Hukum Wadh’iy – Shahih

November 15, 2017 at 1:28 pm | Posted in Ushul Fiqih | Leave a comment

TA’LIQ ‘ALAA MATAN AL-WARAQAAT

Hukum Wadh’iy – Shahih

 

Imamul Haramain berkata :

وَالصَّحِيح مَا يتَعَلَّق بِهِ النّفُوذ ويعتد بِهِ

“shahih adalah apa yang terkait dengan berlangsungnya dan terhitungnya hal tersebut”.

***

Ta’liq :

Pada pembahasan yang lalu kita telah menghabiskan permasalahan terkait hukum taklifiy, sekarang kita masuk pada hukum wadh’i dan dalam kitabnya ini, Imamul Haromain hanya menyebutkan dua jenis dari hukum wadh’i yaitu shahih dan batil.

 

“ash-Shahih”, secara bahasa adalah lawan dari “as-Saqim (sakit) yang berarti sehat, adapun secara istilah sebagaimana yang didefinisikan oleh Imamul Haromain. Sebagian ulama menambahkan definisinya dengan :

وَالصَّحِيح مَا يتَعَلَّق بِهِ النّفُوذ ويعتد بِهِ عبادة كان ام عقدا

“shahih adalah apa yang terkait dengan berlangsungnya dan terhitungnya hal tersebut, baik berupa ibadah atau akad (muamalah)[1]”.

Oleh karenanya tidak dianggap sebuah ibadah atau akad, kecuali jika telah memenuhi syarat-syaratnya dan telah hilang darinya penghalang-penghalangnya, contohnya : barangsiapa yang sholat dengan melaksanakan semua syarat dan rukun-rukunnya, serta tidak mengerjakan pembatalnya, maka sholatnya shahih, yaitu terhitung secara syariat, demikian juga orang yang mengadakan akad jual beli secara shahih[2].

 

Apabilah seseorang melaksanakan ibadah dengan shahih, maka telah terbebas darinya beban syariat dan ia layak mendapatkan pahala dari sang pembuat Syariat, begitu juga jika seorang melaksanakan akad muamalah secara shahih, maka konsekuensi dari akad tersebut diterapkan, misalnya seorang laki-laki mengadakan akad nikah dengan seorang wanita, jika akadnya shahih, maka sang wanita yang sebelumnya haram baginya, kini telah dihalalkan untuknya. Nabi Sholallahu ‘alaihi wa Salaam bersabda :

أَحَقُّ الشُّرُوطِ أَنْ تُوفُوا بِهِ مَا اسْتَحْلَلْتُمْ بِهِ الفُرُوجَ

“syarat yang paling berhak untuk ditunaikan adalah apa yang dengannya kalian menghalalkan kemaluan-kemaluan” (Muttafaqun ‘alaih).

###

 

[1] Syarah al-Waraqaat, Abdullah al-Fauzan, hal. 32

[2] Opcit

Advertisements

Leave a Comment »

RSS feed for comments on this post. TrackBack URI

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s

Create a free website or blog at WordPress.com.
Entries and comments feeds.

%d bloggers like this: