MENJAMAK SHOLAT KARENA SAKIT

March 28, 2018 at 11:46 pm | Posted in fiqih | Leave a comment

MENJAMAK SHOLAT KARENA SAKIT

 

Al-Imam Abu Muhammad ibnu Qudamah al-Maqdisiy (w. 620 H) Rahimahullah dalam kitabnya yang sangat bermanfaat untuk mengetahui fiqih Imam Ahmad dan juga sering diselingi dengan pendapat dari ulama lainnya, menuliskan suatu pasal khusus tentang orang yang sakit yang diperbolehkan untuk menjamak sholat (juz 2 hal. 205, cet. Maktabah al-Qoohiroh), kata beliau :

“orang sakit yang diperbolehkan menjamak adalah yang disifati dengan adanya kesulitan dan kelemahan, jika mengerjakan sholat pada waktunya. Al-Atsram berkata, pernah ditanyakan kepada Imam Abu Abdillah (Ahmad bin Hanbal), “orang yang sakit bolehkah menjamak dua sholat?”, beliau menjawabnya, “aku berharap (tidak mengapa) jika ia merasa lemah dan ia tidak mampu kecuali mengerjakannya dengan menjamaknya”.

Continue Reading MENJAMAK SHOLAT KARENA SAKIT…

Advertisements

APAKAH SAFAR JARAK PENDEK BOLEH MENJAMAK SHOLAT

March 26, 2018 at 3:50 pm | Posted in fiqih | Leave a comment

APAKAH SAFAR JARAK PENDEK BOLEH MENJAMAK SHOLAT?

 

Al-Imam Yahya bin Syarof an-Nawawiy (w. 676 H) Rahimahullah dalam kitabnya “Al-Minhaaj Syarh Shahih Muslim bin Al-Hajjaaj” (5/219, cet. Daar al-Ma’rifah, Beirut) membuka sebuah wacana pembahasan terkait bolehnya menjamak sholat untuk safar jarak dekat. Kata beliau Rahimahullah :

وَفِي جَوَازِهِ فِي السَّفَرِ الْقَصِيرِ قَوْلَانِ لِلشَّافِعِيِّ أَصَحُّهُمَا لَا يَجُوزُ فِيهِ الْقَصْرُ

“dan tentang kebolehan menjamak sholat pada perjalanan pendek, maka ada dua pendapat dari Imam Syafi’i, yang paling benar adalah tidak boleh padanya menjamak untuk jarak dekat”.

  Continue Reading APAKAH SAFAR JARAK PENDEK BOLEH MENJAMAK SHOLAT…

HUBUNGAN BELIAU (AL-‘ALAMAH MUHAMMAD NAASHIRUDDIN AL-ALBANI) DENGAN AHLI ILMU DAN PARA PENUNTUT ILMU

March 24, 2018 at 11:42 pm | Posted in Tulisan Lainnya | Leave a comment

HUBUNGAN BELIAU (AL-‘ALAMAH MUHAMMAD NAASHIRUDDIN AL-ALBANI) DENGAN AHLI ILMU DAN PARA PENUNTUT ILMU[1]

 

Beliau banyak bertemu dengan para ulama dan para penuntut ilmu. Dalam pertemuan itu beliau banyak memberi dan mengambil pelajaran. Diantara para ulama yang beliau temui adalah Syaikh Hamid Rahimahullah, beliau adalah ketua Jama’ah Ansharus Sunnah Al-Muhammadiyah di Mesir. Beliau juga bertemu dengan Syaikh Ahmad Syakir Rahimahullah, seorang ahli tahqiq yang terkenal. Pertemuan mereka berdua menghasilkan pembahasan-pembahasan ilmiah yang bermanfaat. Continue Reading HUBUNGAN BELIAU (AL-‘ALAMAH MUHAMMAD NAASHIRUDDIN AL-ALBANI) DENGAN AHLI ILMU DAN PARA PENUNTUT ILMU…

MENJAMAK SHOLAT KARENA MELAKUKAN SAFAR

March 22, 2018 at 4:12 pm | Posted in fiqih | Leave a comment

MENJAMAK SHOLAT KARENA MELAKUKAN SAFAR

 

Telah dimaklumi bahwa sholat lima waktu yang diwajibkan, memiliki waktu-waktu tertentu yang telah digariskan oleh syariat dan setiap muslim yang sudah mendapatkan pembebanan diharuskan menunaikan sholat-sholat tersebut sesuai dengan waktunya atau dengan kata lain pelaksanaan sholat pada waktu yang telah ditetapkan adalah salah satu syarat sah dan diterimanya sholat seseorang.

 

Namun dengan kemurahan-Nya, Allah Subhanahu wa Ta’alaa memberikan keringanan pada moment-moment tertentu, beberapa sholat tersebut dapat digabungkan atau istilahnya menjamak sholat. Asy-Syaikh Abu Malik Kamaal Hafidzahullah dalam kitabnya “Shahih Fiqh as-Sunnah” (1/491) mendefinisikan menjamak dua sholat dengan mengerjakan sholat Dhuhur dan Ashar atau sholat Maghrib dan Isya’ dalam waktu salah satu keduanya, baik menggabungkan pada waktu sholat yang pertawa (jamak taqdiim, pent.) maupun pada waktu sholat yang kedua (jamak ta`khiir, pent.).

Continue Reading MENJAMAK SHOLAT KARENA MELAKUKAN SAFAR…

STATUS HADITS PERAWI MUDALLIS DALAM STUDI KASUS HADITS BOLEHNYA LAKI-LAKI MEMAKAI CINCIN EMAS

March 15, 2018 at 5:39 pm | Posted in Hadits | Leave a comment

STATUS HADITS PERAWI MUDALLIS DALAM STUDI KASUS HADITS BOLEHNYA LAKI-LAKI MEMAKAI CINCIN EMAS

 

Imam al-Albani Rahimahullah dalam kitabnya “Tamaam al-Minnah fii Ta’liiq ‘alaa Fiqh as-Sunnah” ketika menyebutkan mukadimah Ilmiyyah sebagai pengantar dalam memahami hadits-hadits hukum atau metode fiqih yang berlandaskan dalil-dalil sunnah yang dikenal dengan istilah Fiqih as-Sunnah, beliau memaparkan dalam mukadimah tersebut kaedah yang ketiga yaitu “menolak haditsnya para perowi Mudallis”[1].

Continue Reading STATUS HADITS PERAWI MUDALLIS DALAM STUDI KASUS HADITS BOLEHNYA LAKI-LAKI MEMAKAI CINCIN EMAS…

TAKHRIJ HADITS UMATKU YANG PALING MULIA ADALAH PEMBAWA AL QUR’AN DAN YANG BIASA SHOLAT MALAM

March 13, 2018 at 11:06 pm | Posted in Hadits | Leave a comment

TAKHRIJ HADITS UMATKU YANG PALING MULIA

ADALAH PEMBAWA AL QUR’AN DAN YANG BIASA SHOLAT MALAM

 

Diriwayatkan dari Shohabi Jaliil Abdullah bin Abbas Rodhiyallahu ‘anhumaa bahwa Rasulullah Sholallahu ‘alaihi wa Salaam bersabda :

أَشْرَافُ أُمَّتِي حَمَلَةُ الْقُرْآنِ وَأَصْحَابُ اللَّيْلِ

“Umatku yang paling mulia adalah pembawa Al Qur’an dan orang yang giat menghidupkan malam”.

 

Al-‘Alamah al-Munawiy (w. 1031 H) dalam kitabnya “Faidh al-Qodiir Syarh al-Jaami’i ash-Shoghiir”[1] menafsirkan hadits diatas sebagai berikut :

حَمَلَةُ الْقُرْآنِ” yakni :

حفاظه الحاملون له في صدورهم العاملون بمقتضاه

“orang-orang yang menghapal Al Qur’an yang membawanya dalam dada-dada mereka dan mengerjakan konsekuensi kandungannya”. Continue Reading TAKHRIJ HADITS UMATKU YANG PALING MULIA ADALAH PEMBAWA AL QUR’AN DAN YANG BIASA SHOLAT MALAM…

KEUTAMAAN SEORANG MUSLIM YANG MELIHAT NABI ATAU YANG MELIHAT SAHABAT

March 12, 2018 at 1:59 pm | Posted in Tulisan Lainnya | Leave a comment

KEUTAMAAN SEORANG MUSLIM YANG MELIHAT NABI
ATAU YANG MELIHAT SAHABAT

Imam Tirmidzi dalam “Sunannya” (no. 3858) meriwayatkan sebuah hadits yang cukup menarik dengan sanad sebagai berikut :
حَدَّثَنَا يَحْيَى بْنُ حَبِيبِ بْنِ عَرَبِيٍّ الْبَصْرِيُّ قال: حَدَّثَنَا مُوسَى بْنُ إِبْرَاهِيمَ بْنِ كَثِيرٍ الأَنْصَارِيُّ، قَالَ: سَمِعْتُ طَلْحَةَ بْنَ خِرَاشٍ، يَقُولُ: سَمِعْتُ جَابِرَ بْنَ عَبْدِ اللَّهِ، يَقُولُ: سَمِعْتُ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَقُولُ: «لَا تَمَسُّ النَّارُ مُسْلِمًا رَآنِي أَوْ رَأَى مَنْ رَآنِي»
“telah menceritakan kepada kami Yahya bin Habiib bin ‘Arabiy al-Bashriy ia berkata, telah menceritakan kepada kami Musa bin Ibrahim bin Katsiir al-Anshooriy ia berkata, aku mendengar Thalhah bin Khiraasy berkata, aku mendengar Jaabir bin Abdillah Rodhiyallahu ‘anhu berkata, aku mendengar Rasulullah Sholallahu ‘alaihi wa Salaam bersabda : “Neraka tidak akan menyentuh seorang Muslim yang melihatku atau yang melihat orang yang melihatku”.

Imam Tirmidzi setelah meriwayatkan hadits ini memberikan penilain :
هَذَا حَدِيثٌ حَسَنٌ غَرِيبٌ لَا نَعْرِفُهُ إِلَّا مِنْ حَدِيثِ مُوسَى بْنِ إِبْرَاهِيمَ الأَنْصَارِيِّ وَرَوَى عَلِيُّ بْنُ المَدِينِيِّ، وَغَيْرُ وَاحِدٍ مِنْ أَهْلِ الحَدِيثِ عَنْ مُوسَى، هَذَا الحَدِيثَ
“ini adalah hadits Hasan ghorib kami tidak mengetahuinya kecuali melalui haditsnya Musa bin Ibrahim al-Anshooriy. Ali Ibnul Madiiniy dan lebih dari seorang ulama hadits meriwayatkan dari Musa hadits tersebut”.

Namun penghasanan beliau dikritisi oleh dua orang ulama yang saya sering jadikan rujukan dalam melihat status hadits, yaitu Imam al-Albani dan al-‘Alamah Syu’aib Arnauth, dimana keduanya kompak memberikan penilaian dhoif untuk hadits diatas. Alasan yang dikemukan oleh asy-Syaikh Syu’aib Arnauth Rahimahullah dalam “tahqiqnya” terhadap Sunan Tirmidzi (6/380) bahwa hadits diatas memiliki dua cacat yaitu :
 Thalhah bin Khiraasy, dinilai Shoolih oleh Imam Nasa’i, ditsiqohkan oleh Imam Ibnu Hibban, dan dikatakan oleh Imam al-Azdiy, ia meriwayatkan dari Jaabir hadits-hadits mungkar.
 Musa bin Ibrahim, hanya ditsiqohkan oleh Imam Ibnu Hibban, ditambah lagi Imam Ibnu Hibban mengomentarinya sebagai orang yang membuat kesalahan.

Adapun alasan asy-Syaikh al-Albani Rahimahullah, saya belum mendapatkannya, karena beliau memasukkan hadits diatas dalam kitabnya “Dhoif Sunan Tirmidzi”, dan disana tidak ada takhrij atau keterangan tentang alasan pendhoifannya.

Akan tetapi al-‘Alamah al-Mubaarokfuriy penulis kitab “Tukhfatul Akhwadzi” (10/243), tidak melakukan kritikan apapun terhadap penghasanan Imam Tirmidzi. Untuk mentarjih penilaian status hadits ini, mari kita lihat dua orang perowi yang dipermasalahkan oleh Asy-Syaikh Syu’aib Arnauth yang membuat hadits ini dhoif.

Yang pertama, Musa bin Ibrahim ini tidak benar keterangan dari asy-Syaikh Syu’aib bahwa ia hanya ditsiqohkan oleh Imam Ibnu Hibban semata. Saya menemukan dalam biografi yang ditulis oleh al-Hafidz Mugholathaiy dalam kitabnya “Ikmaal Tahdziibul Kamaal” (12/7) bahwa Imam Ibnu Syahiin mentsiqohkannya juga, kemudian Imam Ibnu Hibban dan al-Hakim memasukkan dalam Shahih Ibnu Hibban dan al-Mustadrok yang menunjukkan bahwa beliau adalah perowi hadits shahih, karena kedua penulis kitab ini berkomitmen untuk memasukkan hadits-hadits yang dianggap shahih oleh mereka berdua dalam kitabnya masing-masing. Kemudian ditambah lagi penghasanan dari Abu Ali ath-Thuusiy. Kemudian masih dalam kitab yang sama (7/65), al-Hafidz Mugholathaiy ketika menyebutkan biografi Thalhah –yang nanti kita bahas juga-, beliau menukil penstiqohan terhadap Musa dan Thalhah ini, dari Imam Ibnu Abdil Barr. Anggaplah kita tidak terlalu percaya dengan pentsiqohan mereka-mereka ini, maka kita bisa menggunakan ijtihad Al Hafidz Ibnu Hajar dalam “at-Taqriib” dan Imam adz-Dzahabi dalam “Taarikh Islam” (4/1220) yang menilainya shoduq, sehingga haditsnya hasan.

Yang kedua, perowi yang bernama Thalhah bin Khiraasy, memang Imam Nasa`iy hanya menilainya shoolih yang menunjukkan bahwa haditsnya lunak atau ringan dhoifnya, sebagai perowi yang bisa dijadikan penguat. Namun disana ada juga ulama yang mentsiqohkannya yaitu Imam Ibnu Hibban dan Imam Ibnu Abdil Barr, sebagaimana dinukil oleh al-Hafidz Mugholathaiy diatas. Bahkan yang menarik Imam Yahya bin Ma’in menganggap Thalhah ini adalah seorang sahabat Nabi Sholallahu ‘alaihi wa Salaam, namun pendapat ini ditentang oleh al-Hafidz Ibnu hajar dalam kitabnya “al-Ishoobah” (no. 4279) yang menganggapnya bahwa yang masyhur beliau adalah seorang Tabi’iy. Pun al-Hafidz Mugholathaiy sependapat dengan al-Hafidz sehingga melistnya dalam kitabnya “al-Inaabah” (1/306). Alaa kulli haal, ijtihad Ibnu Hajar dalam menilai Thalhah ini sebagai perowi shoduq dalam “at-Taqriib”, bisa dijadikan pilihan yang moderat, sehingga hasan juga haditsnya.

Oleh sebab itu, kami lebih condong kepada penilaian Imam Tirmidzi yang menilai hadits ini sebagai hadits Hasan, wal ilmu ‘indallah.

Kemudian yang menarik Imam Tirmidzi membawakan komentar para perowinya setelah meriwayatkan hadits ini :
قَالَ طَلْحَةُ: فَقَدْ رَأَيْتُ جَابِرَ بْنَ عَبْدِ اللَّهِ وقَالَ مُوسَى: وَقَدْ رَأَيْتُ طَلْحَةَ قَالَ يَحْيَى: وَقَالَ لِيّ مُوسَى: وَقَدْ رَأَيْتُنِي وَنَحْنُ نَرْجُو اللَّهَ
“Thalhah berkata, sungguh aku telah melihat Jaabir bin Abdillah Rodhiyallahu ‘anhu, Musa berkata, sungguh aku telah melihat Thalhah, dan Yahya berkata, Musa berkata kepadaku, engkau telah melihatku dan kita berharap kepada Allah (termasuk dalam keutamaan hadits diatas-pent.).

Al-‘Alamah al-Mubaarokfuriy menafsirkan perkataan Musa diatas yakni :
وَالظَّاهِرُ أَنَّ مُوسَى بْنَ إِبْرَاهِيمَ لَا يُخَصِّصُ هَذِهِ الْبِشَارَةَ بِالصَّحَابَةِ وَالتَّابِعِينَ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُمْ
“yang nampak Musa bin Ibrahim tidak mengkhususkan berita gembira ini khusus berlaku hanya kepada para sahabat dan Tabi’in Rodhiyallahu ‘anhum”.

Adapun syarah dari hadits diatas sungguh sangat jelas, sebagaimana yang dikatakan oleh Shohibuddin al-Khoolish sebagaimana dinukil oleh asy-Syaikh al-Mubaarokfury dikitab yang sama :
ظَاهِرُ الْحَدِيثِ تَخْصِيصُ الصَّحَابَةِ وَالتَّابِعِينَ بِهَذِهِ الْبِشَارَةِ وَلَيْسَ فِي لَفْظِهِ مَا يَدُلُّ عَلَى شُمُولِ سَائِرِ الْمُسْلِمِينَ إِلَى يَوْمِ الدِّينِ بَلْ قَصَرَ تَبَعَ التَّابِعِينَ عَنِ الدُّخُولِ فِيهِ وَالْحَدِيثُ أَفَادَ أَنَّ الْبِشَارَةَ خَاصَّةٌ بِمَنْ رَأَى الصَّحَابِيَّ فَمَنْ لَمْ يَرَهُ وَكَانَ فِي زَمَنِهِ فَالْحَدِيثُ لَا يَشْمَلُهُ انْتَهَى
“dhohirnya hadits ini adalah pengkhususan kepada sahabat dan tabi’in yang mendapatkan berita gembira ini, tidak ada dalam lafadzbta yang menunjukkan pencakupan kepada seluruh kaum Muslimin sampai hari kiamat, bahkan Tabi’ut Tabi’in juga tidak masuk dalam cakupan hadits ini. hadits ini memberikan faedah bahwa kabar gembira ini dikhususkan kepada orang-orang yang melihat para sahabat, barangsiapa yang tidak pernah melihat mereka, sekalipun sezaman dengannya, maka hadits ini tidak mencakupinya” –selesai-.

Sebelumnya asy-Syaikh al-Mubaarokfuriy telah menukil pendapat asy-Syaikh Abdul Haq ad-Dahlawiy yang menyinggung bahwa syarat dan ketentuan yang berlaku bagi orang yang melihat Nabi dan melihat sahabat diberikan kabar gembira dengan terbebas dari api neraka adalah bagi mereka yang wafat diatas Islam. Wallahu A’lam.

ATSAR SAHABAT YANG MENCIUM MUSHAF AL QUR’AN

March 8, 2018 at 3:26 pm | Posted in Tulisan Lainnya | Leave a comment

ATSAR SAHABAT YANG MENCIUM MUSHAF

Para ulama yang bergelut dalam bidang hadits tidak menemukan satu hadits marfu’ pun terkait perbuatan atau perintah Nabi Sholallahu ‘alaihi wa Salaam untuk mencium Mushaf Al Qur’an. Sebagian ulama menyebutkan sebuah atsar yang diklaim yang berasal dari seorang Shohabi yang bernama ‘Ikrimah bin Abi Jahl Rodhiyallahu ‘anhu yang dikatakan bahwa beliau Rodhiyallahu ‘anhu biasa mencium mushaf Al Qur’an.

Untuk berdalil dengan atsar ini, tentu kita harus menilai validitasnya sesuai dengan kaedah-kaedah ilmu hadits. Atsar beliau diatas bisa kita dapatkan dalam kitab-kitab hadits sebagai berikut :
1. Imam Abu Muhammad Abdullah bin Abdur Rahman ad-Daarimiy (w. 255 H) dalam kitabnya “Musnad ad-Daarimiy” atau yang lebih dikenal dengan nama “Sunan ad-Daarimiy” (4/2109, no. 3393, cet. Daar al-Mughni, KSA) meriwayatkan dengan sanadnya :
أَخْبَرَنَا سُلَيْمَانُ بْنُ حَرْبٍ، حَدَّثَنَا حَمَّادُ بْنُ زَيْدٍ، عَنْ أَيُّوبَ، عَنْ ابْنِ أَبِي مُلَيْكَةَ، أَنَّ عِكْرِمَةَ بْنَ أَبِي جَهْلٍ، كَانَ يَضَعُ الْمُصْحَفَ عَلَى وَجْهِهِ وَيَقُولُ: «كِتَابُ رَبِّي، كِتَابُ رَبِّي»

“telah mengabarkan kepada kami Sulaimaan bin Harb, telah menceritakan kepada kami Hammaad bin Zaid, dari Ayyub, dari Ibnu Abi Mulaikah, dari ‘Ikrimah bin Abi Jahl Rodhiyallahu ‘anhu bahwa Beliau biasanya meletakkan mushaf di wajahnya lalu berkata : “Kitab Rabbku..Kitab Rabbku..”;
2. Imam Sulaimaan bin Ahmad ath-Thabaaraniy (w. 360 H), meriwayatkan dalam kitabnya “Mu’jaam al-Kabiir” (17/371, no. 1018, cet. Maktabah Ibnu Taimiyyah, Kairo) dengan sanadnya :
حَدَّثَنَا أَحْمَدُ بْنُ الْقَاسِمِ بْنِ مُسَاوِرٍ الْجَوْهَرِيُّ، ثَنَا خَالِدُ بْنُ خِدَاشٍ، ثَنَا حَمَّادُ بْنُ زَيْدٍ، عَنْ أَيُّوبَ، عَنِ ابْنِ أَبِي مُلَيْكَةَ، قَالَ: كَانَ عِكْرِمَةُ بْنُ أَبِي جَهْلٍ إِذَا اجْتَهَدَ فِي الْيَمِينِ قَالَ: ” وَالَّذِي نَجَّانِي يَوْمِ بَدْرٍ، وَكَانَ يَأْخُذُ الْمُصْحَفَ وَيَضَعُهُ عَلَى وَجْهِهِ وَيَقُولُ: «كَلَامُ رَبِّي كَلَامُ رَبِّي»
“telah menceritakan kepada kami Ahmad bin al-Qoosim bin Musaawir al-Jauhariy, telah menceritakan kepada kami Khoolid bin Khidaasy, telah menceritakan kepada kami Hammaad bin Zaid, dari Ayyub, dari Ibnu Abi Mulaikah beliau berkata, “‘Ikrimah bin Abi Jahl Rodhiyallahu ‘anhu jika bersungguh-sungguh dalam sumpah, beliau berkata : “demi Dzat yang telah menyelamatkanku pada peperangan Badar”. Beliau biasanya mengambil Mushaf, lalu meletakkannya di wajahnya, lalu menangis sambil berkata : “Kalam Rabbku..Kalam Rabbku..”;
3. Imam Abu Abdillah al-Haakim Muhammad bin Abdullah yang lebih dikenal dengan nama Ibnu al-Ba’i (w. 405 H), meriwayatkan dalam kitabnya “al-Mustadraak ‘alaa ash-Shahihain” (3/271, No. 5062, cet. Daar al-Kutub al-‘Ilmiyyah, Beirut) dengan sanadnya :
أَخْبَرَنِي أَبُو بَكْرِ بْنُ إِسْحَاقَ، أَنَا إِسْمَاعِيلُ بْنُ إِسْحَاقَ، ثنا سُلَيْمَانُ بْنُ حَرْبٍ، ثنا حَمَّادُ بْنُ زَيْدٍ، عَنْ أَيُّوبَ، عَنِ ابْنِ أَبِي مُلَيْكَةَ قَالَ: كَانَ عِكْرِمَةُ بْنُ أَبِي جَهْلٍ يَأْخُذُ الْمُصْحَفَ فَيَضَعُهُ عَلَى وَجْهِهِ وَيَبْكِي وَيَقُولُ: «كَلَامُ رَبِّي كِتَابُ رَبِّي»
“telah mengabarkan kepada kami Abu Bakr bin Ishaaq, telah mengabarkan kepada kami Isma’iil bin Ishaaq, telah menceritakan kepada kami Sulaimaan bin Harb, telah menceritakan kepada kami Hammaad bin Zaid, dari Ayyub, dari Ibnu Abi Mulaikah beliau berkata, “‘Ikrimah bin Abi Jahl Rodhiyallahu ‘anhu biasanya biasanya mengambil Mushaf, lalu meletakkannya di wajahnya, kemudian beliau menangis sambil berkata : “Kalam Rabbku..Kitab Rabbku..”;
4. Imam Abu Bakr Ahmad bin al-Husain Baihaqiy (w. 458 H), meriwayatkan juga dalam kitabnya “Syu’ab al-Imaan” (3/512, no. 2037, cet. Maktabah ar-Rusydi) melalui jalan :
حَدَّثَنَا أَبُو عَبْدِ اللهِ الْحَافِظُ، أَخْبَرَنِي أَبُو بَكْرٍ أَحْمَدُ بْنُ إِسْحَاقَ، أَخْبَرَنا إِسْمَاعِيلُ بْنُ إِسْحَاقَ الْقَاضِي، حدثنا سُلَيْمَانُ بْنُ حَرْبٍ، حدثنا حَمَّادُ بْنُ زَيْدٍ، عَنْ أَيُّوبَ، عَنِ ابْنِ أَبِي مُلَيْكَةَ، قَالَ: كَانَ عِكْرِمَةُ بْنُ أَبِي جَهْلٍ ” يَأْخُذُ الْمُصْحَفَ فَيَضَعُهُ عَلَى وَجْهِهِ وَيَبْكِي وَيَقُولُ: كِتَابُ رَبِّي كِتَابُ رَبِّي ”

“telah menceritakan kepada kami Abu Abdillah al-Haafidz, telah mengabarkan kepadaku Abu Bakr Ahmad bin Ishaaq, telah mengabarkan kepada kami Isma’iil bin Ishaaq al-Qoodhi, telah menceritakan kepada kami Sulaimaan bin Harb, telah menceritakan kepada kami Hammaad bin Zaid, dari Ayyub, dari Ibnu Abi Mulaikah beliau berkata, “‘Ikrimah bin Abi Jahl Rodhiyallahu ‘anhu biasanya mengambil Mushaf, lalu meletakkannya di wajahnya, lalu menangis sambil berkata : “Kitab Rabbku..Kitab Rabbku..”;
5. Imam Abu Abdir Rahman Abdullah bin al-Mubaarak (w. 181 H), dalam kitab yang dinisbatkan kepadanya berjudul “al-Jihaad” (hal. 57, no. 56, cet. Daar at-Tuunisiyyah), menyebutkan sanad untuk riwayat diatas :
حَدَّثَنَا مُحَمَّدٌ قَالَ: حَدَّثَنَا ابْنُ رَحْمَةَ، قَالَ: سَمِعْتُ ابْنُ المُبَارَكِ، عَنْ حَمَّادِ بْنِ زَيْدٍ، عَنْ أَيُّوبَ، عَنِ ابْنِ أَبِي مُلَيْكَةَ قَالَ: «كَانَ عِكْرِمَةُ بْنُ أَبِي جَهْلٍ يَأْخُذُ الْمُصْحَفَ فَيَضَعُهُ عَلَى وَجْهِهِ , وَيَبْكِي , وَيَقُولُ: كِتَابُ رَبِّي , وَكَلَامُ رَبِّي» .
“telah menceritakan kepada kami Muhammad, telah menceritakan kepada kami ibnu Rahmah ia berkata, aku mendengar ibnul Mubaarak ,dari Hammaad bin Zaid, dari Ayyub, dari Ibnu Abi Mulaikah beliau berkata, “‘Ikrimah bin Abi Jahl Rodhiyallahu ‘anhu biasanya mengambil Mushaf, lalu meletakkannya di wajahnya, lalu menangis sambil berkata : “Kitab Rabbku..Kalam Rabbku..”;
6. Imam al-Hasan bin Kholaf bin Syaadzaan Abu Ali (w. 246 H) meriwayatkan dalam sebuah kitab yang masih berbentuk manuskirp yang diberi judul “ats-Tsaaniy min Ajzaa`i Abi Ali Syaadzaan” (hal. 53, no. 52) dengan sanad :
أَخْبَرَنَا مُحَمَّدٌ، قَالَ: ثنا عَيَّاشُ بْنُ مُحَمَّدِ بْنِ عُبَيْدِ اللَّهِ، قَالَ: ثنا شُرَيْحُ بْنُ النُّعْمَانِ، قَالَ: ثنا حَمَّادُ بْنُ زَيْدٍ، وَحَمَّادُ بْنُ سَلَمَةَ عَنْ عَاصِمِ بْنِ بَهْدَلَةَ، عَنِ ابْنِ أَبِي مُلَيْكَةَ، قَالَ: كَانَ عِكْرِمَةُ بْنُ أَبِي جَهْلٍ يَأْخُذُ الْمُصْحَفَ فَيَدَعُهُ عَلَى وَجْهِهِ، فَيَقُولُ: «كِتَابُ رَبِّي عَزَّ وَجَلَّ، وَكَلامُ رَبِّي عَزَّ وَجَلَّ»
“telah menceritakan kepada kami Muhammad, telah menceritakan kepada kami ‘Ayaasy bin Muhammad bin Ubaidillah ia berkata, aku telah menceritakan kepada kami Suraij bin an-Nu’maan ia berkata, telah menceritakan kepada kami Hammaad bin Zaid, dan Hamaad bin Salamah, dari ‘Aashim bin Bahdalah, dari Ibnu Abi Mulaikah beliau berkata, “‘Ikrimah bin Abi Jahl Rodhiyallahu ‘anhu biasanya mengambil Mushaf, lalu meletakkannya di wajahnya, lalu menangis sambil berkata : “Kitab Rabbku Azza wa Jalla…Kalam Rabbku ‘Azza wa Jalla..”;

Dari keenam kitab hadits yang mencantumkan atsar diatas, sebelum kita masuk membahas kondisi perowinya satu per satu, maka sebagaimana kita lihat, tidak ada lafadz yang jelas yang menunjukkan bahwa Ikrimah Rodhiyallahu ‘anhu mencium mushaf Al Qur’an, beliau hanya sekedar meletakkan mushaf didepan wajahnya, kemudian menangis sambil berkata “(ini adalah) Kitab Rabbku atau Kalam Rabbku, sehingga berdalil dengan atsar ini, kurang presisi untuk mengatakan bahwa Ikrimah Rodhiyallahu ‘anhu mencium Mushaf Al Qur’an.

Baiklah kita masuk ke pembahasan sanadnya, dan dari enam kitab diatas, muara sanad adalah kepada Hammaad bin Zaid, dari Ayyub dari Ibnu Abi Mulaikah Rahimahumullah Ajma’in. Berikut keterangannya satu per satu :
 Hammaad bin Zaid (98 – 179 H), dinilai al-Hafidz dalam “Taqriib at-Tahdziib” (1/318, no. 1498, dicetak bersama Tahriir Taqriib at-Tahdziib, Muasasah ar-Risaalah), sebagai perowi yang “tsiqoh, tsabat (kokoh) dan Faqiih (seorang ulama fiqih). Dalam riwayat Imam Abu Ali Syaadzaan Rahimahullah, beliau menampilkan jalan dimana Hammaad bin Zaid juga ditemani oleh Hammaad bin Salamah (w. 167 H) dalam membawakan atsar ini. al-Hafidz menilainya dalam “at-Taqriib” (1/318, no. 1499, op cit) sebagai perowi yang “tsiqoh, ahli ibadah, orang yang paling kokoh didalam mencapai puncak kekokohannya, berubah hapalannya menjelang tutup usia”.
 Ayyub bin Abi Tamiimah as-Sikhtiyaaniy (66 – 131 H). Al-Hafidz masih di kitab yang sama (1/159, no. 605), menilainya “tsiqoh, kokoh, hujjah, termasuk pembesarnya ahli fiqih dan ahli ibadah”. Dalam riwayat Imam Abu Ali Syaadzaan, Hammaadain meriwayatkan dari Imam ‘Aashim bin Bahdalah (w. 128 H), salah satu Imam qiro’ah yang tujuh yang mutawatir. Al-Hafidz menilainya dalam kitab yang sama (2/165, no. 3054) : “shoduq (jujur) lahu Auham (memiliki kekeliruan)”. Penulis kitab ‘Tahriir” menilainya, “tsiqoh yuhim”, karena Imam ‘Aashim, ditsiqohkan oleh Imam Yahya bin Ma’in, Ahmad bin Hanbal, Abu Zur’ah, Ya’quub bin Sufyan dan Ibnu Hibban.
 Ibnu Abi Mulaikah adalah Abdullah bin Ubaidillah bin Abi Mulaikah (w. 117 H). Al-Hafidz menilainya (2/236, no. 3454) : “tsiqoh, ahli fiqih”.
 ‘Ikrimah bin Abi Jahl Rodhiyallahu ‘anhu, wafat pada masa kekhilafahan Abu Bar ash-Shiddiq Rodhiyallahu ‘anhumaa. Masuk Islam setelah penaklukkan Kota Mekkah, namun ada juga yang mengatakan beliau masuk Islam pada peperangan Yarmuuk.

Sepintas sanad diatas shahih, karena perowinya adalah para perowi tsiqoh. Namun atsar ini memiliki sebuah kelemahan, yakni terjadi keterputusan sanad antara Ibnu Abi Mulaikah dengan Ikrimah Rodhiyallahu ‘anhu, karena keduanya tidak pernah bertemu. Imam adz-Dzahabi dalam kitabnya “Siyar A’laam an-Nubalaa` (5/88-90, no. 30) ketika membahas biografi Ibnu Abi Mulaikah, beliau mengatakan bahwa Ibnu Abi Mulaikah dilahirkan pada masa kekhilafahan Ali bin Abi Thalib Rodhiyallahu ‘anhu atau sebelumnya dan dikatakan bahwa umurnya adalah 80-an tahun, oleh karena itu jika kita tarik kelahirannya dari tahun wafatnya (117 H), maka beliau dilahirkan sekitar tahun 30-an Hijriyyah, yang sangat jelas menunjukkan bahwa Ibnu Abi Mulaikah tidak berjumpa dengan Ikrimah yang wafat pada tahun 11-13 H, dimana itu adalah tahun-tahun masa kekhilafahan Abu Bakar Rodhiyallahu ‘anhu.

Asy-Syaikh Husain Saliim Asad ad-Daaraaniy, pentahqiq kitab Sunan ad-Daarimiy diatas memberikan komentar terhadap atsar ini :
إسناده منقطع ابن أبي ملكية لم يدرك عكرمة وهو موقوف أيضا على عكرمة
“sanadnya terputus, Ibnu Abi Mulaikah tidak pernah berjumpa dengan ‘Ikrimah Rodhiyallahu ‘anhu. Disamping itu juga hadits ini mauquf kepada ‘Ikrimah Rodhiyallahu ‘anhu”.

Senada dengan asy-Syaikh, Imam adz-Dzahabi dalam “at-Talkhiish”, ketika mengomentari al-Mustadraak al-Hakim, setelah dibawakan atsar ini oleh beliau, al-Imam adz-Dzahabi berkata : “mursal”.
Istilah mursal terkadang dipakai juga oleh sebagian ulama hadits untuk menunjukkan bahwa sanadnya terputus.

Kesimpulannya, atsar shohabi Ikrimah bin Abi Jahl lemah sanadnya, sehingga tidak bisa dijadikan hujjah. wallahu a’lam.

Create a free website or blog at WordPress.com.
Entries and comments feeds.

%d bloggers like this: