ATSAR SAHABAT YANG MENCIUM MUSHAF AL QUR’AN

March 8, 2018 at 3:26 pm | Posted in Tulisan Lainnya | Leave a comment

ATSAR SAHABAT YANG MENCIUM MUSHAF

Para ulama yang bergelut dalam bidang hadits tidak menemukan satu hadits marfu’ pun terkait perbuatan atau perintah Nabi Sholallahu ‘alaihi wa Salaam untuk mencium Mushaf Al Qur’an. Sebagian ulama menyebutkan sebuah atsar yang diklaim yang berasal dari seorang Shohabi yang bernama ‘Ikrimah bin Abi Jahl Rodhiyallahu ‘anhu yang dikatakan bahwa beliau Rodhiyallahu ‘anhu biasa mencium mushaf Al Qur’an.

Untuk berdalil dengan atsar ini, tentu kita harus menilai validitasnya sesuai dengan kaedah-kaedah ilmu hadits. Atsar beliau diatas bisa kita dapatkan dalam kitab-kitab hadits sebagai berikut :
1. Imam Abu Muhammad Abdullah bin Abdur Rahman ad-Daarimiy (w. 255 H) dalam kitabnya “Musnad ad-Daarimiy” atau yang lebih dikenal dengan nama “Sunan ad-Daarimiy” (4/2109, no. 3393, cet. Daar al-Mughni, KSA) meriwayatkan dengan sanadnya :
أَخْبَرَنَا سُلَيْمَانُ بْنُ حَرْبٍ، حَدَّثَنَا حَمَّادُ بْنُ زَيْدٍ، عَنْ أَيُّوبَ، عَنْ ابْنِ أَبِي مُلَيْكَةَ، أَنَّ عِكْرِمَةَ بْنَ أَبِي جَهْلٍ، كَانَ يَضَعُ الْمُصْحَفَ عَلَى وَجْهِهِ وَيَقُولُ: «كِتَابُ رَبِّي، كِتَابُ رَبِّي»

“telah mengabarkan kepada kami Sulaimaan bin Harb, telah menceritakan kepada kami Hammaad bin Zaid, dari Ayyub, dari Ibnu Abi Mulaikah, dari ‘Ikrimah bin Abi Jahl Rodhiyallahu ‘anhu bahwa Beliau biasanya meletakkan mushaf di wajahnya lalu berkata : “Kitab Rabbku..Kitab Rabbku..”;
2. Imam Sulaimaan bin Ahmad ath-Thabaaraniy (w. 360 H), meriwayatkan dalam kitabnya “Mu’jaam al-Kabiir” (17/371, no. 1018, cet. Maktabah Ibnu Taimiyyah, Kairo) dengan sanadnya :
حَدَّثَنَا أَحْمَدُ بْنُ الْقَاسِمِ بْنِ مُسَاوِرٍ الْجَوْهَرِيُّ، ثَنَا خَالِدُ بْنُ خِدَاشٍ، ثَنَا حَمَّادُ بْنُ زَيْدٍ، عَنْ أَيُّوبَ، عَنِ ابْنِ أَبِي مُلَيْكَةَ، قَالَ: كَانَ عِكْرِمَةُ بْنُ أَبِي جَهْلٍ إِذَا اجْتَهَدَ فِي الْيَمِينِ قَالَ: ” وَالَّذِي نَجَّانِي يَوْمِ بَدْرٍ، وَكَانَ يَأْخُذُ الْمُصْحَفَ وَيَضَعُهُ عَلَى وَجْهِهِ وَيَقُولُ: «كَلَامُ رَبِّي كَلَامُ رَبِّي»
“telah menceritakan kepada kami Ahmad bin al-Qoosim bin Musaawir al-Jauhariy, telah menceritakan kepada kami Khoolid bin Khidaasy, telah menceritakan kepada kami Hammaad bin Zaid, dari Ayyub, dari Ibnu Abi Mulaikah beliau berkata, “‘Ikrimah bin Abi Jahl Rodhiyallahu ‘anhu jika bersungguh-sungguh dalam sumpah, beliau berkata : “demi Dzat yang telah menyelamatkanku pada peperangan Badar”. Beliau biasanya mengambil Mushaf, lalu meletakkannya di wajahnya, lalu menangis sambil berkata : “Kalam Rabbku..Kalam Rabbku..”;
3. Imam Abu Abdillah al-Haakim Muhammad bin Abdullah yang lebih dikenal dengan nama Ibnu al-Ba’i (w. 405 H), meriwayatkan dalam kitabnya “al-Mustadraak ‘alaa ash-Shahihain” (3/271, No. 5062, cet. Daar al-Kutub al-‘Ilmiyyah, Beirut) dengan sanadnya :
أَخْبَرَنِي أَبُو بَكْرِ بْنُ إِسْحَاقَ، أَنَا إِسْمَاعِيلُ بْنُ إِسْحَاقَ، ثنا سُلَيْمَانُ بْنُ حَرْبٍ، ثنا حَمَّادُ بْنُ زَيْدٍ، عَنْ أَيُّوبَ، عَنِ ابْنِ أَبِي مُلَيْكَةَ قَالَ: كَانَ عِكْرِمَةُ بْنُ أَبِي جَهْلٍ يَأْخُذُ الْمُصْحَفَ فَيَضَعُهُ عَلَى وَجْهِهِ وَيَبْكِي وَيَقُولُ: «كَلَامُ رَبِّي كِتَابُ رَبِّي»
“telah mengabarkan kepada kami Abu Bakr bin Ishaaq, telah mengabarkan kepada kami Isma’iil bin Ishaaq, telah menceritakan kepada kami Sulaimaan bin Harb, telah menceritakan kepada kami Hammaad bin Zaid, dari Ayyub, dari Ibnu Abi Mulaikah beliau berkata, “‘Ikrimah bin Abi Jahl Rodhiyallahu ‘anhu biasanya biasanya mengambil Mushaf, lalu meletakkannya di wajahnya, kemudian beliau menangis sambil berkata : “Kalam Rabbku..Kitab Rabbku..”;
4. Imam Abu Bakr Ahmad bin al-Husain Baihaqiy (w. 458 H), meriwayatkan juga dalam kitabnya “Syu’ab al-Imaan” (3/512, no. 2037, cet. Maktabah ar-Rusydi) melalui jalan :
حَدَّثَنَا أَبُو عَبْدِ اللهِ الْحَافِظُ، أَخْبَرَنِي أَبُو بَكْرٍ أَحْمَدُ بْنُ إِسْحَاقَ، أَخْبَرَنا إِسْمَاعِيلُ بْنُ إِسْحَاقَ الْقَاضِي، حدثنا سُلَيْمَانُ بْنُ حَرْبٍ، حدثنا حَمَّادُ بْنُ زَيْدٍ، عَنْ أَيُّوبَ، عَنِ ابْنِ أَبِي مُلَيْكَةَ، قَالَ: كَانَ عِكْرِمَةُ بْنُ أَبِي جَهْلٍ ” يَأْخُذُ الْمُصْحَفَ فَيَضَعُهُ عَلَى وَجْهِهِ وَيَبْكِي وَيَقُولُ: كِتَابُ رَبِّي كِتَابُ رَبِّي ”

“telah menceritakan kepada kami Abu Abdillah al-Haafidz, telah mengabarkan kepadaku Abu Bakr Ahmad bin Ishaaq, telah mengabarkan kepada kami Isma’iil bin Ishaaq al-Qoodhi, telah menceritakan kepada kami Sulaimaan bin Harb, telah menceritakan kepada kami Hammaad bin Zaid, dari Ayyub, dari Ibnu Abi Mulaikah beliau berkata, “‘Ikrimah bin Abi Jahl Rodhiyallahu ‘anhu biasanya mengambil Mushaf, lalu meletakkannya di wajahnya, lalu menangis sambil berkata : “Kitab Rabbku..Kitab Rabbku..”;
5. Imam Abu Abdir Rahman Abdullah bin al-Mubaarak (w. 181 H), dalam kitab yang dinisbatkan kepadanya berjudul “al-Jihaad” (hal. 57, no. 56, cet. Daar at-Tuunisiyyah), menyebutkan sanad untuk riwayat diatas :
حَدَّثَنَا مُحَمَّدٌ قَالَ: حَدَّثَنَا ابْنُ رَحْمَةَ، قَالَ: سَمِعْتُ ابْنُ المُبَارَكِ، عَنْ حَمَّادِ بْنِ زَيْدٍ، عَنْ أَيُّوبَ، عَنِ ابْنِ أَبِي مُلَيْكَةَ قَالَ: «كَانَ عِكْرِمَةُ بْنُ أَبِي جَهْلٍ يَأْخُذُ الْمُصْحَفَ فَيَضَعُهُ عَلَى وَجْهِهِ , وَيَبْكِي , وَيَقُولُ: كِتَابُ رَبِّي , وَكَلَامُ رَبِّي» .
“telah menceritakan kepada kami Muhammad, telah menceritakan kepada kami ibnu Rahmah ia berkata, aku mendengar ibnul Mubaarak ,dari Hammaad bin Zaid, dari Ayyub, dari Ibnu Abi Mulaikah beliau berkata, “‘Ikrimah bin Abi Jahl Rodhiyallahu ‘anhu biasanya mengambil Mushaf, lalu meletakkannya di wajahnya, lalu menangis sambil berkata : “Kitab Rabbku..Kalam Rabbku..”;
6. Imam al-Hasan bin Kholaf bin Syaadzaan Abu Ali (w. 246 H) meriwayatkan dalam sebuah kitab yang masih berbentuk manuskirp yang diberi judul “ats-Tsaaniy min Ajzaa`i Abi Ali Syaadzaan” (hal. 53, no. 52) dengan sanad :
أَخْبَرَنَا مُحَمَّدٌ، قَالَ: ثنا عَيَّاشُ بْنُ مُحَمَّدِ بْنِ عُبَيْدِ اللَّهِ، قَالَ: ثنا شُرَيْحُ بْنُ النُّعْمَانِ، قَالَ: ثنا حَمَّادُ بْنُ زَيْدٍ، وَحَمَّادُ بْنُ سَلَمَةَ عَنْ عَاصِمِ بْنِ بَهْدَلَةَ، عَنِ ابْنِ أَبِي مُلَيْكَةَ، قَالَ: كَانَ عِكْرِمَةُ بْنُ أَبِي جَهْلٍ يَأْخُذُ الْمُصْحَفَ فَيَدَعُهُ عَلَى وَجْهِهِ، فَيَقُولُ: «كِتَابُ رَبِّي عَزَّ وَجَلَّ، وَكَلامُ رَبِّي عَزَّ وَجَلَّ»
“telah menceritakan kepada kami Muhammad, telah menceritakan kepada kami ‘Ayaasy bin Muhammad bin Ubaidillah ia berkata, aku telah menceritakan kepada kami Suraij bin an-Nu’maan ia berkata, telah menceritakan kepada kami Hammaad bin Zaid, dan Hamaad bin Salamah, dari ‘Aashim bin Bahdalah, dari Ibnu Abi Mulaikah beliau berkata, “‘Ikrimah bin Abi Jahl Rodhiyallahu ‘anhu biasanya mengambil Mushaf, lalu meletakkannya di wajahnya, lalu menangis sambil berkata : “Kitab Rabbku Azza wa Jalla…Kalam Rabbku ‘Azza wa Jalla..”;

Dari keenam kitab hadits yang mencantumkan atsar diatas, sebelum kita masuk membahas kondisi perowinya satu per satu, maka sebagaimana kita lihat, tidak ada lafadz yang jelas yang menunjukkan bahwa Ikrimah Rodhiyallahu ‘anhu mencium mushaf Al Qur’an, beliau hanya sekedar meletakkan mushaf didepan wajahnya, kemudian menangis sambil berkata “(ini adalah) Kitab Rabbku atau Kalam Rabbku, sehingga berdalil dengan atsar ini, kurang presisi untuk mengatakan bahwa Ikrimah Rodhiyallahu ‘anhu mencium Mushaf Al Qur’an.

Baiklah kita masuk ke pembahasan sanadnya, dan dari enam kitab diatas, muara sanad adalah kepada Hammaad bin Zaid, dari Ayyub dari Ibnu Abi Mulaikah Rahimahumullah Ajma’in. Berikut keterangannya satu per satu :
 Hammaad bin Zaid (98 – 179 H), dinilai al-Hafidz dalam “Taqriib at-Tahdziib” (1/318, no. 1498, dicetak bersama Tahriir Taqriib at-Tahdziib, Muasasah ar-Risaalah), sebagai perowi yang “tsiqoh, tsabat (kokoh) dan Faqiih (seorang ulama fiqih). Dalam riwayat Imam Abu Ali Syaadzaan Rahimahullah, beliau menampilkan jalan dimana Hammaad bin Zaid juga ditemani oleh Hammaad bin Salamah (w. 167 H) dalam membawakan atsar ini. al-Hafidz menilainya dalam “at-Taqriib” (1/318, no. 1499, op cit) sebagai perowi yang “tsiqoh, ahli ibadah, orang yang paling kokoh didalam mencapai puncak kekokohannya, berubah hapalannya menjelang tutup usia”.
 Ayyub bin Abi Tamiimah as-Sikhtiyaaniy (66 – 131 H). Al-Hafidz masih di kitab yang sama (1/159, no. 605), menilainya “tsiqoh, kokoh, hujjah, termasuk pembesarnya ahli fiqih dan ahli ibadah”. Dalam riwayat Imam Abu Ali Syaadzaan, Hammaadain meriwayatkan dari Imam ‘Aashim bin Bahdalah (w. 128 H), salah satu Imam qiro’ah yang tujuh yang mutawatir. Al-Hafidz menilainya dalam kitab yang sama (2/165, no. 3054) : “shoduq (jujur) lahu Auham (memiliki kekeliruan)”. Penulis kitab ‘Tahriir” menilainya, “tsiqoh yuhim”, karena Imam ‘Aashim, ditsiqohkan oleh Imam Yahya bin Ma’in, Ahmad bin Hanbal, Abu Zur’ah, Ya’quub bin Sufyan dan Ibnu Hibban.
 Ibnu Abi Mulaikah adalah Abdullah bin Ubaidillah bin Abi Mulaikah (w. 117 H). Al-Hafidz menilainya (2/236, no. 3454) : “tsiqoh, ahli fiqih”.
 ‘Ikrimah bin Abi Jahl Rodhiyallahu ‘anhu, wafat pada masa kekhilafahan Abu Bar ash-Shiddiq Rodhiyallahu ‘anhumaa. Masuk Islam setelah penaklukkan Kota Mekkah, namun ada juga yang mengatakan beliau masuk Islam pada peperangan Yarmuuk.

Sepintas sanad diatas shahih, karena perowinya adalah para perowi tsiqoh. Namun atsar ini memiliki sebuah kelemahan, yakni terjadi keterputusan sanad antara Ibnu Abi Mulaikah dengan Ikrimah Rodhiyallahu ‘anhu, karena keduanya tidak pernah bertemu. Imam adz-Dzahabi dalam kitabnya “Siyar A’laam an-Nubalaa` (5/88-90, no. 30) ketika membahas biografi Ibnu Abi Mulaikah, beliau mengatakan bahwa Ibnu Abi Mulaikah dilahirkan pada masa kekhilafahan Ali bin Abi Thalib Rodhiyallahu ‘anhu atau sebelumnya dan dikatakan bahwa umurnya adalah 80-an tahun, oleh karena itu jika kita tarik kelahirannya dari tahun wafatnya (117 H), maka beliau dilahirkan sekitar tahun 30-an Hijriyyah, yang sangat jelas menunjukkan bahwa Ibnu Abi Mulaikah tidak berjumpa dengan Ikrimah yang wafat pada tahun 11-13 H, dimana itu adalah tahun-tahun masa kekhilafahan Abu Bakar Rodhiyallahu ‘anhu.

Asy-Syaikh Husain Saliim Asad ad-Daaraaniy, pentahqiq kitab Sunan ad-Daarimiy diatas memberikan komentar terhadap atsar ini :
إسناده منقطع ابن أبي ملكية لم يدرك عكرمة وهو موقوف أيضا على عكرمة
“sanadnya terputus, Ibnu Abi Mulaikah tidak pernah berjumpa dengan ‘Ikrimah Rodhiyallahu ‘anhu. Disamping itu juga hadits ini mauquf kepada ‘Ikrimah Rodhiyallahu ‘anhu”.

Senada dengan asy-Syaikh, Imam adz-Dzahabi dalam “at-Talkhiish”, ketika mengomentari al-Mustadraak al-Hakim, setelah dibawakan atsar ini oleh beliau, al-Imam adz-Dzahabi berkata : “mursal”.
Istilah mursal terkadang dipakai juga oleh sebagian ulama hadits untuk menunjukkan bahwa sanadnya terputus.

Kesimpulannya, atsar shohabi Ikrimah bin Abi Jahl lemah sanadnya, sehingga tidak bisa dijadikan hujjah. wallahu a’lam.

Advertisements

Leave a Comment »

RSS feed for comments on this post. TrackBack URI

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s

Create a free website or blog at WordPress.com.
Entries and comments feeds.

%d bloggers like this: