Hukum Taklifiy – Wajib

November 1, 2017 at 1:55 pm | Posted in Ushul Fiqih | Leave a comment

TA’LIQ ‘ALAA MATAN AL-WARAQAAT

Hukum Taklifiy – Wajib

 

Imamul Haramain berkata :

فَالْوَاجِب مَا يُثَاب على فعله ويعاقب على تَركه

“Wajib adalah sesuatu yang diberikan pahala jika dikerjakan dan dihukum jika meninggalkannya”.

***

 

Ta’liq :

“al-Waajib” secara bahasa maknanya adalah “as-Saaqith”. Allah Subhanahu wa Ta’alaa berfirman :

فَإِذَا وَجَبَتْ جُنُوبُهَا فَكُلُوا مِنْهَا

“Kemudian apabila telah roboh (mati), maka makanlah sebahagiannya” (QS. Al Hajj : 36)[1].

 

Adapun secara istilah, maka telah didefinisikan oleh Imamul Haromain sebagaimana dalam teks kitabnya diatas. Perkataan beliau tentang wajib : “sesuatu yang diberikan pahala, jika dikerjakan”, maka ini mengeluarkan hukum haram, makruh dan mubah, karena yang melakukannya tidak diberikan pahala. Kemudian perkataan beliau : “dan dihukum jika meninggalkannya”, maka ini mengeluarkan hukum sunnah, karena orang yang meninggalkan perkara sunah tidak dihukum[2].

 

Sebagian ulama melengkapi definisi wajib secara istilah sebagai berikut :

هو ما طلبَ الشَّارعُ فعله على وجهِ اللُّزومِ، ورتَّب على امتثالهِ المدحَ والثَّوابَ، وعلى تركهِ مع القُدْرةِ الذَّم والعقابِ

“yaitu apa yang dituntut oleh syariat untuk mengerjakannya dengan pasti, yang berakibat pujian dan pahala bagi yang mengerjakannya, sedangkan bagi yang meninggalkannya, padahal ia mampu mengerjakannya, akan mendapatkan dosa dan hukuman”[3].

Dari definisi diatas, mengeluarkan cakupan hukum sunah padanya, karena sunah atau manduub, adalah tuntutan syariat kepada setiap mukallaf, namun tuntutannya tidak pasti.

 

Contoh amalan wajib yang telah disepakati adalah sholat lima waktu, puasa pada bulan Ramadhan, zakat bagi yang telah memenuhi syaratnya, Haji ke Baitullah bagi yang mampu dan selainnya, ini semuanya dihukumi wajib.

 

Mayoritas ulama mengatakan bahwa wajib sama dengan fardhu, atau dengan bahasa lain, fardhu adalah nama lain untuk wajib. Namun sebagian ulama seperti dari kalangan madzhab Hanafiyyah dan salah satu riwayat dari Imam Ahmad membedakan antara fardhu dengan Wajib, dikatakan :

أن الواجب ما ثبت وجوبه بخبر الواحد والقياس، وما اختلف في وجوبه، والفرض ما ثبت وجوبه من طريق مقطوع به، كالخبر المتواتر، أو نص القرآن، أو إجماع الأمة

“wajib adalah apa yang penetapannya melalui khobar ahad, qiyas dan sesuatu yang masih diperselisihkan kewajibannya. Sedangkan fardhu adalah penetapan kewajibannya melalui jalan yang pasti, seperti khobar mutawatir, nash Al Qur’an dan Ijma Umat Islam”[4].

 

 

 

[1] Syarah al-Waraqaat, Abdul Kariim Khudhoir

[2] Catatan atas Syarah al-Mahalliy oleh DR. Hisamuddiin

[3] Taisiir ‘Ilmi Ushul Fiqih, Abdullah Juda’i, hal. 19

[4] Al-‘Uddah fii Ushul Fiqih, Qoodhi Abi Ya’laa, hal. 162

Advertisements

Leave a Comment »

RSS feed for comments on this post. TrackBack URI

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

w

Connecting to %s

Create a free website or blog at WordPress.com.
Entries and comments feeds.

%d bloggers like this: