TAKHRIJ HADITS DZIKIR PAGI DAN PETANG “RODHITU BILLAHI ROBBAA”

February 10, 2018 at 4:23 pm | Posted in Hadits | Leave a comment

TAKHRIJ HADITS DZIKIR PAGI DAN PETANG “RODHITU BILLAHI ROBBAA”

 

Melanjutkan takhrij sebelumnya terkait dzikir diatas yang tertera didalam kutub ushul hadits, Imam al-Albani kemudian menemukan jalan lain yang beliau takhrij dalam “Silsilah Ahaadits ash-Shahihah” (no. 2686). Hadits tersebut kata asy-Syaikh al-Albani Rahimahullah dicantumkan oleh Imam al-Mundziriy dalam kitabnya “at-Targhiib wa at-Tarhiib” (1/229) yang beliau nukil dari kitabnya Imam Thabrani dalam “Mu’jam al-Kabiir” (no. 838) dari jalannya sampai kepada :

نا رِشْدِينُ بْنُ سَعْدٍ، عَنْ حَيِّ بْنِ عَبْدِ اللهِ الْمَعَافِرِيِّ، عَنْ أَبِي عَبْدِ الرَّحْمَنِ الْحُبُلِيِّ، عَنِ الْمُنَيْذِرِ صَاحِبِ رَسُولِ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ – وَكَانَ يَكُونُ بِإِفْرِيقِيَّةَ – قَالَ: سَمِعْتُ رَسُولَ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَقُولُ: ” مَنْ قَالَ إِذَا أَصْبَحَ: رَضِيتُ بِاللهِ رَبًّا، وَبِالْإِسْلَامِ دِينًا، وَبِمُحَمَّدٍ نَبِيًّا، فَأَنَا الزَّعِيمُ لِآخُذَ بِيَدِهِ حَتَّى أُدْخِلَهُ الْجَنَّةَ “

“telah menceritakan kepada kami Risydiin bin Sa’ad dari Hayyi bin Abdillah al-Ma’aafiriy dari Abi Abdir Rakhman al-Hubuliy dari al-Munaidzir Rodhiyallahu ‘anhu –sahabat Rasulullah Sholallahu ‘alaihi wa Salaam-, beliau berasal dari Afrika- beliau berkata : “aku mendengar Rasulullah Sholallahu ‘alaihi wa Salaam bersabda : “barangsiapa ketika pagi mengucapkan, aku ridho Allah sebagai tuhan, Islam sebagai agama, dan Muhammad Sholallahu ‘alaihi wa Salaam sebagai Nabi, maka aku menjamin akan menggandeng tangannya, lalu memasukkannya kedalam surga”.

Imam al-Mundziry mengatakan tentang hadits ini, diriwayatkan oleh ath-Thabrani dengan sanad hasan. Demikian juga yang dikatakan oleh Imam al-Haitsami dalam “Majmuz Zawaidnya” (no. 17005). Namun Al Hafidz Ibnu Hajar mengkritik penghasanan ini, dengan alasan salah satu perowinya yakni Risydiin bin Sa’ad, adalah perowi yang lemah. Oleh sebab itu, asy-Syaikh al-albani awalnya mengaku mengikuti penilaian al-Hafidz, sehingga beliau memasukkan hadits ini kedalam kitabnya “dhoif at-Targhiib”. Kemudian asy-Syaikh menemukan data baru bahwa Risydiin mendapatkan mutaba’ah dari Abdullah bin Wahab –salah satu Aimah yang tsiqoh- yang meriwayatkan juga dari Hayyi bin Abdillah, sebagaimana disebutkan oleh Al Hafidz Ibnu Hajar dalam kitabnya “al-Ishoobah” (no. 8270) tatkala menyebutkan biografi shohabi Jaliil al-Munaidzir Rodhiyallahu ‘anhu :

وتابعه ابن وهب عن حيي، ولكنه لم يسمّه، قال: عن رجل من أصحاب النبيّ صلى اللَّه عليه وآله وسلم. وأخرجه ابن مندة

 “diperkuat oleh ibnu Wahab dari Hayyi, namun tanpa menyebut nama sahabatnya, namun hanya mengatakan dari seorang sahabat Nabi Sholallahu ‘alaihi wa Salaam. Haditsnya dikeluarkan oleh Ibnu Mandah”.

 

Asy-Syaikh al-Albani berkomentar bahwa kemajhulan seorang shohabi tidak merusak keshahihan hadits, karena seluruh shohabat adalah orang yang adil. Sehingga menurut beliau adanya mutaba’ah ini men-tsabitkan hadits diatas.

 

Akan tetapi masih ada catatan yang tersisa, yaitu tentang status perowi Hayyu bin Abdillah. Barangkali Imam al-Albani merasa puas dengan penilaian al-Hafidz Ibnu Hajar dalam “Taqriibut Tahdzib” (no. 1065) yang menilai Hayyu, sebagai perowi shoduq yahimu. Namun kalau kita melihat catatan perowi Hayyu ini dalam kitab biografi lainnya, maka tidak sedikit para Aimah Jarh wa Ta’dil yang melemahkannya, seperti Imam Ahmad yang menilainya sebagai perowi yang hadits-haditsnya mungkar dan Imam Bukhori yang mengatakan tentangnya, “fiihi nadhor”, dan telah maklum dikalangan ulama hadits bahwa lafadz Imam Bukhori seperti itu adalah lafadz jarh yang keras. Pentahqiq kitab “at-Taqriib”, yakni DR. Basyaar ‘Awwaad Ma’ruuf dan asy-Syaikh Syu’aib Arnauth, yang penelitian mereka diterbitkan dengan judul “Tahriir Taqriib at-Tahdziib”, oleh Mu’asasah ar-Risaalah, memberikan penilain untuk perowi Hayyu bin Abdillah, setelah mempertimbangkan plus-minus komentar terhadapnya dengan “dhoif yu’tabaru bih” (lemah, bisa dijadikan penguat). So that, hadits ini tetap lemah, karena kelemahan pada diri Hayyu bin Abdillah. Diantara ulama yang melemahkan sanad hadits ini adalah  asy-Syaikh Thooriq bin ‘Aatif Hijaaziy, dengan alasan kelemahan pada diri Risydiin dan Hayyu.

 

Insya Allah pada kesempatan lain, akan kita paparakan juga riwayat dari para sahabat lain seputar dzikir diatas, berdasarkan takhrij yang telah dilakukan oleh asy-Syaikh Thooriq bin ‘Aathif Hafidzahullah.

 

Advertisements

Leave a Comment »

RSS feed for comments on this post. TrackBack URI

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s

Create a free website or blog at WordPress.com.
Entries and comments feeds.

%d bloggers like this: