January 9, 2018 at 12:14 pm | Posted in Tulisan Lainnya | Leave a comment

Dengan menyebut Nama Allah Yang Maha Pengasih lagi Maha Penyayang
1. Kitab Bersuci

Bab 1   
Terjemahan :
Akhbaronaa Ar Robii’ bin Sulaiman ia berkata, akhbaronaa Imam Syafi’I rohimahulloh beliau berkata : Allah berfirman : {Hai orang-orang yang beriman, apabila kamu hendak mengerjakan shalat, maka basuhlah mukamu dan tanganmu sampai dengan siku, dan sapulah kepalamu dan (basuh) kakimu} (QS. Al Maidah (5) : 6). Ayat ini menjelaskan kepada (kaum Mukminin) yang diajak bicara bahwa cucian mereka hanyalah dengan menggunakan air, kemudian ayat ini juga menjelaskan bahwa mencuci itu dengan air. adalah sesuatu yang dapat dipahami oleh kaum mukminin yang diajak bicara bahwa air yang dimaksud disini adalah air yang Allah ciptakan yang belum dikontaminasi oleh manusia. Air tersebut adalah umum mencakup air hujan, air sungai, air sumur, air telaga, air laut yang sangat asin, semuanya dapat digunakan untuk bersuci baik untuk berwudhu maupun mandi. Dhohirnya Al Qur’an menunjukkan bahwa semua air tersebut suci, termasuk air laut dan selainnya. Telah diriwayatkan dari Nabi tentang air laut yang sesuai dengan dhohir Al Qur’an, namun dalam sanadnya terdapat perowi yang tidak dikenal.

 
Ta’liqiy :
Yang dimaksud oleh Imam Syafi’I adalah bahwa asal dari air yang Allah ciptakan baik yang diturunkan dari langit atau yang dipancarkan diatas muka bumi adalah suci. Hal ini sesuai dengan firman Allah :
p 56 1R oL 8. CL . A   > 28 7D..,>1+.
“dan Kami turunkan dari langit air yang amat bersih” (QS. Al Furqoon (25) : 48).
Dan sabda Nabi  :
tL>”.u &6 rs76/. 1 q 56 1R 9L . D 4 =

“Sesungguhnya air itu suci, tidak ada yang dapat menajisinya”. (HR. Abu Dawud, Tirmidzi dan Nasa’I, dishahihkan oleh Imam Ahmad).
Yang dimaksud oleh Imam Syafi’I bahwa ada hadits yang sesuai kandungannya dengan Ayat diatas adalah hadits tentang air laut, didalam sanadnya terdapat perowi yang tidak beliau kenal yaitu Said bin Salamah dan Al Mughiroh bin Abi Burdah, sebagaimana dijelaskan oleh Imam Baihaqi dalam Sunannya dan Imam Adz-Dzhahabi dalam Talkhisnya terhadap Mustadrok Imam Al Hakim. Riwayat tersebut adalah sebagai berikut yang akan disampaikan oleh Imamunaa Syafi’I

 8 5G+ W`   z     kXT    x yY     :  8 )*  M      H #   –         5w^  – v  8     (“#$ %     ) Q      =    5    / :  Z$    + &  –   @ ^ m7   )*   g   5Z/ &7-   “h    / G    | &   W     H   {  )•  W€ 8  5     5G ”    + &  –   @ ^ m7     Z$  J\   L • gh5 7$  7% – &    gh5(  ~$ L T   8 )  Z    7#8+  J\   ” &   8
Terjemahan :
Imam Syafi’I berkata, Akhbaronaa Malik dari Shofwan bin Saliim dari Sa’id bin Salamah dari keluarga Ibnul Azraq, bahwa Al Mughiroh bin Abi Bardah dari bani Ad Daar mengabarkan, bahwa ia mendengar Abu Huroiroh berkata : ‘seorang laki-laki bertanya kepada Rasulullah . ‘wahai Rasulullah kami biasa mengarungi lautan, bekal air kami sedikit, jika kami gunakan untuk berwudhu, kami akan kehausan, apakah kami dapat berwudhu dengan air laut?. Maka Nabi bersabda : “Laut itu suci airnya dan halal bangkainya”.

 

Ta’liqiy :
Riwayat ini shahih, dishahihkan oleh sejumlah ulama seperti Imam Bukhori sebagaimana diceritakan oleh Imam Tirmidzi, berkata Imam Tirmidzi : saya bertanya

 
kepada Muhammad bin Ismail Al Bukhori tentang hadits ini, Beliau berkata : Hadits Shohih. (Subulus Salam 1/20). Kemudian Imam Tirmidzi sendiri setelah meriwayatkan hadits ini berkata : ‘Ini adalah Hadits Hasan Shohih’. Imam Ibnu Khuzaimah beliau memasukkan hadits ini dalam shohihnya, Imam Ibnu Abdil Bar, Imam Mundziri, Imam Ibnu Mandah, dan Imam Al Baghowi (lihat Talkhis Khabir 1/10).
Adapun dua orang perowi yang dikatakan oleh Imam Syafi’I sebagai perowi yang majhul, berikut adalah biografi kedua perowi tersebut :
1. Sa’id bin Salamah Al Makhzumi dari Bani Al Azroq, ditsiqohkan oleh Imam Ibnu Hibban dalam Ats-Tsiqot (6/364), begitu juga Imam Nasa’I mentsiqohkannya (lihat Tahdizbut Tahzdib no. 67).
2. Al Mughiroh bin Abi Burdah (w. >100 H) ada yang mengatakan namanya Ibnu Abdulloh bin Al Mughiroh bin Abi Burdah ada yang mengatakan lagi namanya adalah Abdulloh bin Al Mughiroh bin Abi Burdah, telah berlalu penilaian Majhul dari Imam Syafi’I, dan yang benar beliau tidak majhul dikarenakan sejumlah rowi tsiqoh meriwayatkannya dan dalam Tarikh Ya’qub bin Sufyan dari Yahya bin Bukair dari Al Laits ia berkata : ‘pada tahun seratus Al Mughiroh bin Abi Burdah berangkat menjadi tentara perang ke Afrika’, Berkata Abdulloh bin Abi Sholih : ‘saya bersama Al Mughiroh pada peperangan di konstatinopel, dan beliau adalah seorang yang banyak shodaqoh, setiap orang yang meminta tidak pernah ditolak, Bahkan Imam Ali bin Madini memastikan bahwa Al Mughiroh bin Abi Burdah dari Bani Abdud Daar mendengar dari Abu Huroiroh dan tidaklah ia mendengar darinya kecuali hadits ini. Imam Abu Dawud pun menilainya : Ma’ruf (dikenal), kemudian beliau juga mendapatkan penilaian tsiqoh dari Imam Nasa’I dan Imam Ibnu Hibban (lihat Tahdzibul kamal serta Tahdzibut Tahdzib).

–   / G z  – ”   w   H7G z  –    5ƒ H #  – – ,/,#   H\- – H ‚   G   = (“#$ %   ) ” W  R d$  J\   W   / „  8 ”    + &  – @ ^ m7  

Terjemahan :
Imam Syafi’I berkata, Akhbaronaa Ibrohim bin Muhammad dari Abdul Aziz bin Umar dari Sa’id bin Tsaubaan dari Abi Hind Al Faroosiy dari Abu Huroiroh dari Nabi Beliau bersabda : “Barangsiapa yang air laut tidak mau digunakan untuk bersuci, maka Allah tidak akan mensucikanya”.

 
Ta’liqiy :
Riwayat didhoifkan oleh Imam Al Albani dalam “Dhoif Jaami’us Shoghiir” (no.
5843).

L 8+ Q/;  ‡ ƒ +  `    8 L 8 )  L 5 + H #B   V +  & $ Y=  5 R Y+ M  † &   … „  8  5 R L T  )F$ (“#$ %     ) H/y  – H ‚     G   =       M   (“#$ %     ) L T  ‰s7( Y   7  +   7       R &  L T   Y  ˆ 8 kE+  ˆ 8 &  gh5 /+ &  )  X $ L T  &   ˆ /    &7-   “h     Š      –   &     –
Terjemahan :
Imam Syafi’I berkata, setiap air itu suci selama tidak bercampur dengan najis. Tidak ada alat yang dapat digunakan untuk bersuci selain air dan debu. (Kesucian ini tidak berbeda) sama saja baik ia air dingin , air salju yang membeku, air (panas) yang dipanaskan atau tidak dipanaskan (secara sengaja), karena air suci dan api juga suci tidak membuat air menjadi najis.
Imam Syafi’I berkata, akhbaronaa Ibrohim bin Muhammad dari Zaid bin Aslam dari Bapaknya bahwa Umar bin Khothob memasak air, lalu mandi dan berwudhu menggunakan air tersebut.

Ta’liqiy :
hadits ini dishahihkan oleh Imam Daruquthni, Al Hafidz Ibnu Hajar dan Imam Al Albani, dengan mempertimbangkan penguat-penguanya. Karena Ibrohim bin Muhammad guru Imam Syafi’I ini, dilemahkan oleh para ulama seperti Imam Malik, Imam Ahmad, Imam Ibnul Mubarok, Imam Ibnu Ma’in, Imam Yahya bin Sa’id Al Qohthon, Imam Nasa’I, Imam Ibnu Hibban, Imam Al Hakim, Imam Daruquthni dan selainya. Namun Imam Syafi’I banyak berhujjah dengan riwayatnya, mungkin beliau beranggapan bahwa celaan ulama jarh wa ta’dil kepadanya adalah disebabkan keyakinan yang ada pada dirinya, karena Ibrohim ini sebagaimana disifati Imam Ahmad sebagai Qodariy, Mu’taziliy dan Jahmiy semua musibah ada padanya. Sedangkan dalam ilmu hadits kemungkinan Imam Syafi’I berpendapat ia seorang yang jujur. Wallohu a’lam.

– H\- M H^ – H ‚   G   = (“#$ %   ) Q    M *  8 Y= ‰ %T  L T  W    Y+ (“#$ %   ) Œ    ‹ 5/ & = :   + ‰ %T  L T       EY  W F/ – H\-    * – k ,   z 

 

Terjemahan :
Imam Syafi’I berkata, aku tidak membenci air Musyamas (yang dipanaskan dengan sinar matahari) kecuali dari sisi kesehatan. Imam Syafi’I berkata, akhbaronaa Ibrohim bin Muhammad dari Shodaqoh bin Abdullah dari Abuz Zubair dari Jaabir bin Abdullah bahwa Umar membenci mandi menggunakan air yang dipanaskan dengan sinar matahari lalu berkata, hal ini dapat menyebabkan penyakit kusta.

Ta’liqiy :
Hadits ini selain berasal dari riwayat mauquf Umar Ibnul Khothob, juga datang secara marfu’ dari Aisyah dan Anas bin Malik . Namun semua jalan-jalannya lemah. Sejumlah ulama melemahkan hadits-hadits berkaitan dengan bab ini seperti Imam Ibnul Jauzi, Imam Nawawi, Imam Al Albani dan selainnya, bahkan Imam Nawawi dalam “Al Majmu” mengatakan bahwa hadits-hadits tentang ini lemah semuanya berdasarkan kesepakatan ahli hadits.
Sebenarnya Imam Syafi’I telah mengisyaratkan kelemahan riwayat ini, karena beliau tidak suka menggunakan air Musyamas bukan karena hadits ini, namun karena menurut beliau, air tersebut dapat menyebabkan penyakit, maka beliau memandangnya dari sisi kesehatan. Akan tetapi pendapat yang kuat bahwa air itu tetap suci dan dugaan air tersebut dapat menyebabkan penyakit telah dikonfirmasi oleh Imam Ibnu Qudamah dalam “Al Mughni” dengan perkataannya :
< . AŽ  “2$ pk2ƒDg(. v2.132 1 5?$< >#/. 1 > 6 A1 rQ•  )>G1< > -. “2.F6 +.
“dinukil dari para dokter bahwa mereka tidak mengetahui air musyamas dapat menyebabkan kemudhorotan”.
Begitu juga Imam Nawawi dalam “Al Majmu” mengatakan :
& $ MG   Y & g ’,“   5B $ ‘u & $ L \RY  – •\•/ „+ & G F )^ Y ‰ %T    3G  8 )BJ$
“kesimpulannya bahwa air Musyamas tidak ada dasar pe-makruh-annya dan tidak ada ketetapan dari para dokter sedikit pun, maka yang benar dan pasti bahwa air tersebut tidak makruh”.
Dalam tempat lain masih dalam kitab yang sama, Imam Nawawi berkata :
5G MG   Y &  5  “ + `+ `+ H  + Mw 7  z + v 8 QG38+ :”#$ %  ’d  5G 8+ M g  T V WHZ #  8 3 $
ˆT
“ini adalah yang kami yakini dalam masalah ini berkaitan pendapat Imam syafi’I dimana madzhab Malik, Abu Hanifah, Ahmad dan Dawud (dhohiri) serta Jumhur bahwa air musyamas tidak makruh sebagaimana pendapat yang terpilih”.

 

W B –  8 8g$ ’ ” ‰s7  S= ‰s7      7 + ‰ % + &    ‰s7 Y= ‰s7/ Y+      @ – L T (“#$ %    ) @ –  Z/ Y & Y  5 R  5F/ Y • + Y c +; `  * L 8 v 3 +  5 R  5F/ d$ WkE + ` +  su L 8  8  5 8`N +,*  — 5 v 3 + 3  H  *+ 3  )Bw8 L 8+ 3   su L 8+ ` + L 8 –#• L 8 :&   Z/ S= L 8    3G  8 H  + L 8+ ˜   L 8  Z/ WkE ‘u ‘= M$ hY  Y= L T    & –  Z/ Y 3G  Y  5 R  F/ „ L 8 &78  B – $  u   3  + 3G  8 › “% gh5 /   ™,š d$ 3 + 3   su L 8+ ` + L 8  Z/    )Bw8
Terjemahan :
Al Imam berkata, Air itu tetap diatas kesuciannya, tidaklah ia menjadi najis kecuali jika najis mencampurinya. Sinar matahari dan api bukanlah benda najis. Hanyalah najis sesuatu yang diharamkan (Syariat). Adapun apa yang dimanfaatkan oleh manusia, seperti air pohon, air bunga, air kismis atau yang semisalnya, maka tidak dapat digunakan untuk bersuci. Demikian juga air yang berasal dari jasad manusia yang sudah meninggal dunia, tidak dapat digunakan untuk bersuci. Karena jenis air diatas tidak disebut secara mutlak sebagai air. Hanyalah ia dinamakan air dengan maksud yang disandarkan kepada bendanya, seperti air pohon, air bunga dan semisalnya. Dan air adalah benda yang terpisah, demikian juga jasad dan seperti orang yang menebang suatu bunga kemudian menggunakan zat wanginya, lalu memanfaatkan airnya, maka ini juga tidak dapat digunakan untuk bersuci, karena ini tidak dapat disebut sebagai air mutlak, melainkan harus disebut dengan sesuatu yang disandarkan kepadanya. Maka dikatakan air Kirsyi, air Mufshol (kismis) kedudukannya seperti air bunga, air pohon dan semisalnya. Maka semua itu tidak dapat digunakan untuk berwudhu (bersuci).
Ta’liqiy :
Imam Syafi’I disini membagi air menjadi 3 jenis yaitu :
1. Air Mutlak, yaitu air yang masih tetap dalam penciptaannya, maka ia suci dan mensucikan.
2. Air yang bercampur dengan najis dan merubah salah satu sifat air yaitu bau, warna dan rasanya. Maka air tersebut berubah menjadi najis. Telah datang hadits yang menunjukan hal ini yaitu sabda Beliau :

 
&6 rs76/. 1 9L . D 4 = } . 4. +. 2&>1.- 6&4  @4^. 2&4  ? 56 .    :    6&>7-. 6&4  .”2h. r”22G \D. 1M.8 8?. “<1 > .-.+ KL . D } r”2Z. >\D.2+. ¡  2( . 561 6&1wA#.h.+ • >&.* 8. 6 > 6&.*. > 1 { 2&<>51+. &2 >#1R+. &2ž< @1-. .Q11E .8 4= • tL>”.u { & $2 ?‹6H>J.( ¢M. s.7<. • &6>51 >+1 • &6 >#1R >+1 • &6ž< . A.X.( D = 4= q 56 1R

“Dari Abu Umamah Al Bahiliy ia berkata, Rasulullah bersabda : “Sesungguhnya air itu suci, tidak ada yang menajiskannya, kecuali jika merubah bau, rasa dan warnanya”. (HR. Ibnu Majah dan didhoifkan oleh Imam Abu Hatim)
Dalam riwayat Baihaqi, Nabi bersabda : “Air itu suci, kecuali jika berubah bau, rasa dan warnanya dengan najis yang jatuh kepadanya”.
Imam Shon’ani dalam “Subulus Salam” mengomentari hadits ini dengan perkataannya :
. 4. .+ 2&>1.- 6&4  @4^. r”<\A7  > .- l+>. 6/ • p <s.  1 &6>51 +1> &6ž< >+1 CL . D 6 >#1R . A.X.( 1;= 6&A1 > 28 •D  .8 : 0″2#2$ A%    .+ 1 CL 7D•2.> 2 2M./ +<. 6¤ 2#>Ž(. 6` . 6 D +. . &2w 2#>Ž(. @1-. 1 5?ƒrHJ6. D .I1wA( : 0™<+5A7.    .+ . 6&1D•28 n/2HJD. ?)>G1 •<\D•6/ 1 ¢&>*.+ > 28 ”    . . 2 DF6J< < >51ZD @1-. KL . 16#D  2 >s6/ >H1 ?.` ./r,  W23G. > 2F1+. • 1M.- .Ž6  ¥D< n/2H. “2$ .•.\1ƒ >H1 6&A<~1$ • n/2HJD. <)>^1 56. $1 pž< +1> p>51 +1> p >#1R &16 c>. AX1.$ M¦. s.. & $2 •>#1. +. 1;= k2•1FD. +. ) 21ZD L9 . D 4 1 @1-. LK . 16#D . . >*1 : ” < 23>76 D 6 > ?`. /r,.  W23G. 1 • &2$ ^>+1. H6. 1 . AX.(. 8. M2. s.. @1-. )? 2AH  56G. ¨6 . >*<~D $1 § ‰<sq.
“Imam Syafi’I berkata : ‘aku tidak berpendapat bahwa air jika berubah rasa, bau dan warnanya (karena najis) itu berubah menjadi najis, berdasarkan hadits dari Nabi karena haditsnya tidak kuat menurut ulama hadits’. Imam Nawawi berkata : ‘Para ulama ahli hadits sepekat atas kedhoifanya’. Yang dimaksud dengan riwayat dhoif adalah riwayat pengecualiannya, bukan asal hadits, karena telah shahih dalam hadits sumur Budhoah, namum tambahan inilah yang disepekati ulama tentang hukumnya (yaitu dhoif)’. Imam Ibnul Mudzir berkata : ‘para ulama sepakat bahwa air yang sedikit atau banyak jika jatuh najis kepadanya, lalu merubah salah satu sifatnya yaitu, rasa, warna atau baunya maka air tersebut najis. Maka ijma ulama adalah dalil atas najisnya air yang berubah salah satu sifatnya, bukan berdasarkan riwayat tambahan ini”.
3. Air yang Muqoyyad (yang terikat), yakni ia tidak disebut nama air, kecuali harus disandarkan kepada sesuatu, seperti air bunga, air buah dan semisalnya. Atau air mutlak yang telah hilang kemutlakannya karena tercampuri dengan benda suci lainnya, kemudian mendominasinya, seperti air kopi, air teh dan semisalnya. Hukumnya air tersebut suci, tapi tidak dapat digunakan untuk bersuci.

Advertisements

Leave a Comment »

RSS feed for comments on this post. TrackBack URI

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

w

Connecting to %s

Blog at WordPress.com.
Entries and comments feeds.

%d bloggers like this: