TAKHRIJ HADITS 9 DARI 10 PINTU RIZKI ADA PADA PERDAGANGAN

October 31, 2017 at 4:09 pm | Posted in Hadits | Leave a comment

TAKHRIJ HADITS 9 DARI 10 PINTU RIZKI ADA PADA PERDAGANGAN

 

Hadits diatas sangat masyhur, terutama di lisan para pedagang, namun dibalik kemasyhurannya hadits diats diriwayatkan dalam kitab hadits yang tidak masyhur. Imam ibnu Abid Dunya (w. 281 H) lah yang meriwayatkan hadits diatas dalam kitabnya “Islahul Maal” (no. 213) :

حَدَّثَنَا مُحَمَّدُ بْنُ الصَّبَّاحِ , حَدَّثَنَا هُشَيْمٌ , عَنْ دَاوُدَ بْنِ أَبِي هِنْدَ , عَنْ نُعَيْمِ بْنِ عَبْدِ الرَّحْمَنِ , قَالَ: قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: «تِسْعَةُ أَعْشَارِ الرِّزْقِ فِي التِّجَارَةِ»

“telah menceritakan kepada kami Muhammad bin ash-Shobaah, telah menceritakan kepada kami Husyaim, dari Dawud bin Abi Hindin dari Nu’aim bin Abdir Rahman ia berkata, Rasulullah Sholallahu ‘alaihi wa Salaam bersabda : “sembilan dari sepuluh pintu rezeki ada pada perdagangan”.

 

Kedudukan sanad :

Semua perowinya, para perowi tsiqoh, namun Nu’aim bin Abdir Rahman seorang Tabi’i tsiqoh thobaqot yang ketiga, sebagaimana dinyatakan oleh Imam al-Munawi dalam “Taisiir Syarah Jaami’ush Shoghiir” (1/448). Oleh karena beliau seorang Tabi’i, maka haditsnya mursal dan mursal adalah jenis hadits dhoif. Imam Abu Hatim memastikan kemursalannya, sebagaimana dinukil oleh Imam al-‘Alaa`iy (w. 784 H) dalam kitabnya “Jaamiut Tahshiil” (no. 834) :

نعيم بن عبد الرحمن عن النبي صلى الله عليه وسلم قال أبو حاتم مرسل

“Nu’aim bin Abdir Rahman dari Nabi Sholallahu ‘alaihi wa Salaam, Abu Hatim berkata “mursal”” –selesai-.

 

Al-Hafidz al-‘Iraqiy (w. 806 H) dalam takhrijnya terhadap “Ihyaa Uluumuddiin” (1/504) mengomentari hadits diatas :

وَرِجَاله ثِقَات، ونعيم هَذَا قَالَ فِيهِ ابْن مَنْدَه: ذكر فِي الصَّحَابَة وَلَا يَصح. وَقَالَ أَبُو حَاتِم الرَّازِيّ وَابْن حبَان: إِنَّه تَابِعِيّ فَالْحَدِيث مُرْسل.

“para perowinya, para perowi tsiqoh. Nu’aim ini dikomentari oleh Ibnu Mandah, “dikatakan ia seorang sahabat, tapi itu tidak benar. Abu Hatim ar-Razi dan Ibnu Hibban mengomentarinya, “ia seorang tabi’i, haditsnya mursal” –selesai-.

 

Oleh sebab itu Imam al-Albani tidak ragu lagi untuk mendhoifkan hadits ini dalam kitabnya “Silsilah Ahaadits adh-Dhoifah” (no. 3402) dan beliau menemukan hadits diatas ada pada kitabnya Imam Abu Ubaid yang berjudul “al-Ghoriib” (2/52) dari jalan Husyaim dan seterusnya keatas sama dengan jalannya Imam Ibnu Abid Dunya. Kemudian beliau menemukan jalan lain lagi yang memutaba’ahi Nu’aim bin Abdir Rahman yakni perowi yang bernama Yahya bin Jaabir ath-Tho`iy dalam kitab “al-Jaami’” karya Imam Sa’id bin Manshuur. Namun Yahya ini sekalipun perowi tsiqoh, tapi tingkatannya malah dibawan Nu’aim, karena ia seorang at’baut Tabi’iin, sehingga tidak bisa mengangkat kemursalannya.

 

Kesimpulannya, hadits ini dhoif karena mursal.

 

Advertisements

Leave a Comment »

RSS feed for comments on this post. TrackBack URI

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s

Blog at WordPress.com.
Entries and comments feeds.

%d bloggers like this: