Khobar Ahad

November 14, 2017 at 2:24 pm | Posted in Mustholah Hadits | Leave a comment

TA’LIQ NUKHBATUL FIKAR

Khobar Ahad

 

Al-Hafidz Ibnu Hajar al-Asqolaniy berkata :

وكلها – سوى الأول – آحاد.

وفيها المقبول [وهو ما يجب العمل به عند الجمهور] والمردود لتوقف الاستدلال بها على البحث عن أحوال رواتها دون الأول، وقد يقع فيها ما يفيد العلم النظري بالقرائن على المختار [كأن يخرج الخبر الشيخان في صحيحهما أو يكون مشهورا وله طرق متباينة سالمة من ضعف الرواة والعلل أو يكون مسلسلا بالأئمة الحفاظ المتقنين حيث لا يكون غريبا] .

“semua jenis khobar tersebut, kecuali yang pertama disebut dengan khobar Ahad. Ada yang maqbul (diterima) yaitu wajib diamalkan menurut pendapat mayoritas ulama dan ada yang marduud (ditolak) berdasarkan petunjuk-petunjuk yang ditemukan pada saat melakukan pembahasan tentang kondisi perowinya, tidak dengan jenis yang pertama (yaitu mutawatir).

Ada khobar ahad yang memberikan faedah ilmu nadhoriy dengan adanya indikator-indikator (yang menguatkannya) menurut pendapat yang terpilih, seperti khobar tersebut diriwayatkan oleh Bukhori-Muslim atau khobar tersebut masyhur memiliki jalan yang berbeda-beda yang selamat dari kelemah perowinya dan illal atau khobar tersebut berisi mata ranta para Aimah khufadz yang kokoh yang tidak ada keterasingan padanya”.

***

Ta’liq :

Hadits atau khobar ditinjau dari segi kuantitasnya maka terbagi menjadi dua yaitu : mutawatir dan Ahad. Hadits mutawatir telah kita lewati bersama pembahasannya, adapun hadits Ahad definisi simplenya adalah hadits yang belum sampai ke derajat mutawatir. Hadits Ahad sendiri terbagi menjadi 3 jenis, yaitu : masyhur, aziz dan ghorib yang juga telah kita lewati pembahasannya.

 

Kemudian dari segi validitasnya, maka khobar Ahad terbagi menjadi dua yaitu : maqbul (yang diterima) dan marduud (yang ditolak). Khobar yang maqbul wajib diamalkan menurut pendapat mayoritas ulama, bahkan Imam Syafi’i memiliki pembahasan khusus dalam kitab yang dianggap sebagai kitab Ushul fiqih yang pertama yaitu “ar-Risaalah”, terkait dengan kewajiban menerima khobar Ahad. Diantara dalil yang disampaikan oleh Imam Syafi’i dalam kitabnya tersebut untuk menetapkan bahwa khobar ahad yang maqbul diterima adalah sebuah hadits mutawatir :

نَضَّرَ اللَّهُ عَبْدًا سَمِعَ مَقَالَتِي فَوَعَاهَا، ثُمَّ بَلَّغَهَا عَنِّي

“semoga Allah melihat seorang hamba yang telah mendengar sabdaku, lalu ia menghapalnya dan menyampaikan hadits tersebut dariku” (ini lafadz Ibnu Majah).

 

Perkataan al-Hafidz bahwa khobar ahad yang maqbul wajib diamalkan menurut pendapat mayoritas ulama, maka disini ada isyarat bahwa sebagian orang menolak menggunakan khobar ahad. Itulah madzhab kebanyakan dari ahli kalam, oleh karenanya al-‘Alamah ibnu Baz dalam salah satu fatwanya sangat tegas sekali agar kita menerimah khobar ahad sesuai dengan penjelasan para ulama kita, beliau berkata :

يجب على أهل العلم والإيمان قبول الأحاديث الصحيحة والاحتجاج بها والاعتماد عليها سواء كانت متواترة أو كانت من طريقة الآحاد، ولا يجوز أبداً أن يقال هذا من طريق الآحاد فلا يقبل، كل هذا باطل وخلاف ما أجمع عليه أهل العلم، بل ما صحت به الأخبار عن رسول الله صلى الله عليه وسلم يجب قبوله والأخذ به حسب ما بينه أهل العلم، ولا يجوز الاعتراض على ذلك فيما رآه المتكلمون من تحكيم العقول وما سلكه بعض المتأخرين في هذا الباب تقليداً لأهل الكلام وسيراً على منهاجهم في تحكيم عقولهم الفاسدة في سنة الرسول صلى الله عليه وسلم

“wajib bagi ahli ilmu dan iman untuk menerima hadits-hadits yang shahih dan berhujjah serta berpegang dengannya, sama saja apakah melalui jalan mutawatir atau melalui jalan Ahad, tidak boleh selamanya untuk dikatakan ini dari jalan Ahad tidak usah diterima, maka itu adalah ucapan batil dan menyelisihi apa yang telah disepakati oleh para ulama. akan tetapi apa yang telah sah pengabarannya dari Rasulullah Sholallahu ‘alaihi wa Salaam, maka wajib diterima dan berpegang dengannya, sesuai dengan apa yang dijelakaskan oleh para ulama, tidak boleh berpaling darinya kepada apa yang dikatakan oleh ahli kalam yang berlandaskan pada akalnya saja dan apa yang ditempuh oleh sebagian kalangan kontemporer dalam masalah ini karena bertaklid kepada ahli kalam dan menempuh metode mereka dalam berhukum dengan akal mereka yang rusak terhadap sunah Rasulullah Sholallahu ‘alaihi wa Salaam”.

 

Kemudian khobar marduud adalah jika terdapat cacat pada perowinya setelah dilakukan pembahasan terhadap kondisi sanad pada jalan-jalannya, berbeda dengan hadits mutawatir yang para perowinya sudah pasti jujur dalam membawakan haditsnya.

 

Perkataan beliau “khobar ahad yang memberikan faedah ilmu nadhoriy” ini untuk membedakan dengan khobar mutawatir yang memberikan ilmu yaqiiniy, namun khobar ahad jika sudah terbukti validitasnya, maka ia memberikan faedah ilmu yakin juga berdasarkan gholabutun dzhon (berat sangka). Oleh sebab itu kemudian al-Hafidz mengatakan bahwa tingkat keyakinan untuk menerima khobar ahad akan semakin meningkat, jika ada indikator-indikator yang memperkuatnya, beliau menyebutkan ada 3 qorinah (indikator) :

  1. Hadits ahad tersebut diriwayatkan oleh Imam Bukhori dan Shahihnya dan Imam Muslim dalam Shahihnya juga, hal ini karena spek yang tinggi yang diterapkan oleh kedua Imam tersebut dalam menyeleksi hadits-hadits yang dimasukkan dalam kitab shahih mereka masing-masing, kemudian para ulama telah melakukan penelitian terhadap kedua kitab shahih diatas dan secara global para ulama menerima hadits-hadits yang diriwayatkan oleh mereka berdua. Sehingga adanya pengakuan para ulama dalam menerima keshahihan hadits yang ada dalam Shahihain, memperkuat tingkat validitas khobar ahadnya juga.
  2. Hadits tersebut masyhur yang memiliki jalan-jalan yang berbeda dan masing-masing selamat dari cacat yang dapat mempengaruhi keshahihan hadits. Dengan adanya banyak jalan tersebut, menyebabkan tingkat keberterimaan hadits tersebut otomatis naik juga.
  3. Hadits tersebut mata rantainya terdapat para Aimah Hufadz yang kokoh dan sudah masyhur dalam bidang ilmu hadits. Contohnya adalah hadits yang diriwayatkan oleh Imam Ahmad dalam “al-Musnad” (no. 5862) :

حَدَّثَنَا مُحَمَّدُ بْنُ إِدْرِيسَ الشَّافِعِيُّ، أَخْبَرَنَا مَالِكٌ، عَنْ نَافِعٍ، عَنِ ابْنِ عُمَرَ، أَنَّ رَسُولَ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ: ” لَا يَبِعْ بَعْضُكُمْ  عَلَى بَيْعِ بَعْضٍ “

“telah menceritakan kami Muhammad bin Idris asy-Syaafi’i, telah mengabarkan kepada kami Maalik (bin Anas) dari Naafi’ dari Ibnu Umar Rodhiyallahu ‘anhu bahwa Rasulullah Sholallahu ‘alaihi wa Salaam bersabda : “janganlah sebagian kalian membeli apa yang sudah dibeli oleh kawannya..”.

###

Advertisements

Leave a Comment »

RSS feed for comments on this post. TrackBack URI

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

w

Connecting to %s

Create a free website or blog at WordPress.com.
Entries and comments feeds.

%d bloggers like this: