Pembagian Ilmu

November 29, 2017 at 2:14 pm | Posted in Ushul Fiqih | Leave a comment

TA’LIQ ‘ALAA MATAN AL-WARAQAAT

Pembagian Ilmu

 

Imamul Haramain berkata :

وَالْعلم الضَّرُورِيّ مَا لم يَقع عَن نظر واستدلال كَالْعلمِ الْوَاقِع بِإِحْدَى الْحَواس الْخمس الَّتِي هِيَ السّمع وَالْبَصَر والشم والذوق واللمس أَو التَّوَاتُر

وَأما الْعلم المكتسب فَهُوَ الْمَوْقُوف على النّظر وَالِاسْتِدْلَال وَالنَّظَر هُوَ الْفِكر فِي حَال المنظور فِيهِ وَالِاسْتِدْلَال طلب الدَّلِيل وَالدَّلِيل هُوَ المرشد إِلَى الْمَطْلُوب لِأَنَّهُ عَلامَة عَلَيْهِ

“Ilmu dhoruri adalah apa yang tidak perlu untuk mendapatkannya butuh kepada penelitian dan pendalilan, seperti ilmu yang didapatkan oleh salah satu panca indera, yaitu : pendengaran, penglihatan, penciuman, rasa dan persentuhan atau ilmu yang didapatkan secara mutawatir.

Adapun ilmu al-muktasab yaitu untuk mendapatkannya perlu kepada penelitian dan pendalilan. Peneliatian adalah perenungan terhadap kondisi yang dilihat padanya, sedangkan pendalilan adalah mencari dalil, yang dimaksud dengan dalil adalah petunjuk kepada sesuatu yang dicari, karena ia merupakan pertanda atasnya”.

***

 

Ta’liq :

Dalam salah satu naskah yang saya jadikan rujukan perkataan mualif “وَأما الْعلم المكتسب فَهُوَ الْمَوْقُوف على النّظر” kalimatnya adalah “ وَأما الْعلم المكتسب فَهُوَ مَا وَقَعَ عَن نظر [1].

Mualif secara garis besar membagi ilmu menjadi dua macam yaitu :

  1. Ilmu dhoruri

Yaitu ilmu yang didapatkan tanpa perlu penelitian dan pendalilan, karena bisa dirasakan oleh panca indera, seperti : Allah adalah tuhan yang berhak disembah, selain Allah, jika disembah maka itu disembah dengan batil, Muhammad adalah Rasulullah, dan semisalnya.

Atau bisa juga karena beritanya mutawatir yakni diriwayatkan oleh sejumlah orang yang banyak yang sangat mustahil mereka sepakat berdusta, seperti ilmu tentang adanya sebuah negeri melalui berita mutawatir, yang pada zaman dahulu mungkin belum dikenal negeri tersebut.

  1. Ilmu al-muktasab atau istilah lain ilmu nadhoriy

Yaitu ilmu ini dihasilkan setelah melalui penelitian atau pendalilan. Penggunaan lafadz “an-Nadhor” disini yang kalau diartikan secara leterleuck adalah melihat, namun bukan ini yang dimaksud tapi lebih umum dari itu yakni pengamatan untuk mengetahui hukum-hukum syariat dan beristimbat dari dalil-dalil yang didapatkan. Tentu dibutuhkan kompetensi tertentu untuk bisa melakukan pengamatan, sehingga nantinya bisa mengambil kesimpulan hukum dari dalil-dalil yang ditemukannya.

Contoh ilmu nadhori seperti tentang ilmu wajibnya niat dalam sholat.

 

Insya Allah pada pembahasan selanjutnya yang tidak pernah absen sebagai salah satu tema pokok dalam ilmu ushul fiqih adalah terkait jenis-jenis dalil yang dapat memberikan petunjuk kepada mengetahui hukum-hukum syariat.

 

#waraqaat_jenisilmu

 

[1] Syarah al-Waraqaat, Abdullah al-Fauzan; al-anjam az-Zaahiroot, li Syamsuddin al-mardiini; dll

Advertisements

Leave a Comment »

RSS feed for comments on this post. TrackBack URI

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s

Blog at WordPress.com.
Entries and comments feeds.

%d bloggers like this: