APAKAH PENGALAMAN DAPAT DIJADIKAN DALIL?

February 25, 2018 at 10:51 pm | Posted in Tulisan Lainnya | Leave a comment

APAKAH PENGALAMAN DAPAT DIJADIKAN DALIL?

Diantara keistimewaan al-Imam Muhammad Nashiruddin al-Albani Rahimahullah adalah komitmen beliau yang kuat berpegang kepada al-Kitab, as-Sunnah dengan pemahaman sahabat. Beliau tidak segan-segan melakukan kritikan kepada ulama lainnya, sekalipun memiliki nama besar, jika dianggap menurut beliau tidak benar dalam berdalil. Diantara contoh yang menarik adalah apa yang dikatakan oleh Imam Nawawi dalam kitabnya “al-Adzkaar” (hal. 369 cet. Daar Ibnu Hazm) :
ويُستحبّ أن يقرأ سورة {لِإِيلافِ قُرَيْشٍ} ، فقد قال الإِمام السيد الجليل أبو الحسن علي بن عمر الحزبي القزويني، الفقيه الشافعي، صاحب الكرامات الظاهرة، والأحوال الباهرة، والمعارف المتظاهرة: إنها أمانٌ من كل سوء.
قال أبو طاهر أبن جحشويه: أردتُ سفراً، وكنتُ خائفاً منه، فدخلتُ إلى القزويني أسألُه الدعاءَ، فقال لي ابتداءً من قِبَل نفسه: مَن أرادَ سفراً ففزِعَ من عدوّ أو وحش، فليقرأ: {لِإِيلافِ قُرَيْشٍ} فإنها أمانٌ من كلّ سوء، فقرأتُها، فلم يعرض لي عارضٌ حتى الآن.

“Dianjurkan untuk membaca surat Al Quraisy (pent.), al-Imam..al-Qozwiiniy.. berkata : “dengan membacanya akan mendapatkan keamanan dari segala kejelekan”.
Abu Thohir ibnu Jahsyuwaih berkata : “aku hendak bersafar, namun aku takut darinya, lalu aku menemui al-Qowiiniy, bertanya tentang doa (untuk menghadapi rasa takut tersebut, pent.), maka beliau menjawab dari dirinya : “barangsiapa yang hendak bersafar lalu takut terhadap musuh atau kebengisannya, maka bacalah (surat Al Qurasiy), karena membacanya akan aman dari segala kejelekan”.
Lalu aku pun membacanya, dan benar tidak menimpa kepadaku suatu apapun sampai sekarang”.

Shuf!, disini Imam Nawawi me-mustahab-kan membaca surat al-Qurasiy, berdalil dengan ucapan ulama kharismatik yang memiliki banyak karomah, dan ini sudah dibuktikan oleh salah seorang ulama atau muridnya, yang membaca surat tersebut ketika safar dan memang benar tidak terjadi apa-apa sebagaimana yang diucapkan oleh Imam al-Qozmiiniy. Artinya pengalaman membuktikan bahwa doa atau dzikir ini manjur.

Namun al-‘Alamah al-Albani mengkritik keras pendalilan Imam Nawawi akan ke-mustahaban bacaan surat al-Qurasy dengan sisi pendalilan diatas. Dalam kitabnya “Silsilah Ahaadits adh-Dhoifah” (no. 372), asy-Syaikh al-Albani berkata :
وأغرب من هذا جزمه أعني النووي رحمه الله: ” بأنه يستحب أن يقرأ سورة {لإيلاف قريش} فقد قال الإمام السيد الجليل أبو الحسن القزويني الفقيه الشافعي صاحب الكرامات الظاهرة والأحوال الباهرة والمعارف المتظاهرة: إنه أمان من كل سوء “.
قلت: وهذا تشريع في الدين دون أي دليل إلا مجرد الدعوى! فمن أين له أن ذلك أمان من كل سوء؟ ! لقد كان مثل هذه الآراء التي لم ترد في الكتاب ولا في السنة من أسباب تبديل الشريعة وتغييرها من حيث لا يشعرون، لولا أن الله تعهد بحفظها ورضي الله عن حذيفة بن اليمان إذ قال: ” كل عبادة لم يتعبدها أصحاب رسول الله صلى الله عليه وسلم فلا تعبدوها “.
وقال ابن مسعود رضي الله عنه: ” اتبعوا ولا تبتدعوا فقد كفيتم، عليكم بالأمر العتيق “.
“dan yang paling aneh dari perkara sebelumnya adalah Imam Nawawi Rahimahullah memastikan dianjurkannya membaca surat Al Qurasy, telah berkata Imam …..
Saya (al-Albani) berkata : “ini adalah pensyariat dalam agama tanpa adanya landasan dalil, kecuali sekedar klaim semata, darimana dasarnya bahwa membaca surat Al Qurasiy dapat aman dari segala kejelakan?, pendapat seperti ini yang tidak ada dalam Al Qur’an dan hadits adalah sebab penggantian dan perubahan syariat tanpa mereka sadari, seandainya Allah tidak berjanji untuk menjaga agamanya.
Semoga Allah meridhoi Khudzaifah ibnul Yamaan yang berkata : “setiap ibadah yang tidak dikerjakan oleh sahabat Rasulullah Sholallahu ‘alaihi wa Salaam, maka janganlah kalian perbuat”.
Shohabi Jaliil Ibnu Mas’ud Rodhiyallahu ‘anhu berkata : “ikutilah, jangan berbuat bid’ah, kalian telah dicukupi, wajib bagi kalian berpegang terhadap perkara klasik” –selesai-.

Inilah keistimewaan asy-Syaikh Muhammad Nashiruddin al-Albani yang tanpa sungkan-sungkan mengkritisi amalan yang tidak berlandaskan dalil yang kuat dan diakui, karena kita bisa melihat beberapa kitab cetakan al-Adzkaar karya Imam Nawawi Rahimahullah, para pentahqiq tidak ada yang melakukan kritikan sebagaimana yang dilakukan oleh asy-Syaikh al-Albani Rahimahullah –Jazakamullah khoir atas komitmen beliau mengingatkan umat Islam akan ketergelinciran ini-.

Sebelum asy-Syaikh al-Albani, sebenarnya Imam Syaukani –penulis kitab Nailul Author-, sudah mengingatkan akan kesalahan pendalilan dengan berdasarkan pengalaman-pengalaman pribadi tertentu, dalam kitabnya “Tukhfat adz-Dzaakiriin” (hal.234), Imam Syukani Rahimahullah berkata :
وَلكنه قد اتكل على مُجَرّد التجريب كَمَا يَقع مِنْهُ فِي بعض الْمَوَاضِع وَقد قدمنَا ذَلِك وَعدم الركون على مثله فَإِن التجريب لَا يَقُول بِهِ قَائِل أَنه يدل على مَا وَقع التجريب لَهُ ثَابت عَن الشَّارِع أَو عَن أهل الشَّرْع
“akan tetapi penulis bergantung pendalilannya hanya sekedar kepada pengalaman, sebagaimana yang terjadi pada sebagian kasus, dan telah terdahulu penjelasannya bahwa hal tersebut tidak bisa dijadikan pegangan, karena pengalaman tidak ada seorang pun yang mengatakan bahwa yang terjadi dari pengalaman hal tersebut menunjukkan tsabitnya dari pembuat syariat atau dari ahli syariat” –selesai-.

Advertisements

Leave a Comment »

RSS feed for comments on this post. TrackBack URI

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

w

Connecting to %s

Blog at WordPress.com.
Entries and comments feeds.

%d bloggers like this: