Hukum Wadh’iy – Batil

November 16, 2017 at 2:14 pm | Posted in Ushul Fiqih | Leave a comment

TA’LIQ ‘ALAA MATAN AL-WARAQAAT

Hukum Wadh’iy – Batil

 

Imamul Haramain berkata :

وَالْبَاطِل مَا لَا يتَعَلَّق بِهِ النّفُوذ وَلَا يعْتد بِهِ

“Batil adalah apa yang tidak terkait dengan berlangsungnya dan tidak terhitungnya hal tersebut”.

***

Ta’liq :

“al-Batil”, secara bahasa adalah lawan dari “ash-Shahih”, yaitu “fasad (rusak)” yaitu ketika suatu hukum telah gugur maka itu dinamakan batil[1], adapun secara istilah sebagaimana yang didefinisikan oleh Imamul Haromain, yang mengisyaratkan bahwa batil adalah lawan dari shahih pada semua maknanya. Sebagian ulama mendefinisikannya dengan simple yaitu :

ما لا تترتَّبُ عليهِ الآثارُ الشَّرعيَّة

“apa yang tidak berakibat atasnya hukum syariat”[2].

 

Oleh karenanya orang yang sholat tanpa bersuci (dalam keadaan normal), sholatnya tersebut batil dan tidak melepaskan beban syariat darinya, begitu juga tidak sah perceraian dari orang yang dipaksa bercerai karena adanya penghalang yang menghalangi perealisasian perceraian tersebut.

 

Mayoritas ulama tidak membedakan antara istilah al-baatil dengan al-Faasid, keduanya adalah sinonim. Namun sebagian ulama ada yang membedakannya dalam 2 permasalahan berikut :

  1. Dalam pelaksanaan ibadah haji, maka yang disebut al-Faasid adalah ketika orang yang muhrim (sedang ihram) berhubungan suami-istri sebelum tahallul, maka dalam hal ini hajinya fasad, namun tetap wajib menyempurnakannya. Sedangkan batil adalah ketika orang yang berhaji murtad dari islam –na’udzu billahi min dzalik-, maka dalam hal ini batal ihramnya dan ia harus keluar dari tanah haram.
  2. Dalam pernikahan, maka al-Faasid adalah jika para ulama terjadi perbedaan pendapat didalam rusaknya pernikahan, seperti menikah tanpa wali. Adapun batil adalah jika para ulama bersepakat atas rusaknya pernikahan, seperti menikahi 5 wanita secara bersamaan[3].

 

Ada juga sebagian ulama yang mengatakan bahwa ulama Hanafiyyah membedakan antara batil dan fasid hanya dalam masalah muamalah, adapun dalam masalah ibadah, maka sama pengertiannya sebagaimana pendapat jumhur. Penjelasannya :

  1. Batil jika terjadi problem didalam rukun akadnya, seperti jual-beli dengan orang gila, maka karena salah satu rukun jual beli adalah adanya kecakapan penjual/pembeli, sedangkan tadi ia berjual-beli dengan orang yang gila yang secara syariat tidak cakap hukum, sehingga berakibat jual-belinya tidak sah alias batal.
  2. Fasid adalah problem terjadi pada sifat akadnya, bukan pada rukunnya, misalnya nikah tanpa saksi, dimana hadirnya saksi adalah sifat dari akad bukan rukunnya, dalam hal ini maka pernikahannya dikatakan fasid, namun akibat hukum syariat terjadi padanya, misalnya sang mempelai wanita berhak mendapatkan mahar jika telah digauli dan semisalnya[4].

###

 

#alwaraqatbatil

===========

Catatan kaki :

[1] Ta’liq alaa Syarah al-Mahalliy, li DR. Hisamuddin ‘Afaanah

[2] At-Taisiir, Abdullah al-Juda’i

[3] Syarah al-Waraqaat, Abdullah al-Fauzan, hal. 33-34

[4] At-Taisiir, hal. 62

Advertisements

Leave a Comment »

RSS feed for comments on this post. TrackBack URI

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

w

Connecting to %s

Create a free website or blog at WordPress.com.
Entries and comments feeds.

%d bloggers like this: