Bab 15  Tentang Lemahnya Hati

October 31, 2017 at 3:15 pm | Posted in AL KABAIR | Leave a comment

TA’LIQ ‘ALAA MATAN AL-KABAIR

 

Bab 15  Tentang Lemahnya Hati

 

Al-Imam Muhammad bin Abdul Wahab berkata :

وقول الله تعالى: {وَرَبَطْنَا عَلَى قُلُوبِهِمْ} الآية

“Allah Berfirman : “Dan Kami meneguhkan hati mereka” (QS. Al Kahfi : 14).

***

 

Penjelasan :

Ayat diatas berbicara tentang pemuda Ashabul Kahfi, dimana mereka tetap berpegang teguh dengan tauhid dan agama yang hak, tatkala mayoritas penduduk kotanya berbuat kesyrikan kepada Allah, seandainya hati mereka lemah, terlebih lagi Imam Ibnu Katsir menyebutkan bahwa para pemuda ini adalah anak-anak bangsawan kaumnya pada waktu itu, dan mereka sudah mengetahui pilihan hidupnya ketika harus memiliki keyakinan yang anti mainstream dengan kaumnya, pasti akan dikucilkan dan mendapatkan intimidasi baik fisik maupun psikis, maka dengan ketabahan hatinya untuk tetap diatas petunjuk membuat Allah menambahkan petunjuk atas mereka.

 

Maka dari sini kita dapat menarik relevansi ayat ini dengan judul bab yang dibawakan oleh asy-Syaikh Muhammad bin Abdul Wahhab, bahwa lemahnya Imam, bukan tidak mungkin menjerumuskan seseorang kepada kesyirikan yang merupakan dosa besar yang paling besar –Na’udzu billahi min dzalik-.

###

 

Al-Imam berkata :

وقوله: {أَحَسِبَ النَّاسُ أَنْ يُتْرَكُوا أَنْ يَقُولُوا آمَنَّا وَهُمْ لا يُفْتَنُونَ}  الآيتين

“Allah berfirman : “Apakah manusia itu mengira bahwa mereka dibiarkan (saja) mengatakan: “Kami telah beriman”, sedang mereka tidak diuji lagi?” (QS. Al Ankabuut : 2).

***

 

Penjelasan :

Imam ad-Darimi dalam “Sunannya” (no. 2825) meriwayatkan dengan sanadnya sampai kepada Sa’ad Rodhiyallahu ‘anhu beliau berkata :

سُئِلَ النَّبِيُّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: أَيُّ النَّاسِ أَشَدُّ بَلَاءً؟ قَالَ: «الْأَنْبِيَاءُ، ثُمَّ الْأَمْثَلُ فَالْأَمْثَلُ، يُبْتَلَى الرَّجُلُ عَلَى حَسَبِ دِينِهِ، فَإِنْ كَانَ فِي دِينِهِ صَلَابَةٌ زِيدَ صَلَابَةً، وَإِنْ كَانَ فِي دِينِهِ رِقَّةٌ، خُفِّفَ عَنْهُ، وَلَا يَزَالُ الْبَلَاءُ بِالْعَبْدِ حَتَّى يَمْشِيَ عَلَى الْأَرْضِ مَا لَهُ خَطِيئَةٌ»

“Nabi Sholallahu ‘alaihi wa Salaam pernah ditanya, siapakah manusia yang paling dahsyat ujiannya?, Beliau Sholallahu ‘alaihi wa Salaam menjawab : “para Nabi, kemudian yang semisalnya, kemudian yang semisalnya. Seseorang diuji sesuai kadar agamanya, jika agamanya kuat, maka akan semakin kuat ujiannya, dan jika agamanya rapuh, maka akan ringan juga ujiannya. Senantiasa seorang hamba diuji dengan balaa`, hingga ia berjalan dimuka bumi tanpa membawa kesalahan” (dishahihkan oleh Husain Salim Asad).

 

Salah satu fungsi ujian juga, sebagaimana disebutkan pada ayat berikutnya adalah untuk menyeleksi siapa-siapa saja yang jujur dalam klaimnya sebagai seorang yang mengaku beriman kepada Allah :

وَلَقَدْ فَتَنَّا الَّذِينَ مِنْ قَبْلِهِمْ فَلَيَعْلَمَنَّ اللَّهُ الَّذِينَ صَدَقُوا وَلَيَعْلَمَنَّ الْكَاذِبِينَ

“Dan sesungguhnya kami telah menguji orang-orang yang sebelum mereka, maka sesungguhnya Allah mengetahui orang-orang yang benar dan sesungguhnya Dia mengetahui orang-orang yang dusta”.

Oleh sebab itu, sangat rawan sekali bagi orang yang lemah imannya yang tidak mau berusaha mempertebal imannya, jangan-jangan ia akan tereliminasi sebagai seorang yang beriman ketika menghadapi ujian-ujian hidup.

###

 

Al-Imam berkata :

وقوله: {قَالُوا يَا مُوسَى إِنَّ فِيهَا قَوْماً جَبَّارِينَ}  الآية

“Allah berfirman : “Mereka berkata: “Hai Musa, sesungguhnya dalam negeri itu ada orang-orang yang gagah perkasa” (QS. Al Maidah : 22).

***

 

Penjelasan :

Ini adalah jawaban kaum Musa ketika diperintahkan oleh Nabiyullah Musa alaihis salam untuk masuk ke kota suci Palestina, namum mereka enggan dengan alasan didalam ada kaum yang kuat fisiknya. Hal ini karena lemahnya iman yang ada pada diri kaum Musa. Al-‘Alamah as-Sa’diy dalam tafsirnya “Taisiir Kariimir Rahman” (hal. 227, cet. Muasasah ar-Risaalah) berkata :

وهذا من الجبن وقلة اليقين

“hal tersebut karena kepengecutan dan sedikitnya keyakinan mereka”

###

 

Al-Imam berkata :

وقوله تعالى: {وَمِنَ النَّاسِ مَنْ يَقُولُ آمَنَّا بِاللَّهِ فَإِذَا أُوذِيَ فِي اللَّهِ جَعَلَ فِتْنَةَ النَّاسِ كَعَذَابِ اللَّهِ}

“Allah Berfirman : “Dan di antara manusia ada orang yang berkata: “Kami beriman kepada Allah”, maka apabila ia disakiti (karena ia beriman) kepada Allah, ia menganggap fitnah manusia itu sebagai azab Allah” (QS. Al Ankabuut : 10).

***

 

Penjelasan :

Ini juga masih terkait dengan sikap “cemen” yang diakibatkan karena lemahnya imannya yang ada didada. Al-‘Alamah as-Sa’diy berkata dalam “Tafsirnya” (hal. 627) :

بيَّن تعالى أن من الناس فريقا لا صبر لهم على المحن، ولا ثبات لهم على بعض الزلازل

“Allah Subhanahu wa Ta’alaa menjelaskan bahwa ada sebagian kelompok manusia yang tidak sabar ketika mendapatkan ujian dan tidak kokoh ketika menghadapi sebagian goncangan”.

###

 

Al-Imam berkata :

ولهما عن ابن عمر – رضي الله عنهما – مرفوعا: «المسلم من سلم المسلمون من لسانه ويده، والمهاجر من هجر ما نهى الله عنه»

“dalam Shahihaian dari Ibnu Umar Rodhiyallahu ‘anhu secara marfu’ bahwa Nabi Sholallahu ‘alaihi wa Salaam bersabda : “seorang Muslim adalah orang yang kaum Muslimin selamat dari lisannya dan tangannya dan orang yang berhijrah adalah orang yang berhijrah dari apa-apa yang dilarang oleh Allah”.

***

 

Ta’liqiy :

Hadits diatas diriwayatkan oleh Imam Bukhori dalam “Shahihnya” (no. 10) dan Imam Muslim dalam “Shahihnya” (no. 41), dan itu adalah lafadznya Bukhori.

 

Penjelasan :

Kaitannya hadits ini dengan judul bab –wallahu a’lam- bahwa orang yang lemah imannya umumnya mereka akan ringan dalam mencela saudaranya melalui lisan-lisan kotornya dan ringan tangan menyakiti saudaranya tanpa alasan yang hak, dan semua itu adalah perbuatan dosa besar. Nabi Sholallahu ‘alaihi wa Salaam bersabda :

سِبَابُ المُسْلِمِ فُسُوقٌ، وَقِتَالُهُ كُفْرٌ

“mencela seorang Muslim adalah sebuah kefasikan dan membunuhnya adalah sebuah kekufuran” (Muttafaqun alaih).

 

Dan diantara akibat lemahnya iman adalah ia tidak mampu berhijrah menjadi pribadi yang lebih baik, dari bergelimang didalam kesyrikan menuju ibadah dengan mentauhidkan-Nya dan dari berkubang didalam bid’ah berubah menjadi penghidup sunah-sunah Nabi Sholallahu ‘alaihi wa Salaam.

Wallahu A’lam

###

Advertisements

Leave a Comment »

RSS feed for comments on this post. TrackBack URI

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

w

Connecting to %s

Create a free website or blog at WordPress.com.
Entries and comments feeds.

%d bloggers like this: