Pembagian al-Kalam berdasarkan Susunannya

December 21, 2017 at 3:32 pm | Posted in Ushul Fiqih | Leave a comment

TA’LIQ ‘ALAA MATAN AL-WARAQAAT

Pembagian al-Kalam berdasarkan Susunannya

 

Imamul Haramain berkata :

فَأَما أَقسَام الْكَلَام فَأَقل مَا يتركب مِنْهُ الْكَلَام اسمان أَو اسْم وَفعل أَو فعل وحرف أَو اسْم وحرف

“adapun pembagian al-Kalam, maka minimalnya kalam itu tersusun dari dua isim, atau isim dan fi’il, atau fi’il dan huruf, atau isim dan huruf”.

Ta’liq :

“al-Kalam” secara bahasa adalah “al-Aswaat al-Mufiidah”[1]. Adapun menurut ulama nahwu, sebagaimana dikatakan oleh al-‘Alamah Ibnu ‘Aqiil adalah :

عبارة عن اللفظ المفيد فائدة يحسن السكوت عليها

“ungkapan dari lafadz yang berfaedah, yang mana faedahnya dapat dirasakan ketika berhentinya pembicaraan”[2].

 

Kemudian Kalam itu minimal terdiri dari 2 (dua) kata, sebagaimana dikatakan oleh Imamul Haromain dengan formulasi sebagai berikut :

  1. Isim + isim, misalnya : “زيد قائم” (Zaid itu orang yang berdiri)
  2. Isim + fi’il, misalnya : “قام زيد” (Zaid telah berdiri)
  3. Fi’il + huruf, misalnya : “ما قام” (dia tidak berdiri)
  4. Isim + huruf, misalnya : “يا زيد” (wahai Zaid)

Untuk point nomor 3 dan 4, mayoritas ulama nahwu tidak menganggapnya sebagai kalam, yakni kalam tidak bisa tersusun dari fi’il dan huruf atau isim dan huruf[3].

 

Imamul Haromain dianggap oleh sebagian ulama sebagai orang yang pertama kali membuat perkara baru dalam ilmu ushul fiqih dengan memasukkan ilmu Kalam kedalam pembahasan ushul Fiqih, padahal Imamnya dalam Fiqih, yakni Imam Muhammad bin Idris Syafi’I, ketika membahas ushul fiqih tidak menyinggung ilmu Kalam, bahkan beliau terkenal keras dalam memperingatkan akan kerusakan Ilmu Kalam[4].

 

Terdapat sebuah kitab yang tidak terlalu tebal, karya asy-Syaikh Sholaah Kantuusy al-‘Adniy yang membahas kritikan kepada ulama-ulama ushul fiqih yang melenceng dari akidah yang shahihah, bukunya berjudul “Akhthoo`u al-Ushuliyyiin fii al-‘Aqiidah”, dengan kata pengantar oleh al-‘Alamah Yahya al-Hajuuriy[5].

 

==========

Catatan Kaki :

[1] Mu’Jam al-Wasiith, juz 2 hal. 796, cet. Daar ad-Da’wah

[2] Syarah Alfiyah, juz 1 hal. 14, cet. Daar at-Turots

[3] Syarah al-Waraqaat, Jalaluddin al-Mahalli, bersama catatan kakinya, (hal. 92)

[4] Menjelang akhir hayatnya, Imamul Haromain menyesal menyibukkan dirinya dengan ilmu kalam, beliau berkata :

يَا أَصْحَابنَا لاَ تَشتغلُوا بِالكَلاَم، فَلَو عَرَفْتُ أَنَّ الكَلاَم يَبلغُ بِي مَا بلغَ مَا اشْتَغَلتُ بِهِ

“wahai sahabat-sahabatku, janganlah kalian menyibukkan diri dengan ilmu kalam(filsafat). Seandainya aku mengetahui bahwa kalam membawaku kepada keadaanku sekarang ini, niscaya aku tidak akan menyibukkan diri dengannya” (Siyar A’laamin Nubalaa` (14/19, cet. Daarul Hadits).

[5] Kitab ini sangat bagus dalam mendudukan permasalahan penyusupan ahli bid’ah terhadap ilmu ushul fiqih, karena bagaimanapun ilmu ushul fiqih sangat erat kaitannya dengan ilmu ushuludin, oleh sebab itu kita perlu mengetahui dimana lubang-lubang yang harus dihindari dalam pembahasan ushul fiqih, agar akidah kita bisa selamat. Kitab ini dicetak oleh Daarul Atsaar, Shon’aa`, Yaman, sebanyak 240 halaman,silakan untuk ditelaah lebih lanjut.

Advertisements

Leave a Comment »

RSS feed for comments on this post. TrackBack URI

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s

Blog at WordPress.com.
Entries and comments feeds.

%d bloggers like this: