Hukum Taklifiy – Mahdzhuur

November 6, 2017 at 4:10 pm | Posted in Tulisan Lainnya | Leave a comment

TA’LIQ ‘ALAA MATAN AL-WARAQAAT

Hukum Taklifiy – Mahdzhuur

 

Imamul Haramain berkata :

والمحظور مَا يُثَاب على تَركه ويعاقب على فعله

“dan al-Mahdzhuur adalah apa yang diberikan pahala bagi yang meninggalkannya dan diberikan hukuman bagi yang mengerjakannya”.

***

Ta’liq :

“al-Mahdzhuur” secara bahasa adalah artinya “al-Man’u” (terlarang), sebagaimana Firman-Nya Subhanahu wa Ta’alaa :

وَمَا كَانَ عَطَاءُ رَبِّكَ مَحْظُورًا

“Dan kemurahan Tuhanmu tidak dapat dihalangi” (QS. Al Israa` : 20)[1]. Adapun secara istilah sebagaimana yang didefinisikan oleh Imamul Haromain diatas.

 

Perkataan beliau “apa yang diberikan pahala bagi yang meninggalkannya”, al-‘Alamah Jalaluddin al-Mahalliy menambahkan penggalan kalimat ini dengan satu kata diakhirnya :

ما يثاب على تركه  امتثالاً

““apa yang diberikan pahala bagi yang meninggalkannya, dalam rangka mematuhi larangan syariat”.

Tambahan kata “imtitsaalaan” memberikan arti bahwa tidak semua orang yang meninggalkan yang haram itu diberikan pahala, misalnya ia tidak mengerjakannya karena takut kepada makhluk, atau malu kepada mereka atau karena tidak mampu, maka semua ini tidak diberikan pahala, menurut pendapat mayoritas ulama ushul fiqih, yang diberikan pahala adalah jika ia meninggalkannya kerena ikhlas kepada Allah Subhanahu wa Ta’alaa dalam rangka mematuhi larangan-larangan-Nya[2].

 

Kemudian penggalan pertama definisi diatas, menjelasakan keluarnya cakupan hukum wajib, manduub dan mubah, karena ketiganya  itu tidak diberikan pahala bagi yang meninggalkannya.

Lalu perkataannya “dan diberikan hukuman bagi yang mengerjakannya”, maka ini mengeluarkan cakupan hukum wajib, manduub, mubah dan makruh, karena barangsiapa mengerjakan 4 hukum tersebut, maka ia tidak mendapatkan hukuman[3].

 

Sebagian ulama melengkapi definisi al-Mahdzhuur secara istilah sebagai berikut :

ما طلَبَ الشَّارِعُ الكفَّ عنه على وجهِ الحَتْمِ والإلزامِ، ويثابُ تاركُهُ امتثالاً، ويُعاقبُ فاعلُهُ اختيارًا.

““yaitu apa yang dituntut oleh syariat untuk meninggalkannya dengan pasti, yang diberikan pahala bagi yang mengerjakannya, karena mematuhi larangan dari syariat, dan dihukum bagi yang mengerjakannya karena pilihannya”[4].

 

Contoh amalan yang disepakati akan keharamannya adalah syirik, riba, zina dan lain-lain.

 

Nama lain dari al-Mahdzhuur adalah al-Haram. Sebagian ulama mengatakan bahwa haram adalah lawan dari halal, yakni maksudnya haram adalah sesuatu yang tidak boleh[5].

 

Sebagian ulama Hanafiyyah membedakan antara haram dengan makruh lit tahriim. Jika dalil larangannya qoth’i maka ini disebut haram, namun jika dalilnya zhonni, maka ini disebut makruh lit tahriim, sebagaimana mereka juga membagi fardhu dengan wajib, yang telah disinggung sebelumnya[6].

[1] Syarah al-Waraqaat, Abdullah al-Fauzaan, hal. 28

[2] Syarah al-Waraqaat, al-Mahalliy, hal. 74

[3]  opcit

[4] Taisiir ‘Ilmi Ushul Fiqih, Abdullah Juda’i, hal. 35

[5] Syarah al-Waraqaat, Abdul Kariim al-Khudhoir

[6] Taisiir ‘Ilmi Ushul Fiqih, Abdullah Juda’i, hal. 42

Advertisements

Leave a Comment »

RSS feed for comments on this post. TrackBack URI

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s

Blog at WordPress.com.
Entries and comments feeds.

%d bloggers like this: