TAKHRIJ HADITS KEUTAMAAN MENGGUNTING KUKU PADA HARI JUM’AT – Bagian 03

February 9, 2018 at 2:10 pm | Posted in Hadits | Leave a comment

TAKHRIJ HADITS KEUTAMAAN MENGGUNTING KUKU PADA HARI JUM’AT

 

Imam abu asy-Syaikh al-Asbahaani dalam kitabnya diatas juga meriwayatkan dengan sanadnya (no. 810) :

حَدَّثَنَا ابْنُ أَبِي عَاصِمٍ النَّبِيلُ، نَا الْحَسَنُ بْنُ عَلِيٍّ الْحُلْوَانِيُّ، نَا عَمْرُو بْنُ مُحَمَّدٍ، نَا مُحَمَّدُ بْنُ الْقَاسِمِ الْأَسَدِيُّ، نَا مُحَمَّدُ بْنُ سُلَيْمَانَ الْمَسْمُولِيُّ، نَا عُبَيْدُ اللَّهِ بْنُ سَلَمَةَ بْنِ وَهْرَامَ، عَنْ أَبِيهِ، عَنْ عَبْدِ اللَّهِ بْنِ عَمْرٍو،

“….dari Abdullah bin ‘Amr Rodhiyallahu ‘anhu :

أَنَّ النَّبِيَّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ كَانَ يَأْخُذُ شَارِبَهُ وَأَظْفَارَهُ كُلَّ جُمُعَةٍ

Bahwa Nabi Sholallahu ‘alaihi wa Salaam biasanya memotong kumis dan kukunya setiap hari Jum’at”.

Namun dalam sanad ini, perowinya yang bernama Muhammad bin al-Qoosim al-Asadiy, dicap pendusta oleh Imam Ahmad, Imam Nasa`i dan selainnya, sehingga al-Hafidz menilainya “para ulama telah mencapnya sebagai pendusta”. Kemudian gurunya yaitu Muhammad bin Sulaiman al-Masmuuliy, didhoifkan oleh Imam Abu Hatim dan Imam Nasa`i. Begitu juga gurunya, yaitu Ubaidillah bin Salamah bin Wahraam, tidak ada keterangan jarh maupun ta’dil kepadanya. Kemudian ditambah lagi terjadi keterputusan sanad antara Salamah bin Wahraam dengan Abdullah bin ‘Amr Rodhiyallahu ‘anhu. Oleh sebab itu sanad ini sangat lemah sekali.

 

Akan tetapi saya mendapati mutaba’ah dari jalan lain yang diriwayatkan oleh Imam Ibnu Abi ‘Aashim dalam kitabnya “al-Ahaad wa al-Matsaani” (no. 886) dari jalan :

حَدَّثَنَا يَعْقُوبُ، نا ابْنُ أَبِي فُدَيْكٍ، عَنْ إِبْرَاهِيمَ بْنِ قُدَامَةَ الْجُمَحِيِّ، عَنْ عَبْدِ اللَّهِ بْنِ عَمْرٍو رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ، «أَنَّ النَّبِيَّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ كَانَ يَأْخُذُ مِنْ شَارِبِهِ وَظُفُرِهِ يَوْمَ الْجُمُعَةِ»

Namun sebagaimana kita lihat, didalam sanadnya ada perowi yang bernama Ibrahim bin Qudaamah yang telah lalu pandangan ulama terhadapnya.

 

Awalnya saya menduga Abdullah bin ‘Amr Rodhiyallahu ‘anhu dalam sanad Imam Abu asy-Syaikh adalah Abdullah bin ‘Amr bin Ash Rodhiyallahu ‘anhumaa, seorang shahabi jalil yang sudah masyhur. Namun saya mendapatkan keterangan ketika mendapatkan sanad Imam Ibnu Abi ‘Aashim diatas, maka ternyata Abdullah bin ‘Amr diatas bukanlah anak dari Amr bin al-‘Ash bin Rodhiyallahu ‘anhu yang juga merupakan sahabat Nabi Sholallahu ‘alaihi wa Salaam. Dalam kitab “Taarikh Damasyiq” (31/237), karya Imam ibnu ‘Asaakir (w. 571) yang dimaksud adalah Abdullah bin ‘Amr bin Shofwaan bin Umayyah bin Kholaf al-Jumahiy. Imam ibnu Abdil Baar dalam kitabnya “al-Isti’aab” (3/954) dan Al Hafidz Ibnu Hajar dalam kitabnya “al-Ishoobah” (4/170), menganggapnya sebagai seorang sahabat, lalu menyebutkan hadits diatas sebagai salah satu haditsnya dari riwayatnya Ibnu Qudaamah al-Jumahiy, kemudian Imam ibnu Abdil Bar berkomentar “fiihi nadhor” (sanadnya perlu diteliti lebih lanjut).

 

Oleh sebab itu baik kita anggap Abdullah bin ‘Amr itu adalah ibnu ‘Amr bin al-‘Ash Rodhiyallahu ‘anhumaa, maupun Abdullah bin ‘Amr al-Jumahiy, sama-sama semuanya sanadnya lemah, bahkan yang pertama sanadnya sangat lemah, karena ada perowi pendustanya atau matruk, sedangkan yang kedua ada Ibnu Qudaamah perowi majhul, plus status per-sahabatan Abdullah bin ‘Amr dengan Nabi Sholallahu ‘alaihi wa Salaam masih perlu diteliti lebih lanjut kevalidannya. Wallahu a’lam.

Advertisements

Leave a Comment »

RSS feed for comments on this post. TrackBack URI

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s

Create a free website or blog at WordPress.com.
Entries and comments feeds.

%d bloggers like this: