STATUS HADITS PERAWI MUDALLIS DALAM STUDI KASUS HADITS BOLEHNYA LAKI-LAKI MEMAKAI CINCIN EMAS

March 15, 2018 at 5:39 pm | Posted in Hadits | Leave a comment

STATUS HADITS PERAWI MUDALLIS DALAM STUDI KASUS HADITS BOLEHNYA LAKI-LAKI MEMAKAI CINCIN EMAS

 

Imam al-Albani Rahimahullah dalam kitabnya “Tamaam al-Minnah fii Ta’liiq ‘alaa Fiqh as-Sunnah” ketika menyebutkan mukadimah Ilmiyyah sebagai pengantar dalam memahami hadits-hadits hukum atau metode fiqih yang berlandaskan dalil-dalil sunnah yang dikenal dengan istilah Fiqih as-Sunnah, beliau memaparkan dalam mukadimah tersebut kaedah yang ketiga yaitu “menolak haditsnya para perowi Mudallis”[1].

Tadlis secara istilah didefinisikan oleh DR. Mahmuud Thahaan dengan “menyembunyikan aib dalam sanad dan memperbagus penampakannya”[2]. Maksudnya adalah perowi Mudallis meriwayatkan dari seorang syaikh, kemudian dari guru syaikhnya tersebut, namun ia sembunyikan aib sanadnya dengan menggugurkan syaikhnya, kemudian ia meriwayatkan langsung dari guru syaikhnya tersebut dengan memperbagus sanadnya, sehingga pembaca akan menyangka sanadnya tersambung.

 

Para ulama berselisih pendapat dalam menerima haditsnya perowi mudallis yang pada asalnya ia adalah seorang yang tsiqoh atau bisa dijadikan hujjah. Pendapat yang kemudian menjadi masyhur dan dipilih oleh mayoritas para ulama pengkaji hadits adalah sebagaimana disampaikan oleh Imam ibnu ash-Sholaah dalam kitabnya “Mukadimah ibnu ash-Sholaah”[3] :

والصحيحُ التفصيلُ: وأنَّ ما رواهُ المدلِّسُ بلفظٍ مُحتَملٍ لَمْ يُبَيِّنْ فيهِ السماعَ والاتِّصالَ، حُكْمُهُ حُكْمُ المرسَلِ وأنواعِهِ ، وما رواهُ بلفظٍ مُبيِّنٍ للاتِّصالِ ، نحوُ ((سَمِعْتُ، وحدَّثَنا، وأخبَرَنا)) وأشباهِها، فهو مقبولٌ محتجٌّ بهِ.

“pendapat yang rajih adalah dirinci, bahwa apa yang diriwayatkan oleh mudallis dengan lafadz muhtamal yang tidak menjelaskan padanya pendengaran dan ketersambungan, maka hukumnya adalah hukum mursal dengan jenis-jenisnya dan apa yang diriwayatkan dengan lafadz yang jelas yang menunjukkan ketersambungannya, seperti : “aku mendengar, telah menceritakan kepada kami, telah mengabarkan kepada kami” dan semisalnya, maka hadits diterima dapat dijadikan hujjah”.

 

Diantara lafadz muhtamal (masih ada kemungkinan mendengar dan tidak) adalah ‘an (dari) atau qoola (ia berkata). Hal ini dikenal dalam istilah ulama hadits dengan al-Mu’an’an, lihat misalnya penjelasan DR. Mahmuud Thahaan dalam kitabnya diatas (hal. 107-108).

 

Kita akan mentathbiq keterangan diatas pada sebuah hadits yang diriwayatkan oleh Imam an-Nasaa`iy dalam kitab “Sunannya” (no. 5163)[4] sebagai berikut :

أَخْبَرَنَا مُحَمَّدُ بْنُ يَحْيَى بْنِ مُحَمَّدِ بْنِ كَثِيرٍ الْحَرَّانِيُّ، قَالَ: حَدَّثَنَا سَعِيدُ بْنُ حَفْصٍ، قَالَ: حَدَّثَنَا مُوسَى بْنُ أَعْيَنَ، عَنْ عِيسَى بْنِ يُونُسَ، عَنْ الضَّحَّاكِ بْنِ عَبْدِ الرَّحْمَنِ، عَنْ عَطَاءٍ الْخُرَاسَانِيِّ، عَنْ سَعِيدِ بْنِ الْمُسَيَّبِ، قَالَ: قَالَ عُمَرُ لِصُهَيْبٍ: مَا لِي أَرَى عَلَيْكَ خَاتَمَ الذَّهَبِ؟ قَالَ: «قَدْ رَآهُ مَنْ هُوَ خَيْرٌ مِنْكَ فَلَمْ يَعِبْهُ» قَالَ: مَنْ هُوَ؟ قَالَ: «رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ»

“telah mengabarkan kepadaku Muhammad bin Yahya bin Muhammad bin Katsiir al-Haraaniy ia berkata, telah menceritakan kepada kami Sa’id bin Hafsh ia berkata, telah menceritakan kepada kami Musa bin A’yan, dari Isa bin Yunus, dari adh-Dhohaak bin Abdir Rahman, dari ‘Athaa` al-Khurasaaniy, dari Sa’id bin al-Musayyib ia berkata, Umar berkata kepada Suhaib Rodhiyallahu ‘anhumaa : “apa ini yang aku lihat ada padamu berupa cincin emas?. Shuhaib Rodhiyallahu ‘anhu menimpali : “sungguh telah melihat orang yang lebih baik darimu dan Beliau tidak mencelanya”. Umar Rodhiyallahu ‘anhu berkata : “siapa dia?”, jawabnya : “Rasulullah Sholallahu ‘alaihi wa Salaam”.

 

Jika kita merujuk kepada dua kitab biografi para perowi yang sangat mudah penggunannya yaitu “Taqriib at-Tahdziib”, karya Al Hafidz Ibnu Hajar dan “al-Kaasyif”, karya Imam adz-Dzahabi, maka keduanya kompak menilai seluruh perowi diatas adalah para perowi tsiqoh, kecuali dua nama berikut :

  • Sa’id bin Hafsh (w. 237 H), Al Hafidz menilainya shoduq, berubah hapalannya pada usia tuanya, sedangkan Imam adz-Dzahabi menilainya sebagai perowi tsiqoh. Penulis kitab Tahriir[5], mengkomentari bahwa lafadz “berubah hapalannya pada usia tuanya” tidak tepat;
  • ‘Athaa` al-Khurasaaniy (w. 135 H), Al Hafidz menilainya sebagai perowi shoduq banyak kesalahannya, memursalkan dan seorang mudallis. Sedangkan Imam adz-Dzahabi menukil bagaimana sholihnya ‘Athaa` ini, yaitu ketika berjihad, beliau senantiasa menghidupkan malam-malamnya.

 

Imam al-Abani dalam ta’liqnya terhadap Sunan Nasaa`i mengatakan dhoif al-Isnad (sanadnya lemah). Dalam Sunan Kubra Nasaa`i yang merupakan induk dari Sunan Nasaa’i, hadits ini tertera pada nomor 9402, kemudian beliau mengomentarinya : “hadits ini mungkar”.

 

Asy-Syaikh Muhammad bin Ali bin Adam dalam kitabnya yang sangat spektakuler bertemakan syarah Sunan Nasaa`i yang berjudul “Dakhiirot al-‘Uqbaa fii Syarh al-Mujtabaa[6], mendukung penyataan Imam Nasaa`i bahwa hadits ini mungkar, yakni disebabkan keterputusan sanad antara ‘Athoo` dengan Sa’id bin Musayyib, mengingat ‘Athoo` adalah perowi Mudallis dan disini ia meriwayatkan dengan ‘an’anah, serta hadits ini bertentangan dengan hadits shahih yang masyhur tentang larangan laki-laki memakai Emas.

Kemudian sebagian ulama menyebutkan cacat lainnya, yaitu Sa’id bin Musayyib tidak pernah mendengar dari Umar Rodhiyallahu ‘anhu, akan tetapi kata asy-Syaikh Muhammad bin Ali bin Adam, mursalnya Sa’id itu shahih, karena beliau mengambilnya dari para perowi tsiqoh, sehingga tidak bermasalah status mursalnya, sebagaimana ini dijelaskan dalam ilmu mustholah hadits.

 

Kemudian saya mendapatkan data tambahan dari penulis kitab Tahriir[7], bahwa yang layak bagi perowi yang bernama ‘Athaa` bin Abi Muslim al-Khurasaaniy adalah sebagai perowi tsiqoh, karena ditsiqohkan oleh Imam Yahya bin Ma’in, Bukhori, Abu Hatim, Daruquthni dan Ibnu Sa’ad. Kemudian statusnya sebagai seorang mudallis sebagaimana diklaim oleh Al Hafidz, maka ini tidak tepat, karena tidak seorang pun sebelum beliau yang mengatakannya, akan tetapi hal tersebut karena riwayatnya yang langsung meriwayatkan dari sebagian sahabat, sehingga seolah-olah ini dianggap sebagai tadlis.

 

Berdasarkan keterangan ini, maka selayaknya hadits ini dihukumi shahih dan memang beberapa ulama berhujjah dengan hadits ini untuk menunjukkan kebolehannya laki-laki memakai cincin emas. Namun asy-Syaikh Muhammad bin Ali bin Adam, memberikan takwilan bahwa bisa jadi Umar Rodhiyallahu ‘anhu belum sampai kabar kepadanya hadits larangan memakai emas bagi laki-laki yang me-naasikh (menghapus) hukum akan kebolehannya, kemudian bagi Shuhaib Rodhiyallahu ‘anhu dirinya pun mungkin belum sampai hadits tentang larangannya dan kejadian Rasulullah Sholallahu ‘alaihi wa Salaam melihat beliau memakai cincin emas lalu mendiamkannya, ada kemungkinan pada saat itu belum ada larangan memakai emas bagi laki-laki, sehingga Shuhaib Rodhiyallahu ‘anhu masih berpegang kepada taqriir Nabi Sholallahu ‘alaihi wa Salaam tersebut. Wallahu a’lam.

======================

Catatan Kaki :

[1] Tamaam al-Minnah, hal. 18-19, cet. Daar ar-Rayaah, KSA

[2] Taisiir Mustholah al-Hadits, hal. 96, cet. Maktabah al-Ma’aarif

[3] Ma’rifat Anwa’ Uluum al-Hadits, hal. 159, cet. Daar al-Kutub al-‘Ilmiyyah

[4] Sunan Nasaa`i, hal. 781, cet. Maktabah al-Ma’aarif, dengan tahqiq asy-Syaikh Masyhur Salman

[5] Tahriir Taqriib at-Tahdziib, Juz 2 hal. 24, cet. Muasasah ar-Risaalah

[6] Dakhiiroh al-‘Uqbaa, juz. 38 hal. 242, cet. Daar Alu Baruum

[7] At-Tahriir, Juz 3 hal. 16-17

Advertisements

Leave a Comment »

RSS feed for comments on this post. TrackBack URI

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s

Create a free website or blog at WordPress.com.
Entries and comments feeds.

%d bloggers like this: