BACAAN I’TIDAL “MIL U” ATAU “MIL A”

November 21, 2017 at 3:09 pm | Posted in fiqih, Hadits | Leave a comment

BACAAN I’TIDAL “MIL`U” ATAU “MIL`A”

 

Telah masyhur dzikir ketika I’tidal yaitu :

للَّهُمَّ رَبَّنَا لَكَ الْحَمْدُ مِلْءَ السَّمَوَاتِ وَمِلْءَ الأَرْضِ وَمِلْءَ مَا شِئْتَ مِنْ شَىْءٍ بَعْدُ أَهْلَ الثَّنَاءِ وَالْمَجْدِ لاَ مَانِعَ لِمَا أَعْطَيْتَ وَلاَ مُعْطِىَ لِمَا مَنَعْتَ وَلاَ يَنْفَعُ ذَا الْجَدِّ مِنْكَ الْجَدُّ

“Allahumma robbanaa lakal hamdu mil-assamawaati wa mil-al ardhi, wa mil-a maa syi’ta min syai-in ba’du, ahlats tsanaa-i wal majdi, laa maani’a limaa a’thoita, wa laa mu’thiya lima mana’ta, wa laa yanfa’u dzal jaddi minkal jaddu

artinya: “Ya Allah, Rabb kami, bagi-Mu segala puji sepenuh langit dan sepenuh bumi, sepenuh apa yang Engkau kehendaki setelah itu. Wahai Tuhan yang layak dipuji dan diagungkan. Tidak ada yang dapat menghalangi apa yang Engkau berikan dan tidak ada pula yang dapat memberi apa yang Engkau halangi, tidak bermanfaat kekayaan bagi orang yang memiliinya, hanyalah dari-Mu kekayaan itu” (HR. Muslim no. 471).

Sebelum masalah bacaan “مِلْءَ” maka ada juga pembahasan terkait masalah apakah Rabbanaa lakal hamdu (tanpa wawu) atau Rabbanaa wa lakal hamdu (dengan wawu)? Jawabanya, silakan pilih salah satu, dalam riwayat Imam Bukhori ada lafadz yang menggunakan tambahan wawu :

رَبَّنَا وَلَكَ الحَمْدُ

“Ya Raab kami dan bagimu segala puji” (HR. Bukhori no. 689).

 

Sedangkan dalam contoh hadits dalam riwayat Muslim tanpa huruf wawu, menurut para ulama, yang mana dibaca tidak ada masalah. Al Hafidz Ibnu Hajar dalam “Fathul Bari” (2/282) berkata :

كَذَا ثَبَتَ زِيَادَةُ الْوَاوِ فِي طُرُقٍ كَثِيرَةٍ وَفِي بَعْضِهَا كَمَا فِي الْبَابِ الَّذِي يَلِيهِ بِحَذْفِهَا قَالَ النَّوَوِيُّ الْمُخْتَارُ لَا تَرْجِيح لأَحَدهمَا على الآخر وَقَالَ بن دَقِيقِ الْعِيدِ كَأَنَّ إِثْبَاتَ الْوَاوِ دَالٌّ عَلَى مَعْنًى زَائِدٍ لِأَنَّهُ يَكُونُ التَّقْدِيرُ مَثَلًا رَبَّنَا اسْتَجِبْ وَلَكَ الْحَمْدُ فَيَشْتَمِلُ عَلَى مَعْنَى الدُّعَاءِ وَمَعْنَى الْخَبَرِ انْتَهَى وَهَذَا بِنَاءً عَلَى أَنَّ الْوَاوَ عَاطِفَةٌ

“demikian juga telah tetap tambahan “wawu” pada riwayat yang sangat banyak dan sebagian riwayat, sebagaimana di bab selanjutnya tidak ada huruf “wawu”. Imam Nawawi berpendapat yang terpilih adalah tidak mengunggulkan salah satunya, sedangkan Imam Ibnu Daqiiqil ‘Ied berpendapat seolah-olah penetapan “wawu” menunjukkan atas makna tambahan yang diperkirakan maknanya adalah : “wahai Rabb kami kabulkanlah (doa kami) dan bagi-Mu segala puji”, maka mencakup padanya makna doa dan makna khobar –selesai-.

(Al Hafidz mengomentari) hal ini dengan asumsi bahwa huruf “wawu” tersebut adalah sebagai kata sambung”.

 

Kemudian “مِلْءَ” sebagaimana yang akan kita bahas sebagai judul bab, maka “mim” nya dikasroh, “laam” nya disukun dan “hamzah” nya ada dua bacaan, dibaca nashob dan dibaca marfu’. Dalam riwayat Muslim diatas dengan memfathahkan “hamzah” nya karena dibaca nashob, sedangkan dalam riwayat lain, misalnya dalam riwayat Sunan Abu Dawud, dibaca dengan dhomah karena marfu’ :

سَمِعَ اللَّهُ لِمَنْ حَمِدَهُ، اللَّهُمَّ رَبَّنَا لَكَ الْحَمْدُ مِلْءُ السَّمَوَاتِ وَمِلْءُ الْأَرْضِ، وَمِلْءُ مَا شِئْتَ مِنْ شَيْءٍ بَعْدُ

 

Lantas bagaimana cara membaca yang benar?, jawabannya sebagaimana dalam kasus tambahan “wawu”, artinya boleh dibaca salah satunya. Al-‘Alamah Muhammad bin Ali bin Adam dalam kitabnya “Daakhirotul Uqbaa fii Syarhil Mujtabaa (Sunan Nasa`i)” (13/201-202) berkata :

وهو منصوب على الحال، أي مالئا، وتقديره لو كان جسما لملأ ذلك، قاله النووي رحمه الله تعالى  قال الجامع عفا الله عنه: نصب “ملء” على أنه صفة لمصدر محذوف، أي حمدا ملء، أو مفعول لفعل محذوف، أي أعني، ورفعه على أنه صفة لـ”الحمدُ”، أو خبر لمحذوف، أي هو.

“yaitu manshub sebagai “haal” maknanya adalah “maali`aan” (dalam kondisi penuh), perkiraannya adalah, seandainya pujian itu berupa sebuah badan, maka ia akan memenuhi langit dan bumi. Imam Nawawi berkata  : “dibaca nashob “mil`a” sebagai sifat untuk mashdar makhdzuuf (yang disembunyikan) yaitu “hamdaan mil`a” (pujian yang penuh), atau sebagai ma’ful (obyek) untuk fi’il makdzhuuf, yaitu “a’niy mil`a” (yaitu penuh). Dan dibaca rofa’ sebagai sifat untuk “al-Hamdu” (takdirnya pujian yang penuh) atau sebagai khobar untuk (mubtada’) yang disembunyikan, takdinya “huwa mil`u” (ia itu sepenuh)” –selesai-.

 

Sekalipun memang yang masyhur adalah dibaca dengan nashob sebagaimana dikatakan oleh al-‘Alamah Mubarokfuriy. Begitu juga ini dikatakan oleh Imam Nawawi, yang dinukil oleh Imam al-Albani dalam kitabnya “Ashlu Sifat Sholat Nabi” (2/690) :

بكسر الميم، وبنصب الهمزة بعد اللام ورفعها. واختلف في الراجح منهما، والأشهر النصب. كما قال النووي

“dengan mengkasrohkan “mim” nya dan menashobkan “hamzah” nya setelah “laam” dan bisa dibaca juga dengan rofa’, para ulama berbeda pendapat mana yang rajih, namun yang masyhur adalah dengan nashob, sebagaimana dikatakan oleh Imam Nawawi”.

 

Advertisements

Leave a Comment »

RSS feed for comments on this post. TrackBack URI

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s

Create a free website or blog at WordPress.com.
Entries and comments feeds.

%d bloggers like this: