TAKHRIJ HADITS KEUTAMAAN MENGGUNTING KUKU PADA HARI JUM’AT (Bagian 01)

February 7, 2018 at 3:33 pm | Posted in Hadits | Leave a comment

TAKHRIJ HADITS KEUTAMAAN MENGGUNTING KUKU PADA HARI JUM’AT

 

Para ulama peneliti hadits mengatakan bahwa tidak disebutkan sama sekali dalam kitab-kitab hadits yang dijadikan rujukan utama, yaitu Kutubus Sittah (Shahih Bukhori, Shahih Muslim, Sunan Abu Dawud, Sunan Tirmidzi, Sunan Nasa`i dan Sunan Ibnu Majah) hadits marfu’ yang disandarkan kepada Rasulullah Sholallahu ‘alaihi wa Salaam tentang menggunting kuku pada hari Jum’at.

Memang benar bahwa beberapa kitab hadits menginformasikan kepada kita beberapa riwayat marfu’ terkait tema ini. Berikut telah kami kumpulkan hadits-haditsnya dalam beberapa kitab hadits yang dikategorikan bukan sebagai kitab hadits rujukan utama, berdasarkan penelitian para ulama kita disertai pengujian tingkat validitasnya.

 

  1. Imam Thabrani (w. 360 H) dalam kitabnya “al-Mu’jam al-Ausath” (1/257, cet. Darul Haromain, Kairo (no. Hadits 842)) meriwayatkan dengan sanadnya :

حَدَّثَنَا أَحْمَدُ بْنُ يَحْيَى الْحُلْوَانِيُّ قَالَ: نا عَتِيقُ بْنُ يَعْقُوبَ الزُّبَيْرِيُّ قَالَ: نا إِبْرَاهِيمُ بْنُ قُدَامَةَ، عَنْ أَبِي عَبْدِ اللَّهِ الْأَغَرِّ، عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ،

“….. dari Abi Huroiroh Rodhiyallahu ‘anhu :

أَنَّ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ كَانَ «يُقَلِّمُ أَظْفَارَهُ، ويَقُصُّ شَارِبَهُ، يَوْمَ الْجُمُعَةِ، قَبْلَ أَنْ يَرُوحَ إِلَى الصَّلَاةِ»

Bahwa Rasulullah Sholallahu ‘alaihi wa Salaam biasanya memotong kukunya dan mencukur kumisnya pada hari Jum’at sebelum berangkat sholat Jum’at”.

Takhrij Hadits :

Para perowi diatas semuanya tsiqoh, kecuali Ibrohim bin Qudamah yang dinilai oleh al-Hafidz Ibnu Hajar dalam kitabnya “Lisaanul Mizaan”, bahwa perowi ini tidak dikenal alias dalam bahasa mustholah disebut sebagai perowi Majhul.

 

Imam al-Bazaar (w. 292 H) dalam kitab “Musnadnya” (no. 8291) meriwayatkan juga hadits ini dengan sanad yang bertemu dengan sanadnya Imam Thabari pada perowi yang bernama ‘Atiiq bin Ya’qub dan seterusnya keatas. Kemudian Imam al-Bazaar setelah meriwayatkan hadits ini beliau berkomentar tentang cacat hadits ini pada perowinya yang bernama Ibrohim bin Qudamah :

وهذان الحديثان لا نعلم رواهما، عَن أبي عَبد الله الأغر إلاَّ إبراهيم بن قدامة ولم يتابع عليهما لأن هذين الحديثين لا يرويان عَن أبي هُرَيرة مِنْ وَجْهٍ مِنَ الْوُجُوهِ إلاَّ مِنْ هَذَا الوجه وإبراهيم بن قدامة إذا تفرد بحديث لم يكن حجة لأنه ليس بالمشهور، وَإن كان من أهل المدينة.

“dua hadits ini, kami tidak mengetahui siapa perowi yang meriwayatkan dari Abi Abdillah al-Aghorriy, selain Ibrahim bin Qudaamah, dan ia tidak ada seorang perowi lainnya yang memperkuatnya, karena kedua hadits ini tidak ada yang meriwayatkan dari jalan-jalan yang ada kecuali dari jalannya Ibrohim bin Qudaamah ini dan ia ketika menyendiri dalam meriwayatkan hadits maka tidak dijadikan hujjah, karena tidak masyhur, sekalipun ia termasuk penduduk Madinah” –selesai-.

 

Selain Imam al-Bazaar, Imam Baihaqi dalam kitabnya “Syu’abul Iman” (no. 2508) dan Imam Baghowi dalam kitabnya “Syarhus Sunnah” (no. 3198) juga meriwayatkan hadits ini dengan sanad yang bertemu juga di perowi yang bernama ‘Atiiq diatas.

 

Imam al-Haitsami dalam kitabnya “Majmuz Zawaa`id” (2/170-171) seolah-olah mencoba membela sedikit perowi yang bernama Ibrahim bin Qudaamah yang menjadi sumber kelemahan hadits, tatkala beliau mengomentari hadits ini :

رَوَاهُ الْبَزَّارُ وَالطَّبَرَانِيُّ فِي الْأَوْسَطِ وَفِيهِ إِبْرَاهِيمُ بْنُ قُدَامَةَ قَالَ الْبَزَّارُ: لَيْسَ بِحُجَّةٍ إِذَا تَفَرَّدَ بِحَدِيثٍ وَقَدْ تَفَرَّدَ بِهَذَا قُلْتُ: ذَكَرَهُ ابْنُ حِبَّانَ فِي الثِّقَاتِ.

“diriwayatkan oleh al-Bazzaar dan ath-Thabraani dalam al-Ausath, didalamnya ada perowi yang bernama Ibrohim bin Qudamah. Al-Bazzar berkata : “ia bukanlah hujjah tatkala menyendiri dalam meriwayatkan hadits dan ia telah menyendiri dalam meriwayatkan hadits ini. aku (Imam al-Haitsami-pent.) berkata : “Ibnu Hibban memasukkan Ibrahim bin Qudamaah dalam kitabnya ats-Tsiqoot”.

 

Namun kelemahan hadits dengan sanad ini bertambah yakin tatkala kita mendengarkan keterangan asy-Syaikh Nabiil bin Manshuur al-Kuwaitiy dalam kitabnya yang sangat bagus yang berisi takhrij hadits yang dicantumkan oleh al-Hafidz Ibnu Hajar dalam kitab Fathul Bari-nya, yang berjudul “أنِيسُ السَّاري في تخريج وَتحقيق الأحاديث التي ذكرها الحَافظ ابن حَجر العسقلاني في فَتح البَاري” (6/4212), kitabnya dapat didownload disini : http://waqfeya.com/book.php?bid=8435.

 

Asy-Syaikh Hafidzahullah menemukan dua cacat lagi untuk sanad diatas, yang pertama kata beliau :

واختلف فيه على عتيق بن يعقوب، فرواه بهلول بن إسحاق الأنباري عنه ثنا إبراهيم بن قدامة عن أبي قدامة عن أبي عبد الله الأغر مرسلاً ولم يذكر أبا هريرة.

أخرجه أبو الشيخ في “أخلاق النبي” (ص 256) ومن طريقه البغوي في “شرح السنة” (3198) وفي “الشمائل” (1107)

“terjadi perbedaan juga pada ‘Atiiq bin Ya’quub, dimana Bahluul bin Ishaq al-Anbaariy meriwayatkan dari ‘Atiiq, telah menceritakan kepada kami Ibrohim bin Qudaamah dari Abi Abdillah al-Aghorriy secara mursal, tanpa melalui Abu Huroiroh Rodhiyallahu ‘anhu.

Riwayat ini ditulis oleh Abu asy-Syaikh dalam “Akhlaq an-Nabiy” (hal. 256) dan dari jalan Abu asy-Syaikh ini, Imam Baghowi meriwayatkannya dalam kitabnya “Syahus Sunnah” (no. 3198) dan “asy-Syamaail” (no. 1107)”.

 

Sedangkan cacat yang kedua, kata beliau -barokallahu fiik atas jasa-jasanya dalam mentakhrij hadits- :

واختلف فيه على إبراهيم بن قدامة، فرواه أبو مصعب عنه عن عبد الله بن محمد بن حاطب عن أبيه مرفوعاً.

أخرجه أبو الشيخ (ص 257) وأبو نعيم في “الصحابة” (649)

“terjadi perbedaan pada Ibrahim bin Qudaamah, dimana Abu Mush’ab meriwayatkan dari Ibrahim dari Abdullah bin Muhammad bin Haathib dari Bapaknya secara marfu.

Riwayat ini ditulis oleh Abu asy-Syaikh (hal. 257) dan Abu Nu’aim dalam “Ma’rifat ash-Shohaabah” (no. 649)” –selesai-.

 

Kemudian saya mencoba mencari biografi Abdullah bin Muhammad bin Haathib, dimana Muhammad bin Hathiib Rodhiyallahu ‘anhu adalah salah seorang shohabi jaliil, namun para ulama biografinya hanya menyebut dua anaknya yang meriwayatkan darinya yaitu Ibrahim dan al-Haarits. Asy-Syaikh Abu Ishaq al-Huwaini Hafidzahullah pun tidak berhasil menemukan keterangan tentang diri Abdullah bin Muhammad bin Haathib ini, sehingga bisa saja ini merupakan kelemahan lain selain kelemahan yang sudah ada pada Ibrahim bin Qudaamah. Wallahu a’lam.

 

Kesimpulannya, sanad hadits Abu Huroiroh Rodhiyallahu ‘anhu tentang masalah yang kita bahas ini adalah lemah alias dhoif. Wallahu A’lam.

Advertisements

Leave a Comment »

RSS feed for comments on this post. TrackBack URI

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s

Create a free website or blog at WordPress.com.
Entries and comments feeds.

%d bloggers like this: