Bab 9D Li’an

November 12, 2017 at 12:29 am | Posted in fiqih | Leave a comment

KITAB 9 TALAK

Bab 9D Li’an

 

إذا رمى الرجل امرأته بالزنا، ولم تقرّ بذلك، ولا رجع عن رميه؛ لاعنها، فيشهد الرجل أربع شهادات بالله إنه لمن الصادقين، والخامسة أن لعنة الله عليه إن كان من الكاذبين، ثم تشهد المرأة أربع شهادات بالله إنه لمن الكاذبين، والخامسة أنّ غضب الله عليها إن كان من الصادقين، وإذا كانت حاملاً أو كانت قد وضعت؛ أدخل نفي الولد في أيمانه، ويفرِّق الحاكم بينهما، وتحرم عليه أبداً، ويُلحق الولد بأمه فقط، ومن رماها به، فهو قاذف.

“jika seorang suami menuduh istrinya dengan zina[1], namun tidak ada yang memperkuatnya dan sang suami tidak mau mencabut tuduhannya begitu juga istrinya, maka sang suami bersaksi dengan empat kali persaksian dengan bersumpah demi Allah bahwa ia adalah termasuk orang yang jujur dan pada sumpahnya yang kelima ia mengatakan laknat Allah ditimpakan atasnya jika ia termasuk orang yang berdusta, kemudian sang istri bersumpah dengan empat kali sumpah, “demi Allah bahwa suaminya adalah termasuk orang yang berdusta” dan yang sumpahnya yang kelima, ia mengatakan, kemurkaan Allah ditimpakan kepadanya jika ia termasuk orang yang berdusta[2].

Jika istri dalam kondisi hamil atau ia telah dihamili, maka suami memasukkan dalam sumpahnya penafian anak yang dikandungnya, kemudian hakim memisahkan mereka berdua dan mengharamkannya selama-lamanya, lalu anak yang lahir diikutkan kepada ibunya saja. Orang yang masih menuduh (ibunya dan anaknya), maka dianggap sebagai Qoodzif[3].

[1] Li’an adalah sumpah suami yang menuduh istrinya berbuat zina, sedangkan dia tidak mampu mendatangkan empat orang saksi (Hukum perkawinan Islam di Indonesia, hal. 288)

[2] Berdasarkan Firman Allah Subhanaahu wa Ta’aalaa dalam surat An Nuur ayat 6 – 9 :

وَالَّذِينَ يَرْمُونَ أَزْوَاجَهُمْ وَلَمْ يَكُنْ لَهُمْ شُهَدَاءُ إِلَّا أَنْفُسُهُمْ فَشَهَادَةُ أَحَدِهِمْ أَرْبَعُ شَهَادَاتٍ بِاللَّهِ إِنَّهُ لَمِنَ الصَّادِقِينَ (6) وَالْخَامِسَةُ أَنَّ لَعْنَتَ اللَّهِ عَلَيْهِ إِنْ كَانَ مِنَ الْكَاذِبِينَ (7) وَيَدْرَأُ عَنْهَا الْعَذَابَ أَنْ تَشْهَدَ أَرْبَعَ شَهَادَاتٍ بِاللَّهِ إِنَّهُ لَمِنَ الْكَاذِبِينَ (8) وَالْخَامِسَةَ أَنَّ غَضَبَ اللَّهِ عَلَيْهَا إِنْ كَانَ مِنَ الصَّادِقِينَ (9)

“dan orang-orang yang menuduh istri-istri (berzina), paddahal mereka tidak dapat mendatangkan saksi-saksi kecuali dari mereka sendiri, maka persaksian orang itu ialah empat kali bersumpah karena Allah, sesungguhnya ia adalah benar.

(dan sumpah) kali yang kelima, bahwa laknat Allah atasnya, jika dia termasuk kepada orang yang berdusta.

Istrinya itu terhindar dari hukuman oleh sumpahnya empat kali atas nama Allah bahwa sesungguhnya suaminya itu termasuk orang yang berdusta.

Dan sumpah yang kelima bahwa kemarahan Allah atasnya bila suaminya itu termasuk orang yang benar.

[3] Berdasarkan sebuah hadits yang panjang terkait kisah Hilaal radhiyallahu anhu :

«أَنَّ رَجُلًا لَاعَنَ امْرَأَتَهُ عَلَى عَهْدِ رَسُولِ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ، فَفَرَّقَ رَسُولُ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ بَيْنَهُمَا وَأَلْحَقَ الْوَلَدَ بِأُمِّهِ»؟

“seorang suami me-li’an istrinya pada masa Rasulullah shalallahu alaihi wa sallam, lalu Beliau pun memisahkan mereka berdua dan mengikutkan anaknya kepada ibunya” (HR. Muslim).

Asal kisah yang panjang diriwayatkan oleh Imam Ahmad dalam “al-Musnad” (no. 2131) dari Ibnu Abbas radhiyallahu anhu tetang li’an yang terjadi antara Hilaal dengan istrinya dan kemudian didalam matan hadits terdapat lafadz :

وَقَضَى أَنْ لَا يُدْعَى وَلَدُهَا لِأَبٍ، وَلَا تُرْمَى هِيَ بِهِ وَلَا يُرْمَى وَلَدُهَا، وَمَنْ رَمَاهَا أَوْ رَمَى وَلَدَهَا، فَعَلَيْهِ الْحَدُّ، وَقَضَى أَنْ لَا بَيْتَ لَهَا عَلَيْهِ، وَلَا قُوتَ مِنْ أَجْلِ أَنَّهُمَا يَتَفَرَّقَانِ مِنْ غَيْرِ طَلَاقٍ، وَلَا مُتَوَفًّى عَنْهَا

“Nabi memutuskan bapaknya tidak boleh mengklaim anaknya dan tidak boleh lagi menuduh istrinya dan anaknya, barangsiapa yang menuduhnya atau menuduh anaknya, maka berhak mendapatkan had (tuduhan palsu –qodzf), dan memutuskan juga bahwa istrinya tidak boleh tinggal serumah dan tidak lagi mendapatkan nafkah, karena keduanya dipisahkan tanpa penceraian dalam kondisi hidup atau mati”. (sanad hadits ini dihasankan oleh asy-Syaikh Syu’aib Arnauth).

 

Advertisements

Leave a Comment »

RSS feed for comments on this post. TrackBack URI

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s

Blog at WordPress.com.
Entries and comments feeds.

%d bloggers like this: