MENJAMAK SHOLAT KARENA SAKIT

March 28, 2018 at 11:46 pm | Posted in fiqih | Leave a comment

MENJAMAK SHOLAT KARENA SAKIT

 

Al-Imam Abu Muhammad ibnu Qudamah al-Maqdisiy (w. 620 H) Rahimahullah dalam kitabnya yang sangat bermanfaat untuk mengetahui fiqih Imam Ahmad dan juga sering diselingi dengan pendapat dari ulama lainnya, menuliskan suatu pasal khusus tentang orang yang sakit yang diperbolehkan untuk menjamak sholat (juz 2 hal. 205, cet. Maktabah al-Qoohiroh), kata beliau :

“orang sakit yang diperbolehkan menjamak adalah yang disifati dengan adanya kesulitan dan kelemahan, jika mengerjakan sholat pada waktunya. Al-Atsram berkata, pernah ditanyakan kepada Imam Abu Abdillah (Ahmad bin Hanbal), “orang yang sakit bolehkah menjamak dua sholat?”, beliau menjawabnya, “aku berharap (tidak mengapa) jika ia merasa lemah dan ia tidak mampu kecuali mengerjakannya dengan menjamaknya”.

Al-Imam Ibnu Rusydi (w. 595 H) Rahimahullah dalam kitabnya “Bidaayah al-Mujtahiid” (hal. 185, cet. Daar as-Salaam) menambahkan bahwa Imam Malik juga berpendapat bolehnya hal tersebut jika dikhawatirkan ia nanti akan pingsan karena sakitnya.

 

Adapun Imam Syafi’i tidak membolehkannya, menurut penuturan Al-Hafidz Ibnu Rusyd. penulis kitab “Kifaayah al-Akhyaar” (hal. 190-191, cet. Muasasah Syuruuq) menyatakan bahwa memang yang ma’ruf dalam madzhab Syafi’i tidak diperbolehkan menjamaknya ketika sakit, bahkan kata beliau Imamul Haramain mengklaim adanya ijma dalam madzhab Syafi’i akan terlarangnya menjamak dengan alasan sakit. Namun asy-Syaikh Abu Bakar al-Husainiy –penulis Kifaayah al-Akhyaar- membatalkan klaim ijma tersebut, beliau menyebutkan bahwa dikalangan ulama Syafi’i ada yang membolehkannya, misalnya al-Qoodhi Husain, al-Mutawalliy, Al-Khothoobiy dan selain mereka Rahimahumullah, bahkan asy-Syaikh kemudian menukil perkataan Imam Nawawi yang menyatakan bahwa pendapat yang membolehkan menjamak sholat karena sakit adalah pendapat yang jelas dan terpilih. Kemudian al-Isnaa`iy Rahimahullah mengklaim bahwa apa yang dinyatakan Imam Nawawi ternashkan juga oleh Imam Syafi’i dalam “Mukhtashor al-Muzaniy”. Kemudian asy-Syaikh Abu Bakar al-Hishniy agaknya condong kepada pendapat bolehnya menjamak sholat bagi orang yang sakit, yang mana beliau menyebutkan lagi bahwa yang menguatkan pendapat ini adalah orang yang sakit itu diperbolehkan berbuka puasa, oleh sebab itu, diperbolehkannya menjamak tentu lebih utama (mungkin maksud beliau orang yang bersafar diperbolehkan berbuka puasa, padahal belum tentu safarnya melemahkannya dan juga boleh menjamak sholat, apalagi orang yang sakit yang diperbolehkan berbuka puasa dan memang kondisinya benar-benar lemah, maka tentunya menjamak lebih diperbolehkan lagi, pent.).

 

Dalil yang dibawakan oleh para Aimah yang membolehkan menjamak dengan alasan sakit diantaranya adalah hadits Ibnu Abbas Rodhiyallahu ‘anhu dalam Shahih Muslim (no. 50/705) :

صَلَّى رَسُولُ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ الظُّهْرَ وَالْعَصْرَ جَمِيعًا بِالْمَدِينَةِ، فِي غَيْرِ خَوْفٍ، وَلَا سَفَرٍ

“Rasulullah Sholallahu ‘alaihi wa Salaam sholat Dhuhur dan Ashar dengan dijamak di Madinah bukan karena takut dan juga safar”.

Dalam lafadz lain (no. 54/705) :

فِي غَيْرِ خَوْفٍ، وَلَا مَطَرٍ

“…bukan karena takut dan juga bukan karena hujan”.

Ketika Shohabi Jaliil Ibnu Abbas Rodhiyallahu ‘anhumaa ditanya tentang alasan kenapa Rasulullah Sholallahu ‘alaihi wa Salaam melakukan hal tersebut, beliau menjawab :

أَرَادَ أَنْ لَا يُحْرِجَ أُمَّتَهُ

“Nabi ingin tidak memberatkan umatnya”.

Seandainya bukan tanpa sebab diperbolehkan menjamak sholat, apalagi jika ada sebab yang memang menyulitkan umatnya, tentu lebih diperbolehkan. Sholawat dan Sallam kepada Habiibunaa Rasulullah Sholallahu ‘alaihi wa Salaam yang amat penyayang kepada umatnya.

 

Hadits perintah Rasulullah Sholallahu ‘alaihi wa Salaam kepada wanita Istihadhoh, seperti misalnya kepada Hamnah Rodhiyallahu ‘anha :

فَإِنْ قَوِيتِ عَلَى أَنْ تُؤَخِّرِي الظُّهْرَ وَتُعَجِّلِي العَصْرَ، ثُمَّ تَغْتَسِلِينَ حِينَ تَطْهُرِينَ، وَتُصَلِّينَ الظُّهْرَ وَالعَصْرَ جَمِيعًا، ثُمَّ تُؤَخِّرِينَ المَغْرِبَ، وَتُعَجِّلِينَ العِشَاءَ، ثُمَّ تَغْتَسِلِينَ، وَتَجْمَعِينَ بَيْنَ الصَّلَاتَيْنِ، فَافْعَلِي، وَتَغْتَسِلِينَ مَعَ الصُّبْحِ وَتُصَلِّينَ، وَكَذَلِكِ فَافْعَلِي

“jika engkau mampu untuk mengakhirkan Dhuhur dan menyegerakan Ashar, lalu engkau mandi dalam kondisi suci, engkau sholat Dhuhur dan Ashar dengan dijamak, lalu engkau mengakhirkan Maghrib dan mendahulukan Isya, lalu engkau mandi dan menjamak kedua sholat tersebut, lalu engkau mandi untuk sholat Subuh, demikianlah yang engkau lakukan” (HR. Ashabus Sunnah, kecuali Nasaa`iy, dan ini adalah lafadz Tirmidzi, dihasankan oleh Al-Albani).

Istihadhoh adalah darah penyakit.

 

Kesimpulannya, pendapat yang rajih diperbolehkan bagi orang yang sakit dengan sakit yang menyebabkan lemah badannya untuk menjamak sholatnya, sebagai kemurahan dari Allah yang Maha Penyayang lagi Maha Pengasih. Walhamdulillah.

Advertisements

Leave a Comment »

RSS feed for comments on this post. TrackBack URI

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s

Create a free website or blog at WordPress.com.
Entries and comments feeds.

%d bloggers like this: