TAKHRIJ HADITS DZIKIR PAGI DAN PETANG “RODHITU BILLAH..”

February 9, 2018 at 5:13 pm | Posted in Hadits | Leave a comment

TAKHRIJ HADITS DZIKIR PAGI DAN PETANG “RODHITU BILLAH..”

 

Diantara dzikir pagi dan petang yang disebutkan oleh asy-Syaikh DR. Sa’id bin Ali al-Qohthooniy dalam kitabnya yang sangat terkenal terkait doa dan dzikir, yaitu “Khisnul Muslim” adalah dzikir :

رَضِيتُ بِاللَّهِ رَبًّا وَبِالإِسْلاَمِ دِينًا وَبِمُحَمَّدٍ نَبِيًّا

“aku ridho Allah sebagai Tuhanku, Islam sebagai agamaku dan Muhammad Sholallahu ‘alaihi wa Salaam sebagai Nabiku”.

Yang dibaca sebanyak 3 (tiga) kali tiap pagi dan petang.

 

Namun tentunya untuk menentukan bahwa sebuah doa atau dzikir disyariatkan dibaca, harus berlandaskan dalil yang valid dalam syariat kita. Terkait dzikir yang kita bahas ini, memang para ulama hadits telah meriwayatkannya, diantaranya ditulis dalam kitab yang dijadikan rujukan utama dalam bidang hadits yaitu “Sunan Abu Dawud” (no. 5072), “Sunan Ibnu Majah” (no. 3870) dan “Musnad Ahmad” (no. 18967), serta diriwayatkan oleh para ulama ahli hadits lainnya. Semua sanadnya berporos pada :

أَبُو عَقِيلٍ، عَنْ سَابِقٍ، عَنْ أَبِي سَلَّامٍ، خَادِمِ النَّبِيِّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ، عَنِ النَّبِيِّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ: ” مَا مِنْ مُسْلِمٍ أَوْ إِنْسَانٍ أَوْ عَبْدٍ يَقُولُ حِينَ يُمْسِي وَحِينَ يُصْبِحُ: رَضِيتُ بِاللَّهِ رَبًّا، وَبِالْإِسْلَامِ دِينًا، وَبِمُحَمَّدٍ نَبِيًّا، إِلَّا كَانَ حَقًّا عَلَى اللَّهِ أَنْ يُرْضِيَهُ يَوْمَ الْقِيَامَةِ “

“dari Abu ‘Aqiil, dari Saabiq dari Abi Salaam Rodhiyallahu ‘anhu –pembantu Rasulullah Sholallahu ‘alaihi wa Salaam -, dari Nabi Sholallahu ‘alaihi wa Salaam bahwa Beliau bersabda : “tidaklah seorang Muslim atau seorang manusia atau seorang hamba berkata ketika Petang dan Pagi : “aku ridho Allah sebagai Tuhanku, Islam sebagai agamaku dan Muhammad Sholallahu ‘alaihi wa Salaam sebagai Nabiku”. Melainkan wajib bagi Allah untuk meridhoinya pada hari kiamat” (ini adalah lafadz Ibnu Majah).

 

Dalam lafadz Musnad Ahmad dan selainnya, terdapat tambahan bahwa mengucapkannya sebanyak 3 kali.

 

Abu ‘Aqiil dalam sanad diatas adalah Haasyim bin Bilaal ad-Dimaasyqi, ditsiqohkan oleh Imam Ibnu Ma’in, Imam Ibnu Sa’ad, Imam Ibnu Hibban dan selainnya. Kemudian Saabiq adalah ibnu Naajiyyah, hanya ditsiqohkan oleh Imam Ibnu Hibban, bersama terkenalnya beliau terkait masalah tasaahul (bermudah-mudahan) dalam mentsiqohkan para perowi majhul, oleh sebab itu Al Hafidz Ibnu Hajar hanya memberikan penilaian maqbul untuknya, yang mengindikasikan bahwa perowi ini “layyin” (lunak) haditsnya jika bersendirian didalam meriwayatkan hadits. Adapun Abu Sallaam Rodhiyallahu ‘anhu, beberapa ulama menetapkan persahabatannya dengan Rasulullah Sholallahu ‘alaihi wa Salaam.

 

Berdasarkan keterangan diatas, maka sanad hadits diatas lemah karena cacat yang ada pada Saabiq bin Naajiyyah. Imam al-Albani dalam Tahqiqnya terhadap Sunan Abu Dawud dan Sunan Ibnu Majah menilainya hadits ini dhoif. Namun asy-Syaikh Syu’aib Arnauth dalam “tahqiqnya terhadap Musnad Ahmad” menilai sebagai hadits Shahih lighoirihi, dengan alasan bahwa hadits ini memiliki syawahid (penguat) dari sahabat lain, seperti dari Abu Sa’id al-Khudri Rodhiyallahu ‘anhu yang diriwayatkan oleh Imam Muslim dalam “Shahihnya” (no. 1884) dengan lafadz :

يَا أَبَا سَعِيدٍ، مَنْ رَضِيَ بِاللهِ رَبًّا، وَبِالْإِسْلَامِ دِينًا، وَبِمُحَمَّدٍ نَبِيًّا، وَجَبَتْ لَهُ الْجَنَّةُ

“wahai Abu sa’id, barangsiapa yang ridho Allah sebagai Rabbnya, Islam sebagai agamanya, dan Muhammad Sholallahu ‘alaihi wa Salaam sebagai Nabinya, maka ia berhak masuk surga”.

 

Tentunya kalau kita perhatikan lafadz yang dijadikan penguat untuk hadits yang kita bahas ini, maka lafadz tersebut adalah umum dan yang kita bahas adalah terkait kevalidannya dzikir ini sebagai dzikir yang dibaca pagi dan petang yang masing-masingnya dibaca sebanyak 3 (tiga) kali, dan jika ini yang kita inginkan, maka validitasnya diragukan dengan sebab adanya kelemahan pada salah satu perowi yang menjadi poros dalam meriwayatkan hadits ini.

DR. Sa’id al-Qohthooniy memasukkan hadits ini sebagai bagian dari dzikir pagi dan petang, karena beliau berpegang pada penghasanan yang dinyatakan oleh al-‘Alamah bin Baz Rahimahullah, sebagaimana beliau nukil dalam catatan kaki di kitabnya tersebut :

وحسنه ابن باز في تحفة الأخيار ص 39

“dihasankan oleh ibnu Baz dalam “Tuhfatul Akhyaar” (hal. 39)”.

 

Ketika saya merujuk kepada kitab asy-Syaikh bin Baz tersebut, cetakan “mu’asasah asy-Syaikh bin Baz” ada di halaman 29-30, maka disana asy-Syaikh bin Baz menulis hadits tersebut berasal dari Tsaubaan Rodhiyallahu ‘anhu –pelayan Rasulullah Sholallahu ‘alaihi wa Salaam- dan menyebutkan bahwa haditsnya dikeluarkan oleh Ahmad, Abu Dawud dan Ibnu Majah dengan sanad hasan. Namun wallahu a’lam, barangkali beliau keliru, karena dalam 3 kitab yang beliau sebutkan bahwa semuanya berporos kepada shohabi Abu Sallaam Rodhiyallahu ‘anhu, tidak ada yang menyebutkan namanya Tsaubaan, kemudian beliau juga tidak menyebutkan alasan penghasanannya.

 

Kesimpulan, hadits dengan lafadz dzikir tersebut dibaca pada pagi dan petang sebanyak 3 kali sanadnya lemah, sebagaimana didhoifkan oleh asy-Syaikh al-Albani. Wallahu A’lam

 

 

Advertisements

Leave a Comment »

RSS feed for comments on this post. TrackBack URI

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

w

Connecting to %s

Create a free website or blog at WordPress.com.
Entries and comments feeds.

%d bloggers like this: