MEMAHAMI HADITS YANG PALING SERING KEKENYANGAN ADALAH YANG PALING LAMA MERASAKAN KELAPARAN PADA HARI KIAMAT Bagian 02

February 20, 2018 at 2:49 pm | Posted in Tulisan Lainnya | Leave a comment

MEMAHAMI HADITS YANG PALING SERING KEKENYANGAN ADALAH YANG PALING LAMA MERASAKAN KELAPARAN PADA HARI KIAMAT
Bagian 02

2. Dari shohabi Jaliil Abu Juhaifah Rodhiyallahu ‘anhu. Imam al-Albani menemukan 3 (tiga) jalan sebagai berikut :
A. Diriwayatkan oleh Imam ibnu Abid Dunyaa dalam kitabnya “al-Juu’” (no. 19) dari jalannya sampai kepada :
عَنِ الْوَلِيدِ بْنِ عَمْرِو بْنِ سَاجٍ، عَنْ عَوْنِ بْنِ أَبِي جُحَيْفَةَ، عَنْ أَبِيهِ، قَالَ: أَكَلْتُ خُبْزَ بُرٍّ بِلَحْمِ سَمْنٍ، فَأَتَيْتُ النَّبِيِّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ، فَتَشَجَّأْتُ، فَقَالَ: «اكْفُفْ جُشَاءَكَ، فَإِنَّ أَكْثَرَكُمْ شِبَعًا أَطْوَلُكُمْ جُوعًا يَوْمَ الْقِيَامَةِ» ، قَالَ: فَمَا أَكَلَ أَبُو جُحَيْفَةَ مِلْءَ بَطْنِهِ حَتَّى فَارَقَ الدُّنْيَا
“dari al-Waliid bin ‘Amr bin Saaj, dari ‘Aun bin Abi Juhaifah dari Bapaknya…..”.

Asy-Syaikh al-albani menyebutkan bahwa perowinya yang bernama al-Waliid bin ‘Amr tersebut, didhoifkan oleh Imam ibnu Ma’in, Nasa`i dan selainnya.

Kemudian al-albani Rahimahullah merasa bahwa al-waliid ini dimutaba’ahi oleh Malik bin Mighwal –perowi tsiqoh-, sebagaimana riwayat Imam ibnu Abi Hatim dalam “al-Illal” (5/131-132) dari bapaknya yang menyebutkan hadits dalam kitabnya ‘Amr bin Marzuuq dari Ahmad bin Mighwal dari ‘Aun bin Abi Juhaifah dari Bapaknya dan seterusnya…”.
Imam Abu Hatim menilai sanad ini :
هَذَا حديثٌ باطلٌ، ولم يَبْلُغْني أنَّ عَمْرو بْن مرزوق حَدَّثَ به قَطُّ
“hadits ini batil, belum pernah sampai informasi kepadaku bahwa ‘Amr bin Marzuuq meriwayatkannya sedikit pun”.

B. Melalui jalan Ali bin al-Aqmar dari Abu Juhaifah. Riwayat Ali bin al-Aqmar melalui beberapa jalan sebagai berikut :
• Imam al-Hakim meriwayatkan dalam kitabnya “al-Mustadrok” (No. 7140) dengan penilaian shahih menurutnya dari jalan :
أَخْبَرَنَا مُكْرَمُ بْنُ أَحْمَدَ الْقَاضِي، ثَنَا جَعْفَرُ بْنُ مُحَمَّدِ بْنِ شَاكِرٍ، ثَنَا أَبُو رَبِيعَةَ فَهْدُ بْنُ عَوْفٍ، ثَنَا فَضْلُ بْنُ أَبِي الْفَضْلِ الْأَزْدِيُّ، أَخْبَرَنِي عُمَرُ بْنُ مُوسَى، أَخْبَرَنِي عَلِيُّ بْنُ الْأَقْمَرِ، عَنْ أَبِي جُحَيْفَةَ، قَالَ: أَكَلْتُ ثَرِيدَةً مِنْ خُبْزٍ بُرٍّ وَلَحْمٍ سَمِينٍ ثُمَّ أَتَيْتُ النَّبِيَّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فَجَعَلْتُ أَتَجَشَّأُ فَقَالَ: «مَا هَذَا كُفَّ مِنْ جُشَائِكَ فَإِنَّ أَكْثَرَ النَّاسِ فِي الدُّنْيَا شِبَعًا أَكْثَرُهُمْ فِي الْآخِرَةِ جُوعًا» هَذَا حَدِيثٌ صَحِيحُ الْإِسْنَادِ وَلَمْ يُخَرِّجَاهُ ”

Penshahihan Imam al-Hakim, dikritik oleh Imam adz-Dzahabi dalam “at-Talkhish”, dimana beliau berkata :
فهد بن عوف قال المديني كذاب وعمر هالك
“Fahd bin ‘Auf, didustakan oleh al-Madiiniy, dan Umar (bin Musa) hancur haditsnya”.

• Imam Ibnu Qudamah dalam “al-Muntakhob” (1/47) meriwayatkan jalan lain :
قال مهنّا: سَأَلْتُ أَحْمَدَ وَيَحْيَى، قُلْتُ: حَدَّثَنِي عَبْدُ الْعَزِيزِ ابن يَحْيَى: ثنا شَرِيكٌ عَنْ عَلِيِّ بْنِ الأَقْمَرِ، عَنْ أَبِي جُحَيْفَةَ، قَالَ: أَكَلْتُ خُبْزَ شَعِيرٍ بلحمٍ سمينٍ، فلقيت رَسُولَ اللَّهِ (صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ) فَتَجَشَّأْتُ عِنْدَهُ، فَقَالَ رَسُولُ اللَّهِ (صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ): “اكْفُفْ جُشَاءَكَ يَا أَبَا جُحَيْفَةَ؛ فَإِنَّ أَكْثَرَكُمْ شَبَعًا الْيَوْمَ أَكْثَرُكُمْ جُوعًا يَوْمَ الْقِيَامَةِ”.
فَقَالا: لَيْسَ بِصَحِيحٍ.
قُلْتُ لأَحْمَدَ: يُرْوَى مِنْ غَيْرِ هَذَا الْوَجْهِ؟.
قَالَ: كَانَ عَمْرُو بْنُ مَرْزُوقٍ يُحَدِّثُ بِهِ، عْنَ مَالِكِ بْنِ مِغْوَل، عن علي بن الأقمر، عن أبي جحيفة، ثُمَّ تَرَكَهُ بَعْدُ.
ثُمَّ سَأَلْتُه عَنْهُ بَعْدُ؟.
فقال: ليس بصحيحٍ.

Kata al-albani Rahimahullah Abdul Aziz bin Yahya, Imam Bukhori berkomentar terhadapnya bahwa ia adalah pemalsu hadits.

• Imam Tamaam dalam “al-Fawaid” (1/99) melalui jalan :
من طريق أبي ربيعة. حدثنا عمر بن الفضل عن رقبة عن علي بن الأقمر به
Namun kata asy-Syaikh al-Albani, Abu Robi’ah adalah Fahd bin ‘Auf, perowi yang didustakan sebagaimana diatas.

C. Imam Ibnu Abid Dunya sebagaimana dalam kitabnya “al-Juu’” (no. 4) meriwayatkan dari jalan :
حَدَّثَنِي الْحَسَنُ بْنُ عَبْدِ اللَّهِ، عَنْ أَبِي رَجَاءٍ، عَمَّنْ سَمِعَ أَبَا جُحَيْفَةَ، عَنْ أَبِي جُحَيْفَةَ، أَنَّهُ تَجَشَّأَ فِي مَجْلِسِ رَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ، فَقَالَ لَهُ: «أَقْصِرْ مِنْ جُشَائِكَ، فَإِنَّ أَطْوَلَ النَّاسِ جُوعًا يَوْمَ الْقِيَامَةِ أَكْثَرَهُمْ شِبَعًا فِي الدُّنْيَا» ، قَالَ أَبُو جُحَيْفَةَ: فَمَا شَبِعْتُ مُنْذُ ثَلَاثِينَ سَنَةً
Sebagiamana yang kita lihat dalam sanad ini ada perowi yang tidak disebutkan namanya alias “Mubham”, sehingga sanadnya dhoif.

Akan tetapi dalam “ash-Shahihah” (no. 3372), Imam al-Albani merasa menemukan sanad yang lebih bagus yang sampai kepada shohabi Jaliil Abu Juhaifah Rodhiyallahu ‘anhu, sebagaimana dalam riwayat Imam ath-Thabrani dalam “Mu’jam al-Kabiir” (no. 327) melalui jalan :
حَدَّثَنَا عَبْدَانُ بْنُ أَحْمَدَ، ثنا مُحَمَّدُ بْنُ خَالِدٍ الْكُوفِيُّ، ثنا إِسْحَاقُ بْنُ مَنْصُورٍ، ثنا عَبْدُ السَّلَامِ بْنُ حَرْبٍ، عَنْ أَبِي رَجَاءٍ، عَنْ أَبِي جُحَيْفَةَ، قَالَ: تَجَشَّأْتُ عِنْدَ النَّبِيِّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فَقَالَ: «مَا أَكَلْتَ يَا أَبَا جُحَيْفَةَ؟» ، فَقُلْتُ: خُبْزًا وَلَحْمًا، فَقَالَ: «إِنَّ أَطْوَلَ النَّاسِ جُوعًا يَوْمَ الْقِيَامَةِ أَكْثَرُهُمْ شِبَعًا فِي الدُّنْيَا»

Asy-Syaikh al-albani ketika memaparkan sanad ini mengatakan bahwa para ulama menilai sanadnya terdapat cacat pada Muhammad bin Khoolid al-Kuufiy, perowi yang dianggap majhul. Namun asy-Syaikh mengatakan perowi ini adalah Muhammad bin Kholid bin Shoolih at-Tamiimiy Abu Abdillah al-Kuufiy, yang hanya ditsiqohkan oleh Imam Ibnu Hibban. Namun asy-Syaikh menemukan mutaba’ah untuknya dalam riwayat Imam al-Bazzaar dalam “musnadnya” (no. 4237) dari jalan :
حَدَّثنا العباس بن جعفر، قَال: حَدَّثنا إسحاق بن منصور، قَال: حَدَّثنا عَبد السَّلامِ، عَن أَبِي رَجَاءٍ، عَن أَبِي جُحَيْفَةَ قَالَ: تَجَشَّأْتُ عِنْدَ النَّبِيّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيه وَسَلَّم فَذَكَرَ نَحْوَهُ.
Al-‘Abbas bin Ja’far dinilai shoduq oleh Imam Abu Hatim, sehingga beliau bisa dijadikan mutaba’ah untuk Muhammad bin Kholid al-Kuufiy diatas.

Namun yang menjadikan saya penasaran adalah tentang perowi yang bernama Abu Rojaa`, dalam biografi Abdus Salaam tidak disebutkan Abu Rojaa` sebagai salah seorang gurunya. Saya tidak berhasil mendapatkan titik terang siapa Abu Rojaa`, karena yang membuat bimbang dalam riwayat Imam Ibnu Abid Dunya sebagaimana diatas, Abu Rojaa` meriwayatkan dari Abu Juhaifah melalui perantara seorang perowi yang tidak disebutkan namanya yang diklaim mendengar langsung dari Abu Juhaifah Rodhiyallahu ‘anhu, sedangkan dalam sanad Mu’jam Kabiir dan Musnad al-Bazzaar, Abu Rojaa` meriwayatkan langsung dari Abu Juhaifah Rodhiyallahu ‘anhu. Dalam kitab Tahdzibul Kamal dan Tahdzibut Tahdzib, saya tidak menemukan Abu Rojaa` dalam deratan murid Abu Juhaifah Rodhiyallahu ‘anhu, namun akhirnya saya menemukan di kitab “Ma’rifatus Shohabat” (5/2722), karya Imam Abu Nu’aim beliau menyebutkan bahwa Abu Rojaa` adalah salah satu diantara deretan perowi yang meriwayatkan dari Abu Juhaifah Rodhiyallahu ‘anhu.

Asy-Syaikh Syu’aib arnauth dalam takhrijnya, ketika menyebutkan riwayat Abu Juhaifah, mereka hanya mengatakan :
وعن أبي ججفة عند البزار (3669) و (3670)، والطبراني في “الكبير” 22/ (327) و (351)، وفي “الأوسط” (3746) و (8929)، والحاكم 4/ 121، والبيهقي في “شعب الإيمان” (5642)، بأسانيد ضعيفة لا يخلو واحد منها من مقال، وقال أبو حاتم في حديث أبي جحيفة كما في “العلل” (1861): حديث باطل.
“diriwayatkan dari Abu Juhaifah Rodhiyallahu ‘anhu ….. dengan sanad-sanad yang lemah yang masing-masingnya tidak terlepas dari kritikan. Abu Hatim berkata tentang hadits Abi Juhaifah dalam al’Illal (1861) : “haditsnya batil”.
Tapi kalau kita melihat dalam kitab al’Illal yang dikritik adalah jalan dari Malik bin Mighwal dari ‘Aun bin Abi Juhaifah dari Bapaknya. Kemudian jalan yang dari al-Aqmariy dikritik oleh Imam Ahmad dan Imam Yahya bin Ma’in, sementara yang dari jalan Abu Rojaa` kritikan ada pada kemajhulan Muhammad bin Kholid al-Kuufiy dan mubhamnya antara Abu Rojaa dengan Abu Juhaifah. Namun jika ditetapkan bahwa shortcutnya Abu Rojaa` yang langsung meriwayatkan dari Abu Juhaifah adalah benar, maka melalui sanad al-Bazzar hadits ini shahih, sebagaimana perkataan Imam al-Mundziri Rahimahullah yang dinukil oleh Imam al-Albani ketika mengomentari sanad al-Bazzar, bahwa para perowinya adalah para perowi tsiqoh. Wallahu a’lam.

Advertisements

Leave a Comment »

RSS feed for comments on this post. TrackBack URI

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

w

Connecting to %s

Blog at WordPress.com.
Entries and comments feeds.

%d bloggers like this: