adapun ijtihad adalah upaya dengan mengerahkan segala kemampuan untuk mengetahui hukum-hukum syariat, seperti niat itu wajib dalam wudhu dan semisalnya. Oleh sebab itu, pengetahuan yang sudah pasti (qoth’i) bukanlah dinamakan fiqih, seperti zina itu haram, karena baik orang awam maupun para ulama telah mengetahuinya bersama-sama. Sehingga yang dimaksud dengan fiqih oleh penulis adalah pengetahuan yang sifatnya dzhon (berat sangka), melalui upaya yang serius dan sungguh-sungguh dalam menemukan hukum syariat[3].

 

Adapun definisi Ushul Fiqih, nanti akan disampaikan penulis pada halaman-halaman selanjutnya.

###

 

[1] Syarah al-Waraqaat, Abdul Kariim al-Khudhoir, (transkip kajian beliau)

[2] Lihat Syarah al-Waraqaat, Abdullah al-Fauzan, hal. 16-17, cet. Daar as-Salafiyyah

[3] Lihat Syarah al-Waraqaat, Jalaluddin al-Mahall, hal. 69.

Advertisements

Leave a Comment »

RSS feed for comments on this post. TrackBack URI

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

w

Connecting to %s

Create a free website or blog at WordPress.com.
Entries and comments feeds.

%d bloggers like this: