DOSA YANG TIDAK TERHAPUS DENGAN IBADAH

April 29, 2018 at 11:35 pm | Posted in Tulisan Lainnya | Leave a comment

DOSA YANG TIDAK TERHAPUS DENGAN IBADAH

Diriwayatkan bahwa Shohabi Jaliil wal masyhur Abu Hurairoh Abdurrahman bin Shokhr radhiyallahu anhu mendengar Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam bersabda :
ﺇﻥ ﻣﻦ ﺍﻟﺬﻧﻮﺏ ﺫﻧﻮﺑﺎ ﻻ ﻳﻜﻔﺮﻫﺎ ﺍﻟﺼﻼﺓ ﻭﻻ ﺍﻟﺼﻴﺎﻡ ﻭﻻ ﺍﻟﺤﺞ ﻭﻻ ﺍﻟﻌﻤﺮﺓ، ﻗﺎﻟﻮﺍ : ﻓﻤﺎ ﻳﻜﻔﺮﻫﺎ ﻳﺎ ﺭﺳﻮﻝ ﺍﻟﻠﻪ؟ ﻗﺎﻝ : ﺍﻟﻬﻤﻮﻡ ﻓﻲ ﻃﻠﺐ ﺍﻟﻤﻌﻴﺸﺔ
“Sesungguhnya diantara dosa-dosa ada dosa yang tidak bisa dihapus dengam sholat, tidak juga puasa, haji maupun Umrah”.
Para sahabat bertanya : “lalu apa yang bisa menghapusnya wahai Rasulullah?”,
Beliau menjawab : “bersusah payah mencari sesuap nasi”.

Hadits ini diriwayatkan oleh Imam ath-Thabarani dalam al-Ausath, dan selainnnya, namun status hadits ini palsu, sebagaimana penilaian imam al-albani dalam “adh-Dhoifah” (no. 924), didalam sanadnya ada perowi yang bernama Muhammad bin Salaam al-Mishriy. Imam adz-dzahabi mengatakan bahwa ia meriwayatkan dari Yahya bin Bukair dari malik bin Anas, hadits-hadits palsu dan hadits ini adalah riwayatnya dari Yahya bin Bukair dari Malik.

Advertisements

WAKTU BERLALU DENGAN CEPAT

April 29, 2018 at 11:33 pm | Posted in Tulisan Lainnya | Leave a comment

WAKTU BERLALU DENGAN CEPAT

Pernahkah anda merasakan berlalunya waktu dengan cepat? Jika anda merasakannya, maka berarti tanda kiamat yang kecil sedang anda jalani, karena ini adalah salah satu penafsiran ulama terhadap hadits shahihain dari shohabi jaliil Abu Hurairoh radhiyallahu anhu bahwa Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam bersabda :
عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ، قَالَ: قَالَ النَّبِيُّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: «لاَ تَقُومُ السَّاعَةُ حَتَّى يُقْبَضَ العِلْمُ، وَتَكْثُرَ الزَّلاَزِلُ، وَيَتَقَارَبَ الزَّمَانُ، وَتَظْهَرَ الفِتَنُ، وَيَكْثُرَ الهَرْجُ – وَهُوَ القَتْلُ القَتْلُ – حَتَّى يَكْثُرَ فِيكُمُ المَالُ فَيَفِيضَ»
“Tidaklah terjadi kiamat hingga dicabutnya ilmu, banyaknya gempa, cepatnya waktu… “.

Penafsiran ulama diatas dikuatkan dengan sebuah hadits dari Abu Hurairoh juga secara marfu’ :
ﻻَ ﺗَﻘُﻮﻡُ ﺍﻟﺴَّﺎﻋَﺔُ ﺣَﺘَّﻰ ﻳَﺘَﻘَﺎﺭَﺏَ ﺍﻟﺰَّﻣَﺎﻥُ ﻓَﺘَﻜُﻮﻥَ ﺍﻟﺴَّﻨَﺔُ ﻛَﺎﻟﺸَّﻬْﺮِ، ﻭَﻳَﻜُﻮﻥَ ﺍﻟﺸَّﻬْﺮُ ﻛَﺎﻟْﺠُﻤُﻌَﺔِ، ﻭَﺗَﻜُﻮﻥَ ﺍﻟْﺠُﻤُﻌَﺔُ ﻛَﺎﻟْﻴَﻮْﻡِ، ﻭَﻳَﻜُﻮﻥَ ﺍﻟْﻴَﻮْﻡُ ﻛَﺎﻟﺴَّﺎﻋَﺔِ، ﻭَﺗَﻜُﻮﻥَ ﺍﻟﺴَّﺎﻋَﺔُ ﻛَﺎﺣْﺘِﺮَﺍﻕِ ﺍﻟﺴَّﻌَﻔَﺔِ .
“Tidak akan tiba hari Kiamat hingga zaman berdekatan, setahun bagaikan sebulan, sebulan bagaikan sepekan, sepekan bagaikan sehari, sehari bagaikan sejam dan sejam bagaikan terbakarnya pelepah pohon kurma.” (HR. Tirmidzi, dishahihkan oleh al-albani).

Oleh sebab itu manfaatkan waktu yang cepat berputar ini dengan amalan-amalan sholih yang akan menjadi penyejuk pandangan biidznillah.

SETIAP YANG BERKEYAKINAN SEBUAH SEBAB YANG TIDAK DITUNJUKKAN OLEH SYAR’I MAUPUN QODARI, MAKA IA TERJATUH KEDALAM KESYIRIKAN

April 29, 2018 at 11:32 pm | Posted in Tulisan Lainnya | Leave a comment

SETIAP YANG BERKEYAKINAN SEBUAH SEBAB YANG TIDAK DITUNJUKKAN OLEH SYAR’I MAUPUN QODARI, MAKA IA TERJATUH KEDALAM KESYIRIKAN

Para ulama ketika berkhidmat terhadap agama ini, mereka mencoba menghadirkan metode atau cara yang mempermudah kaum muslimin dalam menerapkannya. Salah satu metode tersebut adalah dengan membuat kaedah-kaedah dalam beberapa cabang ilmu-ilmu islam. Kaedah-kaedah ini menjadi semacam tools yang mempermudah kita, karena seperti rumus besar yang bisa diterapkan kedalam beberapa permasalahan yang dicakupinya.

Para ulama fiqih membuat kaedah-kaedah fiqih, para ulama bahasa membuat kaedah-kaedah nahwu, shorof, balaghah dan sejenisnya dan seterusnya. Kaedah-kaedah tersebut terkadang berasal dari nash syar’iyyah, seperti kaedah “لَا ضَرَرَ وَلَا ضِرَارَ” yang merupakan potongan dari hadits yang masyhur. Namun kebanyakan kaedah adalah berasal dari istiqra` (pengamatan) terhadap nash-nash syariat lalu oleh ulama kita disimpulkan menjadi sebuah kaedah yang bisa diberlakukan umum, seperti kaedah fiqih yang masyhur “al-masyaqoh tajlibu at-taisir” (kesulitan itu mendatangkan kemudahan).

Begitu juga dalam masalah akidah, para ulama membuat kaedah-kaedah yang bertujuan sebagai tools dalam mempermudah penerapannya dalam kehidupan sehari-hari atau dalam kajian-kajian terkait. Diantara kaedah tersebut adalah judul dalam tulisan diatas.

Kaedah diatas, yang saya lihat banyak disebutkan berulang kali oleh asy-syaikh Muhammad bin Sholih al-utsaimin dalam karya tulis beliau maupun fatwa-fatwanya. Kemudian saya melihat salah seorang ulama saudi, yakni asy-syaikh Waliid bin Raasyid as-Saidaan hafizhahullah menulis sebuah buku yang sangat bermanfaat yang berisi kaedah-kaedah dalam bab akidah, kitabnya dapat didownload disini : http://www.alsaeedan.com/book/33.

Kaedah diatas dijelaskan cukup lengkap oleh asy-syaikh di jilid pertama halaman 240-249. Inti dari penjelasan kaedah diatas adalah bahwa Allah Subhanahu wa ta’ala telah menurunkan sebab baik berupa sebab syar’i maupun sebab qodariy dan sebagian penjelasan dari dua sebab tersebut dapat melihat tulisan kami terdahulu : https://m.facebook.com/story.php?story_fbid=424089631336707&id=100012070207276.

Oleh sebab itu, jika seorang berkeyakinan bahwa sebab itu sendiri yang mendatangkan kemanfaatan atau dapat menolak kemudharatan, maka ia terjatuh kedalam syirik akbar. Namun jika ia berkeyakinan bahwa sebab (yang tidak syar’i atau qodariy) hanya sekedar sababiyyah saja, sedangkan yang mendatang manfaat dan mudhorot adalah Allah, maka ini adalah syirik asghar (kecil). Penjelasannya adalah bahwa Allah Subhanahu wa ta’ala yang mengkaitkan sebab dengan musababnya, sedangkan sebab syari’iyyah hanya diketahui melalui jalan Wahyu (Al Qur’an dan hadits), oleh sebab itu jika seorang berkeyakinan bahwa sesuatu itu adalah sebab tanpa landasan syar’i, maka ia telah menempatkan dirinya sebagai pembuat syariat dan ia berbicara tanpa ilmu yang ini adalah haran dan tidak diperbolehkan, karena sebab syar’i terkait dengan musababnya adalah perkara ghoib yang tidak bisa terlihat kasat mata, dan ketika ia berani mengklaim bahwa itu adalah sebab tanpa landasan syar’i, maka berarti ia telah mengklaim mengetahui ilmu ghoib. Oleh sebab itu, meyakini sebuah sebab tanpa landasan syar’i mengantarkannya kepada kesyirikan dan kaedahnya sesuatu yang bisa mengantarkan kepada kesyirikan maka itu adalah syirik asghar.

Maka orang yang memakai gelang jimat dengan keyakinan itu adalah sebab, jika ia masih berkeyakinan bahwa yang memberi manfaat dan menolak mudhorat adalah Allah, sedangkan gelang jimat hanya sekedar sebab saja, maka ia terjatuh dalam syirik asghar, karena Allah tidak pernah menurunkan gelang jimat tersebut sebagai sebab. Namun jika ia berkeyakinan gelang jimat tersebut yang dapat mendatangkan manfaat dan menolak kemudharatan maka ia terjatuh kedalam syirik akbar.

Contoh lain adalah ruqyah syar’iyah, dalam hadits dikatakan :
ﻟَﺎ ﺑَﺄْﺱَ ﺑِﺎﻟﺮُّﻗَﻰ ﻣَﺎ ﻟَﻢْ ﻳَﻜُﻦْ ﻓِﻴﻪِ ﺷِﺮْﻙٌ ‏
“Tidak mengapa menggunakan ruqyah, selama tidak mengandung kesyirikan padanya” (HR. Muslim).
Maka jika seorang berkeyakinan bahwa ruqyah ini sendiri yang mendatangkan manfaat dan menolak mudhorot, maka ia terjatuh kedalam kesyirikan, namun jika ia berkeyakinan bahwa itu adalah sekedar sebab, sedangkan tetap yang mendatangkan manfaat adalah Allah, maka ini tidak mengapa, bahkan bisa menjadi wajib karena syariat mengijinkannya untuk menolak mudharat.

Wallahu a’lam.

HADITS SUTRAH DENGAN GARIS

April 20, 2018 at 10:05 pm | Posted in Tulisan Lainnya | Leave a comment

HADITS SUTRAH DENGAN GARIS

Pada asalnya sutrah (pembatas) untuk sholat yang diletakkan didepan orang yang sedang sholat adalah sesuatu yang menonjol, bisa berupa dinding masjid, tiang masjid atau pelana kuda dan semisalnya. Namun jika itu semua tidak ada, apakah diperbolehkan bersutrah dengan garis?.

Al-Hafidz Ibnu Rajab (w. 795 H) Rahimahullah dalam kitabnya “Fathul Bariy Syarah Shahih Bukhori” (IV/39-40) menjelaskan kepada kita pendapat para ulama terkait hal ini, kata beliau :
وأما الخط في الأرض إذا لم يجد ما يستتر به ففيه قولان:
أحدهما: أنه يحصل به الاستتار – أيضا -، وهو قول أبي هريرة، وعطاء، وسعيد بن جبير، والأوزاعي، والثوري، والشافعي في أحد قوليه – ورجحه كثير من أصحابه أو أكثرهم – وأحمد، وإسحاق، وأبي ثور.
والثاني: أنه ليس بسترة، وهو قول مالك، والنخعي، والليث، وأبي حنيفة، والشافعي في الجديد. وقال مالك: الخط باطل.
“adapun garis di tanah jika tidak mendapatkan sesuatu yang bisa dijadikan sutrah maka terkait dengannya ada dua pendapat :
1. Garis bisa dijadikan sutrah juga, ini adalah pendapatnya Abu Huroiroh Rodhiyallahu ‘anhu, ‘Athaa`, Said bin Jubair, al-Auzaa’iy, ats-Tsauriy, asy-Syafi’i dalam salah satu pendapatnya –kemudian dirajihkan oleh kebanyakan ashabnya-, Ahmad, Ishaq dan Abu Tsaur Rahimahumullah;
2. Garis tidak bisa dijadikan sutrah, ini adalah pendapatnya Malik, an-Nakhoo’iy, al-Laits, Abu Hanifah, asy-Syafi’i dalam pendapat Jadidnya. Malik berkata : “garis itu batil”.

Aimah yang berpendapat bolehnya garis sebagai sutrah berdalil dengan hadits Abu Huroiroh Rodhiyallahu ‘anhu secara marfu’ :
إِذَا صَلَّى أَحَدُكُمْ، فَلْيَجْعَلْ تِلْقَاءَ وَجْهِهِ شَيْئًا، فَإِنْ لَمْ يَجِدْ شَيْئًا، فَلْيَنْصِبْ عَصًا، فَإِنْ لَمْ يَكُنْ مَعَهُ عَصًا، فَلْيَخُطَّ خَطًّا، وَلَا يَضُرُّهُ مَا مَرَّ بَيْنَ يَدَيْهِ
“Jika kalian sholat, maka letakkanlah dihadapannya sesuatu (sutrah), jika tidak mendapatkan sutrah tersebut, maka tancapkanlah tongkat (didepannya), jika tidak ada tongkat, maka buatlah sebuah garis, dan orang yang lewat dibelakang garis tidak membahayakannya”.

Oleh karena ini adalah hadits yang dijadikan dalil oleh kelompok yang membolehkannya, maka kita fokus untuk melihat bagaimana kevalidannya berdasarkan tinjaun terhadap sanadnya.

Hadits diatas diriwayatkan oleh beberapa Aimah hadits diantaranya adalah Imam Ahmad dalam “al-Musnad” (no. 7392, cet. Ar-Risaalah), Imam Abu Dawud dalam “Sunannya” (no. 689) dan Imam Ibnu Majah dalam “Sunannya” (no. 943) serta selainnya. Ketiga Aimah diatas semua sanadnya bermuara kepada :
إِسْمَاعِيلَ بْنِ أُمَيَّةَ، عَنْ أَبِي عَمْرِو بْنِ مُحَمَّدِ بْنِ عَمْرِو بْنِ حُرَيْثٍ، عَنْ جَدِّهِ حُرَيْثِ بْنِ سُلَيْمٍ، عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ، عَنِ النَّبِيِّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ
“Ismail bin Umayyah, dari Abi ‘Amr bin Muhammad bin ‘Amr bin Huraits dari kakeknya Huraits bin Sulaim dari Abi Huroiroh Rodhiyallahu ‘anhu dari Nabi Sholallahu ‘alaihi wa Salaam : “al-Hadits”.

Memang sebagian Aimah hadits mutaqodimin menshahihkan hadits ini, seperti dinukil oleh Imam Ibnu Abdil Barr dalam kitabnya “al-Istidzkaar” (II/281) :
وَأَمَّا أَحْمَدُ بْنُ حَنْبَلٍ وَعَلِيُّ بْنُ الْمَدِينِيِّ فَكَانَا يُصَحِّحَانِ هَذَا الْحَدِيثَ
“adapun Ahmad bin Hanbal dan Ali ibnul Madiiniy, mereka berdua menshahihkan hadits ini”.
Akan tetapi tentu kita butuh kepada evidence yang sesuai dengan kaedah-kaedah dalam ilmu hadits sehingga bisa dihasilkan kesimpulan apakah hadits tersebut shahih, hasan atau bahkan dhoif.

Sebagian ulama lainnya mengatakan bahwa hadits ini memiliki dua cacat, yaitu idhthirob (kegoncangan pada sanadnya) dan kemajhulan dua perowinya. Adapun idhthirobnya hadits ini telah ditegaskan oleh Imam ibnu ash-Sholaah, sebagai pakar ulama hadits rujukan. Bahkan beliau menjadikan hadits ini sebagai contoh hadits idhthirob dalam kitabnya yang sangat terkenal dengan nama “Mukadimah ibnu ash-Sholaah” di point ke-19 ketika menjelaskan jenis-jenis pembahasan dalam ilmu hadits.

Al-Hafidz Ibnu Rajab Rahimahullah dalam kitabnya diatas telah memaparkan dengan sangat lengkap bagaimana kegoncangan sanad tersebut terjadi :
Pertama adalah terjadinya kegoncangan pada nama gurunya Ismail bin Umayyah dalam beberapa versi :
• Nama gurunya adalah Abi Muhammad bin ‘Amr bin Huraits al-‘Adzariy;
• Nama gurunya adalah Abi ‘Amr bin Muhammad bin Huraits;
• Nama gurunya adalah Abi ‘Amr bin Huraits.

Kemudian kegoncangan terjadi juga pada orang yang meriwayatkan dari Ismail bin Umayyah tersebut menjadi beberapa versi juga :
 Sebagaimana sanad yang kami sebutkan diatas;
 Dari Ismail dari syaikhnya diatas dengan ragam versinya dari bapaknya dari Abi Huroiroh Rodhiyallahu ‘anhu;
 Dari Ismail dari syaikhnya diatas dari kakeknya dari Abi Huroiroh Rodhiyallahu ‘anhu;
 Dari Ismail dari Bapaknya dari Abi Huroiroh Rodhiyallahu ‘anhu;
 Dari Ismail dari syaikhnya dari Abi Huroiroh Rodhiyallahu ‘anhu tanpa perantara bapak atau kakeknya.

Maka kegoncangan pada sanad hadits ini sagat jelas dan idhthirob alias kegoncangan menyebabkan haditsnya menjadi dhoif.

Anggaplah kita mengikuti pendapat ulama yang meniadakan kegoncangan padanya, semisal Al Hafidz Ibnu Hajar yang berkata dalam “Bulughul Maram” (hadits no. 234) :
وَلَمْ يُصِبْ مَنْ زَعَمَ أَنَّهُ مُضْطَرِبٌ, بَلْ هُوَ حَسَنٌ
“dan tidak benar orang yang mengklaim bahwa hadits ini mudhthorib, bahkan ini adalah hadits Hasan”.

Atau seperti Imam Abu Zur’ah sebagaimana yang diriwayatkan oleh Imam Ibnu Abi Hatim dalam kitabnya “al-“Illal” (II/484) bahwa beliau merajihkan jalan yang benar adalah :
عَنْ إِسْمَاعِيلَ بْنِ أُميَّة، عَنْ أَبِي عَمْرِو بْنِ مُحَمَّدِ بْنِ حُرَيْث، عَنْ أَبِيهِ، عَنْ أبي هريرة، عن النبيِّ (ص)
“dari Ismail bin Umayyah dari Abi ‘Amr bin Muhammad bin Huraits dari Bapaknya dari Abi Huroiroh Rodhiyallahu ‘anhu dari Nabi Sholallahu ‘alaihi wa Salaam”.

Atau perajihan Imam Daruquthni dalam “al-Illal” (X/283) bahwa jalannya adalah sama seperti diatas, tapi bapaknya diganti kakeknya.

Maka masih ada cacat berikutnya yang Al Hafidz Ibnu Hajar terluput darinya yaitu status Abu ‘Amr atau Abu Muhammad ibnu Huraits dan bapaknya atau kakeknya. Al-Hafidz Ibnu Hajar Rahimahullah sendiri telah menilai Abu ‘Amr ini majhul. Kemudian beliau menukil juga dalam kitabnya “Tahdziib at-Tahdziib” (XII/180-181) bahwa Imam ath-Thahawi telah menilai majhul kepada Abu ‘Amr ini dan kakeknya. Memang benar Imam Ibnu Hibban mentsiqohkan Abu ‘Amr, namun sebagaimana telah maklum beliau gampang memberikan tautsiq kepada para perowi majhul. Seandainya pun diterima maka kemajhulan bapak atau kakek Abu ‘Amr ini masih ada.

Imam Ibnu Abi Hatim dalam “al-Jarh wa at-Ta’dil” (III/262) telah menyebutkan biografi Huraits bin ‘Amaar, kakeknya Abu ‘Amr tersebut, tanpa ada komentar jarh maupun ta’dil terhadapnya, dan telah berlalu penilaian kemajhulan dari Imam ath-Thahawiy. Imam Ibnu Hibban seperti biasa memberikan pentsiqohan kepadanya.

Sebagian ulama mutaqodimin mendhoifkan hadits ini diantaranya adalah Imam ad-Daruquthni yang dengan tegas mengatakan : “لا يصح ولا يثبت” (tidak shahih dan tidak tsabit), sebagaimana dinukil oleh Al Hafidz dalam Tahdziib at-Tahdziib, begitu juga terdapat isyarat pendhoifannya juga dari Imam asy-Syafi’i dan Imam Sufyan bin Uyyainah.

Adapun nukilan penshahihan dari Imam Ahmad oleh Imam Ibnu Abdil Barr, maka perlu dilihat lebih lanjut kevalidannya. Al Hafidz Ibnu Rajab dalam kitabnya diatas berkata :
وأحمد لم يعرف عنه التصريح بصحته، إنما مذهبه العمل بالخط، وقد يكون اعتمد على الآثار الموقوفة لا على الحديث المرفوع
“Imam Ahmad tidak diketahui bahwa beliau tegas menshahihkannya, hanyalah mazhabnya memang beramal dengan garis, mungkin saja ia berpegang dengan atsar yang mauquf bukan kepada hadits yang marfu’”.
Kemudian Al Hafidz Ibnu Rajab malah menukil pendhoifan Imam Ahmad terhadap hadits ini, kata beliau :
فإنه قال في رواية ابن القاسم: الحديث في الخط ضعيف.
“karena dalam riwayat ibnul Qoosim, Imam Ahmad berkata, “hadits tentang garis adalah dhoif”.
Hal senada dinukil juga oleh Al Hafidz Ibnu Hajar dalam at-Tahdziib, menukil dari Imam al-Kholaal yang meriwayatkan bahwa Imam Ahmad mengatakan, “hadits garis adalah dhoif”.
Dan kami juga belum mendapatkan penukilan penshahihan dari Imam Ali bin al-Madiniy, seorang pakar ilmu illalul hadits, selain dari Imam Ibnu Abdil Barr dan kevalidannya belum bisa dibuktikan secara ilmiah, mengingat terpaut jauh umur Imam Ibnu Abdil Barr dengan Imam Ibnul Madiniy dan beliau tidak menyebutkan sanad yang bisa kita nilai kevalidannya. Wallahu a’lam. Bahkan dalam riwayat Abu Dawud dalam Sunannya (no. 690) Imam Ali ibnul Madiiniy mengisyaratkan adanya kegoncangan pada hadits ini, Imam Abu Dawud berkata :
حَدَّثَنَا مُحَمَّدُ بْنُ يَحْيَى بْنِ فَارِسٍ، حَدَّثَنَا عَلِيٌّ يَعْنِي ابْنَ الْمَدِينِيِّ، عَنْ سُفْيَانَ، عَنْ إِسْمَاعِيلَ بْنِ أُمَيَّةَ، عَنْ أَبِي مُحَمَّدِ بْنِ عَمْرِو بْنِ حُرَيْثٍ، عَنْ جَدِّهِ حُرَيْثٍ، رَجُلٍ مِنْ بَنِي عُذْرَةَ، عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ، عَنْ أَبِي الْقَاسِمِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ، قَالَ: فَذَكَرَ حَدِيثَ الْخَطِّ، قَالَ سُفْيَانُ: لَمْ نَجِدْ شَيْئًا نَشُدُّ بِهِ هَذَا الْحَدِيثَ، وَلَمْ يَجِئْ إِلَّا مِنْ هَذَا الْوَجْهِ، قَالَ: قُلْتُ لِسُفْيَانَ: إِنَّهُمْ يَخْتَلِفُونَ فِيهِ فَتَفَكَّرَ سَاعَةً، ثُمَّ قَالَ: مَا أَحْفَظُ إِلَّا أَبَا مُحَمَّدِ بْنَ عَمْرٍو، قَالَ سُفْيَانُ: قَدِمَ هَاهُنَا رَجُلٌ بَعْدَ مَا مَاتَ إِسْمَاعِيلُ بْنُ أُمَيَّةَ فَطَلَبَ هَذَا الشَّيْخُ أَبَا مُحَمَّدٍ حَتَّى وَجَدَهُ فَسَأَلَهُ عَنْهُ فَخَلَطَ عَلَيْهِ
“telah menceritakan kepada kami Muhammad bin Yahya bin Faaris, telah menceritakan kepada kami Ali ibnul Madiiniy, dari Sufyaan, dari Ismail bin Umayyah, dari Abi Muhammad bin ‘Amr dari Huraits, dari kakeknya Huraits –dari bani ‘Udzrah- dari Abi Huroiroh Rodhiyallahu ‘anhu dari Abil Qoosim Sholallahu ‘alaihi wa Salaam lalu disebutkan hadits tentang garis.
Sufyan berkata : “kami tidak mendapatkan penguat untuk hadits ini dan tidak datang haditsnya kecuali dari jalan ini”. (Imam Ali bin al-Madiiniy) berkata : “mereka berselisih tentangnya”, maka Sufyan pun berpikir sejenak, lalu beliau berkata : “aku tidak hapal, kecuali dari Abu Muhmmad bin ‘Amr”, lanjutnya, “ada seorang yang baru datang kesini setelah wafatnya Ismail bin Umayyah, ia mencari syaikh ini yakni Abu Muhammad, lalu ia pun bertemu dengannya, lalu bertanya tentang hadits ini, lalu terjadilah ikhtilath (percampuran/perubahan hapalan) atasnya”.

Al Hafidz Ibnu Rajab Rahimahullah menemukan syahid (penguat) dari jalan shohabi Anas bin Malik Rodhiyallahu ‘anhu dalam kitabnya diatas, yang menunjukkan luasnya penelitian dan pengetahuan beliau terhadap hadits, khususnya pembahasan hadits ini, karena tidak ada yang berhasil menemukan jalan ini –fimma na’lam-, selain beliau Rahimahullah. beliau berkata :
قلت: وقد روي في الخط بين يدي المصلي حديث مرفوع من حديث انس. خرجه حمزة السهمي في ((تاريخ إستراباذ)) .
وإسناده مجهول ساقط بمرة.
“diriwayatkan hadits tentang garis didepan orang yang sholat secara marfu’ dari haditsnya Anas bin Malik Rodhiyallahu ‘anhu, diriwayatkan oleh Hamzah as-Sahmiy dalam “Taarikh Istaroobaadz”, namun sanadnya majhul, sangat lemah sekali”.

Orang kedua yang penelitiannya luas juga adalah Al Hafidz Ibnu Hajar al-Asqolaniy Rahimahullah yang menemukan syahid lainnya dari Abu Musa al-Asy’ariy Rodhiyallahu ‘anhu, sebagaimana dinukil oleh Imam Al-Albani dalam “adh-Dhoifah” (no. 5813), namun dalam sanadnya ada perowi yang bernama Abu Harun al-‘Abadiy, seorang perowi matruk, bahkan sebagian ulama menilainya sebagai pendusta. Kemudian Al Hafidz menyorongkan penguat lagi yang beliau klaim sebagai hadits mauquf dari Sa’id bin Jubair Rahimahullah, namun segera dikritik oleh Imam al-Albani bahwa yang benar adalah hadits maqtu’ bukan mauquf, karena terhenti sanadya kepada Sa’id bin Jubair, seorang Tabi’i, kemudian kalau saja mauquf belum bisa menguatkan hadits yang kita bahas ini, terlebih lagi ini adalah maqtu’, maka tentunya lebih tidak bisa menguatkannya. Dan ini menunjukkan penelitian yang luas dari Imam al-Albani yang bisa mengimbangi penelitian para hufadz hadits yang masyhur sebagai bintangnya dalam ilmu hadits ini.

Al Hafidz Ibnu Hajar juga menambah deretan ulama yang mendhoifkan hadits ini yaitu Imam al-Baghowiy dalam kitabnya “at-Talkhiish al-Habiir” (I/681). Kemudian guru Al Hafidz Ibnu Hajar sendiri yakni Al Hafidz al-‘Iraqiy (w. 806) Rahimahullah juga ketika menyebutkan contoh hadits mudhthorib dalam kitabnya “at-Tabshiiroh wa at-Tadzkirooh” (I/293), beliau mencontohkannya dengan hadits garis sutrah ini.

Kesimpulannya –wallahu a’lam- berdasarkan kaedah-kaedah dalam ilmu hadits maka pendapat yang menyatakan dhoifnya hadits ini, lebih kuat dengan bukti-bukti ilmiah yang tidak bisa terbantahkan.

URUTAN TANDA KIAMAT BESAR

April 20, 2018 at 10:02 pm | Posted in Tulisan Lainnya | Leave a comment

URUTAN TANDA KIAMAT BESAR

Ada sepuluh tanda kiamat yang besar yang telah Rasulullah Sholallahu ‘alaihi wa Salaam beritahukan kepada umatnya, sebagaimana diriwayatkan dengan sanad yang bersambung kepada Beliau oleh Imam Muslim dalam “Shahihnya” (no. 39 – 2901) dan selainnya dengan jalannya sampai kepada Khudzaifah bin Asiid al-Ghifariy Rodhiyallahu ‘anhu beliau berkata :
اطَّلَعَ النَّبِيُّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ عَلَيْنَا وَنَحْنُ نَتَذَاكَرُ، فَقَالَ: «مَا تَذَاكَرُونَ؟» قَالُوا: نَذْكُرُ السَّاعَةَ، قَالَ: ” إِنَّهَا لَنْ تَقُومَ حَتَّى تَرَوْنَ قَبْلَهَا عَشْرَ آيَاتٍ – فَذَكَرَ – الدُّخَانَ، وَالدَّجَّالَ، وَالدَّابَّةَ، وَطُلُوعَ الشَّمْسِ مِنْ مَغْرِبِهَا، وَنُزُولَ عِيسَى ابْنِ مَرْيَمَ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ، وَيَأَجُوجَ وَمَأْجُوجَ، وَثَلَاثَةَ خُسُوفٍ: خَسْفٌ بِالْمَشْرِقِ، وَخَسْفٌ بِالْمَغْرِبِ، وَخَسْفٌ بِجَزِيرَةِ الْعَرَبِ، وَآخِرُ ذَلِكَ نَارٌ تَخْرُجُ مِنَ الْيَمَنِ، تَطْرُدُ النَّاسَ إِلَى مَحْشَرِهِمْ ”
“Nabi Sholallahu ‘alaihi wa Salaam melihat kami sedang saling bermudzakarah tentang sesuatu, maka Beliau pun berkata : “apa yang sedang kalian mudzakarah-i?”, mereka menjawab : “kami sedang bermudzakarah tentang hari kiamat”. Kemudian Rasulullah Sholallahu ‘alaihi wa Salaam pun bersabda : “sekali-kali tidaklah terjadi hari kiamat, hingga kalian melihat 10 tanda sebelumnya, kemudian Beliau menyebutkan : ad-Dukhoon, ad-Dajjaal, ad-Daabbah, terbitnya Matahari dari sebelah barat, turunnya Isa bin Maryam Sholallahu ‘alaihi wa Salaam, Ya`juuj Ma`juuj, tiga khusuuf : khusf di Timur, di Barat dan di Jazirah Arab, dan tanda yang paling akhir adalah api yang keluar dari Yaman yang menggiring manusia ke makhsyar mereka”.

Kemudian para ulama kita mencoba membuat simulasi bagaimana urutan tanda kiamat itu terjadi, sependek pengetahuan kami belum ada nash shorih yang menunjukkan urutan 10 tanda kiamat itu terjadi, sekalipun sebagian urutannya bisa kita lacak pada hadits-hadits yang membicarakan tentang tanda kiamat besar tersebut. Al-‘Alamah Muhammad bin Sholih al-Utsaimin Rahimahullah pernah ditanya tentang urutan tanda kiamat besar tersebut, lalu beliau menjawab :
فأجاب بقوله: أشراط الساعة الكبرى بعضها مرتب ومعلوم، وبعضها غير مرتب ولا يعلم ترتيبه، فمما جاء مرتبا: نزول عيسى ابن مريم، وخروج يأجوج ومأجوج، والدجال، فإن الدجال يبعث، ثم ينزل عيسى ابن مريم فيقتله، ثم يخرج يأجوج ومأجوج.
وقد رتب السفاريني – رحمه الله- في عقيدته هذه الأشراط، لكن بعض هذا الترتيب تطمئن إليه النفس، وبعضها ليس كذلك. والترتيب لا يهمنا، وإنما يهمنا أن للساعة علامات عظيمة إذا وقعت فإن الساعة تكون قد قربت، وقد جعل الله للساعة أشراطا؛ لأنها حدث هام، يحتاج الناس إلى تنبيههم لقرب حدوثه.
“tanda-tanda kiamat yang besar sebagiannya berurutan sebagaimana diketahui dan sebagiannya tidak berurutan dan tidak diketahui urutannya. Diantara yang datang berurutan adalah turunnya Nabi Isa, keluarnya Ya`juuj dan Ma`juuj, dan Dajal. Setelah Dajal dibangkitkan, dilanjutkan turunnya Nabi Isa bin Maryam yang membunuhnya, kemudian keluarnya Ya`juuj dan Ma`juuj.
As-Safaaroiniy Rahimahullah dalam akidahnya telah membuat urutan tanda-tanda ini, namun sebagian urutan, hatiku tenang menerimanya, namun sebagiannya lagi tidak tenang menerimanya. Urutan-urutan tersebut tidak penting bagi kita, yang terpenting adalah bahwa kiamat ini memiliki tanda yang agung, jika itu sudah ada, maka menunjukkan sebentar lagi terjadinya kiamat, karena Allah telah menjadikan alamat untuk kiamat tersebut, dan ini adalah kejadian yan penting, yang manusia butuh untuk memperhatikannya, karena telah dekat terjadinya kiamat”.

Namun dalam kesempatan ini kami bi-idznillah akan menyebutkan urutan tanda kiamat besar tersebut berdasarkan versi yang dipilih oleh Al Hafidz Ibnu Hajar yang beliau nukil dari Imam ath-Thibiy yang kemudian dijelaskan lebih rinci lagi oleh asy-Syaikh Muhammad bin Ibrahim at-Tuwaijiriy dalam kitabnya “Ma’ushuu’ah al-Fiqh al-Islaamiy” (I/239-259).

Untuk tanda kiamat besar yang pertama, para ulama berselisih pendapat menjadi beberapa pendapat, namun kami akan memilih pendapat Al Hafidz Ibnu Hajar Rahimahullah dalam kitabnya “Fathul Bariy” (XI/353) ketika mengkompromikan hadits antara awal pertama tanda kiamat besar apakah terbitnya Matahari atau keluarnya Dajal, kata beliau :
أَنَّ خُرُوجَ الدَّجَّالِ أَوَّلُ الْآيَاتِ الْعِظَامِ
“bahwa keluarnya Dajal adalah tanda kiamat besar yang pertama”.

Kemudian dilanjutkan dengan turunnya Nabi Isa ‘alaihi wa Salaam dan keluarnya Ya`juuj dan Ma`juuj. Urutan keluarnya Dajal, lalu Nabi Isa, lalu Ya`juuj dan Ma`juuj telah diketahui dari konteks berita-berita terkait fitnah Dajal sebagaimana dalam hadits-hadits shahih yang membicarakannya.

Urutan berikutnya yang ke-empat, kelima dan keenam adalah khusuuf yakni bergoncang bumi, lalu tanahnya amblas kebawah membentuk lubang. Khusf ini terjadi Timur, di Barat dan di Jazirah Arab. Barangkali urutan ini melihat konteks hadits Muslim diatas ketika menyebutkan keluarnya Ya`juuj dan Ma`juuj :
وَيَأَجُوجَ وَمَأْجُوجَ، وَثَلَاثَةَ خُسُوفٍ: خَسْفٌ بِالْمَشْرِقِ، وَخَسْفٌ بِالْمَغْرِبِ، وَخَسْفٌ بِجَزِيرَةِ الْعَرَبِ
“Ya`juuj Ma`juuj, tiga khusuuf : khusf di Timur, di Barat dan di Jazirah Arab”.

Urutan yang ketujuh adalah ad-Dukhoon (asap), tanda kiamat ini telah diisyaratkan dalam Al Qur’an :
فَارْتَقِبْ يَوْمَ تَأْتِي السَّمَاءُ بِدُخَانٍ مُبِينٍ (10) يَغْشَى النَّاسَ هَذَا عَذَابٌ أَلِيمٌ (11) رَبَّنَا اكْشِفْ عَنَّا الْعَذَابَ إِنَّا مُؤْمِنُونَ (12) أَنَّى لَهُمُ الذِّكْرَى وَقَدْ جَاءَهُمْ رَسُولٌ مُبِينٌ (13)
Maka tunggulah hari ketika langit membawa kabut yang nyata, yang meliputi manusia. Inilah azab yang pedih. (Mereka berdoa): “Ya Tuhan kami, lenyapkanlah dari kami azab itu. Sesungguhnya kami akan beriman”. Bagaimanakah mereka dapat menerima peringatan, padahal telah datang kepada mereka seorang rasul yang memberi penjelasan (QS. Ad-Dukhoon : 10-13).

Para ulama berselisih pendapat apa yang dimaksud dengan ad-Dukhoon pada ayat tersebut, sebagian mengatakan itu terjadi pada suku Quraisy ketika Nabi berdoa agar mereka ditimpakan kelaparan sebagaimana yang ditimpakan kepada kaum Nabi Yusuf, tatkala Quraisy menolak dakwah Nabi Sholallahu ‘alaihi wa Salaam. Sebagian lagi mengatakan bahwa itu adalah ad-Dukhoon yang nanti terjadi pada hari kiamat, serta sebagian lagi mengkompromikannya bahwa ada dua dhukhoon, Dukhon pertama yang menimpa Quraisy dan yang kedua adalah Dukhon yang sebenarnya yang nanti akan terjadi sebagai tanda kiamat besar. Untuk penjelasan lebih lanjut dapat merujuk kepada kitab-kitab tafsir.

Tanda yang kedelapan adalah terbitnya Matahari dari sebelah Barat. Tanda ini telah diisyaratkan dalam Surat Al-An’aam ayat 158, sebagaimana diriwayatkan dari Abu Hurairah Rodhiyallahu ‘anhu bahwa Rasulullah Sholallahu ‘alaihi wa Salaam bersabda :
لا تَقُومُ السَّاعَةُ حَتَّى تَطْلُعَ الشَّمْسُ مِنْ مَغْرِبِهَا، فَإِذَا طَلَعَتْ مِنْ مَغْرِبِهَا آمَنَ النَّاسُ كُلُّهُمْ أجْمَعُونَ فَيَوْمَئِذٍ {لَا يَنْفَعُ نَفْسًا إِيمَانُهَا لَمْ تَكُنْ آمَنَتْ مِنْ قَبْلُ أَوْ كَسَبَتْ فِي إِيمَانِهَا خَيْرًا} [الأنعام: 158]
“tidak terjadi kiamat, hingga Matahari terbit dari sebelah Barat, jika ia telah terbit dari sebelah Barat, maka seluruh manusia beriman, namun pada hari itu :
{ Pada hari datangnya ayat dari Tuhanmu, tidaklah bermanfaat lagi iman seseorang kepada dirinya sendiri yang belum beriman sebelum itu, atau dia (belum) mengusahakan kebaikan dalam masa imannya }.

Tanda yang kesembilan adalah keluarnya Daabah. Barangkali urutan terjadinya setelah terbitnya Matahari dari sebelah barat, berdasarkan konteks hadits Abdullah bin ‘Amr Rodhiyallahu ‘anhumaa bahwa Rasulullah Sholallahu ‘alaihi wa Salaam bersabda :
إِنَّ أَوَّلَ الآيَاتِ خُرُوجاً، طُلُوعُ الشَّمْسِ مِنْ مَغْرِبِهَا وَخُرُوجُ الدَّابَّةِ عَلَى النَّاسِ ضُحىً
“sesungguhnya tanda kiamat besar yang pertama terjadi adalah terbitnya Matahari dari sebelah Barat dan keluarnya Daabah kepada manusia pada waktu Dhuha”. (HR. Muslim).
Oleh sebab itu, hadits ini mengisyaratkan bahwa keluarnya Daabah waktunya berurutan setelah terbitnya Matahari, sekitar waktu Dhuha.

Keluarnya Daabah ini telah diisyaratkan didalam surat An Naml ayat 82 :
وَإِذَا وَقَعَ الْقَوْلُ عَلَيْهِمْ أَخْرَجْنَا لَهُمْ دَابَّةً مِنَ الْأَرْضِ تُكَلِّمُهُمْ أَنَّ النَّاسَ كَانُوا بِآيَاتِنَا لَا يُوقِنُونَ
Dan apabila perkataan telah jatuh atas mereka, Kami keluarkan sejenis binatang melata dari bumi yang akan mengatakan kepada mereka, bahwa sesungguhnya manusia dahulu tidak yakin kepada ayat-ayat Kami.

Kemudian tanda yang terakhir adalah api yang akan menggiring manusia ke sebuah padang yang luar, api ini muncul dari Yaman. Terkait bahwa ini adalah tanda yang terakhir bagi kiamat besar, para ulama yang menuliskan tentang tanda-tanda kiamat tidak berselisih pendapat dan hal tersebut dipertegas oleh hadits Muslim diatas :
وَآخِرُ ذَلِكَ نَارٌ تَخْرُجُ مِنَ الْيَمَنِ، تَطْرُدُ النَّاسَ إِلَى مَحْشَرِهِمْ
“dan tanda yang paling akhir adalah api yang keluar dari Yaman yang menggiring manusia ke makhsyar mereka”.

Terkait tanda kiamat besar ini, maka terjadinya memang secara berurutan satu tanda kemudian disusul tanda lain, sampai kemudian terjadi kiamat besar, sebagaimana diisyaratkan dalam dua hadits berikut:
الْآيَاتُ خَرَزَاتٌ مَنْظُومَاتٌ فِي سِلْكٍ، فَإِنْ يُقْطَعِ السِّلْكُ يَتْبَعْ بَعْضُهَا بَعْضًا
“Tanda kiamat besar itu seperti marjan yang disulam dengan benang, jika benangnya putus, maka marjan tersebut akan lepas satu persatu” (HR. Ahmad dari Ibnu ‘Amr Rodhiyallahu ‘anhumaa, dishahihkan Ahmad Syakir dan al-Albani).

خُرُوجُ الْآيَاتِ بَعْضِهَا عَلَى إِثْرِ بَعْضٍ، يَتَتَابَعْنَ كَمَا تَتَتَابَعُ الْخَرَزُ فِي النِّظَامِ
“munculnya tanda kiamat besar sebagian disambung dengan sebagiannya lainnya, berurutan sebagaimana berurutannya marjan dalam sulaman benang” (HR. Thabarani dalam Ausath dari Abi Huroiroh Rodhiyallahu ‘anhu, dishahihkan al-Albani).

Kemudian tidak tertutup kemungkinan juga bahwa diantara terjadinya tanda-tanda kiamat yang besar tersebut bisa diselingi oleh adanya tanda kiamat yang kecil, seperti kerusakan-kerusakan yang terjadi pada manusia sebagai tanda kiamat yang kecil. Wallahu a’lam.

MUSAFIR MENJAMAK TA`KHIR MENDAPATI SHOLAT JAMAAH ISYA, APAKAH IA IKUT ISYA DULU BARU MAGHRIB?

April 20, 2018 at 10:01 pm | Posted in Tulisan Lainnya | Leave a comment

MUSAFIR MENJAMAK TA`KHIR MENDAPATI SHOLAT JAMAAH ISYA, APAKAH IA IKUT ISYA DULU BARU MAGHRIB?

Permasalahan yang kita bahas adalah terkait sebuah case dimana seorang yang bersafar melakukan jamak ta`khir antara Maghrib dan Isya pada waktu Isya. Qodarullah ia singgah di masjid untuk menunaikan sholat sambil istirahat, dan mendapati sholat Isya berjamaah, maka pertanyaannya adalah apakah ia mengikuti Imam mengerjakan sholat Isya atau ia ikut tapi mengerjakan sholat Maghrib 3 rakaat?

Para ulama fiqih telah membahas hal ini dalam kajian mereka terhadap syarat-syarat menjamak sholat. Mayoritas ulama berpendapat bahwa dipersyaratkan tertib ketika MENJAMAK sholat dalam jamak taqdim, dalam artian misalnya ia MENJAMAK Maghrib dan Isya pada waktu maghrib, maka ia mengerjakan Maghrib dahulu, baru kemudian Isya, jika tidak seperti ini, maka tidak sah MENJAMAK sholatnya.

Penulis kitab “al-Maushuu’ah al-Fiqhiyyah al-Kuwaitiyyah” (15/287) mengatakan :
ذَهَبَ جُمْهُورُ الْفُقَهَاءِ الْقَائِلِينَ بِجَوَازِ الْجَمْعِ إِلَى أَنَّهُ يُشْتَرَطُ لِجَمْعِ التَّقْدِيمِ أَرْبَعَةُ شُرُوطٍ:
أَوَّلُهَا: الْبُدَاءَةُ بِالأُْولَى مِنَ الصَّلاَتَيْنِ كَالظُّهْرِ وَالْمَغْرِبِ لأَِنَّ الْوَقْتَ لَهَا وَالثَّانِيَةَ تَبَعٌ لَهَا وَالتَّابِعُ لاَ يَتَقَدَّمُ عَلَى مَتْبُوعِهِ، فَلَوْ صَلَّى الْعَصْرَ قَبْل الظُّهْرِ أَوِ الْعِشَاءَ قَبْل الْمَغْرِبِ لَمْ يَصِحَّ الظُّهْرُ فِي الصُّورَةِ الأُْولَى، وَلاَ الْعِشَاءُ فِي الثَّانِيَةِ، وَعَلَيْهِ أَنْ يُعِيدَهَا بَعْدَ الأُْولَى إِذَا أَرَادَ الْجَمْعَ
“Mayoritas ulama fiqih berpendapat bolehnya MENJAMAK sholat dan dipersyaratkan untuk jamak taqdim dengan 4 syarat berikut :
1. Memulai sholat pertama dari dua sholat yang dijamak tersebut, misalnya mulai sholat Zhuhur dulu atau Maghrib dulu, karena ini adalah waktu baginya, sedangkan sholat yang kedua adalah mengikutinya, sehingga pengikut tidak mendahului yang diikutinya.
Seandainya seorang sholat Ashar sebelum Zhuhur atau Isya sebelum Maghrib, maka tidak sah sholat zhuhurnya (ini mungkin salah cetak, harusnya sholat asharnya) pada kasus jamak yang pertama atau tidak sah sholat Isyanya pada kasus jamak yang kedua. Oleh sebab itu ia harus mengulangi sholat-sholat tadi setelah mengerjakan sholat yang pertama (pada jamak taqdim) jika ia ingin MENJAMAK sholatnya”.

Adapun pada kondisi jamak ta’khir, maka para ulama fiqih berbeda pendapat : sebagian ulama tetap mempersyaratkan tertib, oleh sebab itu jawaban dari pertanyaan dalam judul, ia harus mengerjakan sholat Maghrib 3 rakaat dibelakang Imam, tidak boleh ia mengikuti sholat Isyanya Imam. Adapun masalah beda niat telah dijelaskan oleh para ulama akan kebolehannya, diantaranya adalah al-Imam asy-syafi’i rahimahullahu dalam kitabnya “al-Umm” telah membahas satu pasal tersendiri dalam kitabus Sholat “Ikhtilaaf Niyat al-Imaam wa al-Ma`muum” (I/257, cetakan Syirkat al-quds).

Al-‘Alamah Ibnu Utsaimin dalam kitabnya “asy-Syarh al-Mumti'” (IV/402) setelah menegaskan bahwa mayoritas ulama fiqih Hanbali tetap tidak menggugurkan persyaratan tertib dalam jamak ta`khir. Kemudian asy-syaikh menjelaskan kasus kita ini dengan jelas, kata beliau :
مثال ذلك: رجل كان ناوياً جمع تأخير، ثم دخل المسجد ووجد ناساً يصلّون العشاء فدخل معهم بنية العشاء، ولما انتهى من العشاء صلّى المغرب، نقول: صلاة العشاء لا تصح؛ لأنه قدمها على المغرب، والترتيب شرط فيصلّي العشاء مرة ثانية والمغرب صحيحة، ومعنى قولنا: لا تصح، أي: لا تصح فرضاً تبرأ به الذمة، ولكنها تكون نفلاً يثاب عليه.
“Misalnya seorang berniat jamak ta`khir, lalu masuk masjid dan mendapati jamaah sedang sholat Isya, lalu ia bergabung bersama mereka dengan niat melaksanakan sholat Isya, lalu selesai isya-nan mengerjakan sholat Maghrib, maka kami katakan sholat Isyanya tidak sah, karena ia mendahului maghrib, sedangkan tertib adalah syarat. Oleh karenanya ia sholat Isya kedua kalinya lagi, adapun Maghribnya adalah sah. Dan maksud ucapan kami tidak sah, adalah tidak sah kewajiban yang dibebankan kepadanya, namun itu menjadi sholat sunah yang berpahala” -selesai-.

Namun sebagian ulama lain mengatakan bahwa untuk jamak takhir, syarat tertib tidak berlaku. Imam Nawawi dalam kitabnya “minhaaj ath-Thaalibin” (hal. 46) mengatakan :
وإذا أخر الأولى لم يجب الترتيب والموالاة ونية الجمع على الصحيح
“Jika sholat pertama diahirkan (jamak ta`khir), maka tidak wajib tertib, muwaalah dan niat, menurut pendapat yang shahih”.

Ulama yang lebih senior dari beliau, yakni Imam al-Baghowi (w. 516 H) pun telah menjelaskan akan kebolehan tidak tertib dalam kitabnya “at-Tahdziib fii al-Fiqhi al-imam asy-syafi’i” (II/316) dan ini adalah wajh (salah satu pendapat Syafi’iyyah) yang paling benar daripada wajh lainnya yang tidak membolehkan. Alasannya sholat yang pertama pada kondisi jamak ta`khir adalah pengikut dari sholat kedua yang memang waktunya. Syafi’iyyah menyamakannya dengan qodho bagi sholat yang terluput sehingga habisnya waktu sholat yang terluput dan masuknya ia ke waktu sholat lainnya, boleh dikerjakan setelah waktu sholat yang menjadi jadwalnya.

Diantara ulama kontemporer yang menyatakan bahwa tertib dalam jamak ta`khir tidak wajib adalah Fadhiltus Syaikh Masyhuur Hasan Salman hafizhahullah, beliau berkata dalam salah satu fatwanya :
ﻻﺳﻴﻤﺎ ﺃﻥ ﺍﻟﺘﺮﺗﻴﺐ ﺑﻴﻦ ﺍﻟﻤﺠﻤﻮﻋﺘﻴﻦ ﻓﻲ ﺟﻤﻊ ﺍﻟﺘﺄﺧﻴﺮ ﺳﻨﺔ ﻭﻟﻴﺲ ﻣﻦ ﺍﻟﺸﺮﻭﻁ ﻷﻥ ﺍﻟﻮﻗﺖ ﻭﻗﺖ ﺍﻟﺼﻼﺓ ﺍﻟﺜﺎﻧﻴﺔ
“..Terlebih lagi bahwa tertib diantara dua sholat yang dijamak pada jamak ta`khir adalah sunnah, bukan merupakan syarat sholat, karena waktunya adalah waktu sholat kedua..”. (https://ar.islamway.net/fatwa/30877/جمع-بين-المغرب-والعشاء-جمع-تأخير-فأيهما-يصلي-أولا).

Sehingga berdasarkan pendapat yang kedua, ia bergabung sholat Isya berjamaah, lalu baru sholat maghrib ketika berniat menjamaknya. Pendapat kedua lebih applicable dilaksanakan di masyarakat yang asing dengan pendapat pertama, karena dengan berhentinya atau menunggunya seorang penjamak sholat Maghrib pada rakaat ketiga pada pelaksanaan sholat Isya berjamaah, akan menimbulkan keresahan pada jamaah lainnya yang merasa aneh dengan apa yang dilakukannya. Namun jika nyaman dengan pendapat pertama maka hal seperti itu tidak diperhitungkan. Masalah ini adalah khilafiyyah mu’tabar yang tidak ada nash shorih yang menjadi hakim dalam menyelesaikannya.

Wallahu a’lam

BID’AHKAH MENYEDIAKAN SUTRAH DIDALAM MASJID?

April 20, 2018 at 10:01 pm | Posted in Tulisan Lainnya | Leave a comment

BID’AHKAH MENYEDIAKAN SUTRAH DIDALAM MASJID?

Dibeberapa masjid demi menghidupkan atau mendukung kesempurnaan sholat seseorang dimana disyariatkan baginya untuk menjadikan sutrah dihadapannya ketika sholat, maka pihak pengurus masjid menyediakan semacam plang dari kayu untuk sutrah yang bisa digunakan oleh jamaah sholat di masjid, terutama bagi mereka yang sholat sendirian, misalnya ketika sholat sunnah, atau bagi Imam yang melaksanakan sholat berjamaah yang datang setelah sholat jamaah pertama selesai dilaksanakan.

Terhadap fenomena ini, sebagian ulama pun memberikan komentar baik yang pro maupun yang kontra dengannya. Misalnya Lajnah Daimah (dewan fatwa resmi) Saudi Arabia pernah mengeluarkan fatwa terkait permasalahan ini, diantara bunyi fatwanya :
ﻭﻳﺴﻦ ﻟﻪ ﺩﻧﻮﻩ ﻣﻦ ﺳﺘﺮ ﻟﻪ ﻟﻤﺎ ﻓﻲ ﺍﻟﺤﺪﻳﺚ ﻭﻗﺪ ﻛﺎﻥ ﺍﻟﺼﺤﺎﺑﺔ ﺭﺿﻲ ﺍﻟﻠﻪ ﻋﻨﻬﻢ ﻳﺒﺘﺪﺭﻭﻥ ﺳﻮﺍﺭﻱ ﺍﻟﻤﺴﺠﺪ ﻟﻴﺼﻠﻮﺍ ﺇﻟﻴﻬﺎ ﺍﻟﻨﺎﻓﻠﺔ . ﻭﺫﻟﻚ ﻓﻲ ﺍﻟﺤﻀﺮ ﻓﻲ ﺍﻟﻤﺴﺠﺪ ﻟﻜﻦ ﻟﻢ ﻳﻌﺮﻑ ﻋﻨﻬﻢ ﺃﻧﻬﻢ ﻛﺎﻧﻮﺍ ﻳﻨﺼﺒﻮﻥ ﺃﻣﺎﻣﻬﻢ ﺃﻟﻮﺍﺣﺎ ﻣﻦ ﺍﻟﺨﺸﺐ ﻟﻴﻜﻮﻥ ﺳﺘﺮﺓ ﻓﻲ ﺍﻟﺼﻼﺓ ﺑﺎﻟﻤﺴﺠﺪ ﺑﻞ ﻛﺎﻧﻮﺍ ﻳﺼﻠﻮﻥ ﺇﻟﻰ ﺟﺪﺍﺭ – ﺍﻟﻤﺴﺠﺪ ﻭﺳﻮﺍﺭﻳﻪ ﻓﻴﻨﺒﻐﻲ ﻋﺪﻡ ﺍﻟﺘﻜﻠﻒ ﻓﻲ ﺫﻟﻚ ﻓﺎﻟﺸﺮﻳﻌﺔ ﺳﻤﺤﺔ ﻭﻟﻦ ﻳﺸﺎﺩ ﺍﻟﺪﻳﻦ ﺃﺣﺪ ﺇﻻ ﻏﻠﺒﻪ ﻭﻷﻥ ﺍﻷﻣﺮ ﺑﺎﻟﺴﺘﺮﺓ ﻟﻼﺳﺘﺤﺒﺎﺏ ﻻ ﻟﻠﻮﺟﻮﺏ
“Disunahkan baginya mendekati sutrahnya berdasarkan hadits (terkait masalah ini). Para sahabat radhiyallahu anhum mereka mencari tiang masjid (sebagai sutrah) untuk sholat sunahnya. Berdasarkan ini apa yang terdapat didalam masjid tidak dikenal oleh para sahabat yakni terkait meletakkan didepannya semacam papan dari kayu sebagai sutrahnya di masjid, namun mereka sholat menghadap tembok atau tiang masjid (sebagai sutrahnya). Oleh sebab itu selayaknya tidak memberat-beratkan diri dalam masalah ini, syariat ini lapang, tidaklah sekali-kali seseorang memberat-beratkan diri dalam syariat ini, kecuali ia akan kalah dan juga perintah untuk bersutrah adalah sunah bukan wajib….”.
(http://www.alifta.net/Fatawa/fatawaChapters.aspx?View=Page&PageID=2638&PageNo=1&BookID=2).

Bahkan sebagian ulama secara tegas mengatakan bahwa perbuatan diatas adalah bid’ah, misalnya apa yang difatwakan oleh asy-syaikh Ubaid al-jabiri hafizhahullah (http://www.ajurry.com/vb/archive/index.php/t-35447.html).

akan tetapi bila kita menggunakan pendekatan dalam kaedah fiqhiyyah berikut, maka permasalahan yang kita bahas dapat masuk kedalamnya. Al-‘Alamah Abdur Rahman as-sa’di rahimahullah dalam kitabnya “Risaalah al-Qowaa’id al-Fiqhiyyah” di point kaedah ke-24 beliau menulis :
وسائل الأمور كالمقاصد
“Sarana-sarana perkara seperti tujuannya”.

Beliau rahimahullah kemudian menjelaskan maksud dari kaedah ini bahwa sarana-sarana itu diberikan hukum seperti tujuannya. Jika sarana tersebut digunakan untuk melaksanakan perkara kewajiban, maka hukum sarana tersebut pun wajib, begitu juga jika sarana tersebut mengantarkan kepada sunnah maka hukumnya sunnah, dan seterusnya.

Bahkan untuk case ini ada dalil yang bisa dijadikan referensi dalam penyedian sarana sutrah guna mendukung kesempurnaan sholat. Anas bin Malik radhiyallahu anhu berkata :
ﻛﺎﻥ ﺭﺳﻮﻝ ﺍﻟﻠﻪ ﺻﻠﻰ ﺍﻟﻠﻪ ﻋﻠﻴﻪ ﻭﺳﻠﻢ ﻳﺪﺧﻞ ﺍﻟﺨﻼﺀ ، ﻓﺄﺣﻤﻞ ﺃﻧﺎ ﻭﻏﻼﻡ ﻧﺤﻮﻱ ﺇﺩﺍﻭﺓ ﻣﻦ ‏ﻣﺎﺀ ﻭﻋﻨﺰﺓ ، ﻓﻴﺴﺘﻨﺠﻲ ﺑﺎﻟﻤﺎﺀ
“Rasulullah shalallahu alaihi wa sallam masuk kedalam toilet, maka aku bersama remaja lainnya menyiapkan air dan ‘Anazah (semacam tombak kecil), lalu beliau beristinja dengan air” (Muttafaqun alaih).
Dalam hadits lain disebutkan kegunaan ‘Anazah tersebut :
ﺃﻧﻬﺎ ﻛﺎﻧﺖ ﺗﻮﺿﻊ ﺑﻴﻦ ﻳﺪﻳﻪ ، ﻓﻴﺼﻠﻲ ﺇﻟﻴﻬﺎ
“‘Anazah tersebut diletakkan didepan Rasulullah, lalau Beliau sholat menghadap kepadanya”.

Maka dari hadits diatas ada isyarat kebolehan mempersiapkan sutrah oleh orang lain untuk digunakan oleh seseorang. Hal inilah yang dipahami oleh asy-syaikh DR. Muhammad bin Hadi dalam saah satu jawabannya ketika ditanya tentang masalah tersebut :
ﺳﻤﻌﺖُ ﺍﻟﻌﻼﻣﺔ ﺃﺑﺎ ﺃﻧﺲ ﻣﺤﻤﺪ ﺑﻦَ ﻫﺎﺩﻱ _ ﺣﻔﻈﻪ ﺍﻟﻠﻪ _ ﻳُﺴﺌﻞ ﻋﻨﻬﺎ _ ﺇﻱ ﺍﻟﺨﺸﺒﺔ _ ﻭﻫﻞ ﻫﻲ ﺑﺪﻋﺔ؟ .
ﻓﻘﺎﻝ _ ﺣﻔﻈﻪ ﺍﻟﻠﻪ : ‏( ﻻ . ﻻ ﺑﺄﺱ ﺑﻬﺎ ‏) ، ﻭﺍﺳﺘﺪﻝ ﺑﺄﻥ ﺍﻟﻨﺒﻲ ﺻﻠﻰ ﺍﻟﻠﻪ ﻋﻠﻴﻪ ﻭﺳﻠﻢ ﻛﺎﻥ ﻳﻀﻊ ﺃﻭ ﺗُﻮﺿﻊ ﻟﻪ ﺍﻟﻌَﻨَﺰَﺓ .
ﻭﻛﺎﻥ ﻫﺬﺍ ﻓﻲ ﻣﺴﺠﺪﻩ ﺑﺪﺭﻱ ﺍﻟﻌﺘﻴﺒﻲ ﺑﺎﻟﻤﺪﻳﻨﺔ ﺍﻟﻨﺒﻮﻳﺔ ﻓﻲ ﺷﻬﺮ ﺟﻤﺎﺩﻯ ﺍﻵﺧﺮﺓ 1434 ﻫـ
“aku mendengar Abu Anas Muhammad bin Hadiy hafizhahullah ditanya tentang sutrah kayu tersebut, apakah itu bid’ah?
Beliau menjawab : “bukan, tidak masalah, berdalil dengan perbuatan Nabi shallallahu alaihi wa sallam yang meletakkan tombak (untuk dijadikan sutrah sholat, pent.)”. (https://www.sahab.net/forums/index.php?app=forums&module=forums&controller=topic&id=150938).

Sedangkan kaedah diatas diaplikasikan oleh tim fatwa Islamweb dalam menjawab permasalahan ini, diantara nukilannya :
ﻭﻣﺎ ﺩﺍﻡ ﺃﻥ ﺍﺗﺨﺎﺫ ﺍﻟﺴﺘﺮﺓ ﻣﺸﺮﻭﻉ ﻭﻣﻘﺼﻮﺩ ﺷﺮﻋﺎ ﻓﺈﻥ ﺻﻨﺎﻋﺔ ﻣﺎ ﻳﺘﺤﻘﻖ ﺑﻪ ﻫﺬﺍ ﺍﻟﻤﻘﺼﻮﺩ ﺍﻟﺸﺮﻋﻲ ﻻ ﺣﺮﺝ ﻓﻴﻪ، ﻭﻻ ﻳﻌﺘﺒﺮ ﺑﺪﻋﺔ ﻓﻲ ﺍﻟﺪﻳﻦ
“Selama hukum mengambil sutrah itu disyariatkan dan ini adalah maksud yang disyariatkan padanya, maka membuat sesuatu yang bisa merealisasikan tujuan syariat adalah tidak mengapa dan tidak dianggap bid’ah dalam agama”. (http://fatwa.islamweb.net/fatwa/index.php?page=showfatwa&Option=FatwaId&Id=293617).

Oleh sebab itu tidak mengapa pengurus masjid menyediakan sutrah tersebut, jika dalam pengadaanya tidak memberatkan. Karena manfaat yang bisa dirasakan terutama bagi jamaah yang hendak mengerjakan sholat sunnah ba’diyyah, dimana biasanya masih ramai jamaah masjid, sehingga tiang atau dinding masih terdapat orang disitu dan jika bersutrah dengan orang terkadang orang dihadapannya pergi, sehingga ia tidak bersutrah dan berpotensi dilewati orang-orang yang tidak tahu hukuman atas orang yang melewati didepan orang yang sholat. Adanya sutrah tadi diharapkan menjadi tanda agar orang lain tidak sembarangan lewat didepannya diantara dirinya dengan sutrah.

Walhamdulillah wallahu a’lam wal ilmu indallah.

SABAB-MUSABAB

April 20, 2018 at 10:00 pm | Posted in Tulisan Lainnya | Leave a comment

SABAB-MUSABAB

Al-‘Alamah Muhammad bin Shoolih al-Utsaimin dalam kitabnya “al-Qouli Mufiid ‘alaa Kitaab at-Tauhid” (I/103) menjelaskan bahwa kaum Muslimin dalam menyikapi sebab ada 3 kelompok, dua kelompok ekstrim dan satu kelompok adalah kelompok yang benar karena moderat :
1. Kelompok pertama adalah mereka yang mengingkari sebab yakni setiap orang yang menafikan hikmah Allah, seperti Jabariyyah dan Asya’irah;
2. Kelompok kedua ekstrim dalam menetapkan sebab, hingga sesuatu yang bukan sebab mereka tetapkan sebagai sebab, mereka adalah umumnya ahli khurofat dari kalangan sufiyyah;
3. Kelompok ketiga –kelompok yang benar- adalah mereka yang mengimani sebab dan pengaruhnya, namun mereka tidak menetapkan sebab kecuali yang telah Allah dan Rasul-Nya tetapkan sebagai sebab, baik sebab syar’i dan kauniy.

Kemudian asy-Syaikh menjelaskan apa yang dimaksud dengan sebab syar’i dan sebab kauniy. Sebab syar’iy misalnya madu untuk pengobatan sebagaimana Firman-Nya :
Dari perut lebah itu ke luar minuman (madu) yang bermacam-macam warnanya, di dalamnya terdapat obat yang menyembuhkan bagi manusia (QS. An Nahl : 69).
Dan seperti membaca Al Qur’an didalamnya ada obat bagi manusia, seperti Firman-Nya Subhanahu wa Ta’alaa :
an Kami turunkan dari Al Quran suatu yang menjadi penawar dan rahmat bagi orang-orang yang beriman (QS. Al Israa` : 82).

Adapun sebab kauniy atau istilah lain qodary adalah seperti percobaan ilmiah dan itu bermanfaat bagi orang yang sakit atau terluka, seperti pengobatan dengan kai yang bermanfaat langsung kepada manusia. Dan sebab qodariy ini catatannya adalah khasiatnya bisa dirasakan secara langsung, karena ada beberapa orang yang mengklaim bahwa itu adalah sebab qodary padahal tidak ada hubungannya secara langsung. Misal orang yang memakai gelang dengan keyakinan hal tersebut bermanfaat, maka pada hakekatnya bukan sebab qodariy.

TIDAK MENGERJAKAN SHOLAT SUNAH RAWATIB KETIKA SAFAR

April 20, 2018 at 9:59 pm | Posted in Tulisan Lainnya | Leave a comment

TIDAK MENGERJAKAN SHOLAT SUNAH RAWATIB KETIKA SAFAR

Al-Imam Bukhori rahimahullah membuat satu judul bab dalam kitab “Shahihnya” :
بَابُ مَنْ لَمْ يَتَطَوَّعْ فِي السَّفَرِ دُبُرَ الصَّلاَةِ وَقَبْلَهَا
“Bab barangsiapa yang tidak melaksanakan sholat Sunnah ketika safar sesudah dan sebelum sholat (Fardhu)”.

Beliau menurunkan dua buah hadits yang keduanya dari shohabi Jaliil Abdullah Ibnu Umar radhiyallahu anhumaa yang menunjukkan Nabi dan para khulafaur Rasyidin tidak mengerjakan Sholat sunah rawatib.

Hadits pertama (no. 1101) lafalnya :
صَحِبْتُ النَّبِيَّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فَلَمْ أَرَهُ يُسَبِّحُ فِي السَّفَرِ، وَقَالَ اللَّهُ جَلَّ ذِكْرُهُ: (لَقَدْ كَانَ لَكُمْ فِي رَسُولِ اللَّهِ إِسْوَةٌ حَسَنَةٌ)
“aku menemani Nabi shallallahu alaihi wa sallam dan aku tidak melihat Beliau melaksanakan sholat sunah ketika safar. Allah Subhanahu wa ta’ala berfirman :
“Sungguh telah ada suritauladan yang baik bagi kalian pada diri Rasulullah” (QS. Al Ahzab : 21).
Hadits pertama diriwayatkan juga oleh Imam Muslim dalam Shahihnya (no. 689).

Kemudian hadits berikutnya (no. 1102) bunyinya :
صَحِبْتُ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فَكَانَ لاَ يَزِيدُ فِي السَّفَرِ عَلَى رَكْعَتَيْنِ، وَأَبَا بَكْرٍ، وَعُمَرَ، وَعُثْمَانَ كَذَلِكَ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُمْ
“aku menemani Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam dan Beliau tidak menambahi dalam rakaatnya, selain sholat dua rokaat, demikian juga ketika menemani safar bersama Abu Bakar, Umar dan Utsman radhiyallahu anhum”.

Dalam bab ini, Imam Bukhori ingin menjelaskan mazhab Abdullah bin Umar radhiyallahu anhu bahwa ketika safar seseorang tidak mengerjakan sholat Rawatib, karena sholat wajibnya saja diqoshor. Al-Imam Nasaa`i agaknya sependapat dengan ini, karena beliau sama menurunkan dua buah hadits diatas dengan lafadz yang lebih sempurna dan memberikan judul bab :
تَرْكُ التَّطَوُّعِ فِي السَّفَرِ
“Meninggalkan sholat sunah ketika safar”.

Lafadz hadits kedua yang terdapat dalam shahih bukhori diatas (no. 1102) diriwayatkan oleh Imam Nasaa`i dengan lafadz yang lebih lengkap (no. 1458) dengan jalannya sampai ke Hafsh bin ‘Aashim beliau berkata :
كُنْتُ مَعَ ابْنِ عُمَرَ فِي سَفَرٍ، فَصَلَّى الظُّهْرَ وَالْعَصْرَ رَكْعَتَيْنِ، ثُمَّ انْصَرَفَ إِلَى طِنْفِسَةٍ لَهُ فَرَأَى قَوْمًا يُسَبِّحُونَ، قَالَ: مَا يَصْنَعُ هَؤُلَاءِ؟ قُلْتُ: يُسَبِّحُونَ، قَالَ: لَوْ كُنْتُ مُصَلِّيًا قَبْلَهَا أَوْ بَعْدَهَا لَأَتْمَمْتُهَا، «صَحِبْتُ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فَكَانَ لَا يَزِيدُ فِي السَّفَرِ عَلَى الرَّكْعَتَيْنِ»، وَأَبَا بَكْرٍ حَتَّى قُبِضَ، وَعُمَرَ وَعُثْمَانَ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُمْ كَذَلِكَ
“aku pernah pergi safar bersama Ibnu Umar radhiyallahu anhu, lalu Beliau sholat Zhuhur dan Ashar dua rokaat, kemudian beliau berpaling ke alas tempat duduknya, Beliau melihat orang-orang mengerjakan sholat sunah (rawatib), beliau berkata : “apa yang dilakukan orang-orang itu?”, aku menjawab : “mereka mengerjakan sholat sunnah”. Maka beliau menanggapi : “seandainya aku mengerjakan sholat qobliyyah dan ba’diyyah, tentu aku akan menyempurnakan sholat wajibku” kemudian lanjutnya : …(sama seperti lafadz Bukhori).

Kemudian dalam hadits diatas Ibnu Umar radhiyallahu anhu tidak menyebutkan kholifah Ali bin Abi Thalib radhiyallahu anhu, hal ini kemungkinan setelah Ali radhiyallahu anhu dibaiat menjadi kholifah beliau pindah ke Kufah dan menjadikannya sebagai ibu kota pemerintahan Islam pada waktu itu, sedangkan Ibnu Umar radhiyallahu anhu tidak turut kesana menemaninya, sebagaimana dijelaskan oleh penulis “Faidhul Baariy Syarah Shahih Bukhori”.

Akan tetapi mayoritas ulama memahaminya berbeda dengan Ibnu Umar radhiyallahu anhu, sebagaimana diinformasikan oleh Prof. DR. Muhammad Na’im dalam kitabnya “Maushuu’ah Masaa`il al-Jumhuur” (I/216) bahwa tetap dianjurkan melaksanakan sholat sunnah ketika safar.

Barangkali salah satu alasan jumhur ulama adalah sebuah atsar Hasan al-bashri yang diriwayatkan dalam Mushonaf Ibnu Abi Syaibah (no. 3844) :
وَافَقْنَا أَصْحَابَ مُحَمَّدٍ فَكَانُوا يُصَلُّونَ قَبْلَ الْفَرِيضَةِ وَبَعْدَهَا، يَعْنِي فِي السَّفَرِ
“kami mendapati para Sahabat Muhammad shallallahu alaihi wa sallam mereka sholat (sunnah) sebelum dan sesudah Sholat wajib dalam safarnya”.

Oleh sebab itu Imam Ibnu Qudamah dalam al-Mughni (II/218) mengkompromikannya dengan mengatakan hadit Ibnu Umar menujukkan tidak mengapa meninggalkan sholat rawatib, sedangkan hadits Hasan al-bashri menunjukkan tidak mengapa mengerjakan sholat rawatib.

Diantara ulama kontemporer yang mendukung ditinggalkannya sholat rawatib secara mutlak adalah al-‘Alamah bin Baz sebagaimana dalam fatwanya (https://binbaz.org.sa/fatwas/12291/حكم-اداء-السنن-الرواتب-في-السفر).

Namun asy-syaikh bin Baz mengecualikan sholat qobliyyah Subuh karena Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam tidak pernah meninggalkannya baik ketika muqim maupun ketika safar berdasarkan penuturan Ummul Mukminin Aisyah radhiyallahu anha dalam shahihain.

Adapun sholat sunnah lainnya seperti Dhuha dan tahajud serta sholat sunah secara mutlak, maka dibahas oleh Imam Bukhori di bab selanjutnya.
Wallahu a’lam bish showaab.

#mazhabfiqihimambukhori
#sholatsunahrawatibketikasafar

SYIRIK KECIL APAKAH MASUK DIBAWAH KEHENDAK ALLAH?

April 20, 2018 at 9:58 pm | Posted in Tulisan Lainnya | Leave a comment

SYIRIK KECIL APAKAH MASUK DIBAWAH KEHENDAK ALLAH?

Mengawali pembahasan ini kami sebutkan beberapa point yang sudah masyhur dikalangan ahlus sunnah terkait masalah-masalah akidah :
• Pelaku dosa besar dari kalangan kaum muslimin yang bertauhid yang belum bertaubat dari dosa besarnya tersebut, maka ia berada dibawah kehendak Allah Subhanahu wa Ta’alaa, jika mau Allah akan mengazabnya terlebih dahulu di neraka sekedar ukuran dosanya, namun ia tidak kekal di neraka selama-lamanya, dan jika mau Allah akan mengampuninya, sehingga tidak merasakan siksa neraka terlebih dahulu;
• Syirik terbagi menjadi dua : Syirik besar yang mengeluarkan pelakunya dari Islam dan kekal di neraka selama-lamanya dan syirik kecil, yang tidak mengeluarkan pelakunya dari Islam dan tidak kekal di neraka;
• Syirik Akbar adalah dosa besar yang paling besar, dan ia adalah dosa yang tidak masuk kedalam kehendak Allah seperti dosa besar lainnya, dalam artian Allah tidak mengampuni pelaku syirik besar yang mati dalam keadaan tidak bertaubat dari kesyirikannya. Imam ath-Thabari Rahimahullah ketika menafsirkan surat An-Nisaa` ayat ke-48 mengatakan :
وقد أبانت هذه الآية أنّ كل صاحب كبيرة ففي مشيئة الله، إن شاء عفا عنه، وإن شاء عاقبه عليه، ما لم تكن كبيرة شركًا بالله
“ayat ini menjelaskan bahwa setiap pelaku dosa besar dibawah kehendak Allah, jika mau Dia akan mengampuninya dan jika berkehendak Dia akan mengazabnya terlebih dahulu, selama dosa besarnya bukan menyekutukan Allah Subhanahu wa Ta’alaa”.

Yang akan menjadi pembahasan kita adalah apakah syirik kecil seperti bersumpah atas nama selain Allah, memakai jimat untuk menolak bala` dengan keyakinan itu adalah sebab, sedangkan Allah yang menolak kemudhorotannya, namun jika pemakai jimat berkeyakinan jimatnya itu sendiri yang memberikan manfaat dan menolak mudhorot, maka ia terjatuh kedalam syirik besar –na’udzubillahi min dzalik-, kemudian riya, sum’ah serta contoh-contoh lainnya yang telah dibahas oleh para ulama kita. Terhadap syirik kecil seperti itu, apakah ia masuk kedalam cakupan ayat 48 surat An-Nisaa` atau disamakan dengan dosa besar lainnya?. Allah berfirman :
إِنَّ اللَّهَ لَا يَغْفِرُ أَنْ يُشْرَكَ بِهِ وَيَغْفِرُ مَا دُونَ ذَلِكَ لِمَنْ يَشَاءُ
“Sesungguhnya Allah tidak akan mengampuni dosa syirik, dan Dia mengampuni segala dosa yang selain dari (syirik) itu, bagi siapa yang dikehendaki-Nya” (QS. An Nisaa` : 48).

Jika syirik kecil masuk pada cakupan ayat diatas, ini artinya pelaku syirik yang tidak bertaubat sampai dicabut ajalnya, maka ia akan disiksa di neraka terlebih dahulu sesuai kadar kesyirikannya, namun tidak kekal selama-lamanya, karena syirik kecil tidak menyebabkan kekal pelakunya. Adapun jika dimasukkan kedalam dosa besar sama seperti lainnya, maka pelakunya yang belum bertaubat, berada dibawah kehendak Allah Subhanahu wa Ta’alaa.

Sebagian ulama berpendapat bahwa ayat ini mencakup syirik kecil juga. Diantara dalil yang mereka gunakan adalah ayat diatas. Sisi pendalilannya adalah pada lafadz “لَا يَغْفِرُ أَنْ يُشْرَكَ بِهِ” an–yusyroka, an adalah huruf nashbin dan setelahnya ditakwil sebagai masdhar “Syirkaan” i’rabnya, maf’ul bih (obyek) untuk “yaghfiru” sehingga perkiraan kalimatnya adalah “laa yaghfiru syirkaan” (tidak mengampuni kesyrikan). Mashdar “syirkaan” tersebut dalam bentuk nakirah, sehingga dalam kaedah ushul tafsir bahwa “nakirah fii siyaqin naafi, tufiidul Umum” (kata nakirah dalam konteks kalimat peniadaan, memberikan faedah atas keumumannya). Sehingga kita katakan untuk ayat ini maknanya adalah sesungguhnya Allah tidak akan mengampuni kesyirikan (apapun jenisnya) dan Allah akan mengampuni dosa selain dari kesyirikan. Oleh sebab itu syirik kecil masuk dalam cakupan ayat ini, yang tentunya sangat mengkhawatirkan bahwa amalan syirik kecil yang dilakukan oleh seseorang sampai dibawa mati dan belum bertaubat, Allah tidak akan mengampuninya dan akan dimasukkan kedalam neraka-Nya –na’udzu billah min dzaalik-, sekalipun kemudiab pelakunya tidak kekal di neraka, berbeda dengan dosa besar lainnya yang ada kemungkinan Allah akan mengampuninya jika dibawa sampai mati.

Adapun pendapat kedua mengatakan bahwa ayat ini umum, namun yang dimaksud adalah khusus, yakni hanya mencakup syirik besar saja. Hal ini ditunjukkan oleh Firman Allah Subhanahu wa Ta’alaa :
إِنَّهُ مَنْ يُشْرِكْ بِاللَّهِ فَقَدْ حَرَّمَ اللَّهُ عَلَيْهِ الْجَنَّةَ وَمَأْوَاهُ النَّارُ
“Sesungguhnya orang yang mempersekutukan (sesuatu dengan) Allah, maka pasti Allah mengharamkan kepadanya surga, dan tempatnya ialah neraka” (QS. Al Maidah : 72).
Dalam ayat ini konteksnya juga umum “man yusrik billah” (barangsiapa yang berbuat kesyirikan), namun ia dikhususkan dengan syirik besar, karena Firman Allah berikutnya “diharamkan surga dan tempatnya di neraka”, ini berlaku kepada syirik besar, karena pelaku syirik kecil jika diskenariokan disiksa di neraka, ia tidak diharamkan untuk masuk kedalam surga setelahnya, yakni tidak kekal di neraka selama-lamanya. Sehingga berdasarkan pendapat kedua ini, syirik kecil disamakan statusnya dengan dosa-dosa besar, dimana pelakunya yang membawanya sampai mati dan belum bertaubat, maka dibawah kehendak Allah, jika mau Dia akan menyiksanya di neraka dan jika berkehendak, Dia akan mengampuninya.

Namun apapun pendapat yang benar dalam masalah diatas, tetap saja tidak boleh dianggap enteng perbuatan syirik, apalagi jika itu syirik besar, karena ayat dalam surat An Nisaa` diatas, memang umum berdasarkan kaedah-kaedah bahasa arab dan ilmu-ilmu penafsiran Al Qur`an. Sehingga sudah sepantasnya bagi kita tetap mempelajari masalah tauhid dan menjauhkan diri dari kesyirikan sampai ajal menjemput dan memperbanyak bertaubat kepada Allah atas dosa-dosa yang kita lakukan dengan taubatan nasuha, karena sebesar dan seberat apapun dosa, termasuk didalamnya syirik besar, maupun kekafiran, apalagi dosa dibawahnya, Allah pasti akan mengampuninya jika seorang hamba mau bertaubat kepada-Nya, sebagaimana Firman-Nya :
قُلْ يَا عِبَادِيَ الَّذِينَ أَسْرَفُوا عَلَى أَنْفُسِهِمْ لَا تَقْنَطُوا مِنْ رَحْمَةِ اللَّهِ إِنَّ اللَّهَ يَغْفِرُ الذُّنُوبَ جَمِيعًا إِنَّهُ هُوَ الْغَفُورُ الرَّحِيمُ
“Katakanlah: “Hai hamba-hamba-Ku yang malampaui batas terhadap diri mereka sendiri, janganlah kamu berputus asa dari rahmat Allah. Sesungguhnya Allah mengampuni dosa-dosa semuanya. Sesungguhnya Dialah Yang Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.” (QS. Az Zumar : 53).

Catatan :
Tulisan ini banyak mengambil faedah dari penjelasan fadhilatusy Syaikh Shoolih bin Abdil Aziz Alu Syaikh di : https://m.youtube.com/watch?v=fiFRM3WIq8Y

Next Page »

Blog at WordPress.com.
Entries and comments feeds.

%d bloggers like this: