DZHON DAN SYAK

December 5, 2017 at 2:36 pm | Posted in Ushul Fiqih | Leave a comment

TA’LIQ ‘ALAA MATAN AL-WARAQAAT

Dzhon dan Syak

 

Imamul Haramain berkata :

وَالظَّن تَجْوِيز أَمريْن أَحدهمَا أظهر من الآخر

وَالشَّكّ تَجْوِيز أَمريْن لَا مزية لأَحَدهمَا على الآخر

“dzhon adalah melihat dua perkara dimana salah satunya lebih nampak kuat dibandingkan satunya lagi.

Sedangkan syak adalah melihat dua perkara dan tidak ada yang menguatkan salah satunya dibandingkan satunya lagi”.

***

Ta’liq :

Sebelumnya Imamul Haromain telah menyebutkan diantara tingkatan-tingkatan ilmu yang paling tinggi adalah ilmu, dan ilmu terbagi dua, dhoruri dan nadhori, kemudian lawannya adalah jahil, dimana jahil sendiri terbagi menjadi dua, jahil murokab dan jahil basith. Kemudian dalam matan diatas, mualif menyebutkan tingkatan ilmu lainnya yaitu dzhon dan syak.

 

Dzhon adalah ketika ada dua perkara dan salah satunya lebih unggul dibandingkan dengan satunya lagi, maka yang lebih unggul (roojih) disebut dengan dzhon dan yang tidak unggul (marjuuh) disebut dengan wahm. Seperti misalnya seorang yang thowaf lalu ia berkata : “aku sudah thowaf 4 putaran, namun ada kemungkinan baru 3 putaran”. Kemudian dzhon itu bertingkat-tingkat, yang paling tinggi adalah gholabatud dzhon. Gholabatud dzhon adalah dzhon yang paling kuat, oleh sebab itu sebagian dzhon adalah lebih kuat dari sebagiannya yang lain. Menurut para ulama dzhon dan gholabatud dzhon menduduki posisi yakin, oleh sebab itu hukum-hukum syariat boleh dibangun diatasnya[1].

 

Adapun syak, secara bahasa adalah lawan dari yakin, namun dalam pengertian ini yang dimaksud syak adalah jika kedua perkara tersebut bagi seseorang tidak ada yang menguatkan salah satunya alias seimbang.

 

Catatan :

Adapun terkait larangan beramal dengan dzhon, maka yang dimaksud adalah dzhon yang marjuuh yang tidak tegak padanya dalil, namun itu hanya sekedar memperturutkan hawa nafsu dan menyelisihi kebenaran :

وَمَا لَهُمْ بِهِ مِنْ عِلْمٍ إِنْ يَتَّبِعُونَ إِلَّا الظَّنَّ وَإِنَّ الظَّنَّ لَا يُغْنِي مِنَ الْحَقِّ شَيْئًا

“Dan mereka tidak mempunyai sesuatu pengetahuanpun tentang itu. Mereka tidak lain hanyalah mengikuti persangkaan sedang sesungguhnya persangkaan itu tiada berfaedah sedikitpun terhadap kebenaran” (QS. An Najm : 28)

إِنْ يَتَّبِعُونَ إِلَّا الظَّنَّ وَمَا تَهْوَى الْأَنْفُسُ وَلَقَدْ جَاءَهُمْ مِنْ رَبِّهِمُ الْهُدَى

“Mereka tidak lain hanyalah mengikuti sangkaan-sangkaan, dan apa yang diingini oleh hawa nafsu mereka dan sesungguhnya telah datang petunjuk kepada mereka dari Tuhan mereka” (QS. An Najm : 23)[2].

[1] Syarah al-Waraqaat, Abdullah al-Fauzaan, hal. 40-41

[2] Idem, hal. 42

Advertisements

Leave a Comment »

RSS feed for comments on this post. TrackBack URI

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s

Blog at WordPress.com.
Entries and comments feeds.

%d bloggers like this: