Al-Ghorobah

November 15, 2017 at 11:30 pm | Posted in Mustholah Hadits | Leave a comment

TA’LIQ NUKHBATUL FIKAR

Al-Ghorobah

 

Al-Hafidz Ibnu Hajar al-Asqolaniy berkata :

ثُمَّ الْغَرَابَةُ: إِمَّا أَنْ تَكُونَ فِي أَصْلِ السَّنَدِ، [طرفه الذي فيه الصحابي من أول التابعى] ، أَوْ لَا.

فالأول: الفرد المطلق.

والثاني: الفرد النسبي، ويقل إطلاق الفرد عليه [كما ان أكثر ما يطلقون الغريب على الفرد النسبي] .

“kemudian al-Ghoroobah : bisa terjadi pada pokok sanadnya (yakni pada ujung sanad yang terdapat sahabat padanya dari Tabi’i pertama) atau bukan.

Yang pertama adalah al-Fardu al-Mutlaq

Dan yang kedua adalah al-Fardu an-Nisbi, ada yang mengatakan jenis ini dimutlakkan kepada al-fardu, (sebagaimana kebanyakan apa yang mereka memutlakan al-ghoriib kepada al-fardu an-nisbiy)”.

***

Ta’liq :

Al-Hafidz Ibnu Hajar sebelumnya telah menyebutkan pembagian khobar ditinjau dari segi kuantitasnya menjadi : mutawatir, masyhur, aziz dan ghorib, kemudian beliau sekarang menyebutkan tentang hadits al-ghoroobah.

 

Dan ghoroobah ini ada dua tempat terjadinya :

  1. Di pokok sanad, yakni ditempat yang sanad berporos atau kembali kepadanya, lalu al-Hafidz menyebutkan bahwa yang dimaksud adalah pada ujung sanad dimana sahabat berada. Bentuknya adalah seorang tabi’i meriwayatkan dari seorang sahabat, dimana tabi’i tersebut tidak ada tabi’in lain yang sama dengan dirinya dalam meriwayatkan sahabat tersebut. Misalnya hadits yang diriwayatkan oleh Imam Bukhori dan Muslim serta selainnya semua sanadnya berporos kepada Abdullah bin Diinar dari Ibnu Umar Rodhiyallahu ‘anhu :

نَهَى النَّبِيُّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ عَنْ بَيْعِ الوَلاَءِ وَعَنْ هِبَتِهِ

“Nabi Sholallahu ‘alaihi wa Salaam melarang dari jual-beli al-Walaa` dan dari menghibahkannya”.

Imam Tirmidzi setelah meriwayatkan hadits ini beliau berkomentar :

هَذَا حَدِيثٌ حَسَنٌ صَحِيحٌ، لَا نَعْرِفُهُ إِلَّا مِنْ حَدِيثِ عَبْدِ اللَّهِ بْنِ دِينَارٍ عَنْ ابْنِ عُمَرَ

“ini adalah hadits hasan shahih, kami tidak mengetahuinya kecuali dari haditsnya Abdullah bin Diinar dari Ibnu Umar Rodhiyallahu ‘anhu.

 

Jenis pertama ini disebut dengan al-Fardu al-Mutlaq dan kata Al Hafidz kitab hadits yang memuat banyak sekali contoh-contoh untuk model hadits al-fardu al-mutlaq adalah kitab musnad al-Bazaar dan mu’jam ausath ath-Thabrani.

 

  1. Tafarud (kesendiriannya) nya terjadi pada tengah-tengah sanad, misalnya lebih dari satu orang tabi’i meriwayatkan dari seorang sahabat, kemudian satu orang perowi tafarud dalam meriwayatkan dari salah seorang tabi’in tersebut. Contohnya : Imam Malik meriwayatkan dari Naafi’ dari Ibnu Umar Rodhiyallahu ‘anhu. Kemudian ada fulani yang meriwayatkan dari Imam Malik yang tidak ada seorang pun yang mendukungnya dalam meriwayatkannya dari Malik, namun sebenarnya para perowi yang meriwayatkan dari Naafi’ jumlahnya sangat banyak, sehingga dalam hal ini ditinjau dari riwayat fulani tersebut adalah ghoroobah, sekalipun aslinya hadits ini bisa saja masyhur atau aziz sebagaimana penjelasan yang telah berlalu.

Jenis yang kedua ini disebut dengan al-Fardu an-Nisbiy.

 

Catatan : dalam pembahasan ini al-Hafidz tidak menganggap tafarudnya seorang sahabat dalam meriwayatkannya dari Nabi Sholallahu ‘alaihi wa Salaam sebagai ghoroobah, padahal jika kita compare dengan pembagian hadits yang telah lalu, maka sebenarnya ini masuk kedalam ghorib. Alasannya adalah karena dalam pembahasan ini dititik beratkan dari segi diterima tidaknya hadits tersebut, dan sahabat tidak perlu dihitung karena mereka semuanya adil, sehingga yang perlu diteliti adalah kondisi perowi dibawah sahabat Rodhiyallahu ‘anhum ajmain.

 

Kemudian sebagian ulama hadits ketika menjelaskan definisi al-fardu an-nisbi maka bisa saja yang dimaksud adalah tafarud dari sisi perowi penduduk suatu negeri, sekalipun aslinya perowinya lebih dari satu, misalnya mereka mengatakan hadits ini adalah tafarudnya perowi penduduk Mekkah atau perowi penduduk Bashrah dan semisalnya.

 

Al-Hafidz dalam kitabnya “Nuzhatun Nadhor” menyebutkan bahwa penggunaan lafadz al-ghoriib dan al-fardu, menurut sebagian ulama itu adalah lafadz yang sinonim, namun sebagian ulama ada yang membedakannya bahwa al-fardu digunakan untuk jenis yang pertama yaitu al-fardu al-mutlaq dan al-ghoriib digunakan untuk jenis yang kedua yaitu al-fardu an-nisbi.

 

#ta’liqnukhbatulfikar_ghorobah

Advertisements

Leave a Comment »

RSS feed for comments on this post. TrackBack URI

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s

Create a free website or blog at WordPress.com.
Entries and comments feeds.

%d bloggers like this: