KEUTAMAAN BANGUN MALAM LALU MEMBACA AL QUR’AN

November 17, 2017 at 11:04 pm | Posted in Hadits | Leave a comment

KEUTAMAAN BANGUN MALAM LALU MEMBACA AL QUR’AN

 

Imam Abu Dawud dalam “Sunannya” (no. 1398) meriwayatkan sebuah hadits dengan sanadnya sebagai berikut :

حَدَّثَنَا أَحْمَدُ بْنُ صَالِحٍ، حَدَّثَنَا ابْنُ وَهْبٍ، أَخْبَرَنَا عَمْرٌو، أَنَّ أَبَا سَوِيَّةَ، حَدَّثَهُ، أَنَّهُ سَمِعَ ابْنَ حُجَيْرَةَ، يُخْبِرُ عَنْ عَبْدِ اللَّهِ بْنِ عَمْرِو بْنِ الْعَاصِ، قَالَ: قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: «مَنْ قَامَ بِعَشْرِ آيَاتٍ لَمْ يُكْتَبْ مِنَ الغَافِلِينَ، وَمَنْ قَامَ بِمِائَةِ آيَةٍ كُتِبَ مِنَ القَانِتِينَ، وَمَنْ قَامَ بِأَلْفِ آيَةٍ كُتِبَ مِنَ المُقَنْطِرِينَ»

“telah menceritakan kepada kami Ahmad bin Shoolih, telah menceritakan kepada kami ibnu Wahab, telah mengabarkan kepada kami ‘Amr, bahwa Abu Sawiyyah telah menceritakan kepadanya bahwa ia mendengar Ibnu Hujairoh mengabarkan hadits dari Abdullah bin ‘Amr bin al-‘Ash Rodhiyallahu ‘anhu beliau berkata, Rasulullah Sholallahu ‘alaihi wa Salaam bersabda :

“barangsiapa yang “qooma” dengan membaca sepuluh ayat, maka ia tidak dicatat sebagai orang yang lalai, barangsiapa yang “qooma” dengan membaca seratus ayat, maka dicatat sebagai orang yang “qoonit”, barangsiapa yang “qooma” dengan membaca seribu ayat, maka dicatat sebagai orang yang mendapat pahala berlimpah ruah”.

Kedudukan sanad :

  • Ahmad bin Shoolih (170 – 248 H), perowi yang tsiqoh tsabat, perowinya Bukhori (at-Taqriib);
  • (Abdullah) bin Wahab (125 – 197 H), perowi yang tsiqoh tsabat ‘Aabid, perowinya Bukhori-Muslim (at-Taqriib);
  • ‘Amr bin al-Haarits (w. <150 H), perowi yang tsiqoh faqiih hafidz, perowinya Bukhori-Muslim (at-Taqriib);
  • Abu Sawiyyah ‘Ubaid bin Sawiyyah (w. 135 H), Imam ibnu Yunus dalam kitabnya “Taarikh” (1/331 no. 899) menilai perowi ini : “وكان فاضلا” (beliau seorang yang utama); penilaian senada juga diberikan oleh Abu Nashr dan Maakuulaa (Tahdzibul Kamaal); al-Hafidz ibnu Hajar dalam “at-Taqriib” menilainya sebagai perowi shoduq;
  • Abdur Rahman bin Hujairoh (w. 83 H atau setelah), perowi yang tsiqoh, perowinya Muslim (at-Taqriib);
  • Abdullah bin ‘Amr Rodhiyallahu ‘anhumaa, shohabi Jaliil.

 

Berdasarkan pemaparan sanad diatas, maka hadits ini bernilai hasan. Asy-Syaikh Syu’aib Arnauth dalam “takhrijnya terhadap Sunan Abu Dawud” (2/545) berkata :

إسناده حسن من أجل أبي سَوية – وهو عُبيد بن سَويّة –

“sanadnya hasan, karena (perowinya yang bernama) Abu Sawiyyah ‘Ubaid bin Sawiyyah”.

Namun yang menarik asy-Syaikh al-Albani dalam “ta’liqnya terhadap Sunan Abu Dawud” menilainya sebagai hadits shahih, tentu menimbulkan penasaran dibenak saya, atas dasar apa beliau menshahihkannya? Jawabannya telah beliau terangkan dalam kitabnya “Shahih Abu Dawud” (5/143-144) bahwa hadits ini memiliki syawahid, beliau berkata :

قلت: وهذا إسناد جيد، رجاله كلهم ثقات رجال “الصحيح “؛ غير أبي سوية – واسمه عُبَيْدُ بن سَوِيَّةَ-، وهو صدوق، كما اعتمدته فما “سلسلة الأحاديث الصحيحة” (642) ، وذكرت هاك من أخرجه غير أبي داود، مع شاهد له من حديث ابن عمر، وآخر من حديث أبي هريرة.

“sanad ini jayyid, para perowinya seluruhnya tsiqot, perowi ash-Shahih, kecuali Abu Sawiyyah yang namanya Ubaid bin Sawiyyah, beliau perowi shoduq, sebagaimana yang aku pegangi dalam “Silsilah al-Ahaadits ash-Shahiihah” (no. 642), dan aku sebutkan disana siapa saja yang meriwayatkan hadits ini selain Abu Dawud, bersama syahid baginya dari haditsnya Ibnu Umar dan yang lainnya dari haditsnya Abu Huroiroh Rodhiyallahu ‘anhumaa” –selesai-.

Hadits ini dishahihkan juga oleh Imam Ibnu Khuzaimah dan Imam Ibnu Hibban.

 

Penjelasan :

  • Sabda Nabi Sholallahu ‘alaihi wa Salaam “man qooma”, maka waktu qooma yang dimaksud menurut keterangan sebagian ulama adalah pada malam hari, hal ini diperkuat dengan lafadz hadits yang diriwayatkan oleh Imam al-Hakim dalam kitabnya “al-Mustadrok” (no. 2041) dari jalan Abu Huroiroh Rodhiyallahu ‘anhu secara marfu’ :

مَنْ قَرَأَ عَشْرَ آيَاتٍ فِي لَيْلَةٍ لَمْ يُكْتَبْ مِنَ الْغَافِلِينَ

“barangsiapa yang membaca sepuluh ayat pada malam hari, maka ia tidak akan dicatat sebagai orang yang lalai” –selesai-.

Setelah meriwayatkan hadits ini, Imam al-Hakim menshahihkannya.

Kemudian pendapat mayoritas ulama bahwa “qooma” yang dimaksud adalah sholat malam, karena telah ma’ruf bahwa sholat tahajjud sering disebut juga dengan “Qiyaamul Lail”.

Al-‘Alamah Ali bin Sulthon (w. 1014 H) dalam kitabnya “Mirqootul Mafaatiih syarah Misykaatul Mashoobih” (3/910) berkata :

مَنْ قَرَأَ عَشْرَ آيَاتٍ فِي صَلَاتِهِ عَلَى التَّدَبُّرِ وَالتَّأَنِّي كَذَا قِيلَ

“barangsiapa yang membaca sepuluh ayat dalam sholatnya dengan mentadaburi dan pelan-pelan membacanya, demikian dikatakan”.

Hal ini juga dikatakan oleh al-‘Alamah al-Muhaddits Abdul Muhsin al-Abaad Hafidzhahullah dalam syarahnya terhadap Sunan Abu Dawud, kata beliau :

وهذا في قيام الليل؛ لأن قوله: (من قام) أي: صلى وقرأ هذا المقدار من الآيات.

“ini adalah pada saat sholat malam, karena sabdanya “man qooma” yaitu sholat dan membaca sejumlah ayat (sebagaimana dalam hadits)” –selesai-.

Kemudian asy-Syaikh Ali bin Sulthon menyebutkan beberapa pendapat ulama bahwa bacaan tadi baik dibaca dalam 2 rokaat sholat atau lebih, kemudian beliau menukil pendapat Al Hafidz Ibnu Hajar yang mengatakan bahwa dzhohirnya ayat tersebut adalah diluar hitungan surat Al Fatihah, walaupun ada ulama juga yang mengatakan surat Al Fatihah juga termasuk.

 

Namun asy-Syaikh Ali juga menukil second opinion bahwa yang dimaksud dengan “man qooma” adalah orang yang bangun tidur pada malam hari lalu membaca ayat sejumlah yang disebutkan dalam hadits, beliau berkata :

وَفِي الْأَزْهَارِ يُحْتَمُلُ مَنْ قَامَ وَقَرَأَ وَإِنْ لَمْ يُصِلِّ

“dalam al-Azhar mungkin juga yang dimaksud dengan “man qooma” adalah ia membaca Al Qur’an, sekalipun tidak sholat” –selesai-.

 

Second opinion ini bisa jadi tidak meleset juga dari kebenaran karena dikuatkan oleh perbuatan Nabi Sholallahu ‘alaihi wa Salaam sebagaimana yang diriwayatkan shohabi Jaliil Abdullah bin Abbas Rodhiyallahu ‘anhumaa dalam Shahihain :

اسْتَيْقَظَ رَسُوْلُ اللهِ صلى الله عليه و سلم فَجَلَسَ يَمْسَحُ النَّوْمَ عَنْ وَجْهِهِ بَيَدِهِ ثُمَّ قَرَأَ اَلْعَشْرَ اْلآيَاتِ اْلخَوَاتِمَ مِنْ سُوْرَةِ آلِ عَمْرَانَ

“Rosulullah Shallallahu alaihi wa sallam bangun lalu duduk seraya mengusap bekas tidur dari wajahnya dengan tangannya. Kemudian membaca 10 ayat terakhir dari surat Ali Imran…”.

Walhamdulillah.

  • Sabda Beliau “min al-Qonitiin”, (termasuk menjadi orang-orang yang qoonit) maknanya sebagaimana dikatakan oleh Imam ath-Thiibiy :

مِنَ الَّذِينَ قَامُوا بِأَمْرِ اللَّهِ وَلَزِمُوا طَاعَتَهُ وَخَضَعُوا لَهُ

“termasuk menjadi orang-orang yang menegakkan perintah Allah, istiqomah dalam mentaatinya dan tunduk patuh kepada Allah”.

  • Sabda Beliau “minal Munqothoriin”, maknanya sebagaimana dikatakan oleh asy-Syaikh Ali bin Sulthon :

مِنَ الْمُكْثِرِينَ مِنَ الْأَجْرِ

“termasuk orang yang mendapatkan pahala yang sangat banyak”.

Senada dengan beliau, asy-Syaikh Abdul Muhsin al-‘Abaad juga berkata :

الذين يحصلون على الأجر العظيم، والأجور الكبيرة الواسعة

“yaitu orang-orang yang mendapatkan pahala yang sangat agung, pahalanya sangat banyak dan amat luas”.

 

Akhirnya, semoga kita semua termasuk orang yang mengamalkan hadits diatas, seminim-minimnya tidak dicap sebagai orang yang lalai. Aamiin.

 

Advertisements

Leave a Comment »

RSS feed for comments on this post. TrackBack URI

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s

Create a free website or blog at WordPress.com.
Entries and comments feeds.

%d bloggers like this: